Ada Cinta Dalam Hubungan Tak Bernama

Ada Cinta Dalam Hubungan Tak Bernama
Part 32


__ADS_3

Sudah cukup lama mereka disana, kebosanan pun sudah tak terkendali, Arya dan Ridho memutuskan untuk pulang.


"Dho, ayok kita pulang." ucap Arya berbisik.


"Gimana sama Vika."


"Saya tunggu di luar, saya bosan." bisik Arya.


"Ah, ya sudah oke!"


Tanpa berkepanjangan lagi, Arya dan Ridho pamit pulang duluan tanpa mengajak Vika, sedangkan Vika masih asik mengobrol dengan gerombolan wanita yang berada disana, hanya Arya dan Ridho yang merasa lelaki (eh! emang lakik ya, bukan lelaki jejadian).


Vika membulatkan matanya lebar-lebar kepada Arya, Vika tidak bisa bicara banyak dengan Arya, bagaimana Vika bisa menanggapi 2 orang sekaligus dengan topik yang berbeda.


"Arya pulang, tanpa mengajak saya, berani sekali dia meninggalkan saya sendiri. Ridho juga. Dasar pria menyebalkan." batin Vika.


Rasanya Vika ingin menyusul saat itu juga, tapi, apalah daya, tidak mungkin ia pamit pulang begitu saja di tengah-tengah asiknya mengobrol, akan di anggap tidak sopan nantinya.


Setelah berdiam sejenak, Vika mengambil kesempatan untuk pamit pulang. Vika bangkit dari tempat duduknya, menyalami semua orang yang ada disana.


"Mau kemana?" ucap salah satu temannya.


"Mau pulang, ayo ikut?" ucap Vika ramah.


"Jangan sekarang dong, nanti saja, bareng kita." ucap temannya lagi.


"Tidak enak lah, soalnya kan bergilir, kasian yang di luar, tidak bisa masuk." ucap Vika beralasan.


"Iya juga, kamu hati-hati ya."


"Oke, pasti."


"Olla, Syela, saya pulang ya, semoga lekas sehat kembali." ucap Vika lagi, pada Olla dan Syela, mereka hanya mengangguk.


Dengan cepat Vika melangkah, ia harus menemukan kendaraan yang bisa membawanya pulang.


"Mereka gimana sih, main tinggal saja, tau begini saya tidak akan ikut." gerutu Vika pada dirinya sendiri.


"Nyesel." sambung Arya, yang tiba-tiba nongol.


"Lho, Arya, ka..kamu belum pulang?" ucap Vika bingung.


"Terus, Ridho kemana?" ucap Vika lagi, celingak-celinguk mencari sosok Ridho.


"Ridho sudah pulang duluan."


"Terus, kamu ngapain masih disini, kenapa tidak pulang duluan saja."


"Tadi kan perginya sama kamu, pulang juga sama kamu lah." ketus Arya.


"Kenapa kamu tinggalin saya disana."


"Yang penting tidak saya tinggal pulang kan."


"Tau ah, kamu kebanyakkan omong, saya mau pulang sendiri." Vika meneruskan kembali perjalanannya mencari kendaraan.


"Ayo Vika sama saya." Arya menarik tangan Vika, menghentikan langkah Vika.


Mau tidak mau Vika harus menurut. Arya membawa Vika tidak langsung pulang, karena, perjanjian awal mereka adalah keliling tanpa tujuan atau ke taman.


"Hah! Arya ke taman saja deh. Pinggang saya sudah pegal." ucap Vika, memegangi pinggangnya.


"Itu pinggang merek apaan sih." ketus Arya spontan.

__ADS_1


"Tidak bermerek, yang penting masih berfungsi."


"Pinggang muda kok seperti pinggang tua." gerutu Arya.


"Masih mending di kasih pinggang, kalau tidak, bayangkan saja, seperti apa saya berdiri tanpa pinggang."


"Bayangkan? ya pasti seperti tongkatnya Akik-akik." ucap Arya ngasal.


"Apa!" Vika tertawa kecil.


Sampai taman, Arya dan Vika mengambil tempat seperti biasa, duduk di depan danau kecil, yang di rasa menyejukkan suasana hati maupun pikiran.


Arya dan Vika menarik nafas dalam-dalam lalu membuangnya secara bersamaan. Mereka sesama diam, hanya saling menatap, kini mata mereka yang bicara.


"Meski jarak kita nanti mengundang pembatas, saya yakin takdir kita akan menghancurkan batas itu." ucap Arya dalam hati.


"Jarak hanya sebuah ujian kecil, takdir kita lebih kuat dari segala yang ingin menghalanginya." ucap Vika dalam hati.


"Apa." tegur Arya.


"Apa! tidak ada." Vika memalingkan wajahnya melihat ke depan.


"Kenapa liatnya begitu?"


"Kamu yang memulai."


"Saya, bukannya kamu."


"Bukan, lalu siapa?"


"Bersamaan, kita berdua yang memulainya."


Vika terdiam begitu juga dengan Arya, tidak ada lagi yang mereka bahas, hanya suara desas-desus angin yang mewakili mereka.


"Vika." panggil Arya.


