Ada Cinta Dalam Hubungan Tak Bernama

Ada Cinta Dalam Hubungan Tak Bernama
Part 13


__ADS_3

"Permisi..." ucap Arya.


"Ya, cari siapa kak?." ucap temannya Vika yang duduknya dekat pintu. Namanya Agnes.


Kebetulah pada saat itu Bu Yona hanya masuk sebentar, memberikan sedikit keterangan, tidak lupa memberikan tugas juga.


"Saya cari Maya, mau mengembalikan sisa brosur." ucap Arya.


"Ooo masuk saja kak, Bu Yona lagi keluar, katanya tadi ada kepentingan." ucap Agnes.


"Oke!, makasih." ucap Arya.


To the poin, tanpa basa-basi Arya nyamperin meja Vika, memberikan brosur pada Maya, sekaligus memanfaatkan untuk dekat dengan Vika.


Vika terkejut, baru saja Vika membatinnya, sekarang sudah nongol saja.


"Ini sisa brosurnya may." ucap Arya santai, menyodorkan brosur tersebut.


"Iya, makasih Arya." ucap Maya.


"Selow saja. Ada tugas ya?, perlu saya bantuin." ucap Arya menawarkan bantuan.


"Mau...mauu...mauu." ucap Maya gembira. Maya mengambilkan bangku kosong yang tidak berpenghuni untuk Arya.


Vika diam mematung, tidak peduli mereka mau ngapain, yang penting tidak mengganggu kefokusannya.


Arya duduk tepat disebelah Vika, tangannya meraih buku paket yang dipegang Vika, tentu saja Vika menariknya kembali secara paksa.


"Pelit amat, si Amat saja tidak pelit." gumam Arya, terdengar samar tetapi, jelas di pendengaran Vika.


"Ya sudah, pinjam saja sama si Amat, yang baik hati." sahut Vika.


"Hahaha, letak ditengah dong bukunya pliiss,,, biar saya bisa lihat." ucap Arya memelas.


"Hih, memangnya kamu disini ngapain Arya, kamu bisa belajar dikelas kamu sendirikan!." ucap Vika kasar.


"Kamu merasa terganggu ya?, kalau benar saya bisa pergi kok, kan saya cuman bantuin doang bukan yang lain-lain." ucap Arya terdengar sangat menyentuh hati.


"Maksud saya bukan begitu Arya, sebentar lagikan kita ujian terakhir, jadi kamu harus belajar apa yang ada dikelas kamu." ucap Vika pelan-pelan menyabarkan dirinya.


"Apa bedanya Vika, pelajaran kita tidak jauh berbedakan." ucap Arya lagi, masih bersih keras untuk keberadaannya disana.


Vika tidak bisa menghindari Arya lagi, Vika memberikan setengah buku paketnya untuk dilihat Arya.


Mendengar perdebatan di antara mereka membuat Maya geleng-geleng kepala, bukan karena merasa pusing melainkan merasa lucu.


Mereka bertiga membagi tugas sama rata, agar lebih mudah untuk menyelesaikannya.


Usai mengerjakan tugas. Arya pergi tanpa pamit, tidak biasanya Arya bersikap seperti ini. Membuat Vika gelisah saja, saat-saat tingkahnya seperti itu.

__ADS_1


Teettthh...teetthh...teethh... bel pulang berdenting. Kelaspun akan kembali kosong.


"May, besok minggu kemana." ucap Vika


"Rencana mau berkunjung tempat nenek, kamu mau ikut Vik." ucap Maya.


"Tidak May. Besok saya mau ke taman, rencananya mau ajak kamu."


"Yyaahh. Maaf ya vik."


"Tidak apa-apa kok may."


Merekapun berjalan berdua, mengambil motor Maya diparkiran belakang sekolah, kali ini Maya menunggu Vika dijemput terlebih dahulu, baru Maya akan pulang.


"May, itu papa saya sudah datang." ucap Vika menunjuk mobil pribadi milik papanya.


"Ooo iya, ya sudah kalau begitu saya cabut dulu, ddaa Vika."


"Jangan hati-hati may dijalan." ketus Vika.


"Oke! siap!..." tiinn...tiiiinn...ttiiinnn... "Om duluan ya?." ucap Maya pada Om Arta.


"Iya..ya, hati-hati may." sahut Om Arta.


Vika masuk mobil. "Siang papa." ucap Vika menyalami papanya.


"Siang kembali anak papa." ucap papa Vika balik.


Sampai rumah, mamanya Vika menyiapkan makan yang lezat, pastinya kesukaan Vika, Tumis udang balado.


Tanpa mengganti seragam sekolahnya. Vika langsung makan, melahap makanan yang tersedia disana, sehingga membuatnya kesedak sampai batuk.


"Uhhuukk..uhhukk..uuhuukk..." Vika kesedak.


