
"Aryaaa...awas." teriak Vika.
Arya melompat menarik Vika, agar terhindar dari tangga yang mulai roboh, hingga Vika jatuh dalam pelukkan Arya.
Mereka berdua saling menatap, seakan-akan matanya lah yang bicara penuh cinta. Kalau sudah seperti ini kata-kata pun tidak diperlukan lagi.
"Semoga, suatu hari nanti Tuhan merestui hubungan kita dalam berumah tangga ya vik." batin Arya.
"Arya kamu tidak apa-apa kan?" tanya Vika khawatir, membuyarkan lamunannya.
"Ya hampir jatuh vik, untungnya gak jadi. Kamu juga tidak apa-apakan? tidak ada yang luka kan?" ucap Arya bersyukur.
Vika menggelengkan kepalanya sambil tersenyum.
"Vika mimpi apa tadi, sampai dipeluk Arya. Tapi tetap saja kejadian tadi, tidak akan mengubah takdirnya yang sudah dimiliki orang lain." ucap Vika dalam hatinya.
Entah kenapa Arya dan Vika menjadi canggung seketika, rasanya apa yang ingin dilakukan selalu serba salah.
"Eengghhh...vik ini tangganya mau di apain, dibuang saja ya, eenngghh..atau mau diperbaikiii...atau di apain ya biar enak dilihat gitu." ucap Arya bingung.
"Emm..saya juga tidak tahu mau di apain, ya sudah biar gampang kita bakar saja ya, lagian ini sudah parah kalau diperbaiki." ucap Vika.
"Dibakar, tidak salah."
"Iya kalau kamu mau, bawa pulang saja." ucap Vika enteng.
Arya hanya tertawa mendengar sahutan Vika. Mengumpulkan puing-puing tangga yang berserak, lalu ia bakar habis.
Menyaksikan sijago merah yang mulai melahap habis mangsanya.
"Arya bulu tangkisnya sudah dapatkan, saya masuk dulu ya?" ucap Vika yang sudah membalikkan badan, namun, tangannya ditahan oleh Arya.
"Ada apa Arya?." tanya Vika aneh.
"Kenapa harus disana, disinikan masih ada saya." ucap Arya tidak ingin ditinggalkan begitu saja.
"Bukannya kamu mau main?" tanya Vika bingung.
"Itu tadi, sekarang tidak."
Vika terdiam, apa maksud dari sikap Arya, dengan cara menahannya, apa Arya tidak bisa menjaga perasaannya untuk Syela, menurut Vika caranya berteman seperti itu berlebihan.
Besar keinginan Vika untuk menanyakan hubungan Arya dengan Syela, namun, gengsinya juga tidak kalah besar dari keingin tahuannya.
"Arya saya ada pekerjaan didalam, jadi saya harus masuk." ucap Vika lagi, tidak ingin berlama-lamaan dengannya.
__ADS_1
"Ooo gitu, ya sudah kalau begitu saya permisi balik dulu ya." ucap Arya tidak enak sudah menahan Vika.
"Iya, hati-hati ya, bulu tangkisnya dijagain, biar tidak mampir lagi kesini." ucap Vika memberi peringatan.
"Iya...iya, maaf sudah merepotkan."
Senyum khas berhasil meluncur dibibir Vika, menyaksikan kepergian Arya. Vika masuk rumah membereskan pekerjaan rumah seperti gadis pada umumnya.
Sorepun berganti malam, Vika melanjutkan pelajarannya, tanpa henti sebelum mengantuk.
Entah angin apa yang masuk kekamarnya, semangatnya malam ini sungguh menggairahkan, ngantukpun yang biasanya merajai Vika, untuk menghampiri sajapun saat ini tidak berani.
Jam dinding menunjukkan pukul 23.00, Vika masih saja menggenggam bukunya. Vika juga tidak ingin bangun kesiangan untuk itu ia harus memaksakan matanya untuk tertidur.
Esok pagi, seperti biasa Vika menyiapkan segalanya, Vika termasuk siswa yang sangat patuh, kerapiannya terawat, apalagi prestasinya yang dikenal tidak pernah turun, sangat disayangkan bukan? kalau bisa turun hanya karena cinta semata.
Selesai makan pagi. "Mama Vika berangkat ya?" ucap Vika menyalami mamanya.
"Iya sayang, semangat ya belajarnya, hati-hati dijalan ya nak." ucap mamanya.
"Iya mama. Papa buruan ayok..." ajak Vika pada papanya.
Hari ini Vika lah yang mengobrak-obrak papanya. Sebelumnya papanya yang begitu.
Diperjalanan, Vika sibuk dengan ponselnya, bukan sibuk menerima pesan, melainkan ia sibuk mencari info Universitas terbaik ditempat terdekat dari rumahnya, sekali-kali mengintip yang di luar kota, barang kali ia lebih berminat.
