
*Arya*
Kakeknya Arya kembali ke rumah sakit bersama Neneknya, membawa baju dan makanan, malam ini Nenek dan Kakeknya akan menginap untuk menjaga Arya.
Saat itu Arya masih tidur nyenyak-nyenyaknya. Namun, dengan seenaknya Nenek membangunkannya dengan cara yang aneh.
"Nek, Arya masih istirahat, jangan di ganggu." ucap Kakeknya.
"Neneknya datang ini lho, ya harus bangun. Kalau sakit jangan di biarin tidur terlalu lama, nanti sembuhnya juga lama." ucap Neneknya yang bersih keras membangunkan Arya.
Percuma saja Kakek bicara sama Nenek, Nenek tidak akan mau menurut, apa lagi kalau menurutnya benar, pasti akan ia lakukan.
Nenek membuka mata Arya dengan jari telunjuknya, terlihat bola mata Arya yang juling ke atas, Arya juga tidak terbangun. Nenek kembali membuka mata Arya, lalu meniupnya, tidak lama Arya terbangun bersamaan bersinnya.
"Haassyyiimm..." Arya bersin mengarah ke Nenek.
"Arya. Nenek kamu ini kesini, pakai cantik, pakai bersih, pakai wangi, malah kamu bumbuin begini." omel Neneknya Arya.
"Nenek. Bersinnya Arya tidak mampu kok buat Nenek jelek." seru Arya, begitu cepat ia menjawab celoteh Neneknya.
"Awas kamu ya, kalau lubang hidung nenek pindah tempat. Lubang hidungmu yang bakal Nenek tuntut." canda Nenek membuat Arya tertawa renyah.
"Iya, tidak mungkin juga kalau pindah hanya gara-gara Arya bersin, Nenek ada-ada saja." ucap Arya.
Arya berusaha bangkit dari tidurnya, di bantu Neneknya, sekaligus memeluknya pelan. Menawarkan hatinya yang tengah merindukan Neneknya yang super cerewet.
"Nenek rindu kan, sama Arya." ucapnya lirih tepat di samping telinga neneknya.
"Siapa bilang, sorry ye... Nenek tidak rindu, cuma ya rindu banget, banget, banget." ucap Neneknya, menjewer telinga Arya.
"Aaahhh... sakit Nek." pekik Arya, meski sakit, Arya senang di perlakukan begitu dengan Neneknya.
Mencium aroma tidak enak yang menempel di tubuh Arya, membuat hidung Neneknya tidak nyaman. Neneknya Arya adalah seorang yang sangat pembersih, menyukai aroma yang enak. Kalau di rasanya mengganggu kenyamanannya pasti akan di atasinya.
__ADS_1
"Arya, kamu tidak di mandikan sama Kakek kemarin?" ucap Nenek, mengkembang kempiskan hidungnya.
"Masih sakit, kok di suruh mandi, gimana itu Nenekmu, ngasal saja." celah Kakek.
"Tidak mandi, setidaknya di bersihkan, di elap-elap, sudah sana ambilkan air bersih." ucap Nenek, memperbaiki ucapannya.
Kakek hanya menurut saja, mengambilkan sedikit air dari toilet. Nenek membasahi kain lap di tangannya, lalu mengusapkannya ke badan Arya.
"Aaiisshh... " Arya merintih kesakitan, saat tangan nenek mendekati lukanya.
"Nenek tidak terkejut sama wajahnya Arya yang seperti mumi ini." ucap Arya.
"Kakek sudah cerita tentang keadaan kamu, apa Nenek harus pura-pura terkejut."
"Hehehe... boleh." ucap Arya, yang di balas pelototan Neneknya.
"Kenapa kamu bisa celaka seperti ini Arya?" tanya neneknya, meminta penjelasan.
"Panjang ceritanya Nek, kalau Arya cerita, satu minggu baru tamat."
Selesai membersihkan tubuh Arya, Nenek meminta Kakek menggantikan celana Arya yang sudah di pakainya berhari-hari.
Tidak lupa, Arya menitipkan memori card dan kartu simnya terlebih dahulu pada Nenek. Kenapa tidak sama Kakek? karena Kakek lebih mencintai lupanya ketimbang ingatnya.
"Wah, ini pasti ada apanya, sampai-sampai di jagain, ponselnya sudah hancur lebur kata Kakek. Tapi kartu card dan kartu sim masih awet begini." ucap Nenek penuh dengan penasaran.
"Tidak ada apa-apanya Nek, sayang saja kalau di buang." ucap Arya beralasan.
