
"Arya rasanya baru kemarin, kita sedekat lampu dan atap, kita menghabiskan waktu bersama, tapi sekarang kamu sudah bersama yang lain, sebaiknya saya harus jauhin kamu." Vika terus-terusan memikirkan Arya.
Vika merasa sangat aneh dengan dirinya, dirinya selalu serba salah saat ini, rasa cinta yang ia pendam membuatnya tidak berdaya, membuatnya terombang-ambing tidak jelas harus mengarah kemana, belum pernah Vika menghadapi perasaannya yang seperti ini.
"Aaaahhh.." Vika menjerit menenangkan pikirannya, tapi ia lupa tempat, sampai se isi kelas memalingkan wajah ke arahnya.
"Apa liat-liat, tidak suka?" ucap Vika kesal.
"Berisik tauukkk, kalau mau menjerit dihutan saja." ucap salah satu temannya.
"Bodoh amat, emang saya perduli." ucap Vika lagi.
"Vika kamu kenapa?, seperti habis liat mak lampir saja." tanya Maya yang heran.
"Iya, saya baru lihat Mak Lampir, makanya saya menjerit." ucap Vika mengarang.
"Hah beneran, mana mak lampirnya,mana Vik?" ucap Maya yang sudah celingak-celinguk.
"Disini May, disini...dihadapan saya, hahaahaha." ucap Vika yang menghadap Maya.
"Apa kamu bilang hah, enak saja wajahku yang secantik artis, dibilang seperti Mak lampir, yang bener aja dong Vik." ucap Maya sambil memukulkan buku catatannya dibahu Vika.
"Aauww sakit May, iya,,,iyaa,,,Maya cantik, sayakan hanya bercanda,piiisss..." ucap Vika mengacungkan jari telunjuk dan jari tengahnya, pertanda minta maaf.
"Emmm oke..oke, oh ya vik,entar sebelum pulang mampir ke perpustakaan yuk." ucap Maya.
"Gimana ya?, ya sudah entar saya temenin." ucap Vika yang tidak sampai hati menolaknya. Padahal Vika ingin cepat pulang.
Maya tidak pernah tahu tentang perasaan Vika kepada Arya, yang Maya tahu mereka berteman biasa sama seperti dirinya. Vika juga tidak ingin memberitahu Maya soal kebenaran perasaannya.
Pelajaran hampir usai, Vika yang biasanya sangat aktif dan bersemangat, kini ia hanya diam, bahkan saat ditanyapun Vika hanya menjawab tidak tahu. sepertinya Vika benar-benar membutuhkan sandaran dan nasihat.
Tteetthhh...tettthh..teettthh bel pulangpun bernyanyi, tidak lupa Vika memberi kabar pada papanya lewat pesan, memberitahu kalau dirinya akan pulang sedikit telat.
"Papa, Vika pulangnya sedikit telat, Vika mau temenin Maya mampir ke perpustakaan." pesan Vika terkirim.
"Ya sudah Vika, kalau mau pulang kabarin Papa lagi ya, nanti Papa jemput." balas papanya.
"Oke pa, sampai nanti Papa sayang." balas Vika lagi.
__ADS_1
"Ammaann, saya sudah dapat izin, ayo May kita jalan, keburu tutup perpustakaannya." ucap Vika dengan cepat.
Merekapun berjalan berdua, menelusuri kelas-kelas yang mereka lewati, dengan sekali-kali memasukinya untuk melihat nuansa kelas yang berbeda-beda.
Arya yang belum pulang, tentu melihat Vika dan Maya yang sibuk memperhatikan keadaan sekitar, tanpa berpikir panjang ia mengikutinya pelan-pelan agar tidak ketahuan.
Sampai diperpustakaan Vika mengambil jalur rak buku sebelah dinding bersama Maya, sedangkan Arya mengambil jalur tengah hingga tertutup rak buku. Arya mengambil sebuah buku, untuk pura-pura ia baca, agar Arya seakan-akan terlihat datang lebih awal, Arya juga duduk menghalangi jalan, padahal sudah tersedia tempat duduk yang lebih nyaman. Hal ini sengaja ia lakukan, agar bisa menyapa Vika, saat melewatinya.
Vika berjalan sambil memilih-milih buku yang pas untuk ia baca, namun Vika belum menemukannya dari panjangnya rak yang ia telusuri.
Terus Vika berjalan lalu memutar, tepat sekali jalur yang Vika ambil adalah tempat Arya duduk, sedangkan Maya masih berada dijalur pertama.
"Vika, kamu disini?" tanya Arya yang langsung bangkit dari duduknya.
"Iya." sambil tersenyum Vika langsung pergi begitu saja.
