Ada Cinta Dalam Hubungan Tak Bernama

Ada Cinta Dalam Hubungan Tak Bernama
Part 33


__ADS_3

Dengan segera Arya memasangkan gelang itu di tangan Vika. Sedangkan Vika, tidak berhenti menatap wajah Arya tanpa berkedip. Entah kenapa firasat Vika mengatakan hal yang buruk, seperti, hari ini adalah terakhir melihat wajah Arya.


"Tidak... tidak, tidak mungkin, Arya sendiri bilang, bahwa dirinya akan tetap disini. Kamu harus percaya Vika." ucap Vika dalam hati, meyakinkan dirinya, mengusir firasat buruk tersebut.


"Sudah selesai, tangan kita kembar sekarang." ucap Arya bahagia, menyatukan tangannya dengan tangan Vika.


"Hah! iya terlihat kembar." sahut Vika acuh tidak acuh.


"Arya keliling yuk." ajak Vika, Vika hanya berusaha menghilangkan pikiran jeleknya.


"Bosen disini?"


"Kita kelilingnya di sekitar sini saja, naik kaki, mau kan?" ajak Vika.


"Okeeyy... ayo kejar saya." ucap Arya, mencipratkan air minum lewat jarinya, sampai mengenai wajah Vika.


Vika pun mengejar Arya, memegang sebotol air putih, yang sudah siap menyiram Arya. Sayangnya belum mendapatkan Arya, Vika sudah merasa letih duluan. Vika beristirahat di bawah pohon yang cukup rindang.


"Sudah?" tanya Arya bersuara.


Mendengar suara Arya membuat Vika terenyak dari duduknya, Vika melangkahkan kakinya agar lebih dekat, Vika berdiri menuangkan sebotol air pada Arya, sebelum air itu mengenai Arya, ada akar yang menghalanginya, membuat Vika kehilangan keseimbangan, gagal khayang di udara (dadakan sih khayangnya, gak sempet ambil ancang-ancang).


"Aaaa... " teriak Vika yang hampir jatuh.


Dengan cepat Arya menangkup Vika, matanya Vika terpejam, secara tidak sengaja, air yang sudah siap lepas dari botolnya jatuh membasahi kepala Arya, air itu mengalir dari ke wajah Arya, lalu jatuh ke wajah Vika yang berada tepat dibawah wajah Arya. Vika masih terpejam, menikmati setiap air yang mengalir di wajahnya, sedangkan Arya menatap Vika dalam-dalam penuh makna.


Perlahan Vika membuka matanya, menangkap sosok Arya yang terasa sangat dekat. Hembusan nafasnya menyapu wajah Vika, detak jantungnya terdengar keras, sorot matanya memaknai arti cinta.


Merasakan tetesan air yang tersisa, mengerjapkan matanya berulang-ulang, baru lah Vika tersadar, Vika bangkit dari tangan Arya yang menopangnya. Keduanya menjadi acuh tak acuh, seperti begini salah begitu juga salah.


"Eengghh..." desus Vika.


"Kamu tidak ada yang terluka kan?" tanya Arya, menggaruk kepalanya yang sama sekali tidak gatal.


"Tidak." ucap Vika, menghapus wajahnya yang basah.


"Wajah kamu basah, Vike."


"Iya tahu." ucap Vika, mengelap wajahnya dengan lengan bajunya, namun, Arya menahan tangannya.

__ADS_1


"Pakai ini." ucap Arya, meletakkan sebuah sapu tangan tebal di wajah Vika.


"Kamu saja, kamu juga basah kan?" ucap Vika, menyentuh sapu tangan yang berada di wajahnya, tapi, ia malah menyentuh tangan Arya. Vika pikir sapu tangan tersebut dapat menempel di wajahnya tanpa penyangga, ternyata salah.


"Arya, angan amu mo dsini saja, saya pengap tauuk..." ucap Vika begitu saja, ucapannya sedikit tidak jelas, karena terhalang tangan Arya.


Vika menyingkirkan tangan Arya. Lalu, mengelap wajahnya yang basa dengan cepat.


"Maaf." ucap Arya baru bersua.


Melihat wajah Arya bersimbah peluh air yang mengalir dari rambutnya, membasahi alisnya yang tebal, hidungnya yang mancung, bibirnya yang tipis, dan dagunya yang bergurat. Vika mengelap wajah Arya dengan lembut.


"Sudah, ini keringkan rambut kamu." ucap Vika, meletakkan sapu tangan tersebut di atas kepala Arya, lalu memalingkan wajahnya.


