
Vika sampai tertidur, menanti balasan Arya yang tak kunjung muncul. Arya juga tertidur disana. Mereka tidur di waktu yang sama.
Malam semakin larut. KA. sudah sampai pada stasiunnya. Arya kembali terbangun, mengerjapkan matanya berulang-ulang, meregangkan otot-otot tubuhnya.
Arya turun dengan membawa kopernya. Setiap langkahnya menikmati angin malam yang menyapu wajahnya. Arya membayangkan, suatu hari, ia akan datang dengan menggandeng Vika.
Arya meraih ponselnya, menghubungi nomor kakeknya, namun, tidak ada yang mengangkatnya.
"Sepertinya Kakek sama Nenek sudah tidur pulas, tibak baik kalau saya membangunkannya." ucap Arya memberi pengertian pada dirinya sendiri.
Arya juga tidak ingin menunggu lama, Arya memutuskan untuk naik bus, ia berjalan menuju halte yang tidak terlalu jauh dari keberadaannya.
Meski larut malam, Arya tidak sendiri, ada beberapa orang disana, mungkin orang yang sama seperti posisinya, tidak ada yang menjemput. Arya hanya tersenyum ramah pada orang-orang yang tidak ia kenal sama sekali.
Arya duduk santai, melihat jalanan yang sudah sepi kendaraan, sesekali ia memainkan ponselnya. Arya terkejut disekitarnya ada kericuhan, Arya pikir hanya kesalah pahaman saja, ternyata tidak.
"Jangan... jangan... tolong ada copet... copet." teriak ibu itu, beliau memperebutkan tas miliknya dengan pencopet tersebut.
Arya refleks memukul pencopet itu dengan cukup keras, pencopet itu menyeringai kesakitan. Pencopet itu tidak terima, membalas Arya dengan pukulannya juga, terjadilah perkelahian yang serius, sampai ponsel Arya terpelanting dari tangannya.
Awalnya Arya berhasil mengalahkan pencopet itu, namun, tidak di sangkanya ada dua temannya yang menolongnya. Arya di serang dari belakang, Arya pun tersungkur. Dengan cepat Arya bangkit, kini ia di kepung. Tidak ada seorang pun yang berani membantunya.
Tiga lawan satu. Berkat latihannya ikut bela diri, Arya dapat mengalahkan lawannya. Arya juga sedikit terluka. Pencopet itu terlihat kewalahan, Arya pikir mereka tidak sanggup lagi untuk bangkit.
Seketika Arya mencari ponselnya, ia menemukannya, saat ingin mengambilnya, pencopet itu kembali menyerang dengan licik. Arya bersiaga melayangkan pukulannya buuukk... Namun, Arya juga kena imbasnya, pencopet itu menancapkan benda tajam di bagian perut Arya, Arya mengelak, tapi, tetap saja melukainya biarpun tidak terlalu dalam. Meski begitu Arya masih bisa melawan, dengan tidak sabar pencopet itu menyiramkan air tepat di wajah Arya, bukan air biasa.
Arya melindungi matanya agar tidak terkena. Arya sangat tersiksa, ia merasakan sakit, ia tidak berdaya lagi. Arya memaksakan dirinya untuk mengambil ponselnya yang sudah tidak berbentuk, ia hanya mengambil memori card dan kartunya, menyimpannya di saku celananya. Setelah itu, Arya tergeletak tidak sadarkan diri.
__ADS_1
Melihat keadaan Arya yang sangat terluka, orang-orang di sekitar sana turun tangan bersama-sama, ada yang membawa kayu, besi panjang, dan senjata lainnya, untuk menyerang pencopet itu. Sebelum mereka mendekat, pencopet itu lari terbirit-birit, bersamaan datangnya polisi.
Polisi turun dari mobil, langsung mengejar pencopet itu, tidak akan di biarkannya penjahat seperti itu merajalela. Jeddooorr... polisi menembak tepat mengenai kaki pencopet itu.
Orang-orang di sekitarnya membopongnya. Arya segera di larikan ke Rs. terdekat, wajah tampannya sudah rusak tidak berwujud, bajunya sudah berlumuran darah.
Tiga pencopet itu berhasil di borgol, lalu di bawa ke kantor polisi. Pencopet itu harus bertanggung jawab atas perbuatannya.
Lagi... Lagi, Vika tidur dengan sangat gelisah, sekujur badannya berkeringat dingin, ingin berteriak minta tolong tidak bisa, mulutnya seperti terbungkam. Vika hanya merasakan sesak.
