Ada Cinta Dalam Hubungan Tak Bernama

Ada Cinta Dalam Hubungan Tak Bernama
Part 40


__ADS_3

"Pliiisss... Vikaa... kamu masih waras, jangan pura-pura gila, kalau tadi kamu mati gimana, malah dosa masih banyak lagi." ucap Vika dalam hati. Memegangi kepalanya yang mendangak ke atas.


"Vikaaa." panggil dua orang dari belakangnya.


"Iya." sahut Vika, menoleh ke sumber suara, ternyata suara itu milik Olla dan juga Syela.


"Syela, Olla, kalian sudah beraktivitas kembali." ucap Vika lagi, memperhatikan Olla dan Syela dari bawah ke atas.


"Iya, kita sudah seger buger lagi, berkat kamu Vika." ucap Olla dan Syela tersenyum.


Syela memeluk Vika, begitu juga Olla, mereka saling berpelukkan seperti teletabis. Vika yang bingung, akan tingkah mereka hanya mengikuti saja.


"Ada apa ini?" tanya Vika heran.


"Vika, maafin kita ya." ucap Syela merasa bersalah, atas perbuatannya selama di sekolah.


"Maaf, buat?" Vika mengernyitkan dahinya.


"Buat semuanya." ucap Olla menimpali.


"Lupakan saja, sudah saya maafkan kok." ucap Vika sambil tersenyum.


"Mmm... sebagai tanda maaf saya, gimana kalau kita makan malam di luar, saya bandar deh." ucap Syela memegangi tangan Vika, tanda memohon.


"Mmm... Oke!" ucap Vika berat, Padahal ia tidak suka keluar malam, kecuali bersama orang tuanya.


"Ya sudah, nanti malam kita tunggu di Cafe Gradian ya." ucap Syela dengan senang hati.


"Oke, kalau gitu saya duluan ya? sampai bertemu kembali." Vika pergi meninggalkan Olla dan Syela.


Antara percaya dan tidak, sikap Olla dan Syela sudah berubah drastis, mungkin mereka sadar kalau memusuhi Vika suatu kesalahan yang besar. Orang sebaik Vika memang tidak pantas di benci, Vika memang suka menolong oleh siapapun karena jiwa sosialnya sebagai makhluk hidup, tidak peduli siapapun orang itu.


"Mama, Papa, Vika pulang." ucap Vika, sesampainya di depan pintu rumah.


"Iya, sebentar." ucap Papanya, segera membuka pintu tersebut.


"Dari mana saja kamu? Vika." tanya Papanya.


"Dari sana Pa, ujung jalan." ucap Vika, masuk begitu saja.


"Jalan tidak ada ujungnya Vika." Papanya hanya geleng kepala mendengar ucapan Vika.


"Ada Pa, Papa saja yang tidak pernah tahu." ucap Vika setengah berteriak.


"Coba beri tahu Papa, Vika. Ayo jalan-jalan lagi." ajak Papanya Vika, ingin tahu.

__ADS_1


"Hahaha... Kaki Vika sudah pusing Pa, Papa sendiri saja." ucap Vika becanda.


"Eeyy Vika, bising-bising bahas apa ini?" ucap Mamanya yang sedari tadi mendengarkan Vika berteriak.


"Biasa Ma, Papa sok jago." ucap Vika seadanya.


"Oh ya, Ma. Vika nanti malam mau keluar, boleh?"


"Tumben, sama siapa? tidak usah deh Vika, biasanya kan keluar malam sama Mama Papa doang, atau sama Arya, walaupun cuman sebentar."


Mendengar nama Arya membuat Vika terdiam, wajah Arya terlintas begitu saja di pikirannya.


"Vikaaa." tegur Mamanya, membuyarkan lamunan Vika.


"Hah! iya Ma, ada apa?" jawab Vika cepat karena terkejut.


"Ada tikus, tikus, itu tikus." Mamanya Vika menunjuk kakinya Vika.


"Tikus, tikus, mana tikusnya Ma." refleks Vika meloncat-loncat.


"Hahaha..." gelak Mamanya Vika.


"Mama, jangan becanda pas Vika lagi serius-seriusnya."


"Serius apa, Vika tidak fokus begitu, kebanyakkan bengong lagi. Kamu di luar kesambet apa sih Vika?" ucap Mamanya heran.


"Jawab dulu Vika. Sama siapa? dimana? acara apa?" tanya Mamanya penuh selidik.


"Sama temen. Di Kafe Gradian. Acara pertemuan terakhir, sebelum pergi ke luar kota untuk studynya, begitu Ma." ucap Vika tidak sesuai.


