Ada Cinta Dalam Hubungan Tak Bernama

Ada Cinta Dalam Hubungan Tak Bernama
Part 20


__ADS_3

"Kamu duduk sini dulu ya." ucap Vika, lalu meninggalkannya ke dapur.


Vika sangat memahami Arya dengan baik, ia tahu kalau Arya tidak sempat makan, Vika mengambil 2 porsi nasi goreng, 1 untuknya, dan 1 untuk Arya. Vika membawanya ke ruang tamu.


"Arya di makan ya."


"Astaga, Vika, saya kesini cuman mau jemput kamu, bukan mau minta makan, uda deh saya balik saja kalau begini." ucap Arya, yang bangkit dari duduknya.


"Eettss... Arya, terus saya pergi sekolah sama siapa. Jangan gitu ah, jangan seperti anak kecil, harus di bujuk dulu baru nurut." ketus Vika mencegah Arya.


"Pergi sekolah tetap sama saya Vika, tapi, saya tunggu di depan."


"Tidak Arya, kamu tunggu disini sama saya." ucap Vika bersih kukuh menahannya.


"Ya sudah, tapi, kamu saja yang makan."


"Kamu tidak suka nasi goreng selezat ini Arya, atau kamu mau yang lain, sebutkan saja." ucap Vika, sambil memperlihatkan piring nasi goreng di hadapan Arya.


"Saya tidak ingin apa-apa Vika, saya juga tidak lapar." ketus Arya.


"Jangan bohong, perut kamu lepes, belum ada isinya, lihat itu, kamu bilang itu tidak lapar, ya mungkin bagimu tidak, tapi bagi percernaanmu, mereka butuh asupan untuk bekerja kan? ." ucap Vika, menunjuk perut Arya yang tak terlihat.


Arya diam, piringnya juga tidak di sentuh, membuat Vika kesal dan kehilangan kesabaran, Vika mengambil piring tersebut, menyendokkan nasi, lalu menyodorkannya ke mulut Arya.


"Ayo makan, waktu kita tidak banyak, untuk menunda sesuatu." ketus Vika.


Arya geleng kepala melihat tindakkan Vika semacam ini, kalau sudah begini Arya juga tidak dapat menolaknya, Arya menerima suapan Vika dengan malu.


"Dasar bocah." gerutu Vika.


"Uuhhuuk..uuhhuukk, bilang apa kamu tadi." ucap Arya terbatuk.


"Tidak, tidak bilang apa-apa, minum dulu, ini kamu habisin, makan sendiri." ucap Vika acuh tak acuh.


Arya memalingkan wajah, menyembunyikan senyum di raut wajahnya, ia menjadi malu seketika, begitu juga dengan Vika.


"Vik, mama kamu tidak keliatan sejak saya datang, kemana?" ucap Arya memecah keheningan.


"Tadi ke warung sama saya, tapi, saya pulang duluan, mungkin mama masih disana. Kalau tidak, mampir ke rumah tetangga." ucap Vika santai, masih menikmati acara makannya.


"Oooo... "


"Iya, Arya kamu mau tambah lagi?." ucap Vika menawari.


"Tidak, ini sudah cukup, kamu mau buat saya terlalu kenyang, lalu tidak fokus menjawab ujian, begitu." ucap Arya menatap Vika.


"Tidak, mana mungkin saya berpikir seperti itu. Ya sudah, saya bereskan dulu ya."

__ADS_1


"Saya saja yang membereskannya, kamu siap-siap sana." ucap Arya.


"Kamu ada-ada saja, ini tugas saya bukan tugas kamu."


"Siapa bilang, tugas kamu juga tugas saya. Sudah buruan siap-siap sana, nanti kita bisa telat." ucap Arya tak mau kalah.


Vika menurut perkataan Arya. Sedang Arya sibuk membereskan piring kotor tersebut, membawanya ke dapur, lalu mencucinya sebersih mungkin.


Setelah selesai membereskan piring kotor, Arya kembali ke ruang tamu, menunggu Vika yang lumayan cukup lama. Sesekali Arya membuka buku pelajarannya, untuk mengisi otaknya.


"Arya, sudah, ayo berangkat." ajak Vika.


"Sudah, oh iya, bukunya sudah kamu bawa." ucap Arya mengingatkan.


"Sudah lah, memang saya sudah lansia, yang mudah lupa." ucap Vika senyum.


"Yang ngatain kamu lansia siapa? Vika..."


"Ya kamu lah. Pasti saya ingat, tidak perlu di ingatkan lagi."


"Ya ampun, cuman pengen ngingetin doang, juga salah." ucap Arya heran, dirinya selalu salah di mata Vika.


