Ada Cinta Dalam Hubungan Tak Bernama

Ada Cinta Dalam Hubungan Tak Bernama
Part 23


__ADS_3

"Arya, awas kamu ya, kalau tidak sesuai keinginan saya." ancam Vika.


"Iya... iya bawel banget,."


"Yang itu, jangan sampai kamu lewatkan Arya."


"Ya ampun, sabar Vika, tangan saya hanya dua." ucap Arya.


Vika terus bicara, memprotes setiap kesalahan Arya. Dekorasi setengah hampir selesai.


Selesai membenahi bunga, Arya meminta Vika untuk memanggil beberapa temannya, agar dekorasinya terselesaikan hari itu juga.


Vika memanggil Maya pastinya, dan beberapa teman lainnya, tanpa ada yang keberatan, mereka kompak saat diberi tugas oleh Vika.


Vika sibuk membagi kelompok, sedangkan Arya hanya sibuk mengamatinya saja.


"Maya, kamu atur mereka ya, untuk menghias pintu penyambutan." ucap Vika.


"Oke, siap Vika." ucap Maya.


"Arya, kamu ngapain? saya sibuk, kamu malah enak-enak duduk." tegur Vika.


Arya tetap santai dengan menikmati minuman dingin di tangannya, seolah-olah tidak mendengar suara Vika, padahal suaranya cukup keras.


Vika geram melihat Arya, membuatnya terpaksa untuk menghampirinya. Maksud Vika, mendatanginya untuk menariknya dari tempat duduknya, tapi, apa daya, Arya menariknya duluan, hingga Vika terduduk di sebelahnya.


"Arya." bentak Vika, tidak tahu maksud dari perlakuan Arya.


"Minum dulu, kita sudah bekerja dari tadi kan?" ucap Arya.


"Tidak bisa. Banyak tugas yang menanti kehadiran saya." tolak Vika, berusaha bangkit dari duduknya, lalu Arya menariknya lagi.


"Ya...ya...ya, saya tahu banyak kerjaan, tapi, istirahat sebentar, jangan terlalu di paksakan, Vika." ucap Arya penuh perhatian.


"Tidak bisa, saya harus menyelesaikannya secepat mungkin." tolak Vika lagi, berusaha bangkit lagi dari duduknya, dan lagi-lagi Arya menariknya lagi, sampai Vika terduduk lagi.


"Aduuhh... Arya..." ucap Vika dengan nada kesalnya.


"Saya, tidak akan membiarkan kamu kelelahan. Eemm... maksudnya, kamu harus minum dulu, jangan mencoba berusaha untuk menolak lagi."


Tanpa kata lagi, Vika meraih sebotol minuman dingin yang disodorkan oleh Arya, meneguk dengan buru-buru tanpa hati-hati, sampai membuat tenggorokkan Vika tersedak.


"Uuhhuukk..uuhhukkk..uuhhukk." Vika terbatuk.


"Ada masalah dengan tenggorokanmu Vika?" tanya Arya.


"Bukan tenggorokan saya yang bermasalah, tapi, minuman ini yang bermasalah." ucap Vika, menunjukkan minuman yang dipegangnya.


Arya merebut minuman tersebut, lalu, meneguknya dengan perlahan, meng-chek apakah benar minuman yang diberikannya sedang bermasalah.

__ADS_1


"Rasanya biasa, apanya yang bermasalah Vika." ucap Arya setelah memastikan.


"Tidak, lupakan saja. Sudah, saya sudah minumkan, ayo kita lanjut menyelesaikan..." Vika belum selesai bicara, masih mau bangkit dari duduknya, Arya menariknya lagi.


"Apa lagiii... Aryaaa." ucap Vika lebih kesal.


"Makan ini dulu." ucap Arya, menyodorkan sebuah roti berselai kacang hijau.


"Saya tidak lapar." ucap Vika menolaknya.


"Jangan berusaha menolak, jangan beralasan, dari tadi kamu terlalu banyak bicara, dari pada banyak bicara, lebih baik banyak makan dan minum." ucap Arya panjang lebar.


"Hey, kamu bilang apa tadi, kalau sudah kebanyakan makan dan minum, lalu merasa terlalu kenyang, perut jadi besar, akibatnya jadi malas bangkit, karena berat memikul isi perut." ucap Vika lebih panjang.


"Seberat itu kah, perut yang berisi minuman dan makanan, sampai-sampai membuatmu menjadi malas bangkit. Ibu hamil saja yang isi perutnya baby, masih gesit untuk bangkit, berjalan, bahkan ada yang berlari." ucap Arya berlebihan, membandingkan Vika dengan ibu hamil.


"Setahu itu kah kamu, tentang ibu hamil!, atau semasa kamu dalam kandungan, kamu sering mengintip ibumu dari dalam, lalu menyaksikan setiap aktivitas yang dilakukannya, benarkan begitu!" ucap Vika mendesak.