"Vik...vika." Arya memanggil, tapi tidak mendapatkan sahutan.
"Ada apa dengannya?" tanya Arya dalam kesendirian.
"Apa mungkin, Vika marah atas kejadian tadi,tidak...tidak...tidak." ucap Arya menerka.
Vika kembali menyibukkan dirinya mencari buku, sama halnya dengan Arya, tidak lama ia menemukan buku tersebut, buku yang ber isi motivasi, yang mungkin banyak membantunya menjernihkan kembali pikirannya yang sempat buram.
Saat Vika menarik buku tersebut dari asalnya, buku itu seperti terhalang,tidak bisa diambil Vika begitu saja. Ternyata ada orang lain juga yang menginginkan buku tersebut, hingga menarik buku tersebut dari bilik yang berbeda.
Vika tidak mau mengalah, ia terus menariknya meski susah, begitu juga dengan orang itu yang tidak lain orang itu adalah Arya. Alhasil buku itu menjadi rebutan mereka berdua, tanpa mereka sadari juga, bahwa mereka saling mengenal.
"Siapapun kamu, ngalah dong, saya butuh buku ini." ucap Vika dari sebelah kanan rak buku.
"Oohh ternyata Vika yang menarik buku ini, pantas saja tidak mau mengalah." ucap Arya dalam hati.
Arya tidak menjawab ucapan Vika, Arya masih berusaha menarik buku tersebut sampai jatuh di tangannya sepenuhnya.
Vika yang merasa sudah lelah melepaskan buku tersebut, tenaganya tidak sebanding dengan Arya, walau Vika melepaskannya tetap saja ia masih tidak rela.
"Kalau sudah selesai membaca, cepat kembalikan buku itu ditempatnya." ucap Vika kesal.
"Kamu mau buku ini, kalau mau temuin saya ditaman, hari minggu, jam 9 pagi." ucap Arya dengan nada suara yang berbeda, agar Vika tidak mengenalinya.
__ADS_1
"Kamu siapa." dengan cepat Vika menjawab, lalu ia berjalan menuju tempat Arya berada, tapi sayangnya Vika tidak menemukannya, Arya sudah pergi setelah ia mengucapkan perjanjiannya.
"Siapa sih? sok-sok an misterius, tapi kenapa harus ditaman? tapi tidak masalah deh,sudah lama juga tidak main ketaman." ucap Vika pada dirinya sendiri.
Tentu saja hal ini masih membuat Vika tidak berhenti berpikir.
"Wwooyy Vik, gimana dapat bukunya?" tanya Maya.
"Hah iya, hampir May, hampir dapat, tapi tidak beruntung, sudah ada yang mendapatkannya lebih dulu." Vika mengadu dengan wajah lesu.
"Makanya kamu itu jangan kebanyakkan bengong, nih buku persiapan UN, sebentar lagikan kita ujian, jadi kamu harus banyak-banyak belajar." ucap Maya sekaligus menyerahkan buku yang paling tebal, isinya lengkap 4 Mata Pelajaran.
"Uuppss,,,siap boss." ucap Vika menerima buku tersebut.
"Sudah selesaikan,mari kita pulang." ucap Vika lagi yang sudah merasa bosan.
Mereka berjalan sambil bercerita dan bercanda.
"Vika tidak terasa ya, padahal baru kemarin kita jutek-jutekkan karena tidak saling kenal, hahaha" ucap Maya yang mengenang pertama kali masuk sekolah.
"Sumpah bener banget may, kamu itu yang paling jutek daripada yang lainnya, hahaha." ucap Vika.
"Sadar diri dong Vik, kita tidak jauh berbeda ya!, semoga saja nanti kita bisa bertemu disatu kampus yang sama." ucap Maya dengan sungguh.
"Ya semoga saja, memang kamu mau ambil kuliah dimana May?" tanya Vika serius.
"Rencana diluar kota Vik, sekalian bantuin bisnis Bibi saya." ucap Maya.
"Yaaahhh, berarti harapan kita untuk satu kampus sangat tipis, saya pengen sih di Luar Kota, tapi saya tidak bisa jauh dari Mama Papa." ucap Vika tertunduk sedih.
"Emmm tidak masalah Vik, kita masih bisa saling bercanda lewat medsos(Media Sosial)kan dan..."
"Dan kalau rindu, kita harus atur jadwal untuk bertemu." sambung Vika yang asal memotong.
"Bentar ya May, saya mau telepon papa dulu." izin Vika pada Maya.
"Vika pliiss, kamu pulangnya sama aku saja ya, sudah lama jugakan saya tidak bertamu, boleh ya vik, boleh ya?" ucap Maya memelas.
\=BERSAMBUNG\=
__ADS_1