"Kamu tanya mama dulu Vika?" ucap papanya yang sedikit berat.
"Ini cuman rencana Vika doang kok pa, keputusan terakhirnya nanti setelah lulusan sekolah."
"Iya Vika, tapi kamu harus izin ke mama dari sekarang, biar mama lebih siap, jika nanti kamu pergi diluar kota."
"Eemm...iya pa, nanti pulang sekolah, Vika tanyain ke mama."
Sampai disekolah. Vika pamitan sembari menyalami papanya.
"Ddaa..papa, hati-hati dijalan." ucap Vika.
"Iya sayang, kamu semangat ya belajarnya, jangan bolos 1 pelajaranpun, oke!." ucap papanya Vika memberi semangat.
Vika mengedipkan sebelah matanya serta mengacungkan tangan ibu jari dan telunjuknya membentuk bulat.
Melihat papanya sudah jauh, Vikapun berjalan memasuki koridor sekolah, tidak lama tiba-tiba Arya muncul disampingnya.
"Lho Arya, main nongol saja, sejak kapan?" ucap Vika.
__ADS_1
"Barusan, lagian kamu sendirian, kan tidak ada salahnya kalau saya temenin?" ucap Arya.
Vika tidak mau ambil pusing lagi, mau Arya milik siapa kek, toh Vika hanya menganggapnya sebagai teman, meski dihatinya ingin lebih, tapi tahu diri juga perlu lebih, Vika juga sangat menjaga kehormatannya sebagai wanita.
"Arya, itu Syela sudah datang, kamu samperin gih." ucap Vika menunjuk ke arah Syela, lalu ia pergi menuju kelasnya.
"Idih malas banget." ucap Arya yang juga pergi dari tempat, mendekat kembali pada Vika.
"Maksud Vika apa sih, kenapa suruh-suruh saya samperin Syela, kurang kerjaan." ucap Arya pada dirinya sendiri.
"Vika... tungguin." ucap Arya dari jarak beberapa langkah.
Vika tidak menghiraukan, ia terus berjalan, tidak peduli Arya mengejarnya atau tidak, yang penting Vika harus sampai dikelasnya secepatnya.
Sampai kelas. Vika sudah dinanti oleh Maya, tepat berdiri didepan pintu. tidak lama disusul oleh kemunculan Arya. Hal ini membuat Maya bertanya-tanya.
"Lho Arya, kalian barengan." ucap Maya.
"Tidak, cuman pengen lewat sini aja." ucap Arya malu, lalu pergi begitu saja.
"Aduuuh....kenapa Maya pakek muncul sih, kan jadi tertunda buat deketin Vikanya." batin Arya, moodnya sekarang jadi berubah.
Dalam kelas, Arya menyusun rencana, kira-kira alasan apa lagi yang dipakai Arya untuk mengunjungi kelas Vika pada jam pelajaran.
Tteeetthhh...tteetthh...teetthh, jam pelajaranpun dimulai. Arya mengikuti pelajaran dengan baik hanya saja Arya mudah bosan, Arya tidak juga menemukan id apapun untuk mengunjungi Vika, padahal hari ini adalah hari terakhir ia mengganggu jam pelajaran Vika dikelasnya, sebab minggu depan sudah masuk ujian terakhir.
"Aaahh ngapain ya, sudah lah permisi dulu ke toilet. Ajak Ridho sepertinya enak juga." pikir Arya.
Aryapun mengajak Ridho, tapi sayangnya pada saat permisi, Arya malah mendapat hinaan yang dilempar dari mulut Bu Gina, guru fisika.
"Bu kami berdua permisi ya, izin ke toilet." ucap Arya dengan harapan akan di izinkan.
Bu Gina termasuk orang yang banyak bicara, banyak peraturan, pokoknya kalau sudah bicara dengan Bu Gina harus hati-hati, tidak mudah juga beliau meng-iyakannya begitu saja.
"Ke toilet berdua?" Bu Gina bertanya dengan heran.
"Iya bu..." ucap Ridho mantap.
"Kalian laki-laki sepenuhnya atau setengah perempuan hah? ke toilet saja pakai berdua-duaan, terus ngapai didalam toilet kalau sudah berdua?." ucap Bu Gina panjang lebar.
Isi kelas yang sebelumnya senyap, kini menjadi bising tawa bergumuruh.
Arya menyembunyikan wajahnya antara geli dan malu, seharusnya ia berpikir dahulu sebelum mengajak Ridho.
Sudah entah kata apa saja yang disebutkan oleh Bu Gina, membuatnya malu didepan kelas.
__ADS_1
Ditambah kedatangan Vika dan Maya yang sebelumnya ditugaskan oleh Wak Kasep (Wakil Kepala Sekolah) membagikan brosur Bimbel (Bimbingan Belajar) selama ujian.
\=BERSAMBUNG\=