"Siapa yang memanggilmu?" ucap Arya iseng.


"Heeyy, tadi kamu yang manggil saya."


"Tidak ada."


"Jangan kamu bilang, gendang telinga saya bermasalah." ucap Vika, mengacungkan jari telunjuknya tepat di depan wajah Arya.


"Kalau saya akan bilang, bagaimana." ucap Arya, melakukan hal yang sama, telunjuk Arya berdempetan dengan telunjuk Vika.


"Saya akan bilang, lidah kamu tidak pantas untuk bicara lagi."


"Dan gendang telinga kamu tidak pantas untuk mendengar lagi."


"Dan jadilah kamu si bisu."


"Dan jadilah kamu si tuli."


Ucap Arya dan Vika serempak. Mereka tertawa lepas bersamaan.


"Arya, ini buat kamu." ucap Vika mengeluarkan kotak kecil dari tasnya.


"Tidak mau."


"Kenapa? kamu nolak pemberian saya Arya." ucap Vika dengan nada sedih.


"Tidak mau nolak maksudnya." ucap Arya cengengesan.

__ADS_1


Arya mengambil kotak tersebut, lalu digoncangkannya menebak isinya.


"Apa ini? kodok, tikus, cicak, uler, mungsang."


"Kecoa." ucap Vika, mengeraskan volume suaranya di dekat telinga Arya.


"Gendang telinga saya masih bagus, jangan kamu rusak." ucap Arya, memegangi telinganya.


"Hahaha... gimana lagi." ucap Vika, merampas kembali kotak yang di pegang Arya.


"Heey, punya saya, mau di apakan?" Arya mencoba mengambilnya kembali.


Vika membuka kotak tersebut, menampilkan sebuah benda yang cukup sederhana.


"Katakan Arya, kamu mau memakainya atau tidak, sebab, saya juga memakainya." ucap Vika menunjukkan sebuah gelang berukir nama Arya.


"Kenapa tidak, ayo pakaikan." ucap Arya bersemangat.


Dengan senang hati Vika memakaikan gelang tersebut di tangan kiri Arya.


"Salah Vika, bukan yang ini." ucap Arya keberatan.


"Tapi ini nama kamu Arya."


"Apa salahnya kalau nama kamu yang saya pakai."


"Baiklah, sesuai permintaanmu."


Vika mengganti gelang Arya dengan miliknya, tapi, entah kenapa, saat Vika memasang gelang atas namanya pada Arya, justru ia memiliki perasaan ganjil.


"Ada apa ini, kenapa kehadiran Arya terasa menjauh, Arya ada di hadapan saya, tapi perasaan ini berbeda." pikir Vika, lalu menatap Arya sendu.


"Vika, kamu baik-baik saja kan?" tanya Arya khawatir, Arya tahu membaca wajah Vika dikala sedih, senang, gelisah ataupun sedang bahagia.


"Ya tentu, saya baik-baik saja." ucap Vika menyembunyikan rasa gelisahnya.


"Kamu tidak harus berbohong Vika, katakan ada apa?" tanya Arya lembut.


"Arya kamu tidak kemana-mana kan? kamu tetap disini kan Arya." ucap Vika pelan.


Arya diam sesaat, Arya harus menjawab apa atas pertanyaan Vika itu. Pertanyaannya memang tidak rumit untuk di beri jawaban, tapi bagi Arya sangat mampu menusuk jantungnya, sampai ia kesulitan bernafas.


"Vika, kamu punya banyak pilihan untuk bertanya, tapi tolong jangan tanyakan hal itu Vika." batin Arya, hatinya kini semakin serat.


"Arya jawab, kenapa kamu diam?" tegur Vika.


"Kenapa kamu bertanya itu Vika, sudah pasti saya disini." ucap Arya berbohong, Arya mengatakannya dengan senyum yang terpaksa, agar tidak terlihat kebohongan yang ia ciptakan.


"Vika, maaf, saya berat untuk jujur." batin Arya.


Vika tersenyum mendengar jawaban Arya, meski jawaban itu tidak mampu mengobati rasa sedih yang bercampur gelisah di hatinya.


Arya mengawasi wajah Vika, yang masih asik memasangkan gelang di tangannya, begitu dekat wajahnya, ingin rasanya Arya mengusap lembut pipinya, tapi, apa daya, hal itu tidak layak baginya.


"Arya sudah selesai." ucap Vika, membuyarkan pandangan Arya.


"Punya kamu mana, biar saya pakaikan. Kamu tidak keberatan kan? makai gelang atas nama saya." ucap Arya memastikan.


"Tidak sama sekali." ucap Vika mantap.


"Oke! awas saja kalau sampai rumah di lepas." ucap Arya mengancam.


"Tidak...tidak, tenang saja." ucap Vika santai.

__ADS_1


"Arya, tanda gelang ini yang akan menjelaskan dikala perbedaan mulai menghapus kesamaan kita, gelang ini juga bisa menjadi bukti yang kuat kalau kita pernah sama dan perbedaan itu harus pergi, kamu harus tahu itu Arya." ucap Vika lirih dalam hati.


\=BERSAMBUNG\=


__ADS_2