Ada Cinta Dalam Hubungan Tak Bernama

Ada Cinta Dalam Hubungan Tak Bernama
Part 5


__ADS_3

Mamanya Vika merasa ngeri mendengar jeritan putrinya, seperti ikut merasakan sakit yang dirasakan Vika.


"Mama Vika gak kuat...sakit ma." Vika terus mengeluh.


Mamanya tidak sanggup melnyaksikan kesakitannya Vika, sampai meninggalkannya bersama Mbok Sumi.


Mbok Sumi terus mengurutnya membenahi urat malunya, eh maksudnya, urat kakinya yang sedikit bergeser.


"Sudah Mbok Sum, sudah." ucap Vika yang ingin mengakhirinya.


"Sudah cukup, cukup sudah, cukup sampai disini saja, daripada hati gelisah, cintaku kau balas dengan dusta." Mbok Sumi menyahuti Vika dengan nyanyian Versi Nirwana Band.


Vika yang awalnya meraung-raung dengan ekspresi wajah yang mengenaskan, kini berubah menjadi terbengong, bak penonton yang terkagum-kagum.


"kkwhahahkwahaha...kenapa nak, suara mbok memang jelek, maklum usia tua selera muda." ucap Mbok Sumi antara malu dan ke-PD-an.


"Lanjutkan Mbok." ucap Vika, dengan wajah setengah bengong.


Mbok Sumi tersipu malu ketika diminta melanjutkan nyanyiannya.


Mbok Sumi pun melanjutkan nyanyiannya sekaligus memainkan tangannya di atas kaki Vika, seperti sedang menggendang.


Vika yang menyaksikan tingkah Mbok Sumi, membuatnya tertawa geli, namun, juga merasakan sakit secara bersamaan.


"Gimana nak, sudah ada perubahan apa belum." tanya Mbok Sumi.


"Perubahan apa Mbok Sum?." tanya Vika balik.


"Perubahan kakinya lah nak, masak perubahan kecoa jadi tikus." ucap Mbok Sum bercanda.


"Hhmm xixixi..sudah mbok, serasa lebih enak dari sebelumnya." jawab Vika menahan tawa, sambil menggerak-gerakkan kakinya.


"Ya sudah kalau begitu, main urut-mengurutnya sampai sini dulu ya." ucap Mbok Sumi.


"Iya mbok, makasih ya hiburannya Mbok Sumi." ucap Vika.


"Hehehe...sama-sama nak. Mbok permisi dulu ya, kalau kangen sama Mbok, datang aja ke Seol Korea, mbok tinggal di sekitar situ nak." ucap Mbok Sumi mengarang.


"Hah, iya mbok iya, kapan-kapan saya mampir ya mbok, mbok hati-hati di jalan hehehe." ucap Vika cengengesan.


Mbok Sumi keluar dari kamar Vika, menemui mamanya Vika untuk meminta upah sekaligus berpamitan.


Setelah selesai di urut, Vika tertidur dengan nyenyak sampai lupa waktu, lupa makan, lupa mandi.(wajar ya lupa otaknya lagi istirahat.)


"Hhuuuuaaahhh..." Vika bangun tidur, tapi masih menguap. mengumpulkan nyawa sepenuhnya.


"Kok laper ya, bauk juga, astagaaaa saya ketiduran." ucap Vika dalam hati.


Vika bangkit dari tidur, bergegas ke kamar mandi mengguyur tubuhnya yang sudah kumel, bauk, lengket, dekil dan kusam.

__ADS_1


Selesai acara mandinya, Vika membuka ponsel, ada beberapa pesan, dan beberapa panggilan yang ia terima, dari Arya dan Ridho.


Arya :" Vika, gimana uda baik kan?."


" Vika, obat olesnya uda di pakai kan?."


"Besok masih bisa sekolah kan Vik?."


"Vika balas dong!."


Vika : "Uda baik kan kok Arya, berkat kamu,


makasih ya, obat olesnya."


"Pasti besok sekolah kok."


Ridho : "Hy Vik, kaki kamu gimana? baik-baik


saja kan?."


Vika : "Hy dho, kaki saya baik-baik saja, tadi


juga sudah di urut sama Mbok Sumi."


Setelah membalas pesan, Vika melanjutkan acara selanjutnya yaitu memberi makan anak yang di dalam perutnya, anak cacing.


"Mama kenapa gak bangunin Vika sih, sampai malam begini." ucap Vika sambil makan.


"Duh mama, lain kali bangunin aja gih." ucap Vika, mengingatkan mamanya.


"Hhmm...ya sudah Vika makan yang banyak ya."


"Oke ma," jawab Vika semangat.


Vika makan dengan lahap seperti orang tidak makan satu tahun, mulutnya penuh, sepenuh dompet kang bakso yang laris manis.(Ngomongin bakso jadi pengen makan bakso dah).


Acara makan Vika selesai, ia merasa sangat kekenyangan, makan malamnya kali ini tak terkendali, cara makannya juga seperti gembel awut-awutan.


