
"Baik lah, mari kita pulang." ucap Arya seraya mengambil Pochi dari gendongan Vika.
"Eehhh... kamu mau bawa Pochi, tidak bisa dong, masih ada saya yang punya." ucap Vika mengacungkan jari telunjuk ke dirinya sendiri.
"Pochi mama kamu ternyata pelit, tidak jadi deh bawa kamu." ucap Arya.
"Bukan pelit, cuma tidak ikhlas saja, kalau Pochi di bawa sama kamu, haha..." ucap Vika bercampur tawa. Vika mengambil kembali kucingnya.
"Ya sudah saya mau pulang, mari saya antar ke parkiran, biar sekalian." ucap Vika.
Vika meletakkan Pochi di keranjang sepedanya, lalu menuntunnya sampai parkiran.
"Arya, saya duluan ya, kamu jangan hati-hati di jalan, kebutan saja, kan tidak lagi sama saya, heheng... " ucap Vika asal.
"Iya pasti haahaha... " ucap Arya santai.
Vika melambaikan tangannya, ia sudah menjauh dari pandangan Arya. Arya masih berdiri di sana, masih menatap kepergian Vika.
"Vika andai kamu tahu isi perasaan ini, apakah kamu mau untuk menerimanya?" batin Arya.
Setelah membayar karcis Arya langsung cabut, rasanya ia belum ingin pulang kerumah, tapi ia juga harus belajar mempersiapkan ujiannya besok.
Ketika sampai di rumah, Vika langsung membawa bingkisan serta sisa cemilan yang sebelumnya ia makan di taman bersama Arya. Wajahnya masih di lumuri rasa penasaran dengan bingkisan kotak tersebut, saat Vika ingin membukanya, mamanya menjerit memanggil namanya.
"Vikaa... Vikaaa." ucap mama Vika dari dapur.
"Iyaaa...maaaa." sahut Vika keburu bangkit dari duduknya, segera nyamperin mamanya.
"Ada apa ma?"
"Kamu tidak sibuk kan sayang, bantuin mama ya buat cake."
"Tidak si ma, Vika cuman mau belajar saja, tapi bisa di lanjutin nanti kok ma." ucap Vika tidak enak hati kalau sampai menolaknya.
"Aduuh... mama manggilnya gak tepat banget, sayakan masih penasaran isi kotak itu apa." batin Vika kesal.
Vika sibuk membantu mamanya, membuat cake memang suatu hal yang menyenangkan bagi Vika, tapi tidak dengan kali ini.
"Vika ini telurnya di mixer dulu ya." ucap mamanya Vika memberi tahu.
"Oke! ma siap."
Cukup memakan waktu yang lama, Vika membantu mamanya, meski melakukan hal-hal yang kecil saja, Vika sudah merasa lelah.
"Ma, sudah selesai kan? Vika ke kamar dulu ya?"
"Mama belum liat kamu makan dari tadi Vika, kamu makan dulu, setelah itu baru belajar kembali ya." ucap mamanya dengan kasih sayang.
"Vika kenyang ma, tadi di taman sudah makan kok, banyak banget malah makannya." ucap Vika.
__ADS_1
"Ya sudah, kalau begitu kamu lanjut belajarnya."
"Iya ma."
Vika kembali ke kamarnya, dengan cepat tangannya menggapai bingkisan kotak yang belum sempat ia buka. Baru saja tangannya ingin mengeluarkan kotak tersebut dari bungkusnya.
"Vikaaa..Vikaa... " teriak papanya memanggil namanya.
"Iyaa.. pa..iya." sahut Vika kesal, beranjak ia menemui papanya di depan rumah.
"Ada apa pa?" tanya Vika.
"Biasa, buatin papa kopi ya nak." ucap papanya santai, tengah mengobrol dengan teman kerjanya.
"Eemm..." Vika mendengus.
Dengan gesit Vika ke dapur membuatkan 2 kopi, betapa kesalnya ia saat itu, hanya ingin membuka kotak saja selalu ada halangan.
Kopi telah siap Vika sajikan, ia tinggal mengantarnya ke meja depan, tempat papanya duduk.
"Silahkan om, diminum." ucap Vika ramah.
"Terima kasih." ucap teman papanya.
"Sama-sama om, Vika masuk dalam dulu ya."
Vika mengambil bungkus itu lagi untuk mengeluarkan kotaknya, saat ia membuka kotaknya ia hanya menemukan sebuah benda yang terbalut kain hijau, lalu ia buka kain hijau, ternyata masih terbalut lagi oleh kain kuning.
"Maksud Arya apa sih, buat dag dig dug saja." batin Vika.
Vika melanjutkan membuka balutan-balutan yang menghalangi matanya untuk melihat isinya. Awalnya Vika hanya menemukan sebuah gantungan kunci unik bergambar lumba-lumba. Tentu saja Vika sangat menyukainya.
