
"Tetap saja, rasanya berat." ucap Vika santai.
"Boleh minta sesuatu?" ucap Arya mendekatkan wajahnya ditelinga Vika.
"Apa?"
"Bolehkan saja." ucap Arya, memutuskannya sendiri.
"Maya, tolong dong foto in kita berdua."
"Dengan senang hati."
Vika yang pasrah, hanya bisa diam dan mengikuti. Arya merapatkan kursinya, agar lebih dekat dengan Vika.
cekrek... cekrek...cekrek, entah berapa sudah foto yang diambil Maya, biar asal jepret, tidak merusak kecantikkan dan ketampanan yang dimiliki Vika dan Arya.
"Arya saya juga mau, gantian dong fotoin kita berdua." ucap Maya menagih.
"Berdua sama Ridho." ucap Arya.
"Sama Vika lah, ngapain sama Ridho."
"Kemarin siapa yang kunciin kita berdua." ucap Arya, membahas masalah kemarin.
"Ridho." ucap Maya spontan.
"Kata Ridho, kamu, yang mana yang bener." koreksi Arya.
"Yang bener, ya Ridho."
"Terus kenapa kamu tinggalin saya, Maya, harusnya kalau mau mengunci, kunci Arya saja jangan saya." potong Vika, dirinya juga tidak terima.
"Eh Vike, emang saya mau, saya juga tidak mau." ketus Arya membela dirinya.
"Yakin, tidak mau, buktinya kamu kemarin santai saja, tidak ada usaha untuk keluar."
Maya pusing mendengar perdebatan mereka, membuat Maya pindah tempat. Maya mengambil tempat lumayan berjarak jauh dari Arya dan Vika.
"Diam bukan berarti tidak berusaha kan?" ucap Arya terus membela dirinya. Padahal dalam hatinya ia menginginkan hal itu terjadi kembali.
"Mengaku saja sulit." gerutu Vika.
"Begitulah Vike, memang terlalu sulit untuk mengaku cinta, tidak semudah baca pidato depan umum." sahut Arya dalam hati.
"Vike mau minum?" ucap Arya menawari.
"Jangan hanya menawari, berikan saja minumnya." ucap Vika santai.
"Baik lah Nyonya Vika." ucap Arya seperti pelayan.
Setelah mengambil minuman, Arya memberikannya pada Vika, lalu kembali pada temannya dimana sebelumnya berkumpul.
"Silahkan diminum Nyonya, keburu dingin minumnya. Saya permisi balik ke dapur." ucap Arya ngasal.
"Terima kasih, memang sudah dingin minumnya, bisa dingin seperti apa lagi. Baik, kembalilah." ucap Vika, menaikkan sebelah alisnya.
__ADS_1
"Bisa sedingin hatimu yang tidak pernah hangat padaku." batin Arya, lalu pergi begitu saja.
Acara perpisahan dimulai, banyak hiburan yang ditampilkan disana. Mulai dari menari, bernyanyi, drama, dance, dan sebagainya.
Acara selanjutnya pengumuman, siswa terbaik yang akan diberikan penghargaan sebagai prestasi yang diraih. Pak Joni mengumumkan dengan suara yang menegangkan.
"Juara ketiga sebagai siswa teladan serta berprestasi, jatuh kepada....siapa." ucap Pak Joni begitu landang.
"Sipolan pak." ucap salah satu siswa kelas 11, iseng.
"Juara ketiga jatuh kepada... Maya Devita. Untuk Maya Devita dipersilahkan untuk maju ke depan."
"Maya, kamu keren." Vika bersorak, tepuk tangannya sangat keras, ia terlalu bahagia.
Pak Joni mengumumkan juara selanjutnya. Vika merasa lebih tegang. Akankah perjuangan belajar kerasnya selama ini membuahkan hasil.
"Juara ke 2 jatuh kepaaaddaa... atas nama... berasal dari kelas 12 IPA c.... siapakah dia?... atas namaa... Arya Arseno Yokzi... kepada Arya saya persilahkan untuk naik... "
Vika sangat senang ia bertepuk tangan dengan keras. Ia sudah pasrah dengan hasil perjuangannya mendapatkan nilai terbaik.
"Juara ke 1 jatuh kepada... sudah tahu pasti lah ya, siapa!!!"... ber inisial A kah? B kah? atau C kah?" ucap Pak Joni, membuat detak jantung Vika tak beraturan.
"Inisial V pak, V, dari kelas 12 IPA a... V pak." ucap sebagian siswa yang sudah mengenal siapa Vika.
"Siapa inisial V, vi... apa Vika liat-liat, tidak ada jatahmu tahun ini." canda Pak Joni. Vika tersenyum mendengarnya.
"Tercatat inisial A, jatuh kepada Atmajaya Vikara alias Vikara Atmajaya... Kepada Bapak Kepala Sekolah dipersilahkan untuk menyerahkan penghargaannya." ucap Pak Joni lagi.
Vika menitikkan air mata harunya, ia berjalan menuju panggung, langkahnya penuh gemetar.
Vika kembali duduk ditempatnya, masih dalam keadaan menangis menggenggam erat tangan Maya.
"Vika sudah nangisnya, kita harus bahagia hari ini, ini hari kita." ucap Maya menenangkan Vika.