"Yakin tidak ada apa-apanya, setahu Nenek kamu tidak pernah peduli dengan benda seperti ini." Neneknya Arya terus memprovokasi dirinya.
"Ya isinya cuman file yang berhubungan dengan materi kedokteran, itu doang." ucap Arya berbohong.
"Ya sudah, Nenek simpan." ucap Nenek, yang tidak percaya sama sekali.
__ADS_1
Nenek keluar ruangan, sedangkan Kakek membantu Arya menggantikan celananya. Arya tidak kuasa rasa malunya ternyata lebih berat dari pada lukanya. (Stop jangan mbayangin, gimana Kakek melepaskan celana Arya, hahaha... serasa bocil banget ni Arya).
"Arya, anteng gitu sebentar, jangan petakilan." ucap Kakeknya geram, sedangkan Arya tidak bisa diam.
"Hahaha... sudah Kek, pakai celana ini saja jangan di ganti." Arya tertawa lepas, gelinya tidak ketulungan.
"Kamu mau liat, Kakek di marahi Nenek, begitu? sudah Arya kamu diam saja, jangan mempersulit kerjaan Kakek." ketus Kakeknya tidak sabar.
Terpaksa Arya menyimpan ***********, eh! maksudnya rasa malunya (Sorry khilaf) dari pada ia di omelin mulu.
*Vika*
Vika berada di taman, duduk di tempat biasanya bersama Arya. Ia masih mencari keberadaan Arya, baginya kali ini sangat sulit untuk memahami situasinya.
Arya yang tiba-tiba menghilang dari pandangannya, kabar terakhirnya yang membuat perasaan Vika tidak enak, bersamaan mimpi yang ia alami, dan nomornya yang tiba-tiba saja tidak aktif.
"Arya, kamu bilang, kamu tidak akan pergi. Kamu bilang, kamu tetap disini. Kenyataannya kamu entah dimana. Apa kamu sudah punya teman baru, sampai kamu lupa tentang saya. Kamu jahat Arya." Vika mencurahkan isi hatinya pada alam semesta. Tangannya meremas jaket yang di berikan Arya.
"Arya, kamu dimana? apa yang terjadi denganmu? mimpi buruk itu tentangmu, tidak mungkin kalau itu menjadi nyata. Apa kamu lagi sakit? tapi, kenapa kamu tidak memberi kabar, Arya." ucap Vika dengan mata yang berkaca-kaca.
Sejak Vika tidak mendapatkan kabar Arya lagi, Vika menghabiskan waktunya di taman, ia bercerita untuk melampiaskan sesaknya, meski yang mendengar ceritanya itu hanya seekor kodok, jangkrik, pohon, dan apapun yang ada di dekatnya. Vika tidak peduli tentang hal itu, yang penting jiwanya terasa lebih ringan.
Warna jingga mulai menghiasi langit. Vika memutuskan untuk pulang, kali ini ia hanya berjalan kaki. Vika terus melangkah, tanpa fokus memperhatikan jalanan. Tidak sadar dirinya dalam bahaya, ia berjalan di tengah-tengah lajunya kendaraan.
Tiinnn... tiiinn... tiiinn suara klakson mengejutkan Vika, Vika menutup ke dua telinganya yang terasa di tusuk secara tidak langsung. Vika menengok kanan dan kiri yang sudah ramai kendaraan, perasaan jalanan yang ia lewati jarang kendaraan. Ternyata efek hatinya yang sepi berpengaruh besar pada matanya.
"Mbak kalau niat bunuh diri jangan disini dong." ucap orang yang mengendarai mobil, hampir menabrak Vika.
"Ma. Maaf Pak, saya salah." ucap Vika, Vika langsung minggir ke jalan tol.
Vika menepuk kedua pipinya, kenapa hal ini terjadi pada dirinya. Sungguh kehilangan hadirnya Arya, membuat Vika sering kehilangan kesadarannya.
"Saya kenapa jadi o'on gini ya, hanya karena Arya. Ah, tidak... tidak... tidak, ini tidak boleh terjadi. Vika kamu harus fokus, Arya sudah tidak penting lagi titik." ucap Vika pada dirinya sendiri, ia tidak mau kalau sampai kehilangan jati dirinya, hanya karena satu manusia.
__ADS_1
Vika berjalan sambil menepuk-nepuk pipinya, agar ia tetap sadar dan fokus dengan jalan yang di pilihnya. Kejadian tadi sudah cukup memberinya peringatan, ia harus berhati-hati, agar tidak terulang lagi.
\=BERSAMBUNG\=