Ada Cinta Dalam Hubungan Tak Bernama

Ada Cinta Dalam Hubungan Tak Bernama
Part 4


__ADS_3

"Aauuuuwwww...sshhh." rintih Vika.


"Auuww sakit ya? gak ada angin, gak ada hujan juga kan ya, kok bisa jatuh." ucap Olla kasar.


"Aduh, gunain matanya yang bener dong." tambah Syela.


Mereka berdua yang menjegal Vika tanpa berdosa, tidak merasa bersalah, langsung pergi meninggalkan Vika sendirian.


Vika hanya diam di perlakukan seperti itu, bukan ia tidak ingin melawan, tapi, ia tidak ingin menciptakan keributan di sekolah yang hanya terselsaikan jalur BK, lalu merepotkan orang tuanya.


"Vika, kamu baik-baik saja kan?" Ridho menghampirinya, untuk menolongnya bangun dari jatuhnya.


"Iya, tentu saya baik-baik saja hanya sedikit terluka." ucap Vika yang berusaha berdiri.


Arya yang menyaksikan fenomena ini merasa ada bagian kecil di dadanya telah melepuh, melepuh akibat terbakar panasnya api cemburu, ingin rasanya ia menolongnya, namun apa daya sudah ada Ridho yang menolongnya.


"Sabar Arya, Sabaaarr...Ridho hanya membantu Vika, tidak lebih." ucap Arya menenangkan dirinya sendiri.


Arya terus mengawasi Vika dan Ridho sampai di depan gerbang sekolah, ia ingin memastikan Vika baik-baik saja.


Papanya Vika terkejut melihat keadaan putri tunggalnya itu, yang berjalan setengah pincang.


"Astaga, Vika, kamu kenapa nak?" ucap papa Vika dengan penuh khawatir.


"Vika cuman kesandung pa."


"Cuman kesandung, coba sini Papa liat ada yang luka tidak?"


"Dirumah saja pa, Vika capek mau istirahat." tolak Vika sembari masuk kedalam mobil.


''Ridho makasih ya bantuannya." ucap Vika.


"Iya Vik sama-sama, mari Om Arta." pamit Ridho pada papanya Vika.


Papanya pun membawa Vika pulang. Arya yang sudah lega melihat pujaan hatinya baik-baik saja, ia juga langsung cabut.


"Papa gimana tadi kerjanya, lancar?" tanya Vika dalam perjalanan.


"Lancar dong sayang, oh ya Vika, nanti lulus SMA mau kuliah dimana?" tanya papanya.


"Pa Vika mau ambil kuliah diluar negeri boleh?"


Papanya Vika diam mendengar ucapan putri tunggalnya itu, bagaimana papanya bisa memberi izin sedangkan Vika adalah putri tunggalnya, dan tidak mungkin mamanya bisa jauh darinya terlalu lama.


"Papa gimana boleh tidak,? Vika janji bakal jaga diri baik-baik." ucap Vika meminta.


"Vika kenapa harus ambil kuliah di Luar Negeri nak, disini juga banyak kuliah yang bagus kan, gak mesti jauh dari Mama Papa kan sayang."

__ADS_1


Vika tak tega mendengar ucapan papanya itu, Vika juga khawatir dengan mamanya bila jauh darinya, entah bagaimana keadannya nanti.


"Liat nanti ya Pa, liat hasil ujian akhir Vika nanti."


"Iya nak, tapi pikirkan lah baik-baik ya."


"kita uda sampai rumah, tunggu sebentar, papa bantu berjalan." ucap papanya.


Vika duduk diteras, membuka sepatunya, melihat keadaan kakinya yang lumayan cukup parah, lebam dan sedikit membengkak.


Papanya Vika pun bergegas mengambilkan air hangat mengompres kakinya.


"Vika kenapa kakinya sayang."tanya mamanya.


"Tidak kenapa-napa ma, ini hanya luka kecil." ucap Vika yang tidak ingin membuat mamanya khawatir.


"Vika ini harus diurut, kalau tidak, bisa..." ucap mamanya, belum selesai bicara sudah dipotong olehnya.


"Tidak perlu ma, Vika bisa urut sendiri pelan-pelan." jawab vika yang paling anti kalau di urut.


Mamanya tidak peduli dengan penolakannya, mau tidak mau, jika sudah bertindak mamanya, Vika harus menerimanya dengan ikhlas, itu juga demi kebaikannya.


"Ma, Vika mau ke kamar, bantuin.." ucap Vika dengan memelas.


"Tuh kan, Vika gak bisa jalan sendiri, tapi, tenang saja, mama uda bilang sama Mbok Sumi untuk mampir kesini." ucap mamanya dengan kasih sayang.