Baru saja mereka mau pergi, mamanya Vika muncul dengan menenteng belanjaannya.


"Lho, Arya sudah sampai sini saja, pantas saja Vika tiba-tiba menghilang." ucap mama Vika.


"Mama, tadi kan Vika sudah bilang, mau pulang duluan, mungkin mama tidak dengar tadi." bohong Vika malu, Vika memang langsung meninggalkan mamanya tanpa pamit dulu, saat matanya tertuju pada Arya.


"Tante, Arya pamit, Vika saya bawa sebentar." ucap Arya sopan, membungkukkan badannya menyalami mamanya Vika.


"Ya Arya hati-hati, jangan kebut-kebutan, Vika di bawa ke sekolah ya, jangan di bawa pulang." ucap Mamanya Vika bercanda.


"Iya tante." ucap Arya menahan tawa.


"Mama apa-apaan sih. Ya sudah Vika berangkat dulu ya ma." ucap Vika tersenyum malu-malu.


Mamanya Vika tertawa kecil melihat ekspresi putrinya. Masih berdiri memandangi putrinya yang mulai tak terlihat. Tak di rasanya putri kecil yang ia rawat, sudah tumbuh dewasa.


Mamanya Vika meneteskan air mata, membayangkan, bagaimana sepinya rumah tanpa sosok putrinya itu, jika, putrinya nanti sudah berumah tangga, dan ia tidak bisa memaksa Vika untuk tetap tinggal.


Arya dan Vika menikmati ramainya perjalanan tengah mengobrol, mengencangkan suaranya agar terdengar jelas.


"Vika." panggil Arya.


"Iya." sahut Vika.


"Pegangan, kalau tidak, nanti kamu bisa melayang." ucap Arya.

__ADS_1


"Eh, Arya liat itu." ucap Vika mengalihkan percakapan Arya.


"Liat apa?"


"Iittuu... " ucap Vika, menunjuk hiburan topeng monyet yang tidak jauh dari pinggir jalan.


"Ooo, kenapa? kamu mau liat." ucap Arya menawari.


"Mau, tapi, tidak mungkin, waktunya sudah mepet. Lain kali saja deh."


"Eemm, Nanti pulang sekolah, kita mampir sebentar mau?"


"Tidak Arya, nanti mama curiga kalau saya pulang telat. Janjinya kan, selesai ujian mau langsung pulang."


"Terus bisanya kapan Vika? anak mama papa gitu banget."


"Wajar, anak baik seperti saya itu langkah, hahaha... " ucap Vika.


"Bangga kok jadi anak mama papa, bangga itu jadi istri saya." batin Arya.


"Iya... iyain aja, hahaha..." ucap Arya.


Tidak lama mereka sampai di parkiran sekolah, kedekatan mereka di saksikan oleh 4 mata burung gagak, maksudnya Olla dan Syela.


"OMG! syel kamu lihat itu." ucap Olla, jarinya menunjuk ke arah parkiran.


"Hah, nekat banget yah tu anak, padahal sudah saya gertak kemarin, saya harus kasih dia pelajaran lebih." geram Syella.


"Kamu mau ngapain." tanya Olla.


"Lihat saja nanti, apa yang akan saya lakukan."


Maya yang sudah siap siaga, memperhatikan gerak-gerik Olla dan Syela, sayangnya Maya tidak mendengar percakapan mereka.


"Sepertinya mereka punya niat jahat, perlu di waspadain nih mereka, tapi, entar aja deh." batin Maya.


Maya memutuskan nyamperin Vika dan juga Arya.


"Ih, kalian barengan, is, ya ampun, kalau di lihat-lihat ni ya, kalian serasi banget." ucap Maya memanasi keadaan, lebih tepatnya memanasi telinga Syella.


"Tuh kan, kalian cocok, kalau kalian jalan berdua, pasti banyak yang baper." ucap Maya lagi, sekalian menyatukan tangan Vika dengan tangan Arya.


Arya dan Vika setengah bengong melihat perlakuan Maya, menerka-nerka apa yang sedang di pikirkan Maya, sampai ia seperti ini.


Vika memperoleh kesadarannya, melihat tangannya yang sedang di genggam Arya, Vika langsung menepisnya.


"Maya, kamu kehilangan akal ya." ucap Vika, Vika langsung membawa Maya pergi, sebelum ada hal aneh lagi yang akan di lakukannya.

__ADS_1


"Arya, saya duluan ya, nanti temuin saya di perpustakaan." ucap Vika dengan suara setengah keras, Vika sudah hampir menjauh dari Arya.


\=BERSAMBUNG\=


__ADS_2