Ada Cinta Dalam Hubungan Tak Bernama

Ada Cinta Dalam Hubungan Tak Bernama
Part 25


__ADS_3

"Buka... siapapun yang mendengar, tolong bukakan pintunya." pinta Vika dari dalam.


"Sudah... sudah biarkan saja." ucap Arya santai.


"Apa maksudmu Arya, kita dikunci dari luar, hanya berdua."


"Oh ya, Arya kamu kan kuat, kamu pasti bisa bukain pintunya." ucap Vika lagi.


"Kamu pikir ini pintu apaan Vika, entar kalau rusak gimana."


Vika semakin panik, menggedor-gedor pintu berulang kali, mondar-mandir mengintip jendela yang satu ke yang lain. Rasanya percuma tidak ada orang yang lewat.


"Ini sebenarnya sekolah atau kamar mayat sih." ucap Vika kesal.


"Kamu tadi kan habis makan 3 bungkus roti, sudah minum juga kan. Sudah pasti bertambah energi kan?" ucap Arya menyindir.


"Kamu tidak lihat apa, saya sudah berusaha dari tadi, giliran kamu sekarang." ucap Vika. Vika menarik tangan Arya, memaksanya untuk membuka pintu.


Arya tidak menolak, berusaha membuka pintu dengan sekuat tenaganya, tetap sama, tidak ada hasilnya.


Arya merogo kantongnya, mengambil ponsel miliknya, mencoba menghubungi siapapun yang bisa dihubunginya. Ridho tidak menjawab panggilannya, menghubungi temannya yang lain sudah tidak berada disekolah.


"Vika kamu hub... " ucap Arya belum selesai.


"Ponsel saya lobat, kalau tidak lobat, tidak perlu kamu suruh." potong Vika.


"Buka... pintunya bukaaa..." teriak Vika.


"Astaga Vika, ini sekolah tunggu saja, pasti nanti ada yang mau masuk." ucap Arya.


"Kamu senang kan, ini yang kamu mau kan?" ketus Vika, terus menyalahkan Arya.


"Tidak Vika, mana mungkin." ucap Arya enteng. Ada sesuatu yang ia sembunyikan, rasa senang, ya rasa senang yang Arya sembunyikan.


Lelah sudah Vika berteriak, tidak ada juga yang mau membuka pintunya. Vika berpikir siapa yang sudah berani menguncinya berdua dengan Arya.


"Mungkinkah ini rencana Maya." batin Vika.


Tak lama, untungnya petugas pembersih dan keamanan sekolah datang untuk meng-chek setiap kelas.


"Pak... Pak Atmo, bukain pintunya pak, saya terkunci didalam." teriak Vika.


"Orang apo hantu." sahut Pak Atmo memastikan. Bicaranya khas logat batak.


"Orang pak,,, oraaanng..." ucap Vika semakin keras.


Arya hanya memperhatikan Vika, sesekali ia tersenyum melihat tingkah Vika yang panik.


Vika segera membereskan barang-barangnya ke dalam tas, tanpa mempedulikan Arya, melihatnya saja tidak, ia pergi menuju pintu begitu saja.

__ADS_1


"Kenapo bisa kau terkunci didalam, siapo yang mengunci kau hah." ucap Pak Atmo setelah membuka kancing kunci dari depan.


"Saya tidak tahu pak, ah ya sudah makasih ya pak." ucap Vika.


"Ah kau juga terkunci nyo Arya, kenapo bisonyo lah kalian berduo."


"Bapak mau tahu, tanya sama yang diluar, kenapa bisa saya didalam sampai tidak bisa keluar." jawab Arya bertele-tele.


"Ah, ado-ado saja kau ini."


Arya melangkahkan kakinya, meninggalkan Pak Atmo begitu saja, Arya mengejar Vika, untuk mengajaknya pulang bersama. Namun, sayangnya papanya Vika sudah sampai untuk menjemput.


Sampai Rumah, Vika mengisi batrai ponselnya, untungnya sebelum ponselnya mati, Vika sudah mengirim pesan pada papanya untuk menjemputnya.


Masih penasaran, Vika menghubungi Maya, sayangnya tidak diangkat oleh Maya.


"Tidak salah, ini pasti kerjaan Maya, tidak biasa juga Maya mengabaikan panggilan saya." ucap Vika pada hatinya.


Tidak mau ambil pusing lagi, hari ini Vika ingin memikirkan penampilannya untuk hari perpisahan esok. Mulai mencoba semua baju yang ia miliki, Vika coba satu persatu, baginya tidak ada juga yang cocok.