Satu kali lagi balutan terakhir di bukanya, baru terlihat ada sebuah buku yang ia cari beberapa hari yang lalu. Seketika wajah Vika melongo mulutnya setengah menganga.
"Buku ini, bukannya sudah di ambil orang lain, kenapa bisa sama Arya. Atau jangan-jangan..." Vika menduga sesuatu.
Rasanya ia ingin menghubungi Arya, tapi niatnya segera ia tepis, ia merasa gengsi untuk memulai duluan.
Vika mengamati gantungan kunci yang di genggamnya, dalam keadaan senyum-senyum tidak jelas menghiasi raut wajahnya.
"Arya buruan dong hubungi saya, sekedar basa-basi gitu kek, juga tidak apa-apa lah." ucap Vika sambil menatap layar ponselnya yang kosong.
Beberapa menit kemudian, ddrrtt...ddrrtt..ddrrt ponsel Vika bergetar tanda panggilan masuk, Vika pikir yang menghubunginya Arya ternyata saat Vika mengangkat terdengar suara Maya.
"Hallo!"
"Hi! vikaa..."
"Ya may, tumben nelpon, kangen ya." ucap Vika PD.
__ADS_1
"Idih iya banget kangen sama kamu hahah..."
"Ya elah may, apa susahnya sih tinggal ngaku doang."
"Iya deh iya, iya kan saja, asalkan kau bahagia, hahah..."
"Saya tidak bahagia, saya menderita kalau tahu bahwa itu adalah sebuah kebohongan." ucap Vika semakin tidak ter arah.
"Jangan khawatir, kamu bisa menandai seseorang, apabila ia sudah berbohong, telinganya akan melebar, bibirnya bergetar, di tambah lagi hidungnya yang memanjang, gampang bukan?" ucap Maya menjawab seadanya.
"Hahaha... ya...ya, kamu benar, sangat benar."
"Hahaha..." mereka tertawa kompak.
Bicara yang tidak penting, bercanda semampunya bahkan terkadang orang yang mereka lihat menjadi bahan candaan, tidak peduli kenal tidaknya, yang penting happy heart, hal itu adalah kebiasaan mereka saat bersama. Cukup lama Maya dan Vika bicara melalui telepon, sampai Vika menyudahinya itupun karena ia merasa ngantuk berat.
"Huuaaa... may saya ngantuk, kalau mau temenin saya, ponsel jangan di matikan ya, biar kamu bisa dengar apa yang terjadi dalam mimpiku." ucap Vika dengan khas nada ngantuknya.
"Ih ogah vik, mimpimu selalu horror hahaha, ya sudah, selamat istirahat Vika, babayyy..."
"Hhhmmm..."
Tut...tut...tut, panggilan terputus, Vika terjaga dari tidurnya. Kamarnya acak-acakkan beda dari biasanya yang selalu rapi, percahan kain terurai sana sini.
Malam hari. Vika belajar dengan semampunya begitu juga dengan Arya, berharap ia dapat menjawab semua pertanyaan dengan mudah tanpa berbelit.
Esok hari ujian di mulai, Vika mendapatkan sesi ke dua, namun, Vika sudah hadir lebih awal sebelum sesi pertama di mulai, kalau saja ia datang pada waktu sesi ke dua, papanya sudah pergi bekerja, jadi tidak ada yang mengantarnya.
Sambil menunggu waktu ujiannya tiba, Vika mengunjungi perpustakaan, bukan mencari buku, tapi, ia sedang membaca buku motivasi yang di ambil Arya darinya.
"Lho vik, kok sendirian mana pacar barunya?" ucap Agnes.
"Maksudnya nes, pacar apa?" ucap Vika tidak mengerti apa perkataan Agnes barusan.
"Adduuhh Vika, tidak usah di rahasia-in lagi deh." ucap Agnes.
Kabar hubungan palsunya dengan Arya ternyata sudah tersebar dengan cepat, Vika masih tidak menduga, "bagaimana ini bisa terjadi? hanya berawal dari boncengan naik sepeda, sepertinya sudah banyak yang salah paham." pikir Vika.
"Agnes kamu dengar dari siapa?" tanya Vika dengan serius.
"Banyak yang ngomongin kamu Vika, setahu saya si Nino yang pertama kali bilang, ya sudah saya duluan ya." ucap Agnes seadanya, lalu meninggalkan Vika.
"Oke! makasih infonya, semangat ya ujiannya semoga berhasil." ucap Vika memberi semangat.
"Saya hanya dekat dengan Arya, tapi sudah seheboh ini, lalu bagaimana dengan hubungan Syela dan Arya, kenapa saya tidak mendengar kabar bahwa mereka pacaran." batin Vika, kepalanya dipenuhi banyak pertanyaan tanpa jawaban.
Tanpa perjanjian, Arya juga mengunjungi perpustakaan, bagi Arya tempat paling aman untuk menjaga kefokusannya. Tentu Arya bertemu Vika.
"BERSAMBUNG\=
__ADS_1