"Vika, pelan-pelan makannya, jadi kesedakkan." ucap mamanya sambil memberinya minum.


"Ghhahhaak..gghaahah.. Vika, mama masak banyak, tidak perlu takut habis." ucap papanya sambil tertawa.


"Ya Pa, habis mama masaknya enak banget, kan Vika jadi tidak bisa move on mmm.." ucap Vika berlebihan.


"Dasar kamu tuh ya, paling bisa nggoda mama." ucap mama Vika.


Usai makan siang, Vika membantu mamanya membereskan sisa-sisa makanan, mencuci piring. Tidak lupa Vika memberi makan Pochi, kucing kesayangannya.


Malam minggu. Vika menghabiskan waktunya diruang keluarga bersama mama papanya. Kalau hari biasa Vika hanya mengurung dirinya dikamar saja untuk fokus belajar.


Vika termasuk orang yang tidak suka keluar malam, biarpun malam kamis, malam minggu, Vika tetap dirumah, kecuali benar-benar ada kepentingan yang mengharuskannya untuk keluar.


Ddrrtt..ddrrtt..ddrtt ponsel Vika bergetar, tidak segan Vika mengangkat ponselnya dihadapan mama papanya.

__ADS_1


"Hallo.." ucap Vika lantang. Namun, tidak ada jawaban.


Tidak lama sebuah pesan masuk, ternyata dari Arya.


"Besok kamu jadi ketaman vik?." Arya.


"Iya, jadi, kenapa?, kamu mau ikut?." balas Vika.


"Tidak, cuman tanya saja, memangnya tidak boleh." balas Arya.


Vika tidak lagi membalas pesan Arya, kalau dilanjut pasti sudah tidak ada putusnya.


"Hah, untung saja Vika ingat." batin Arya, setelah mendengar jawaban Vika.


Esok Pagi tiba. Arya mencuci motornya sekilat mungkin, sebelum ia pergi menemui kekasih hatinya.


Taman itu terletak cukup jauh dari kost Arya. Ya Arya meng-kost selama sekolah, orang tuanya bercerai sejak Arya duduk dikelas SMP. Hal itu membuatnya jauh dari kasih sayang orang tuanya, meski begitu Arya tetap menyayangi orang tuanya, padahal ia tidak pernah di anggap ataupun tidak dipedulikan lagi.


Kalau dihitung dari jarak rumah Vika, tidak terlalu jauh, melalui jalan tikus, Vika mengunjunginya naik sepeda sekitar ± 10 menit sudah sampai disana.


"Ma, Pa, Vika goes ke taman ya." izin Vika.


"Sama siapa kamu nak?." tanya papanya.


"Tuh banyak kok pa, yang goes kesana." ucap Vika, menunjuk anak tetangga yang sedang berkumpul tepat di halaman rumahnya.


"Iya Vika, jaga diri baik-baik, pulang sebelum jam 12 ya." ucap mamanya mengingatkan.


"Iya ma, kayak mau pergi jauh saja." ucap Vika sembari menyalami orang tuanya.


Vika mulai mengayuh sepedanya meluncur ketaman, Vika membawa Pochi sebagai temannya, Vika pergi sejak pukul 07.00, bukan karena tidak ingat dengan janjinya, tapi, ya memang Vika senang menghabiskan waktunya disana.


"Hah, rindu banget sama tempat ini ya Pochi." ucap Vika, pada kucingnya yang terletak dikeranjang depan berlapis kain.


"Mmiiiaauuuuwww..." jawab Pochi mengiyakan.


"Pochi kita istirahat disini bentar ya."


"Miiiaaauuuww..."


Vika menggendong Pochi membawanya berteduh dibawah pohon yang cukup rindang. Mengamati suasana ramainya anak-anak, pemuda-pemudi yang sedang asyik berfoto-foto.


Sudah cukup bosan, Vika berpindah tempat, tempat yang Vika hampiri sekarang mendekati danau kecil, tidak terlalu banyak orang disana. Tapi, keadaan itu mampu menyegarkan pikirannya yang sempat layu sebelumnya, menggugah hatinya untuk lebih hidup lagi.


Vika duduk disebuah bangku bercat putih, bersama Pochi digendongannya. Sesekali matanya melirik jarum jam. Kini jarum jam baru menunjukkan pukul 08.20.


"Orang itu siapa ya?, emang kalau saya disini, dia bisa mengenali saya, aduuh Vika, kenapa tidak berpikir dari awal sih!." ketus Vika pada dirinya sendiri.


"Ah ya sudahlah, kalau nanti jam 9 terlewati, kalau juga tidak ada yang mendatangi saya, saya pergi dari sini." ketusnya lagi.

__ADS_1


Sambil bersantai Vika memakan cemilan yang ia bawa, sesekali menyuapkan kemulut Pochi. Menunggu seseorang misterius menurutnya.


\=BERSAMBUNG\=


__ADS_2