"Duh ya ampun, kenyangnya perutku, sampai berubah ukuran gini." ucap Vika pada dirinya sendiri.


Ya perut Vika berubah ukuran, seperti orang yang mengandung janin kembar selama satu bulan. Mungkin saja makanan yang ia telan sudah meniup lambungnya secara berlebihan, sampai mengembang.


Vika berjalan menuju kamar dengan malas, ditambah lagi kakinya yang belum pulih sepenuhnya.


Sebelum tidur, Vika mengoleskan obat pemberian Arya yang mungkin membantu kesembuhannya lebih cepat.


Tanpa sengaja, tiba-tiba saja, wajah Arya hadir dalam bayangan Vika, dengan senyum-senyum ia mengingat kehadiran Arya, yang tidak di sangkanya melalui jendela kamar.


"Ah apaan sih Vika, sadar Vika sadar, Arya hanya anggap kamu sebagai temannya, tidak lebih. Arya juga memberikan buah dan obat juga karena kasihan, bukan perhatian, Vika!" ucap Vika yang berusaha menyadarkan dirinya, sambil menepuk kedua pipinya. Lalu memeluk dirinya sendiri yang merasa pilu.

__ADS_1


Trililit...triliilit...trililit....nada ponsel Vika berdering dengan nyaring, membangunkannya dari rasa pilu itu.


"Baru saja saya memikirkannya, dia langsung menelpon, apa mungkin Arya juga merasakan apa yang saya rasakan ya." ucap Vika menerka-nerka.


"Ah, ya sudahlah, angkat saja, barangkali, Arya ada suatu kepentingan." ucap Vika lagi.


Baru saja Vika ingin mengangkatnya, namun, Arya mematikan panggilannya, Arya meragukan dirinya.


"Kalau saya telvon Vika malam-malam gini, ganggu tidak ya?" tanya Arya pada dirinya sendiri.


"Telepon tidak ya?, telepon, tidak, telepon, tidak, telepon, tidak, telepon, ah ya sudahlah telepon saja." ucap Arya, sambil mengirakan dengan kelima jarinya.


Arya pun kembali menelepon Vika yang sempat kehilangan harapan.


"Malam Vika, apa kabarmu?" tanya Arya melalu ponsel genggamnya.


"Sssttt Arya jangan keras-keras, nanti mama sama papa dengar." ucap Vika yang belum menjawab pertanyaan Arya,sebab Vika khawatir, kalau mama, papanya mendengarnya sedang teleponan.


"Iya ma..ma..maaf Vika?" ucap Arya setengah berbisik.


"Tidak masalah ar, kamu tadi tanya apa?" ucap Vika dengan bantal menutupi kepalanya, agar tidak terdengar dari luar.


"Kabar kamu sekarang gimana?" tanya Arya lagi.


"Uda baikkan kok Arya, tadi juga uda di urut."


"Bagus dong, sama siapa?"


"Sama Mbok Sumi."


"Ooo, gimana enak tidak di urut?" tanya Arya penasaran


"Enak, tapi, setelah sakit...Mbok Sumi juga orangnya asik." jawab Vika, sekaligus menceritakan tentang Mbok Sumi saat bersamanya tadi.


Merekapun mengobrol dengan waktu yang cukup lama dan panjang, sampai lupa waktu terulang kembali. Hah dasar ya mereka berdua, sama-sama cinta saja sok jual mahal.


Selesai menelepon, rasa ngantukpun mulai menghampiri, menguasai bahkan merajai, memang rasa mengantuk itu tidak tahu diri, datangnya saja tiba-tiba, perginya juga mesti diusir.


Kring..kkriinngg..kkriiiiinnggg...jam alarm berdenting, membangunkan raga yang tengah beristirahat, harus memaksa bangkit untuk beraktivitas kembali.


"Hah, ya ampun sudah pagi, perasaan baru 1 jam tertidur." ucap Vika bergeming.


Mau tidak mau, Vikapun bangkit dari ranjangnya, yang selalu ia rindukan.


Seperti biasa Vika bergegas siap-siap pergi ke sekolah.


Sampai di sekolah Vika bertemu dengan Olla dan Syela, hanya mereka tidak tahu Vika melihat mereka, rasanya Vika ingin melempar sepatunya ke arah mereka berdua, namun, ia tersadar bahwa dirinya ada di dalam sekolah, Vika tidak ingin mempersulit ataupun mencemarkan nama baiknya sendiri yang hanya terhitung beberapa hari lagi, akan resmi menjadi Alumni SMA PERWIRA Angkatan 28.


"Sabar Vika sabar, orang sabar disayang tuhan," ucap Vika dalam hati.

__ADS_1


Vika melanjutkan langkah kakinya ke kelas, tanpa Vika sadari, Arya dan Ridho sudah ada di sisi kanan dan kirinya.


\=BERSAMBUNG\=


__ADS_2