
"Vika kamu di sini." ucap Arya.
"Iya, saya di sini. Arya buku ini, kenapa bisa ada di kamu?."
"Hahaha... ya bisa lah, tempo hari kamu menginginkannya bukan?" ucap Arya datar.
"Jadi orang itu kamu, dasar, kalau saya tahu itu kamu, saya tidak akan mau datang ke taman, buang-buang waktu saja." ketus Vika.
"Justru dari itu, saya tidak memberitahu kamu, karena pasti kamu akan menolak."
"Kamu tahu! gara-gara kita bersama di taman kemarin, kita di anggap pacaran."
"Lalu." ucap Arya santai.
"Kita harus berbuat sesuatu, kamu juga tidak ingin kan menyakiti hati Syela."
"Apa hungannya sama Syela vik?" ucap Arya bingung, tidak mengerti maksud Vika.
"Bukankah kalian pacaran?" tanya Vika spontan.
"Tidak Vika, saya tidak ada hubungan apapun dengan Syela." ucap Arya.
"Benar, kamu tidak berbohong." ucap Vika meyakinkan lagi.
"Tidak Vikaaa.. tidak."
"Kalau begitu, kamu juga bilang sama Nino kalau kita tidak pacaran." ucap Vika acuh tak acuh.
"Mana mungkin saya bilang begitu, apa kata Nino nanti." batin Arya.
"Biarkan saja." ucap Arya santai.
"Kamu kok gitu sih, ini bukan masalah biasa Arya, kita ini hanya teman tidak lebih, kamu jangan egois dong." ucap Vika.
"Maksud Arya apaan sih, seenaknya membiarkan status pacaran ini berlangsung tanpa nyatain perasaannya ke saya, ini kan tidak adil." batin Vika.
"Saya tahu kalau kita hanya teman, tapi itu bisa berubah kapan saja kan." ucap Arya memalingkan wajahnya.
"Terserah kamu Arya." ucap Vika tidak mau ambil pusing lagi.
Vika kembali fokus belajar, memaksakan moodnya untuk baik-baik saja. Lembaran demi lembaran ia buka mencoba memahami dan mengambil intinya.
"Vika." panggil Arya.
"Diam, dan jangan panggil saya." ketus Vika.
__ADS_1
"Tapi vik, saya harus..."
"Kalau mau pergi ya pergi saja." ucap Vika memotong pembicaraan Arya yang belum terselesaikan.
"Viikk..." panggil Arya sekali lagi. Namun, tidak ada respon dari Vika.
"Dasar, kuping badak." gerutu Arya.
"Kamu bilang apa tadi..." tegur Vika.
"Tidak ada, kamu kemana saja saya panggilin tidak menyahut."
"Kamu lihat memang saya ada dimana, di dalam lemari atau di dalam laci." ucap Vika memuncakkan kekesalannya.
"Saya lihat kamu ada di dalam... di dalam..." ucap Arya terbata sekejab, membuat Vika tak habis pikir.
"Dalam apa, dalam botol gitu, kamu pikir saya ini jin." ucap Vika menambahi.
"Bukan seperti itu Vika, ah yasudah lah saya mau ke kantin." ucap Arya, ia langsung pergi dengan wajah memerah.
Untuk mengatakan dalam hatiku saja, Arya sudah begitu tingkahnya, acuh tidak acuh, arah sana tidak, arah sinipun tidak, entah arah mana yang akan ia tujuh.
"Ayo dong Arya kamu jarus bisa ungkapin perasaan ini pada Vika, Vika juga harus tahu tentang hal ini, sebelum kamu pergi dari kota ini." ucap Arya dalam hati.
Setelah lulus SMA, Arya harus pindah kota, membantu nenek dan kakeknya mengurus beberapa toko acsesoris, sekalian Arya melanjutkan kuliahnya disana.
Beberapa menit berlalu, ujian sesi kedua segera dimulai, Vika yang sudah siap dengan kunci jawaban di otaknya, merasa sangat fresh, tidak panik, tidak gelisah, juga tidak tegang, ia biasa saja, lain dari yang lain.
Ujian selesai, karena Vika belum dijemput, ia memilih kembali ke perpustakaan bersama Vika, ia berteman dengan buku-buku pengetahuan sepanjang hari.
"Vika bosen ni, kita pulang aja yuk, tapi kita mampir dulu di suatu tempat, yang bisa bikin otak saya segar gitu." ajak Maya.
