Ada Cinta Dalam Hubungan Tak Bernama

Ada Cinta Dalam Hubungan Tak Bernama
Part 21


__ADS_3

"Vikaaaa... kamu itu merusak rencana saya ttauu gaakk, ah payah kamu." geram Maya.


"Rencana! maksud kamu rencana apa?" tanya Vika penasaran.


"Tadi, sebelum saya liat kamu sama Arya, saya liat 2 burung gagak, terus saya awasi, ternyata mereka sedang mengawasi kamu, lalu, saya panas-panasin saja, biar mereka gimana gitu...hahaha, kalau kamu lihat ekspresinya...aduuhh amit-amit dah, seperti orang terjangkit virus covid." jelas Maya panjang lebar.


"Hahahakk... kamu jahat banget may, gimana entar, kalau mereka dendam, bisa jadi, mereka bakal lakuin hal yang lebih nekat lagi." ucap Vika khawatir.


"Kita harus waspada vik."


"Waspada sih, ya waspada, tapi kamu tahu sendirikan, kalau orang sudah nekat itu seperti apa." ucap Vika.


"Kita cari perlindungan dimana ya, oooo saya tahu."


"Dimana?,"


"Mbah Dukun."


"Kamu kira setan, yang benar saja dong may, cari ide yang cemerlang dikit, gitu may..."


"Yah, mereka tidak ada duanya kan sama setan."


"Ya sudahlah, kita lihat saja nanti, hari ini kita harus fokus ujian." ucap Vika tak mau pusing.


Sampai kelas, Vika menyalakan seluruh komputer, dengan bantuan teman-temannya yang sudah hadir, meng-oprasikan agar terhubung ke apk ujian online.


Ujian di mulai, Kelas tampak tegang, gelisah bercampur pusing, wajah-wajah kusut yang ada disana, kecuali Vika. Vika terlihat santai, bahkan, ia menikmati setiap soal yang ia baca. Pengawasan sangat ketat, siswa yang ingin mengopek, tidak dapat berkutik sama sekali.


Vika mengawasi Maya dari bangkunya, barangkali Maya meminta bantuan untuk menyelesaikan soalnya. Tentu saja Maya tidak mensia-siakan kesempatannya.


Maya memberikan banyak kode pada Vika, kode yang sudah mereka sepakati sebelum ujian, hanya mereka berdua lah yang mengerti maksud dari kodenya, guru pengawas pun tak dapat mencurigainya.


Kurang lebih,1 jam sudah ujian berlangsung, sudah ada yang selesai, juga ada yang belum.


Mereka yang sudah selesai di perbolehkan untuk pulang, daripada nanti akan mengganggu yang lain.


"Ini jawabannya A, yang itu B." ucap Vika iseng pada temannya, sambil berjalan.


"Huussttt..." ucap guru pengawasnya.


Ingin bicara lagi, Vika sudah di pelototin sama 2 pengawas sekaligus, membuatnya tertunduk, mempercepat langkahnya untuk keluar.


"Permisi pak, bu." ucap Vika sopan, sembari menyalami guru tersebut.


Tidak lama Maya menyusul Vika keluar.


"Gimana may..." ucap Vika.


"Gimana apanya? ujiannya lancar, hasilnya yang samar."


"Do'a kan saja yang terbaik, semoga kita dapat nilai yang bagus." ucap Vika.


"Pasti dong, oh ya, kamu pulang sama Arya kan?"


"Iya may."


"Eemm... itu Arya vik, kalau begitu saya pulang duluan ya?" ucap Maya menunjuk Arya.


"Buru-buru banget si may, biasanya kan kita nongki-nongki dulu."


"Hari ini saya harus pulang cepat Vika." alasan Maya.


"Hhhmmm... Ya sudah lah, ddaaa... hati-hati, kamu." ucap Vika lesu.


"Oke!" ucap Maya, melambaikan tangannya.

__ADS_1


"Wooyy, duluan ya, titip temen saya." ucap Maya pada Arya.


"Beres!" ucap Arya santai.


"Vik, kita ke perpustakaan bentar ya, bukunya mana." ucap Arya pada Vika.


"Oh iya, ini bukunya, buat apaan sih."


"Cuman liat dong, rindu soalnya." ucap Arya aneh.


"Rindu kok sama buku sih."


"jadi, sama siapa? sama kamu."


"Ya, tidak juga, sama apa gitu ya, ya yang layak gitu." ucap Vika acuh tak acuh.


"Tiada yang lebih layak saya rindukan, selain kamu, Vikara Atmajaya." batin Arya.


Arya menarik jari kelingking Vika, dengan telunjuknya, berjalan ke depan dan di ikuti Vika.


