
"Hahaha... Lambung bisa melar otomatis," ucap Kak Bian.
"Kalau melar lagi, bisa nambah beban Papa, Kak."
"Ya, tidak masalah. Yang penting anak Papa tidak kurusan. Pikir orang, Papa tidak kasih nafkah, lagi," ucap Papanya yang baru datang.
"Papa," ketus Vika. Melanjutkan makannya.
Papanya Vika sibuk mengobrol dengan Kak Bian. Sedangkan Vika mendengar pembicaraan mereka, yang mengarah seputar pekerjaan dan bisnis.
"Kak Bi, entar jalan-jalan yuk," ajak Vika, setelah pembicaraan Kak Bian kelar dengan papanya.
"Gimana ya." Bian memutar bola matanya ke atas.
"Ayo, dong Kak. Sudah lama juga, kan kita tidak bertemu," ucap Vika merengek.
"Eemm... Boleh saja." Bian mengobrak-abrik rambut Vika, lalu ia pergi menyusul papanya Vika, yang sudah melangkah lebih duluan.
Vika merasa sedikit kesal, walaupun begitu Vika juga merasa senang. Vika bergegas ke kamar, mengambil tas dan jaketnya. Vika kembali menghampiri Kak Bian.
"Kak Bian, Kak," Vika terus memanggil Kak Bian, meminta sahutan.
"Pa, Kak Bian ke mana?"
"Di garansi, mau ke mana Vika."
"Hehehe, biasa Pa," Vika cengengesan.
"Paling pantang kamu, tuh," ucap papanya Vika, yang sudah faham tentang Vika.
"Da... Da... Papa," ucap Vika berlalu pergi bersama Bian.
"Kita mau ke mana? ini, Vikaaa?" ucap Kak Bian, mengeraskan suaranya.
"Kemana saja Kak, yang penting Kak Bian bahagia," ucap Vika, lebih mengeraskan suaranya.
"Aduh Vika, Kakak mana tahu tempat-tempat yang enak di sini." Bian celingak-celinguk, kebingungan harus membawa Vika kemana.
"Ikutin saja jalannya Kak. Kalau cuman muter-muter di jalanan juga tidak apa-apa, yang penting jangan muter-muter di pikiran Dedek, Kak. Pusing," ucap Vika seadanya.
"Eeemm, itu ada jual cilok, mau makan di pinggir jalan tidak Dek?" ucap Bian menawari.
"Bolehlah," ucap Vika santay.
__ADS_1
Pertama kalinya Vika makan cilok di pinggir jalan bersama Bian. Biasanya ia bersama Arya, sekarang hanya tinggal sisa kenangannya saja.
"Dedeeeekkk... ngapain sih, tuh mukak bengong mulu," samber Bian menepuk pundak Vika.
"Tidak. Siapa yang bengong. Dedek lagi fokus tuh, liatin anak kecil, yang lagi makan ice cream sampai belepotan gitu. Jadi pengen ngelapin." Vika menunjuk anak kecil, yang kebetulan tepat di depan matanya.
"Ya sudah sana elapin, jangan ngomong doang."
"Kan, tidak kenal Kak, entar Vika dituduh penculik, gimana?"
"Tidak mungkinlah, kan niatnya baik," ucap Bian, yang asik melahap sesuap cilok.
"Tiap orang mah beda pendapat Kak, tidak semua orang positif thinking," jelas Vika.
"Iya deh iya... buruan makan ciloknya, habis itu kita pulang."
Vika menikmati tiap suapan cilok yang meluncur ke mulutnya. Bagi Vika makanan di pinggir jalan tidak kalah enaknya dengan makanan cafe ataupun restoran.
*Arya*
Gelap, kosong, berat. Arya tidak bisa merasakan apa-apa, hidupnya seakan-akan pudar menghilang. Tidak ada kebahagian yang ia rasakan. Otaknya hanya berputar mengingat peristiwa yang menimpa dirinya. Arya merasa tidak berdaya. Tanpa sadar ia menciptakan bulir bening dari sudut matanya.
Nenek yang melihat air mata Arya membasahi perbannya. Nenek juga tidak kuasa menahan tangisnya, Nenek pasti merasakan apa yang dirasakan Arya. Nenek mendekati Arya, mengecup keningnya, mengusap lembut atas kepala Arya, sembari membisikkan, "Cucu kesayangan Nenek, cepet bangun ya sayang, Nenek rindu," ucap Nenek sendu.
"Nyenyek," ucap Arya getir, suaranya terdengar celat, efek perban yang menyelubung mulutnya.