"Wadduuuhh.." ucap Vika mengeluh.


"Iya deh iya,terserah Mama."


"Gitu dong anak Mama." ucap mamanya sekaligus menciumnya, terkadang cara mamanya yang memanjakan Vika, membuatnya tidak sanggup jauh dari kedua orang tuannya.


Vika beristirahat di kamarnya, tanpa di duga ada seorang yang mengetuk jendelanya.


"Siapa disana." tanya Vika.


"Vika, ini saya Arya." ucap Arya dengan bisik-bisik.


"Hah! Arya, kamu ngapain disini Arya, jangan konyol, mama, papa, saya bisa tahu dan bisa marah." ucap Vika khawatir.


"Saya cuman mau kasih ini Vika, terima ya." ucap Arya senyum dengan sejuta pesonanya, Arya memberikan buah, juga obat salep.


Vika tersenyum melihat Arya, tanpa ia sadari temanya itu sembunyi-sembunyi untuk menunjukkan rasa pedulinya, Vika sangat merasa bahagia atas kehadirannya, sepertinya, sakit yang dialaminya telah hilang dalam sekejab.


"Arya harusnya kamu tidak perlu repot-repot begini." ucap Vika tersenyum.


"Tidak masalah Vika, ini hal biasa bukan?"

__ADS_1


"Arya kamu tau dari mana."


"Sssstt...tidak perlu tau, saya tau dari mana oke, saya permisi dulu sebelum ketahuan, jangan lupa jaga kesehatan, makan tepat waktu." Arya pergi melambaikan tangan sekaligus mengedipkan sebelah matanya, dan melempar seutas senyum manis miliknya.


"Arya..Arya, ada-ada saja deh" Vika bicara dengan dirinya sendiri, juga bahagia melihat tingkahnya Arya hari ini.


Vika terus mengingat perkataan Arya yang menurutnya terdengar sangat manis, mungkin juga Vika tidak bisa move on untuk mengingatnya, sampai ia tertidur hingga di bawa ke dalam mimpinya.


"Vika...bangun..Vika bangun sayang, Mbok Sumi sudah datang untuk mengurutmu." ucap mamanya Vika.


"Bentar ma,Vika masih ngantuk." jawab Vika seadanya.


"Mbok Sumi..mari Mbok Sumi, ini anak saya yang mau di urut kakinya." Mamanya Vika memanggil Mbok Sumi.


"Mamaaa...bilangin sama Mbok Sumi jangan terlalu kuat, kalau bisa di elus saja ma." Rengek Vika hanya di balas senyuman oleh mamanya.


Mbok Sumi datang, ia menghampiri Vika yang


duduk tersandar di ranjangnya, Mbok Sumi mengelus kepalanya Vika, sampai Vika heran namun, ia tetap tersenyum pada Mbok Sumi.


"Hehehe Mbok sum yang sakit kaki saya, bukan kepala saya Mbok." ucap Vika cengengesan.


Mbok Sumi diam tidak menjawab, tangannya malah berpindah ke pundak Vika dengan sedikit memijatnya.


Vika semakin kebingungan, ia menggaruk kepalanya yang tidak gatal sambil tertawa kecil, bersyukur kakinya yang sakit tidak jadi di pinyet-pinyet.


"Ini pemanasan namanya nak, setelah selesai pemanasan baru saya urut kakinya yang sakit, nak." ucap Mbok Sumi baru bersuara yang juga tertawa kecil.


Mendengar hal itu membuat Vika menepuk jidatnya yang tidak ada nyamuknya.


Seketika tangan Mbok Sumi mulai menyentuh kakinya, dengan di awali mengelus dan di akhiri dengan hhhmmm... cetak... bunyi tulang Vika, dan tidak lupa Mbok Sumi mengajak Vika bercanda.


"Sekolah kelas berapa nak?" tanya Mbok Sumi.


"Kelas 3 SMA Mbok."


"Uda punya pacar belum?" tanya Mbok Sumi penasaran.


"Belum Mbok."


"Mbok tidak percaya, cantik-cantik kok belum punya pacar." ucap Mbok Sum sekaligus mengurut kaki Vika dengan sedikit keras.


"Aashh..bener Mbok Sum belum punya." Vika merasa pijatan Mbok Sumi mulai beraksi.


"Gak mungkin belum punya nak Vika, hayo...ngaku saja sama Mbok, Mbok bisa jaga rahasia kok."


Mbok Sumi terus berbicara, dengan urutannya yang berlangsung lebih kuat dari sebelumnya, membuat Vika kesakitan, lebih sakit dari mananggung rindu yang tak kunjung mendapatkan bertemu.

__ADS_1


"Aaaahhh...Mamaaaa...."


\=BERSAMBUNG\=


__ADS_2