Sampai di perpustakaan, Arya pura-pura sibuk mencari buku, padahal ia sedang menyelipkan sepotong surat di buku tersebut. Selesai menyelipkannya, Arya nyamperin Vika yang lagi asik baca komik.


"Vik, ini bukunya tidak pernah kamu gunakan? kenapa?" tanya Arya, membuka-buka setiap halaman bukunya.


"Masih bingung, mau di buat apa!"


"Ooo, Ya sudah ni, lain kali di pakai, awas ya, kalau saya lihat sekali lagi masih kosong." ucap Arya, memberikan kembali bukunya.


"Ooo, mulai ngancam kamu sekarang, oke!" ucap Vika, tersenyum, sambil menunjuk ke wajah Arya.


"Bukan ngancam, cuman suka liat tulisan kamu saja."


"Tulisan ceker ayam, kok di sukain sih." ucap Vika.


"Dasar, Arya, tidak jelas, Sudahlah mari kita pulang."


"Hhmmm... okay! okay! okay!" ucap Arya senang.


Dalam perjalanan mereka mengobrol, tentang ini, tentang itu, bercanda, bersuka ria.


"Arya, coba kamu lihat orang itu." Ucap Vika, menunjukkan seorang pria hitam, matanya lebar, hidungnya besar, rambutnya seperti landak, jenggot di kelabang, memakai kaca mata putih bening, baju kemeja di masukkan, celana ponggol, mengenakan dasi pita, dan sandal jepit merek swalow.


"Hah, iya, kenapa?"


"Miripkan sama kamu!"


Mendengar perkataan Vika, membuat Arya menelan ludah. Arya menatap wajahnya sendiri di depan kaca sepion.


"Mirip saya? perasaan jauh berbeda, sepertinya mirip kamu Vika, coba deh kamu berdiri di sebelahnya, pasti seperti adiknya."


"Jauhhh...jauhh..jauuuhhh... jauh beda banget Arya." ucap Vika tidak terima.


"Sama kamu saja jauh beda, apa lagi sama saya."


"Tapi kamu punya kesamaan sama dia, Arya."


"Kesamaan! kesamaan apa yang kamu bicarakan Vika." tanya Arya heran.


"Dirimu pria bukan? dirinya juga pria kan? kalian berdua sama-sama pria, hahaha... "


"Hahah.. biar deh, yang penting rupanya tidak sama."


"Vik, kamu tidak haus, kita beli jus atau minuman apa deh yang suka."


"Jus, boleh lah jus."

__ADS_1


"Cendol, suka?"


"Suka."


"Es kolding, suka?"


"Suka."


"Bakso?"


"suka"


"Batagor?"


"Suka."


"Seblak?"


"Suka."


"Saya."


"Suka." ucap Vika refleks.


"Eemm... itu... itu sepertinya ada jual minuman." ucap Vika menjadi tak karuan. Berusaha mengalihkan perkataan yang barusan ia ucapkan.


Arya tersenyum geli, bahagia, senang, gemas, lucu, rasanya Arya ingin mendengarnya berkali-kali.


"Itu bukan jual minuman, itu jual minyak, Vika. Hhhmm, kamu kenapa sih?"


"Ah, ya tidak apa-apa, saya pikir itu... itu tadi, jual minuman." ucap Vika lagi seperti gerogi.


"Itu... itu jualan jus, kita kesana saja." ucap Vika lagi.


"Nah, itu baru bener, jual jus." ucap Arya.


"Iya... iya."


"Aduh...mulut, kenapa kamu pakai keceplosan segala sih, seharusnya di rem, jadi malas saya kasih makan ke kamu. " batin Vika. sambil memegangi mulutnya.


Vika gelisah, kemana ia akan menyembunyikan wajahnya dari tatapan Arya.


"Vik." panggil Arya. Tidak ada sahutan.


"Vikaaa..." ucap Arya, menggoyangkan motornya.


"Hah, iya, iya." ucap Vika terkejut.


"Jadi, atau tidak ini.!"


"Jadi apa, ah, iya, jadi... jadi."


"Sepertinya, kamu haus berat ya, sampai aneh gitu." ucap Arya.


"Aneh gimana, biasa saja." ucap Vika, buang muka saat Arya mulai menatapnya.


"Bang, jus jeruknya 1 ya." ucap Arya pada penjual.


"Vik, kamu mau apa?" tanya Arya.


"Apa saja, yang penting minum." jawab Vika, masih membuang wajahnya.


"Bang, yang 1 apa saja, yang penting minum." ucap Arya pada penjual.


\=BERSAMBUNG\=

__ADS_1


__ADS_2