"Tidak may, saya mau disini saja." ucap Vika menolak.
"Tuh kan kamu tidak setia banget si sama temen, ayo dong vik, pliisss... sebentar saja." Maya terus meminta dengan mengatupkan kedua tangannya.
"Hhmm... oke! oke!" sebab kasihan Vika menyetujuinya.
"Hehehe.. gitu dong." ucap Maya gembira.
Vika dan Maya berjalan arah ke parkiran, mereka saling menggenggam tangan, bukan karena takut kehilangan, namun, rasanya bagi mereka tidak genap kalau tidak seperti itu.
Sampai parkiran, tanpa mereka sadari, bahwa ada dua orang yang memperhatikan mereka, bahkan sampai mengikuti kemana mereka pergi.
Masih tidak ada tujuan, Maya menyetir motornya hanya berputar-putar, jalan yang sudah ia lewati, ia lewati lagi sampai berkali-kali, meski begitu orang yang mengikuti mereka juga tidak lengah.
__ADS_1
"May...may...may... kalau sudah tidak ada tujuan sebaiknya kita balik ke sekolah." ucap Vika setengah berteriak.
"Nanggung vik, itu sepertinya ada tempat tongkrongan bagus deh, kita kesana bentar yuk." ucap Maya, sambil menunjuk sebuah tempat yang banyak pepohonan rindang, serta bangku-bangku yang sudah apik tertata.
Vika memakirkan motornya asal, begitu juga dengan orang yang mengikuti mereka dengan jarak sedikit jauh dari Vika dan Maya agar tidak terlihat.
"Hah..." Maya membuang nafasnya segar.
"Iya may disini bagus ya? adem, damai, sejuk, bersih lagi." ucap Vika memuji tempat tersebut.
"Iya vik, serasa di negara asing." ucap Maya.
Buk... "Aaawww..." Vika menyeringai seketika, ada seorang yang memukulnya dari belakang.
Vika membalikkan badannya bersamaan Vika, melihat siapa yang sudah berani memukulnya cukup keras.
"Siapa kamu? ada masalah apa? sampai harus main kasar segala." ucap Vika lantang.
Vika dan Maya tidak dapat mengenali dua orang tersebut, mereka mengenakan masker, topi jaket yang menutupi kepala, serta kaca mata berwarna hitam, terlihat sangat misterius.
Vika mengepalkan tangannya, rasanya ia sangat tidak terima, apa salahnya sampai ada yang ingin mencelakainya.
Tanpa kuda-kuda, Vika meloloskan tangannya mendarat di samping perut orang tersebut, semua terjadi begitu saja, sepertinya Vika hilang kendali.
Beberapa orang disana hanya menyaksikan, mereka tidak ingin ikut campur, juga tidak ingin terlibat.
"Aaahhh... kurang ajar kamu ya." ucap orang itu.
Suaranya tidak terlalu asing dalam pendengaran Vika dan Maya, mereka semakin penasaran, untuk itu mereka tidak akan melepaskannya begitu saja.
"Kamu siapa? ada urusan apa dengan saya?" ucap Vika pelan, tapi terdengar kasar.
"Kamu mau tahu urusan kamu dengan saya apa, kamu akan tahu kalau kamu..." ucap orang tersebut sekaligus melayangkan pukulan pada Vika, untung saja Vika sudah siaga, Vika menangkup tangan orang misterius tersebut.
Cukup banyak energi Vika terkuras, ia mengeluarkan seluruh tenaganya untuk memutar tangan orang tersebut ke belakang, lalu, Vika juga menendang belakang lututnya, hingga orang misterius tersebut menunduk.
Dengan bersih keras orang tersebut memberontak, namun, tetap saja sia-sia, Vika lebih menguatkan lagi tenaganya. Rasa penasaran yang mengarungi dirinya, menghilangkan kelemahannya. Dalam sekejab Vika berubah seperti wonder woman.
Maya kewalahan melawan satunya, ia tidak kuasa lagi untuk mengejarnya, ya satunya berhasil lolos melarikan diri, tidak memperdulikan temannya yang sudah ditahan Vika.
"Kamu siapa? ayo jawab! atau saya putar tangan kamu." ancam Vika.
Maya yang nyamperin Vika, langsung membuka topi jaket, kaca mata, serta masker yang di pakai orang tersebut.
"Kamuuuu." ucap Maya tidak menyangka.
__ADS_1
\=BERSAMBUNG\=