
*Arya*
Satu hari berlalu. Arya sadarkan diri, matanya menyipit menangkap cahaya terang, tempat itu serasa asing baginya. Kepala Arya terasa sangat pusing, ia mengingat kejadian yang di alaminya.
"Kakek." ucap Arya lirih, ia baru menyadari kehadiran Kakeknya.
Kakeknya yang sedang menundukkan kepala langsung mendongak menatap Arya. Arya bangkit, memaksakan tubuhnya yang kaku.
"Arya, tidur saja, Nak, kamu masih sakit." ucap Kakeknya mencegah Arya bangkit. Arya pun tidur kembali.
"Kakek sudah lama disini?" Arya tersenyum, ia bahagia akan kehadiran kakeknya.
"Sudah ada satu minggu." ucap Kakek bohong, mengernyitkan dahinya.
"Satu minggu! Arya baru lihat Kakek sekarang." ucap Arya seadanya.
"Gimana mau lihat Kakek, mata Arya selalu tidur." ucap Kakek.
"Selama itu Arya tertidur Kek, Arya tidak percaya."
"Tanya saja sama Pak dokter kalau tidak percaya, ya, kan dok?" ucap Kakek, bermain sebelah mata dengan dokter yang memegang jarum suntik.
"Iya, sudah tujuh hari juga kamu tidak mandi." ucap dokter menimpali, membuat Arya semakin malu.
Arya mencium bau badannya, yang tercium beragam bau menempel di tubuhnya, badannya sangat lengket, Arya juga merasa risih dengan keadaannya.
Arya tidak sadar dengan wajahnya yang penuh perban, ia pikir wajahnya baik-baik saja, saat ia merasakan perih di wajahnya, tangannya meraba.
"Kakek, wajah Arya kenapa?" ucap Arya memegangi wajahnya.
"Arya, tenangkan dirimu Nak." ucap kakeknya menahan tangis, tidak tega. Kakek mengusap kepalanya Arya.
"Kakek, Arya cacat Kek." ucap Arya, tangisnya tumpah begitu saja.
"Siapa bilang kamu cacat, selagi ada saya, kamu tidak akan cacat, jadi anak lakik jangan cengeng." ucap dokter santai.
Arya diam seketika, melihat Dokter mulai menusukkan jarum ke tangan Arya. Arya mengelak, ia merasa ngeri, tapi, apa daya dokter dan Kakeknya bekerja sama memeganginya. Arya yang tidak bertenaga hanya pasrah.
"Adik masih sekolah?" tanya dokter, setelah menusukkan jarumnya.
__ADS_1
"Baru selesai sekolah dokter, mau lanjut kuliah ambil bidang kedokteran. Iya, begitu, kan? Arya." ucap Kakek membantu Arya menjawab, jawaban Arya yang hanya menggelengkan kepalanya.
"Wah, bagus itu. Kalau jadi dokter harus kuat mental dik, harus benar-benar niat." ucap dokter memberi bekal pada Arya.
"Sepertinya dari kemarin Kakek saja ya, yang menjenguk si Arya. Orang tuanya tidak ikut datang?" ucap dokter, membuat Arya terpukul, tapi hal itu sudah biasa baginya.
"Kakek juga orang tua saya, Selain Kakek-Nenek, tidak ada lagi. Jangan tanyakan lagi tentang orang tua saya." ucap Arya santai, meski sebenarnya hatinya pilu.
"Arya." tegur Kakeknya Arya, Kakeknya tidak suka mendengar ucapan Arya yang membuatnya bersedih.
Dokter yang bernama Hilman itu hanya diam, mencerna perkataan Arya yang berhasil menyentuh hatinya. Dokter Hilman membayangkan dirinya berada di posisi Arya, rasanya sangat menyedihkan.
"Arya, jadi anak angkat saya mau, kebetulan saya cari anak angkat laki-laki." ucap dokter tulus.
Dokter Hilman tidak berminat mencari anak angkat, namun, setelah mendengar perkataan Arya, niat di hatinya muncul, untuk menjadikan Arya sebagai putra angkatnya.
Mendengar perkataan dokter Hilman, membuat Arya melempar pandangan tajamnya pada Kakenya, seakan-akan ia sedang minta pendapat Kakeknya.
"Bagaimana Arya, mau atau tidak? Kakek tidak keberatan, kan Kek?." ucap dokter meminta keputusan secepatnya.