Niat hati ingin mengajak mamanya kesebuah butik, tapi, saat Vika melihat mamanya yang tengah sibuk membantu papanya menyiapkan berkas, Vika mengurungkan niatnya.


"Vikaa..." panggil mamanya, baru saja Vika memutar balik tubuhnya.


"Iya ma." sahut Vika.


"Iya ma, tapi, entar kalau mama sudah tidak sibuk lagi." ucap Vika pengertian.


"Ini, mama sudah tidak sibuk lagi, sini Vika, bilang sama mama, jangan sungkan-sungkan." ucap Mamanya, membuat Vika bertambah malu.


"Hahaha... mama, Vika mau ke butik, temenin..." ucap Vika manja pada mamanya.


"Minta temenin Arya, biasa juga sama Arya." sambung papanya.


"Ini kan beda pa, kalau ke butik asiknya sama mama, kalau papa mau ikut, juga tidak masalah, iya kan ma." ucap Vika.


"Papa ikut,,, heheeheng, yang ada papa jadi patung disana." sahut papanya.


Sudah berpengalaman bagi papanya Vika, saat menemani istri dan anaknya pergi berbelanja, hanya menjadi patung, istrinya tidak peduli apa lagi anaknya, wanita kalau sudah shoping memang selalu lupa segalanya.


Mamanya Vika menyetujui ajakkan Vika, barang kali ada sesuatu yang menarik perhatiannya.


Tidak memakan waktu lama, Vika dan mamanya sudah sampai di butik langganan keluarganya. Tanpa Vika sadari, ternyata Arya juga disana bersama temannya.


"Selamat datang ditoko kami Boutique Rafiq, happy shopping, semoga hari anda menyenangkan." sambut pelayan tersebut.


"Terima kasih." sahut mamanya Vika.


"Wah...wah...wah Jeng Ranti, apa kabar? lama betul tidak pernah kesini." ucap teman mamanya Vika.

__ADS_1


"Baik, iya sudah lama tidak kesini, rasanya rindu." ucap mamanya Vika, sambil merangkul temannya.


"Sering-sering dong kesini." ucap temannya yang bernama Ria.


"Iya, ini sudah kesini."


"Ini yang cantik anakmu." ucap tante Ria, menunjuk Vika.


"Iya, namanya Vika."


"Hallo! tan." ucap Vika, lalu menyalami tante Ria.


"Hai Vika." sapa Tante Ria, mereka saling berkenalan.


"Baju yang saya pesan sudah selesai jeng?" tanya mamanya Vika.


"Sudah dong, pasti buat Vika cantik ya? kalau begitu saya ambil dulu ya." ucap Tante Ria


"Iya...iya silahkan jeng."


"Mama sudah pesan, sejak kapan ma?" tanya Vika bingung.


"Sudah sayang, 2 minggu yang lalu, untuk kamu."


"Eemm... makasih mama, mama memang the best." ucap Vika terharu. Mamanya hanya tersenyum.


"Ini dia bajunya, coba deh kamu pakai dulu sayang." ucap Tante Ria pada Vika.


"Wah... ini bagus, kamu suka kan sayang?" tanya Mamanya.


"Vika coba dulu ya ma." ucap Vika, lalu melangkah dengan sumringah.


Vika mencoba baju tersebut, sangat pas ditubuhnya yang tinggi dan juga langsing, .... serasi dengan warna kulitnya, ia berjalan bak model yang sedang mengiklankan busana.


Vika keluar dari ruang ganti, menunjukkan penampilannya pada mamanya dan tante Ria yang sudah mendisign apik bajunya.


Arya tercengang, matanya membulat, mulutnya sedikit terbuka, Arya yang memperhatikan Vika sedari tadi, tidak ada satupun gerak-gerik Vika yang terlepas dari sorotan matanya, menyaksikan penampilan Vika yang modis, membuat Arya terkesan. Matanya tak sedikitpun berkedip melihat aura kecantikkan Vika, meaki dari kejauhan.


"Vika, sungguh dia benar-benar cantik." ucap Arya dalam hati.


Arya terus mantengin Vika, tidak jenuh, meski sudah berjam-jam sudah terlewati, sampai Arya sendiri lupa dengan tujuannya datang ke butik tersebut untuk apa.


Sampai Vika sudah pulang, Arya baru tersadar bahwa dirinya belum menemukan baju yang pas untuk dirinya sendiri.


"Ah, dasar bodoh, sudah jam berapa ini!" makinya pada dirinta sendiri.


Arya membeli kemeja, jas coklat susu yang sudah direncanakan teman kelasnya, dan celana hitam, tidak perlu mencoba, Arya langsung membayar dan membawanya pulang.


\=BERSAMBUNG\=

__ADS_1


__ADS_2