
Kejadian yang nyaris hampir menabrak sebuah mobil yang ceroboh itu, Arya langsung minggir berhenti untuk menenangkan Vika. Vika langsung turun dengan wajah yang terbengong sekaligus pucat, iya sembari memegang kedua pipinya meng-chek bahwa dirinya baik-baik saja, namun tetap saja merasa sangat khawatir.
"Vika kamu baik-baik saja kan?" tanya Arya lembut, Vika masih terbengong tidak mendengar Arya.
"Vik.. vik..vika." panggil Arya lagi seraya memegang kedua pundak Vika, mengarahkan di hadapannya.
"Vika semua baik-baik saja, tidak ada yang perlu di khawatirkan." ucap Arya menenangkan dan meyakinkan Vika.
"Sa..sa..saya mau pulang, ayo bawa saya pulang" Vika berkata dengan terbata, iya masih merasa takut saat itu juga.
"Iya vika kita akan pulang, kalau kamu sudah tenang." Arya kembali berusaha menenangkan Vika dengan perlahan, sampai Vika benar-benar siap untuk kembali naik motor bersama Arya lagi.
"Ya ba...baiklah saya sudah tenang, ayo kita pulang, Arya, tapi, pelan-pelan ya bawa motornya." Vika bicara dengan penuh harap agar baik-baik saja sampai rumah.
Dalam melanjutkan perjalanan, Arya membawa Vika dengan penuh hati-hati untuk mencegah kejadian yang mereka lalui barusan.
(Beberapa menit kemudian) sesampainya di rumah Vika, mamanya sudah berada tepat didepan pintu menunggu putri semata wayangnya, anak kesayangan pastinya.
"Vik mama kamu kayanya uda apalin pidato lima lembar buat kamu." iseng Arya, Arya tahu betul tentang mamanya Vika,kalau anaknya melewati batas peraturannya.
"Jelas saja Arya, ini sudah jam berapa?" Vika berkata sambil berjalan menghampiri mamanya.
"Maama Vika minta maaf, Vika pulang telat karna nungguin hujan reda ma, Vika harap mama ngerti." ucap Vika duluan sebelum mamanya yang keduluan bicara.
"Iya Vika, kali ini mama ngertiin kamu, tapi lain kali kasih kabar ke mama Vika." Mama Vika kembali mengingatkannya agar selalu memberi kabar.
"Iya ma, maaf ponsel Vika tadi lobat," Vika menjawab dengan lesu tampaknya iya sangat letih, setelah berkeliling seharian.
"Tante Arya mau pamit pulang dulu ya?" potong Arya yang tengah merasa menjadi penonton drama.
"Lho, gak ngopi-ngopi dulu Arya sama Om Arta." tawar Mamanya Vika.
"Enggak tan, lain kali saja." tolak Arya yang merasa tidak enak karena sudah kemalaman mengantar Vika.
"Oh yasudah kamu hati-hati dijalan ya Arya, makasih sudah repot mengantar Vika, kemalaman lagi." sindir mamanya vika.
"Iya tante maaf untuk itu, baik saya permisi tan, mari Vik." ucap Arya sampai bergetar, baru disindir Mamanya Vika iya sudah tak karuan.
Arya pun berlalu memudar dari pandangan Vika, iya melaju dengan kecepatan sedang, hingga sampai di rumahnya, cukup memakan waktu setengah jam lamanya, arya langsung menghempaskan tubuhnya yang kumel itu pada ranjangnya yang berukuran king size.
Ceting...ceting...ceting bunyi mesengger arya, tanda sebuah pesan berhasil masuk, ternyata vika pengirimnya.
Vika : kamu uda sampaikan?
__ADS_1
Arya, uda sampai rumahkan?
Aryaaa....
Arya : sudah Vika, ini lagi mau mandi.
Vika : Oh syukurlah, ya sudah buruan mandi
sana!
Arya : iya Vika.
Arya senang vika mengkhawatirkan dirinya, hal ini membuatnya senyum-senyum sendiri seperti orang kehilangan akal, arya pun bangkit dari ranjangnya melakukan kegiatan mandinya.
Setelah selesai mandi Arya kembali rebahan sekalian meng-chek ponsel miliknya, lebih tepatnya mengirim pesan pada Vika.
Arya : Vika maaf ya.
Vika : Maaf soal apa Arya?
Arya : Soal kejadian tadi.
Vika : Lupakan saja Arya, saya gak mau ingat.
Vika : Sudah Tuan Arya, bagaimana. denganmu?
Arya : Belum, saya hanya bisa makan saat bersamamu saja.
Vika : Oh benarkah itu xixixi.
Arya : Tentu saja.
Vika tertidur dengan nyenyak sampai iya tidak menjawab pesan Arya lagi, mereka memang lebih akraf bicara melalui pesan dari pada bertatapan langsung keduanya masih merasa canggung, entahpun saling memendam perasaannya masing-masing.