"Kakek setujuh Arya, kalau Arya senang, tentu saja kakek ikut senangkan." ucap Kakeknya menimpali.
Arya mengangguk tersenyum, ia meneteskan air mata harunya. Bagaimana tidak, seumur hidupnya ia belum mengenal bagaimana kasih seorang Ayah dan Ibu.
"Coba panggil A y a h." ucap dokter Hilman mendekati wajah Arya.
"Ayah." bisik Arya yang masih malu-malu, rasa sakitnya kini sedikit berkurang.
"Hahaha... ya sudah Ayah tinggal dulu, mau ngurus pasien yang lain. Kek jagain putra bungsu saya ya." ucap dr. Hilman, lalu ia pergi.
"Kek, Nenek apa kabar?" Arya baru membuka suara, setelah kepergian Ayah angkatnya.
"Nenek meriang, merindukan kasih sayang dari cucunya." ucap Kakek, sekalian menyendokkan nasi ke mulutnya Arya.
"Nenek bisa meriang Kek di tinggal Arya, Kakek kan selalu ada, kenapa bisa meriang?" goda Arya.
"Ya beda Arya, kamu itu nanyaknya aneh. Sudah makan lagi, di habisin, biar cepet pulih." ketus Kakeknya.
"Kek." panggil Arya. Kakeknya hanya menatapnya.
__ADS_1
"Maaf ya Kek." ucap Arya lagi.
"Maaf! kamu habis ngapain, kok minta maaf." ucap Kakeknya bergidik.
"Arya dari dulu selalu bikin Kakek repot. Apa lagi sekarang keadaan Arya seperti ini, pasti makin ngerepotin." ucap Arya nesu, tidak enak hati sudah membebani Kakek dan neneknya.
"Ini sudah tugas Kakek Arya, jangan di pikirin. Kamu kalau tidak begini, tidak bakal punya Ayah baru lho." ucap Kakeknya, mencolek pinggang Arya.
"Apaan Kakek, mesti gini dulu, baru punya Ayah. Tidak adil ini namanya." ucap Arya tertawa samar.
"Arya, kamu itu lebih beruntung Nak, coba lihat di luar sana, masih banyak orang yang nasibnya kurang beruntung." Kakek menasehati Arya, agar ia tidak sering mengeluh.
"Maaf, Kek, Arya lupa."
"Jangan suka lupa Arya, nanti nama kamu di coret sebagai anak muda."
"Tidak masalah, yang penting tidak di coret sebagai cucu Kakek."
"Hahaha... kamu itu kalau ngomong suka ngasal."
"Kakek kalau ngomong suka salah." ucap Arya enteng.
"Sudah Arya, waktunya kamu istirahat. Kakek mau pulang sebentar, jemput Nenek, Nenek mau ketemu sama kamu."
"Kakek hati-hati." ucap Arya lirih.
Arya pun kembali sendiri di ruang yang sepi. ia mengamati tubuhnya dari ujung kaki sampai dadanya. Rasanya masih seperti bermimpi.
Arya tertidur. Esok pagi ia harus di oprasi. Arya sendiri tidak diberitahukan bahwa wajahnya akan di utak-atik, yang ia tahu hanya perawatan biasa saja. Entah bagaimana nanti dengan wajah barunya, terima atau tidak, Arya harus menerimanya, itu juga demi kebaikkannya.
*Vika*
Satu hari penuh, Vika menjalin hubungan dengan uring-uringan. ia bingung harus ngapain, biasanya Arya lah yang sering mengajaknya mengganti suasana yang mulai membosankan, entah itu ke taman, ke perpustakaan, ke warung, ataupun jalan-jalan tanpa tujuan. Tentu saja hal itu membuatnya senang.
Dalam penantian kabar dari Arya, Vika masih menghubungi nomor Arya, padahal ia tahu nomor Arya sudah tidak aktif sejak kemarin.
"Kamu tidak biasanya seperti ini Arya, kamu menghilang tanpa bilang-bilang, kamu belajar ilmu ngilang dimana sih." ucap Vika sekenanya, menatap langit-langit kamarnya.
Jujur saja, Vika sedang menanggung beban yang sangat berat, beban rindunya kepada Arya, apa lagi ia pendam untuk dirinya sendiri.
__ADS_1
Mendengarkan lagu selow plus galau adalah kebiasaan Vika, untuk merilekskan hati dan pikirannya, yah itung-itung bisa menjadi bentengnya dari stress.
\=BERSAMBUNG\=