
Mengingat tentangnya bersama Arya saat di taman, membuat Vika senyum-senyum sendiri. Mengambil sapu tangan dari tasnya, lalu, menggenggam erat-erat sapu tangan tersebut.
"Vikaaa... " panggil mamanya membuatnya terkejut.
"Iya Ma." sahut Vika.
"Kamu sudah pulang."
"Kalau belum, Vika tidak bakal menjawab Ma."
"Ya sudah, kamu mandi dulu sana." perintah Mamanya Vika.
Vika beranjak dari tempatnya. Menyegerakan acara mandinya. Selesai mandi, Vika mencari informasi FK lebih lanjut lagi.
"Yes, ini dia FK yang tepat." seru Vika, menemukan salah satu Fakultas Kedokteran yang menurutnya sangat bagus.
Esok Vika akan mengikuti ujian, pembukaan sesi pertama di tempat FK tersebut.
Arya sampai di rumah kostnya. Arya sibuk membereskan barang-barangnya, esok ia sudah berangkat.
Tok... tok... tok... Pak Andi mengetuk pintu.
"Aryaaa... " panggil Pak Andi dari luar.
"Saya pak." ucap Arya, membuka pintu.
"Ini tiket KA, sama sejumlah uang tunai. Kemarin kakek mu yang transfer. Besok berangkat ke stasiunnya akan Bapak antar." jelas Pak Andi.
"Makasih pak." ucap Arya, menerima tiket dan uang tersebut.
Pak Andi pun pulang, meninggalkan Arya yang masih pontang-panting menyusun barangnya, sulit kalau di bawa semua, sebagian barang Arya tinggalkan disana.
Esok pagi. Arya bangun terlalu pagi, ia harus mengambil berkas ke sekolahnya dulu, untung saja tidak ada halangan yang mempersulitnya.
Setelah pulang dari sekolah, Arya mampir ke rumah Ridho. Ia pamit dengan teman karibnya itu.
"Arya, saya lagi tidak ada acara."
"Memangnya kalau mau datang, harus ada acara dulu?" ucap Arya begitu saja.
"Hehehe... Tidak... Tidak, silahkan masuk, pintu rumah saya selalu terbuka lebar untukmu." Ridho mempersilahkan masuk.
__ADS_1
"Maaf dho, saya buru-buru, saya mau pulang ke tempat kakek-nenek." ucapan Arya spontan membuat Ridho terbengong.
"Dho, saya cuman mau pamit pulang, bukan mau minta uang, wajahmu sudah sepanik itu saja." ucap Arya bercanda.
"Arya, kamu serius?" tanya Ridho memastikan.
"Lah, ya iya lah, saya serius." Arya meyakinkan Ridho.
Tiba-tiba Ridho memeluk Arya. Arya juga menerima pelukkan Ridho, mereka seperti Adik Kakak yang merasa berat untuk berpisah.
"Kamu hati-hati ya, yak... Jangan lupa kasih kabar ke saya. Jangan lupa juga kalau sudah sukses." ucap Ridho dalam pelukkan Arya.
"Iya... iya, ya sudah saya pamit, mana Om sama Tante?"
"Hari gini mana di rumah Arya, seperti tidak tahu saja kamu."
"Mmm... Ya sudah, sampaikan salam saya ya. Sampai bertemu kembali." ucap Arya, lalu menaiki motor besarnya.
Tidak lupa, Arya juga singgah ke rumah Vika. Sayangnya saat itu Vika baru saja keluar untuk mengikuti ujian FK. Tentu saja Vika dan Arya tidak dapat bertemu. Padahal hari itu adalah pertemuan terakhirnya.
"Arya. Vika baru saja keluar." ucap mamanya Vika, asik menyirami bunga di halaman rumahnya.
"Oh, iya tan. Arya cuman mau pamit pulang. Om Arta dimana? tan."
"Kalau begitu, Arya titip salam sama Om Arta juga Vika. Arya pulang, mari Tante." ucap Arya, menyalami Tante Ranti.
"Iya, Arya, kamu hati-hati dijalan ya." ucap Mamanya Vika, sedikit merasa sedih.
"Iya, Tan." Arya segera pulang kembali ke kostnya, yang hanya terhitung jam akan di tinggalkannya.
Arya pulang dengan wajah yang kusut, bagaimana tidak, Arya menghampiri rumah Vika, tapi Vika, sudah entah kemana.