Soal perasaan memang rumit dan membingungkan menurut Vika, iya merasa terombang-ambing dengan perasaannya sendiri, terkadang iya merasa senang, terkadang merasa kesal, terkadang merasa nyaman, terkadang merasa gelisah dan terkadang merasa bahagia, yah begitulah rumitnya perasaan seseorang yang mudah berubah.
Ceklek...suara pintu yang dibuka oleh Mamanya Vika.
"Vika bangun sayang sudah pagi, entar telat sekolahnya." ucap Mama Vika membangunkannya.
"Iya ma Vika mau siap-siap dulu ya." ucap Vika sekaligus bangkit dari ranjangnya.
"Vikaaa... papa berangkat kerja 15 menit lagi, jangan lama-lama ya Vika" ucap ayah Vika yang tengah sibuk menikmati sarapannya.
__ADS_1
"Iya papa sayang" jawab Vika dengan cepat bergegas.
Selama ia sekolah Papanya lah yang mengantar jemputnya, orang tuanya tidak ingin kalau putri satu-satunya salah jalan, bukan karna tidak percaya pada Vika, tetapi orang tuanya tau betul pergaulan diluar sangat berpengaruh pada ke fokusan putrinya sebagai pelajar, dan berpikir putrinya bisa saja khilaf dalam pergaulan yang ia ikuti.
Vika dan Arya sama-sama menempuh dunia pendidikan, saat ini mereka menduduki bangku kelas 12.
Kebersamaan mereka tidak terhalangi sedikitpun, meski duduk di kelas yang berbeda. Mereka sering bertemu di kantin, di perpustakan, dan terkadangpun Arya sering menghampiri kelasnya Vika.
"Tok...tok...tok, permisi Bu Elina" Arya tiba di kelasnya Vika.
"Iya, ada apa Arya?" tanya Bu Elina.
"Saya mau antar buku catatan bu, yang tertinggal di Laboratorium, atas nama Vikara Atmajaya." alasan Arya.
Arya sering iseng, mengelabuhi setiap guru yang sedang mengajar di kelas Vika, hanya ingin bertemu dengan Vika.
"Vika itu bener buku kamu?" tanya Bu Elina pada Vika.
Vika langsung menatap Arya heran, buku yang mana yang pernah Vika tinggalkan, sedang Vika tidak pernah ceroboh dalam urusan buku, apa lagi kalau buku itu sangat penting baginya.
"Boleh saya cek dulu bu, untuk memastikan kalau itu buku saya." tawar Vika.
" Ya baiklah." jawab Bu Elina.
Vika bangkit dari duduknya dan berjalan menghampiri Arya. Dalam sekejab iya mengambil buku tersebut dari tangan Arya, lalu membukanya dan apa yang dilihat, ternyata tidak ada apapun, buku itu kosong, belum terisi, Vika menatap Arya dengan membulatkan matanya, pertanda ia marah sudah mengganggu waktu belajarnya.
Arya malah santai dengan senyumnya sambil berkata "Buku itu untukmu, barang kali kamu akan membutuhkannya, meski tidak hari ini, bisa jadi di lain waktu kan?" ia ber ucap dengan bisik-bisik pada Vika.
"Ya sudah bukunya saya terima, kamu pergi sana, sebelum Bu Elina curiga." usir Vika memberi peringatan.
Jelas saja Vika menjadi geram melihat ulahnya yang mengharuskannya untuk berbohong pada Bu Elina, ia mengakui bahwa buku itu adalah miliknya, ya memang sudah menjadi miliknya karna Arya sendiri yang memberikannya bukan?.
Teeeetttt..tteettttthh...bel berbunyi menandakan les pelajaran berganti, dan pelajaran berikutnya dimulai.
"Vika temenin ke toilet yuk." ajak Maya, yang langsung dibalas anggukan, tanda setuju oleh Vika.
Maya adalah teman sebangku Vika, mereka berteman dengan sangat baik, bahkan jauh dari salah paham yang bisa membuat siapapun menjadi bertengkar lalu bermusuhan. Mereka berdua sama-sama memiliki toleransi yang sangat baik, jika ada permasalahan di antara mereka, mereka selalu berbicara dengan baik-baik sampai selesai tanpa dendam.
Meski mereka baik, namun, tetap saja ada orang yang berasal dari kelas lain, lebih tepatnya kelasnya Arya, yang tidak menyukai Vika dan Maya, mereka juga tidak tahu entah apa sebabnya.
Sampai lah mereka di toilet, Vika yang menunggu Maya dari luar sempat bertemu dengan Ola bersama Syela, mereka menatap dengan kebencian pada Vika, Vika hanya diam dan tertunduk ia tidak berani menatap balik, karna Vika tau hal itu hanya mengundang kekacauan saja.
\=BERSAMBUNG\=
__ADS_1