Arya menyaksikan kesedihan Vika dari kejauhan, sungguh Arya sendiri tidak sanggup. Arya melarikan diri ke toilet, bukan karena sesak BAK ataupun BAB, tapi, BAM (Buang Air Mata). Demi melindungi martabatnya sebagai pria, kalau saja air matanya terlihat oleh siapapun, 60% turunlah harga dirinya.
Cukup lama Arya berada ditoilet, ia memutuskan untuk keluar menuju kelasnya, tidak kembali ke tempat acara, Arya masih malu untuk kesana, warna merah dimatanya belum mau untuk memudar.
Keadaan semakin kalut, Vika tidak berhenti menangis. Maya berinisiatif untuk mengajaknya membeli sesuatu yang dapat menenangkan pikiran.
"Vika, ayolah tertawa, saya capek harus ikutin kamu nangis mulu, kita beli sesuatu gitu." ucap Maya, menarik tangan Vika memaksanya.
"Oke! beli apa kita, saya mau ice cream." ucap Vika bersuara serak.
"Baik lah, ayo kita ke kantin, jangan menangis lagi." ucap Maya.
Mereka pun melangkah menuju kantin. Olla dan Syela ternyata juga disana. Entah apa yang sedang mereka rencanakan, tatapannya begitu penuh dengan tipu muslihat.
"Vika, Maya, kalian cantik ya." ucap Olla.
"Cantik lah, mana mungkin jelek." tambah Syela.
"Oh ya, selamat ya Maya, Vika, atas prestasinya." ucap Syela lagi.
Syela memberikan salam pada Maya, lalu pada Vika. Dan dengan sengaja Syella menumpahkan ice cream yang ia pegang ke pakaian Vika.
__ADS_1
Pakaian Vika menjadi ternoda, lumayan banyak. Vika membersihkannya dengan tissu, meski sudah susah payah, noda masih terus menempel.
"Ah, ya ampun, saya tidak sengaja." ucap Syela menyela.
"Astaga, tidak sengaja kamu bilang, jelas-jelas kamu sengaja, mau kamu apa sih. Jadi orang jangan keterlaluan deh jahatnya. Bisa kena azab lho nanti." selah Maya.
"Duh, ya ampun, sini... sini aku bersihin." ucap Olla, menumpahkan air putih. Berpura-pura membersihkan.
"Aaahh, kebanyakkan ya, yah jadi basah deh. Maaf ya Vika." ucap Olla lagi, Dengan wajah memelas yang dibuat-buat.
Maya melihat hal ini semakin bergejolak amarahnya, ia tahu ini hanya sebuah akal-akalan otak busuk dua burung gagak ini.
Vika berdiam diri, ia tidak membalas apapun. Rasanya ia masih kalut. Tenaganya tidak ada untuk melawan, ia masih bersedih.
"Heh, jangan menguji kesabaran saya ya, mungkin Vika bisa di uji, tapi, saya tidak bisa. Pergi kalian... pergi." ucap Maya kasar.
Maya membantu Vika membersihkan pakaiannya, sepertinya tidak ada hasil, semakin dibersihkan nodanya semakin melebar.
"Vika, sepertinya kamu harus pulang sekarang. Ini sulit untuk dibersihkan, acaranya juga sudah hampir selsai kan." ucap Maya penuh dengan rasa kasihan.
"Saya sudah bilang sama papa may, saya pulang telat. Jadi, papa lembur."
"Gimana ya, saya juga diantar sama mama. Saya pesan taksi online mau Vik?" ucap Maya menawari.
"Iya deh may." ucap Vika pasrah, niat hati ia ingin pulang lama, untuk menghabiskan waktunya bersama teman-temannya.
"Hy! Vike, Maya. Baju kamu kenapa Vike, ikut makan ice cream begitu." tanya Arya yang baru datang.
"Ini semua gara-gara temen kamu tuh, yang sok baik, ternyata hatinya busuk." ucap Maya emosi.
"Maya... tidak kok, ini hanya ketumpahan sedikit, tidak sengaja." ucap Vika, berusaha menyembunyikan kebenarannya.
"Yang kamu maksud siapa? may." tanya Arya penasaran.
"Siapa lagi temen kamu, kalau bukan Olla sama Syela." ucap Maya to the point.
"Olla sama Syela." Arya terkejut. Berpikir, untuk apa mereka melakukan semua ini.
"Sudah lah, lupakan saja. Ini hanya masalah kecil, tidak perlu diperbesar. Saya mau pulang, May sudah kamu pesan kan?" ucam Vika nesu.
"Iya, ini lagi dipesan Vika. Jaringannya terganggu, jadi sedikit lama."
"Saya antar saja Vika, biar lebih cepat." ucap Arya cepat.
"Gimana Vik?" ucap Arya lagi.
Vika hanya mengangguk menyetujui. sebelum pulang, Vika menitipkan penghargaan, kado, dan bingkisan lainnya, yang ia dapatkan dari adik kelas dan teman-temannya. Tidak lupa juga, Vika memberikan jatah kadonya buat Maya.
"May, titip semua ini ya, kamu tidak keberatan kan? saya tidak bisa membawanya. Nah, yang ini buat kamu may." ucap Vika.
"Eeeemmmm, makasih Vika." ucap Maya, ingin memeluk Vika, tapi Vika lebih dulu mencegahnya.
"Jangan Maya, Nodanya bisa pindah ke kamu nanti." ucap Vika, menyentuh pundak Maya.
\=BERSAMBUNG\=
__ADS_1