
Untung saja stok bulu tangkis masih banyak, jadi kalau hanya 1, hilangpun tidak masalah. Arya menganggap hal ini adalah sebuah keberuntungan, ia bisa mengunjungi rumah Vika dengan alasan mengambil bulu tangkis.
"Saya ambil bulu tangkisnya dulu ya?." ucap Arya pada satu teman timnya yang bernama Reno.
"Tidak perlu, masih ada cadangannya." ucap Reno.
"Tidak apa-apa, saya ambil saja." Aryapun berlari meninggalkan lapangan.
Hanya lima langkah saja kaki Arya sudah menapak dihalaman rumah Vika, Vika yang sibuk menyirami tanaman tidak sadar akan kehadiran Arya.
"Eehhmm...ehhmm...permisi." ucap Arya.
"Iya, cari siapa ya?, ooo kamu saya kira tukang koran." jawab Vika santai.
"Bukan Vika, saya kesini mau cari bulu tangkis yang sempat terpelanting kesini, tapi dimana ya?, kamu bisa bantu cari." jelas Arya.
"Ooohhh, oke,baik saya bantu." ucap Vika gerogi,seperti tidak biasa.
"Terima kasih." ucap Arya.
Vika pun mencarinya disetiap langkahnya, sayangnya bulu tangkis itu nyangkut diantara ranting-ranting kayu yang tidak berdaun, sehingga membuat Vika tidak bisa menemukannya.
"Gimana Vika, sudah dapat?." tanya Arya yang berharap belum mememukannya.
"Belum Arya." ucap Vika singkat.
"Vik, besok hari minggu kamu sibuk tidak?." tanya Arya berpaling dari pencariannya.
" Besok hari sabtu Arya, sepertinya saya sibuk, memangnya kenapa?."
"Iya besoknya lagi kan minggu, sibuk apa?, mana tahu saya bisa bantu, maksudnya mau ajak kamu jalan."
"Tidak perlu, saya bisa menyelesaikannya sendiri, lagian saya juga ada janji."
"Janji!, apa yang dimaksud Vika, janji yang diperpustakaan tadi ya?." ucap Arya dalam hatinya.
"Oh begitu ya, janji sama siapa Vika?" tanya Arya yang memastikan.
"Saya sendiri tidak tahu dengan siapa." ucap Vika jujur.
"Yeess..ternyata benar dugaan saya." ucap Arya lagi dalam hati.
"Tidak tahu!, yakin tidak tahu vik, mana ada orang bisa berjanji tanpa mengetahui orangnya, emangnya kamu tidak takut ditipu atau dijahati." ucap Arya.
"Iya karena ini penting, lagian ditempat yang ramai kok, jadi tidak ada yang dikhawatirkan." ucap Vika.
"Ooo kalau begitu, saya temenin aja gimana?." tawar Arya.
__ADS_1
"Tidak perlu Arya, saya tidak mau merepotkan kamu." tolak Vika yang berusaha menjauhi Arya.
" Tidak repot kok vik, kan memang biasanya hari minggu kita jalan bareng." ucap Arya yang mengingatkannya.
"Maaf Arya, saya tidak bisa?." tolak Vika.
Biasanya saat Arya mengajak Vika keluar rumah saat hari minggu,untuk mengganti suasana yang membosankan kalau dirumah saja, Vika tidak pernah menolak seperti ini, bahkan terkadang Vika sendiri yang meminta Arya untuk menemaninya.
"Maaf Arya, bukan saya tidak mau, tapi saya tidak mau dianggap sebagai PHO (Perusak Hubungan Orang), apa lagi kamu baru dekat sama Syela." ucap Vika dalam hati.
"Vika kamu kesambet apaan, sampai tega-teganya nolak ajakkan saya, hari ini kamu beda Vika, bukan Vika yang kemarin, tapi ya tetap saja orang yang kamu temuin nanti adalah saya." ucap Arya dalam hati.
Vika melanjutkan pencariannya yang tertunda, begitu juga dengan Arya.
"Arya, sepertinya kamu salah tempat deh, dari tadi saya cariin, tidak nemu-nemu juga." ucap Vika kesal.
"Tidak mungkin Vika, beneran kok jatuhnya kesini." ucap Arya meyakinkan.
"Astaga, Arya tuh nyangkut di atas pohon." ucap Vika yang baru menemukannya.
"Ya ampun, pantesan dibawah tidak kelihatan, ternyata mantengin dari atas." ucap Arya mendongakkan kepalanya ke atas.
"Vika punya tangga tidak, atau sesuatu benda yang bisa digunakan gitu." tanya Arya.
"Ada tangga, dibelakang rumah, ambil aja."
"Ngomong apa sih Arya, kalau ngegabut mending pergi saja." ucap Vika tersenyum malu, sambil membalikkan badan agar Arya tidak melihatnya. Seketika wajah Vika merah merona.
"Saya ambil ya tangganya, kamu tidak ikut?, bantuin angkat gitu kek." Arya menyinggung Vika.