"Vika, kamu pergi di waktu yang tidak tepat, atau saya yang terlalu cepat. Waktu kita sekarang di rampas dengan kesibukkan. Entah kapan lagi kita akan bertemu." batin Arya, sebagian hatinya telah tertinggal.
Arya sampai di kost. Pak Andi yang sudah siap dengan mobilnya, bersedia meluncur mengantar Arya ke stasiun.
"Arya, buruan, waktu kamu sudah mepet ini." seru Pak Andi pada Arya yang baru saja sampai.
Arya langsung turun dari motornya. Sebelum masuk mobil, Arya pamit pada Bu Erni, istri Pak Andi yang sudah di anggap sebagai orang tuanya sendiri. Arya juga menitipkan motornya pada Bu Erni.
"Bu, Arya pamit ya. Nitip kuda." ucap Arya cengengesan, menyalami Bu Erni dan memeluknya singkat.
__ADS_1
Arya memasuki mobil, kepalanya masih memutar ke belakang. Melihat fenomena mantan tempat tinggalnya, yang tidak akan pernah ia lupakan.
Arya sibuk dengan ponselnya selama di perjalanan. Arya berniat menghubungi Vika. Namun, Arya baru mengingat kalau Vika sedang mengikuti ujian, pasti akan terganggu kalau ia meneleponnya, untuk itu Arya mengurungkan niatnya.
Vika berusaha keras menjawab setiap pertanyaan. Tiba-tiba saja pikiran Vika berpaling memikirkan Arya, sampai-sampai Vika menuliskan nama Arya di kertas ujiannya tanpa sadar.
"Mbak... Mbaakk." tegur seseorang, membuyarkan lamunan Vika.
"Hah! iya, ada apa ya kak?" Vika terkejut, mendongakkan kepala menatap wajah orang tersebut.
"Mbaknya yang ada apa? Mbak kalau belum siap mengikuti ujian, sebaiknya tunda dulu mbak. Coba Mbak liat kertas jawabannya Mbak." Orang tersebut menunjuk kertas ujian Vika.
"Ah, ya ampuunn, astaga." Vika terkejut, tidak menyangka dengan yang ia lihat.
Kertas ujian tersebut tidak dapat Vika teruskan lagi, akhirnya ia meminta kertas jawaban yang baru, terpaksa ia harus mengulanginya lagi dari awal.
"Vika fokus. Lupain Arya, kamu jangan egois. Ujian ini lebih penting kan. Arya juga belum tentu mikirin kamu." ucap Vika dalam hati.
Vika pun kembali fokus dengan kertas ujiannya. Untung saja ia bisa mengendalikan isi kepalanya, kalau tidak, entah bagaimana dengan hasil ujiannya.
Arya sampai di Stasiun KA. melangkahkan kakinya saja, Arya membutuhkan tenaga yang sangat ekstra.
"Arya, kamu hati-hati ya. Kalau sudah sampai, jangan lupa kasih kabar Bapak ya." ucap Pak Andi pengertian.
"Iya Pak, makasih Pak, sudah mau ngantar Arya." Arya memeluk Pak Andi. Tanpa Arya sadari Pak Andi meneteskan air matanya.
"Pak, kalau ada waktu, Arya bakal main ke rumah bapak." ucap Arya meredakan situasi yang semakin mengharukan.
"Bagus kalau gitu, akan Bapak tunggu waktu itu." Pak Andi menepuk pundak Arya.
"Ya sudah, saya pamit ya pak." Arya menyalami Pak Andi, lalu melangkahkan kakinya.
Dalam perjalan kereta api, Arya hanya memejamkan matanya, bukan karena mengantuk, tapi, mencoba melepas kegundahan hatinya.
Vika menyelesaikan ujiannya dengan baik, ya.. Meski awalnya tidak fokus, Vika masih bisa mengatasinya, kini ia tinggal menunggu hasilnya beberapa minggu lagi.
"Jam segini, kira-kira Papa sudah pulang belum ya." ucap Vika dengan dirinya sendiri, melirik jam tangan yang dikenakannya.
Vika pun memutuskan menghubungi papanya. Dengan hasil " Nomor yang anda tuju sedang sibuk.... " Papanya Vika terlalu sibuk. Ingin menghubungi Arya, Vika tidak enak hati.
Vika memutuskan naik taksi, sebenarnya ia tidak biasa, tapi, hal ini harus ia biasakan, agar tidak selalu bergantung dengan orang yang sibuk.
__ADS_1
\=BERSAMBUNG\=