Nenek yang mendengar panggilan itu, langsung menatap Arya. Menghapus sisa-sisa air matanya, "Arya, cucu Nenek sudah bangun dari tidur." Nenek menatap wajah Arya dalam.
"Alya mau pulang Nyek," ucap Arya pelan. Namun, Nenek masih jelas mendengarnya.
"Arya boleh pulang, kalau sudah sembuh total," ucap Nenek lembut.
"Alya udah sehat, Nyek."
"Mana ada orang sehat terbaring seperti ini, Arya," ucap Nenek terus terang.
"Alya bosen, penen puang."
"Sabar ya Arya, segera kamu pasti akan pulang," sambung Dr. Hilman, yang baru datang bersama kakeknya Arya.
"Belapa lama lagi Dok?" tanya Arya sudah tidak sabar.
"Dok, kamu lupa Arya, tentang kesepakatan kita," ucap Dr. Hilman, wajahnya berubah menjadi masam.
__ADS_1
Arya memejamkan matanya lagi, kelopak matanya terasa sangat berat. Ingin bergerak, tapi badannya seperti mati, tidak berdaya. Dr. Hilman memeriksanya, meletakkan stetoskop pada dadanya Arya. Sepertinya Arya membutuhkan banyak istirahat.
"Nek, Nenek sama Kakek makan dulu saja. Biar saya yang jagain Arya," ucap Dr. Hilman dengan senyum ramahnya.
Kakek dan Nenek pun keluar ruangan, menuju rumah makan terdekat. Jalan berdua serasa kembali masih muda, saling menggenggam tangan, tidak peduli berapa pasang mata muda-mudi yang memperhatikan mereka.
Dr. Hilman yang sibuk memantau kondisi Arya. Arya hanya diam memperhatikan Dr. Hilman. Sungguh keadaannya sekarang membuat Arya risih sekujur badan. Ingin meronta, tapi Arya tidak bertenaga sama sekali, mengangkat tangannya saja tidak bisa.
"Dok... "
"Ayah, Arya" sergah Dr. Hilman, "Kamu jangan banyak ngomong dulu ya, Arya. Kalau kebanyakkan ngomong sembuhnya bisa lama," ucap Dr. Hilman lagi.
Arya hanya diam, mengunci mulutnya. Raganya seperti terkunci juga, sampai tidak bisa berkutik. Entah sampai kapan keadaan ini menyiksanya.
Menunggu Kakek dan Nenek datang, Dr. Hilman menemani Arya. Sesekali Dr. Hilman menggerak-gerakkan tangan Arya, hal itu sangat membantu Arya dari kelemahannya.
"Eh, Nenek, Kakek, sudah selesai makannya?" Dr. Hilman menyambut Kakek dan Nenek, yang baru saja masuk.
"Sudah Dok, bagaimana keadaan cucu saya, Dok?" ucap Nenek dan Kakek kompak.
"Masih proses Nek, Kek, pasti akan membaik," ucap Dr. Hilman. "Ya sudah, kalau begitu saya tinggal sebentar, mau cek pasien lain," ucap Dr. Hilman lagi.
"Baik, Dok. Terima kasih Dok," ucap Kakek.
"Jangan berterima kasik Kek, ini sudah menjadi tugas saya," balas Dr. Hilman, merangkul pundak Kakek, yang berdiri sejajar dengannya.
"Tetap saja Dok," ucap Kakek sambil tertawa pelan.
"Iya terserah Kakek, kalau gitu saya permisi ya, Kek," pamit Dr. Hilman yang berlalu pergi.
Kakek menatap punggung Dr. Hilman, yang semakin lama memudar dari pandangannya. Kakek merasa beruntung bertemu dengan orang sebaik Dr. Hilman. Dan lebih bersyukur lagi, Dr. Hilman mau mengadopsi Arya sebagai putra angkatnya.
Kakek kembali masuk. Melihat keadaan Arya yang masih terbaring, sedangkan Nenek duduk di sebelah menjaga Arya. Kakek mendekati Arya, berniat membantu Arya untuk duduk.
"Kamu pasti bosan, kan Arya. Mari Kakek bantu," ucap Kakek, yang mulai merangkul Arya.
"Kek, Cucunya masih sakit. Jangan sembarangan," ucap Nenek khawatir.
"Pelan-pelan Nek, kasian Arya. Arya juga pastinya lebih enak. Iya, kan yak?" ucap Kakek. Arya hanya mengangguk pelan.
Nenek pun membantu Arya untuk duduk. Arya merasa sedikit legah dengan posisinya sekarang. Rasa pegalnya sedikit mereda. Setidaknya Arya bisa lebih bersabar menahan emosinya karena sulit untuk bergerak.
\=BERSAMBUNG\=
__ADS_1