
"Vikaaa.." sapa Arya dan Ridho serempak. Membuat orang-orang sekitar menatap mereka termasuk Olla dan Syela.
"Sayaaa.." ucap Vika sambil menutupi kedua telinganya.
"Apaan sih, emang saya budek apa! di teriakin seperti itu." ucap Vika lagi.
Olla dan Syela merasa sinting melihat kedekatan mereka, terlebihnya lagi Olla menyukai Ridho, Syela menyukai Arya, tapi sayangnya mereka bukanlah type Ridho dan Arya. Sungguh menyedihkan bukan.
"Hahaha...sorry" ucap Arya.
"Gak budek emang, cumankan budek dikit." ucap Ridho menambahi.
"Hah, sejak kapaaann,,,sejak kaapaaann, amit-amit dah, hahaha." balas Vika.
"Eh Vik, itu si Ridho katanya sakit kepala, tapi minum obatnya Mylanta." canda Arya bisik-bisik pada Vika.
"Is ya ampuuunn...bener dho, ih parah bener kamu dho." ucap Vika, semakin membuat Ridho penasaran.
"Eh, anak tokek bicara apa kamu, sembarangan." ucap Ridho yang tidak terlalu ambil pusing, tapi masih penasaran.
"Ituu.. katanya.. kamuu...hahaha gak tahu ah dho, tanya Arya aja langsung. Saya duluan ya?" ucap Vika menggantung, lalu ia pergi menghampiri Maya.
"Maayyy..." ucap Vika dari kejauhan.
Maya langsung menoleh ke arah pemilik suara yang paling ia kenal, sambil melambaikan tangannya.
Mereka berdua barengan memasuki kelas dengan wajah yang khas ceria.
"Vik tugas kamu sudah selesai?" tanya Maya.
"Tugas apa? emang hari ini ada tugas ya?" tanya Vika yang tidak ingat.
"Ada Vika, kemarinkan kita di hukum tuh sama Bu Mega, jadi sebagai ganti karena kita tidak mengikuti jam pelajaran, kita di beri essay, dan harus selesai hari ini juga." ucap Maya sejelas-jelasnya.
"Astaga...Maya, saya lupa, liat kamu boleh ya."
"Nyontek gitu maksudnya."
"Gak nyontek may, cuman nyalin dikit doang, iya boleh ya, Maya cantik deh. Jangan pelit-pelit dong sama temen sendiri." ucap Vika seraya merayu.
"Iya deh iya, apa sih yang tidak buat kamu, Vika, dasar tukang rayu, xixixixi." ucap Vika.
"Yeeess, makasih banyak Maya, muach...muach...muach." ucap Vika sekaligus menciumi wajah Maya.
__ADS_1
"Lebay emang lebay,Vika lebay, hahaha." Maya tertawa melihat tingkah Vika.
Gaspol, tangan Vika terus menari di atas kertas tanpa jeda sedikitpun.
Selesai menyalin, Vika dan Maya mengantar buku catatan tersebut pada Bu Mega untuk di koreksi. Namun, tanpa di sangka jalan mereka terhalang oleh dua burung gagak.
"Eh cewek ganjeng." ucap Syela sambil mendorong pundak Vika dari belakang.
"Maksud kamu apaan, ngomong yang sopan dong," ucap Maya tidak terima, temannya di perlakukan seperti orang yang benar-benar tidak memiliki moral, sampai di labrak seperti itu.
"Ini bukan urusan kamu, tidak usah ikut campur, ini urusan kita sama Vika," ucap Olla kasar pada Maya.
"Vika teman saya, jadi urusan Vika adalah urusan saya juga, dan kamu tidak bisa mengatur-ngatur saya," ucap Maya dengan nada tinggi.
Vika hanya bisa terdiam, ia tidak dapat melawan, kalau masih berada di dalam sekolah. Vika selalu mengingat akibatnya dahulu, sebelum melakukannya, ia tidak ingin mengecewakan mama papanya.
Tanpa kata sedikit pun Vika langsung menarik Maya dari sana, menjauh dari Olla dan Syella.
"Vik..mereka sudah kurang ajar sama kamu, mereka harus di beri pelajaran." ucap Maya.
"Kamu juga punya masalah apa sama mereka Vik,,,cerita dong sama saya." ucap Maya tak henti bicara.
"Vika seharusnya kamu itu melawan, buktiin ke mereka, kalau kamu itu cewek terhormat, bukan diem aja Vika." ucap Maya yang memprotes Vika.
"Hhmm...Vika kamu memang sabar banget sih, kalau saya jadi kamu, pasti bakalan melawan di tempat tanpa tunda." balas Maya mencitrakan dirinya.