Mimpi buruk kembali menghampiri tidurnya lagi. Vika menangis terisak-isak dengan mata terpejam, ia tidak kuasa menyaksikan Arya tengah terluka.
Suara pistol yang berasal dari polisi itu mampu membangunkan Vika dari mimpinya, dalam sekejab ia bangkit, menyandarkan tubuhnya di sandaran ranjang.
Vika terkejut setengah mati. Nafasnya membabi buta tidak berarturan, jantungnya berdetak hebat. Vika seperti merasakan duka Arya yang tiada jeda.
Vika menampar pipinya pelan, memastikan kalau yang di alaminya hanya mimpi. Vika berharap mimpinya tidak akan pernah menjadi nyata. Tapi, kenyataan memang selalu pahit, mimpi itu sudah terjadi.
Vika terus memikirkan Arya, ia tidak bisa tidur lagi, meski sudah mencoba berulang kali. Vika merangkul lututnya yang meringkuk, Vika merasa takut, ngeri, sedih, mimpi itu terus berputar di otaknya.
"Tuhan apa maksud-Mu mengirimkan mimpi itu? apa yang ingin Kau sampaikan Tuhan? aku tidak mengerti pertanda apa ini, mimpi itu hadir untuk kedua kalinya, tolong jangan siksa aku." ucap Vika berat.
Kondisi Arya sangat memprihatinkan. Tim medis sibuk dengan alat-alatnya untuk mengatasi luka Arya. Arya masih tidak sadarkan diri, namun, entah kekuatan dari mana Arya terus menyebutkan nama Vika.
"Vi... Ka..Vi.. Ka...Vi... Ka." bibir Arya bergetar.
Vika juga dapat merasakannya, panggilan djiwa itu menggugah hatinya dan menggoncang pikirannya, itu sebabnya Vika tidak bisa tidur dan masih merasa gelisah.
__ADS_1
Kemarin mata mereka saling menatap, memberikan isyarat pada hati untuk menetap, meski kisah sesungguhnya belum terungkap, cinta sejati itu, setia itu, hubungan itu, rasa itu, kebersamaan itu, akan selalu tetap, di waktu yang tepat, keduanya akan bersatu hingga merasa lengkap.
Jarak memang selalu memisahkan antara keduanya, akan tetapi, hati mereka telah terhubung, seperti ada alat elektronik astral di dalamnya, bisa merasakan satu sama lain, meski tidak melihatnya secara langsung.
***
Pagi hari. Kakek Arya sudah terbangun dari tidurnya. Mengucek-ucek matanya, lalu ia pakai kaca matanya. Tangannya meraih ponsel melihat, adakah kabar dari Arya.
"Satu panggilan tidak terjawab." kakek mengklik bacaan tersebut.
"Arya. Arya sudah sampai." seru kakek senang.
Dengan cepat kakek menghubungi nomor Arya kembali, tapi sayangnya, nomornya sudah tidak aktif. Kakek menjadi cemas, dengan cepat ia bergegas, bersiap-siap menjemput Arya.
"Mungkin handphonenya Arya habis ya, kalau gitu kakek akan secepatnya jemput kamu yak." pikir kakeknya Arya. Kakeknya terlalu bersemangat, tidak sabar melihat cucunya yang sudah dewasa.
*Vika
Wajahnya Vika terlalu sembab, rasanya ia tidak ingin keluar kamar, tapi, bagaimana kalau Mama Papanya banyak tanya, ia harus menjawab apa. Dari pada pusing, Vika memutuskan untuk mandi. Selesai mandi, ia hias wajahnya sebaik mungkin, agar tidak terlihat betapa sembapnya wajahnya itu.
Mau tidak mau, Vika terpaksa keluar kamar, dengan senyum paksanya menyamarkan dirinya yang sedang tidak baik-baik saja.
"Pagi Ma, Pa." ucap Vika dengan sok semangat.
"Pagi kembali sayang." ucap Mama, Papanya Vika kompak.
Seperti biasa, Vika membantu Mamanya menyiapkan sarapan. Selama libur sekolah Vika menghabiskan waktunya di dapur, ia belajar masak dengan Mamanya, itung-itung belajar menjadi ibu rumah tangga yang baik, tidak ada salahnya kan.
__ADS_1
\=BERSAMBUNG\=