Dengan cepat Arya mengeringkan rambutnya yang lebat, hitam, tidak panjang juga tidak pendek. Bisa di bilang rambut khas idaman pria indonesia.


Setelah di rasa kering rambutnya, Arya meletakkan sapu tangan tersebut di kepala Vika mengacak-acak rambut Vika.


"Aryaaaa... kamu apa-apaan sih."


"Rambut kamu basah." ucap Arya bersama tawa renyahnya.


"Tidak terlalu basah, Vikee... " Arya melepaskan sapu tangannya di kepala Vika, lalu ia melangkah begitu saja.


"Arya, kamu mau kemana?" ucap Vika, mengambil sapu tangan di atas kepalanya, menyimpan di tas kecil miliknya.


Vika mengikuti langkah Arya, yang mengarah pada pedagang kaki lima. Arya membeli satu kembang gula dan dua ice cream.


"Heeyy... kamu membeli ini untuk apa?" ucap Vika geli, mengambil ahli kembang gula dari tangan Arya. Bagi Vika itu hanyalah cemilan anak-anak berumur 5 tahunan.


"Untuk di makan lah, kenapa? kamu tertawa." ucap Arya setengah tertawa, sebab melihat wajah Vika yang lucu.


"Orang dewasa dilarang makan gulali."


"Siapa bilang, memang ada catatannya, di larang orang dewasa ikut makan. Hah!" ucap Arya, mengambil kembali kembang gula tersebut, lalu membukanya.


"Makan lah, ayo makan. Saya jamin kalau kamu hanya makan sekali saja, tidak akan cukup." ucap Arya, menyodorkan kembang gula ke mulutnya.


"Hahaha... tidak Arya, kamu saja." ucap Vika menolak, menyingkirkan tangan Arya.

__ADS_1


"Hahah... Anggap saja deh ini makanan orang dewasa, yah, ayo dong makan." ucap Arya terus membujuk.


Dengan terpaksa Vika menerima suapan Arya, (Malu-malu, tapi mau. Dasar, kerjaan sapa tuh.) Vika mencecap rasa manis nikmat di lidahnya.


"Gimana? enak kan." ucap Arya. Vika hanya mengangguk malu.


Mereka menghabiskan waktu bersama. Saling menyuapi, tidak peduli ada orang yang memperhatikannya.


Tidak terasa Raja Matahari mulai tenggelam meninggalkan singgahsananya. Vika memutuskan untuk pulang. Arya pun setia mengantarnya.


Hati Vika kembali merasa gelisah, rasanya ia ingin memeluk Arya seerat mungkin, untuk menghilangkan kegundahannya. Namun, Vika juga sadar diri, sepengetahuannya bahwa dirinya hanya sebatas sahabat bagi Arya.


Tanpa Vika sadari, motor Arya sudah berhenti di depan rumahnya. Vika masih melamun. Arya menggoyangkan motornya, mengejutkan Vika.


"Aryaakk... awas jatoh." ucap Vika refleks terkejut.


"Apanya yang jatoh, kita sudah sampai ini. Apa mau balik lagi?"


"Aaah... iya, sudah sampai." ucap Vika canggung. Vika turun dari motor.


"Kamu mau mampir dulu, Arya." ucap Vika menawari.


"Tidak, saya mau langsung pulang."


"Kamu ada masalah, atau gimana sih Vika, dari tadi kamu tidak fokus." ucap Arya lagi, mempeehatikan Vika.


"Tidak, saya tidak ada masalah apapun. Kenapa kamu bertanya seperti itu?" ucap Vika, bertanya kembali.


"Mmm, okey, kalau tidak ada masalah. Saya pulang dulu ya, titip salam sama Om, tante." ucap Arya dengan berat.


"Hati-hati Arya, jaga dirimu." ucap Vika dengan sesak, entah hal apa yang membuat kata itu meluncur begitu saja dari mulutnya.


Arya tersenyum begitu juga Vika, wajah keduanya begitu sendu. Perpisahan mereka adalah awal ujian hubungan mereka.


"Arya jangan pergi." batin Vika merintih.


Masih jauh dari harapan Vika, Arya harus pulang, dengan meninggalkan banyak kenangan pada Vika. Entah kapan lagi takdir menyatukan hati mereka.


Dengan langkah yang berat, Vika memasuki rumahnya, lalu, ke kamarnya, sambil mengingat kembali tentangnya bersama Arya saat di taman.

__ADS_1


\=BERSAMBUNG\=


__ADS_2