"Boleh-boleh saja May, kalau diluar sekolah tidak masalah, tapi semua itu juga ada batasannya kan?" ucap Vika.
"Iya..iya..ibu penasihat." jawab Maya.
Tidak terasa mereka telah sampai dimeja Bu Mega, karena, Bu Mega belum datang, mereka meletakkannya saja di meja tersebut, lalu mereka balik lagi ke kelas.
"May,,,tidak terasa ya, kita bentar lagi berpisah." ucap Vika dengan wajah bersedih.
"Iya Vik,,,pasti bakalan rinduuu berat sama kamu, apa lagi si Arya." goda Maya.
"Harus rindu, meski berat, kamukan hebat, pasti kuat, hahahaha. Arya mah gampang..." ucap Vika bercanda. Vika hampir keceplosan menceritakan tentang kejadian kemarin, menjenguknya lewat jendela. Untung saja Maya tidak menanyakannya kembali.
"Hahaha, oh ya Vik, kamukan belum kasih penjelasan, kamu punya masalah apa sama Olla dan Syela, sampai mereka segitunya sama kamu." ucap Maya mengungkit kejadian yang baru berlalu.
"Emmmm, ada deh, ada yang mulai kepo ni." Vika semakin membuatnya penasaran.
"Is Vika, buruan kasih tahu, tidak ada rahasia-rahasiaan ya di antara hubungan kita." ucap Maya sok serius.
__ADS_1
Vika yang mendengar ucapannya langsung menatapnya dengan tajam dan penuh misteri dalam matanya yang bulat.
"Oke..oke, jadi gini, sebenarnya permasalahannya itu,,, saya sendiri juga tidak tahu, apa ya?" ucap Vika yang baru sadar, bahwa Vika sendiri tidak tahu apa permasalahannya.
Vika mengingat kembali kejadian waktu ia jatuh, yang direncanakan Olla juga Syela. Vika berfikir untuk apa mereka melakukan kejahatan seperti itu. Mengingat kesalahan apa yang pernah dilakukanya, namun, tetap saja nihil, memang Vika tidak melakukan kejahatan apapun.
"Iya ya May, saya salah apa sama mereka, perasaan saya tidak pernah ngelakuin yang aneh-aneh." ungkap Vika lagi.
"Beneran, kamu tidak tahu masalahnya Vik?" tanya Maya memastikan.
"Sumpah May, tidak ada." ucap Vika meyakinkan Maya.
"Kalau gitu kita selidikin aja Vik, maksud mereka apa?, cari-cari masalah sama kamu."
"Boleh juga,,,ya sudah itu kita pikirkan nanti, sekarang kita masuk kelas, fokus belajar, okay!" ucap Vika bersemangat.
Pelajaranpun dimulai, hari ini giliran Pak Zoni yang mengajar Seni Budaya.
"Selamat Siang anak-anakku." sapa Pak Zoni.
"SELAMAT PAGI KEMBALI Bapakku." ucap serempak se isi kelas. mengingatkan bahwa masih pagi bukan sianv
"Masih pagi ya, perasaan bapak sudah siang, cuaca juga bisa bohong ya, sama kayak mulutmu yang suka bilang baik-baik saja, padahal hatinya tidak." ucap Pak Zoni bergurau.
Pak Zoni termasuk orang yang humoris, setiap beliau masuk pada setiap kelas, kelas itu pasti penuh dengan tawa.
"Ahhahaha...haha..haha." tawapun bercampur aduk, termasuk tawa Vika yang tidak ketinggalan.
"Pak Zoni habis di PHP-in (Pemberi Harapan Palsu) ya pak?" tanya salah satu siswa.
"Ah tidaklah, mana mungkin saya yang tampan begini di PHP-in, yang pernah itu, saya disayang karena uang, lalu dibuang karena banyak hutang...nggheheh." ucap Pak Zoni cengengesan.
Vika geleng-geleng mendengar jawaban gurunya itu. Kebiasaan Pak Zoni selalu bercanda, namun, itu semua tidak mengganggu kefokusannya untuk mengajar.
Tok..tok..tok...suara ketukkan pintu sedikit membuyarkan kefokusan orang yang di dalam ruangan kelas Vika, termasuk Pak Zoni.
"Permisi pak" ucap orang tersebut.
"Hhmm...ada perlu apa?" tanya Pak Zoni.
"Nngghhh anu pak,,perlu...perlu.." orang tersebut bingung mau menjawab apa.
Vika yang penasaran mengintip-intip, tapi tidak dapat menemukan wajahnya, karena tertutup pintu.
__ADS_1
\=BERSAMBUNG\=