"Mana mungkin, bayi mana yang bisa seperti itu?" ucap Arya.


"Mungkin saja, kamu kan bayi legend, apa kamu ingat, tidak kan.! Menjenguk saya saja, kamu lewat jendela kan?" ucap Vika mengingatkan Arya.


Arya tertawa setiap mendengar ucapan Vika yang terdengar konyol, seketika Arya menjadi malu sendiri, bagaimanapun ini juga salahnya sudah membandingkannya dengan ibu hamil.


"Sudah, jangan banyak bicara, makan ini, kalau tidak habis, kamu bisa membuangnya, atau memberikannya pada semut." ucap Arya, masih dengan wajah yang geli.


"Pelan-pelan Vika, nanti kamu tersedak lagi, kalau... "


"Kalau.. kalau apa, kamu mau beri tahu tentang ibu hamil lagi." potong Vika.


"Tidak. Saya belum selesai bicara, kamu main sambar saja." ucap Arya menjadi tak karuan.


"Sudah, saya sudah habiskan rotinya, mana, ada lagi rotinya, biar saya habiskan."


"Tadi kamu nolak, sekarang minta lagi." ucap Arya heran.


"Saya mau buktiin, kalau saya lebih kuat dari ibu hamil. Kenapa? kamu keberatan." ucap Vika, dengan tangan yang masih meminta.


"Dasar aneh, jelas saja dia lebih kuat, dia kan tidak hamil." batin Arya.


Arya memberikan Vika 2 bungkus roti lagi, dengan ringan Vika menerimanya, memakannya dengan lahap tanpa sisa.


"Mau lagi?" ucap Arya menawari.


Vika hanya menggeleng, ia kesulitan bicara, mulutnya terlalu penuh.


"Jangan dipaksa, kalau tidak sanggup menelan lagi, muntahkan saja." ucap Arya.


Vika mengangkat tangannya setengah, menghadapkan telapak tangannya pada arya, mengartikan diam saja, jangan bicara.

__ADS_1


"Pengen ketawa, tapi, takut dosa." batin Arya.


Selesai mengunyah, menelan habis roti 3 bungkus, gerahangnya terasa pegal, lidahnya terasa letih, perut Vika terasa kenyang, ditambah air minum yang diteguknya beberapa kali.


"Sudah habis." ucap Arya.


"Kamu lihat."


"Belum."


"Yang mana lagi?" tanya Vika heran.


"Itu." ucap Arya bergurau, menunjuk bungkus-bungkus rotinya.


"Kalau kamu mau, makan saja, saya sudah kenyang." ucap Vika.


"Untuk kenyang, saya tidak perlu makan." ucap Arya.


"Lalu, kamu kenyang dari mana Arya, kalau tidak makan."


"Liat kamu makan sampai kenyang saja, saya sudah merasa lebih kenyang." ucap Arya.


"Ini sindiran, atau kebenaran." ucap Vika malu, membuang wajahnya.


"Woy, Vika, Arya. Bantuin dong, katanya mau cepet selesai." ucap Ridho.


"Eh.. iya.. iya." ucap Arya dan Vika kompak. Mereka bangkit dari duduknya.


Mereka kembali fokus menyelesaikan sisa-sisa pekerjaan, rasanya memang sangat melelahkan, teriknya matahari menambahkan panasnya suasana.


"Ini mana bayarannya, panas ni woy." ucap Dio, teman kelasnya Vika.


"Kerja dulu yang bener, baru dibayar, bikin rangkaian pintu saja tidak tegak-tegak, minta dibayar, dasar kamu Dio, tidak bisa di andelin." sahut Maya seadanya.


"Sabar lah, gimana mau tegak, dikasih minum saja tidak, motor saya saja diisi bensin baru mau jalan." ucap Dio.


"Kerja yang ikhlas dong Dio, minta imbalan mulu, kapan dapat pahalanya." sahut Agnes, teman sekelasnya.


"Sudah... sudah, tidak masalah kalau hanya minta minum, pekerjaan ini memang banyak menguras tenaga. Dio kalau kamu mau, minta saja pada sesi asumsi makanan, sebanyak jumlah kita. Maya kamu hitung ya." ucap Vika.


Maya menghitung satu persatu anggota yang ikut membantu. Namun, saat Maya melaporkan berapa jumlahnya, Olla dan Syela sudah membawa 2 kotak drink untuk dibagi-bagikan.


"Ini untuk kalian, saya baik kan." ucap Syela dengan tingkah centilnya.


"Makasih syel, iya, kamu baik, baik banget, banget....banget...banget." sahut Maya memuja, tetapi, dengan nada khas tidak sukanya.


Olla dan Syela membagikan minuman sekaligus mencuri kesempatan, Olla mendekati Ridho dan Syela mendekati Arya.


\=BERSAMBUNG\=

__ADS_1


__ADS_2