Vika pun menunjukkan letak tangganya yang terletak dibelakang rumah, dengan berjalan dibelakang Arya, Vika hanya bicara mengarahkan Arya untuk mengambil tangganya.
"Arya tangganya, disananya lagi, disebelah pohon." ucap Vika menunjukkannya dari belakang.
Vika berjalan sambil melihat bunga yang bermekaran disamping rumahnya, tanpa memperhatikan jalan yang ia lewati. Tanpa Vika sadari sebuah akar berada didepannya.
Jeeedduuuggg...kaki Vika kesandung lalu tubuhnya menubruk Arya, Arya terkejut saat tubuhnya Vika terlalu dekat dengannya.
"Aadduuuhh..." ucap Vika meringis.
"Vika kamu kenapa?" ucap Arya yang tidak tahu penyebabnya.
"Saya sedikit tersandung, maaf ya jadi nubruk kamu." ucap Vika merasa bersalah.
"Tidak apa-apa Vika, ada yang sakit tidak?" ucap Arya sambil meng-chek kaki Vika, Arya temukan sedikit memar dipermukaan kakinya, Arya yang simpati memijit-mijitnya pelan.
"Lain kali lihat-lihat dong kalau jalan, emang kamu sibuk lihatin apa Vika?, lihatin saya ya?." ucap Arya ke-PD-an.
__ADS_1
"Tidaklah, ngapain juga saya lihatin kamu." ucap Vika tidak terima.
Vika tersenyum, ia senang melihat keperdulian Arya, apalagi saat melihatnya memijit kakinya dengan lembut. Rasanya Vika sedang terbang melayang menuju angkasa.
"Arya sudah cukup, kamu ambil saja dulu tangganya." ucap Vika sambil menyingkirkan kakinya dari tangan Arya. Sejujurnya Vika tidak ingin mengakhirinya begitu saja, tapi apa daya tidak mungkin ia menahan Arya terlalu lama.
"Tapi kaki kamu masih..." ucap Arya yang belum selesai bicara.
"Sudah baik, liat tuh." potong Vika sambil menunjukkan kakinya.
"Okee, ya sudah ayo jalan." ucap Arya setelah percaya.
Arya berjalan mengambil tangga yang ditunjukkan Vika, ia mengangkat tangga tersebut, Vika yang tidak tega ikut membantunya.
"Kamu mau ngapain Vika?" tanya Arya.
"Saya mau bantuin kamu lah, tadi kamu sendirikan yang minta bantuan." ucap Vika mengingatkan Arya.
"Itukan tadi, sekarang tidak, tapi kalau kamu kuat angkat sendiri, angkat sendiri saja." ucap Arya.
"Ih yang butuh itu kamu bukan saya, Arya. Lagian saya tidak kuat ini terlalu berat buat saya." ucap Vika mengelak.
"Tapi ini tidak seberapa beratnya Vika, dibanding rasa cinta yang saya pendam untuk kamu, rasa itu sudah tumbuh sejak lama, dan itu sangat berat bagi saya." Batin Arya.
"Iya maka dari itu Vika, mending kamu jalan duluan, perhatiin jalannya, kalau ada batu yang gedek tendang aja." ucap Arya bergurau.
Vika mendengarnya tersenyum malu, Vika menuruti kata Arya, Vika berjalan didepan Arya, sedang Arya membawa tangga dibelakangnya, memperhatikan gerak-gerik Vika.
Sampai pada pohon tersebut, Arya pun berusaha mengambilnya dengan susah payah, dibantu juga oleh Vika yang memegangi tangganya.
"Vika tolong pegangin ya." ucap Arya meminta.
"Iya, hati-hati kamu naiknya, tangga ini juga sudah tua." ucap Vika memberitahu Arya.
"Setua apapun tangga ini, pasti akan kuat kalau dipegangin sama kamu Vija." ucap Arya, yang membuat Vika menjadi aneh, harus ber-ekspresi seperti apa, saat mendengar perkataan Arya yang semacam itu.
"Jangan banyak bicara Arya, buruan ambil." ucap Vika.
Arya menaiki anak tetangga satu persatu, eh salah, maksudnya anak tangga ya. Tidak lama ia mendapatkan bulu tangkisnya lalu menjatuhkannya kebawah, tidak sengaja bulu tangkis tersebut mengenai kepala Vika.
"Aduuuhh Arya, yang benar dong lemparnya.?" ucap Vika tidak terima.
"Iya maaf, saya tidak sengaja Vik." ucap Arya sambil menurunkan kakinya dengan hati-hati.
Arya turun dengan jantung yang was-was melihat keadaan tangga yang ia naiki, sepertinya tangga tersebut sudah siap untuk patah.
Tiga anak tangga lagi terhitung dari bawah, yang belum Arya lewati, satu langkah berhasil melewati anak tangga ketiga, satu langkah memijak anak tangga kedua. Ceetttaaakkk....anak tangga kedua patah.
__ADS_1
\=BERSAMBUNG\=