"Duh, boong dikit tidak apa-apa deh, dosa juga pasti bakalan nambah." ucap Vika dalam hati.


"Ooohhh, gitu ya, gimana ya." ucap Mamanya antara ia dan tidak.


"Boleh dong Ma, janji deh, tidak aneh-aneh. Vika kan juga sudah dewasa. Boleh ya Ma, pliiisss." ucap Vika dengan tangan memohon.


"Coba tanya sama Papa kamu, Vika."


"Eemm, nanti saja, Vika mau mandi dulu Ma."


"Ya sudah, Mama mau siapin makan malam dulu." ucap Mamanya, lalu keluar dari kamarnya Vika.


"Tumben-tumbenan Vika mau keluar malam, sama temen-temenya, malah di kafe lagi. Ah sudah lah, Vika juga sudah menginjak dewasa setidaknya ia sudah paham mana yang baik untuk dirinya." batin Mamanya tidak percaya, tapi berusaha untuk percaya.


Beberapa menit berlalu. Vika menyelesaikan acara mandinya. Dengan ragu-ragu ia menghampiri Papanya di depan televisi, tidak lupa membawa secangkir kopi dan cemilan di atas nampan.

__ADS_1


"Papa." sapa Vika. Papanya hanya menatapnya heran.


"Apaan sih, Pa. Liatnya gitu banget."


"Demi apa ini, pakai buatin kopi plus cemilan lagi." ucap Papanya Vika sekenanya.


"Ahaha... Papa minum dulu kopinya mumpung masih hangat Pa." ucap Vika menawarkan kopinya.


Papanya Vika menerima kopi buatan Vika. Dengan santai Papanya meniup-niup kopi tersebut, lalu menyeruputnya dengan perlahan.


"Pa, Vika nanti malam ada acara ngumpul sama temen alumni, boleh ya Pa." ucapan Vika yang di ragukannya berhasil keluar dari mulutnya.


"Uhuk...uuhhuuk...uhhukk." Papanya Vika terbatuk ketika mendengar ucapan Vika.


"Pelan-pelan Papa, kopinya tidak akan habis kok." Vika menepuk-nepuk punggung Papanya.


"Sejak kapan? anak Papa mulai doyan ngumpul-ngumpul." ucap Papanya Vika, setelah meredakan batuknya.


"Ya, kan, ini kumpulannya beda Pa, temen Vika ambil studynya jauh, jadi tidak bisa sering jumpa seperti di sekolah. Gimana boleh, kan?" ucap Vika menggoda, dengan senyumnya yang manis, dan mata yang ia sengajakan berkedip-kedip.


"Jangan macem-macem." telunjuk Papanya mengarah tepat di wajah Vika.


"Iya, tidak macem-macem, demi Papa seorang." ucap Vika, mengacungkan jarinya berbentuk huruf V.


"Okey... Papa izinin, tapi, ada syaratnya."


"Syarat-syaratan segala sih, kayak mau ngurus buku nikah saja." batin Vika.


"Apa syaratnya Pa, bawa cilok, martabak, sate, roti, buah... "


"Ahaha... bukan Vika. Pulangnya tepat waktu, pukul 21.00 sudah sampai rumah, lewat sedikit, Papa coret nama kamu di kartu keluarga." ketus Papanya mengancam.


"Dih, Papa kejem banget sih. ia kalau jalannya baik hati sama Vika. Kalau ada paku di atas jalan, terus di biarin sama jalannya, terus nancap di ban motor Vika, kan Vika jadi telat pulangnya Pa." ucap Vika panjang kali lebar.


"Kamu itu, kalau di kasih syarat, ngawurnya sampai ke sapu Nenek Sihir." ucap Papanya Vika semakin ngawur.


"Hahaha... Papa, apa hubungannya sama Nenek Sihir. Jam sembilan lebih dong Pa, bonus, kan sudah Vika buatkan kopi."


"Vika, kamu itu di izinin keluar saja sudah syukur, pakai negosiasi lagi. Entar Papa bisa berubah pikiran lagi ni." ketus Papanya, yang tidak bisa di bantah keputusannya.


"Hah! jangan dong Pa, okeeeyyy jam 9 pas Vika pulang, tidak kurang dan tidak lebih. Puas kan Papa." ucap Vika.


"Nah, gitu dong. Kan enak. Sama-sama menguntungkan. Kamu dapat izin keluar, Papa tidak cemas kalau kamu pulang terlalu lama, ya kan?"


"Iya deh, iya, terserah Papa, Yang penting Papa seneng." ucap Vika pasrah.

__ADS_1


\=BERSAMBUNG\=


__ADS_2