Ada Cinta Dalam Hubungan Tak Bernama

Ada Cinta Dalam Hubungan Tak Bernama
Part 24


__ADS_3

"Dho, kamu haus kan? ni, buat kamu." ucap Olla.


"Tidak, saya baru minum." tolak Ridho cuek.


"Bisa minum lagi kan, dho." ucap Olla. Ridho bukannya menjawab ia malah pergi menjauh.


"Eemm... Arya minum dulu." ucap Syela. Arya diam tidak menjawab, pura-pura tidak mendengar.


"Arya, kamu sibuk dari tadi, pasti capek kan, lebih baik minum ini dulu Arya." ucap Syela lagi, menyodorkan minuman ke mulutnya.


"Kamu telat, saya sudah tidak haus, barusan saya minum bersama Vika." ucap Arya.


Ucapan Arya membuat telinga Syela panas, perlahan tangannya menjauh dari Arya. Wajahnya Syela murung begitu juga dengan Olla.


Maya yang senang atas penolakan Arya dan Ridho, semakin membumbui keadaan, memanaskan hati Olla dan Syela yang sudah panas.


"Arya." panggil Maya.


"Ya, ada apa?" tanya Arya.


"Bantuin Vika dong, itu Vika lagi nancapkan paku, entar kalau tangannya kena, gimana." ucap Maya.


"Ooo, ya sudah. Kamu ada kerjaan may, kalau tidak ada, bantuin ini Ridho." ucap Arya, lalu pergi nyamperin Vika.


"Oke! siap!"


Arya nyamperin Vika, dan Maya membantu Ridho menyusun pot bunga.


Fenomena yang sangat indah, meski sangat indah, tetap saja membuat mata Olla dan Syela menjadi rusak.


"Syel, sudah tidak ada yang dibagi lagi kan?" tanya Olla.


"Tidak."


"Ya sudah, ayo pergi dari sini, kehadiran kita tidak dibutuhkan disini." ucap Olla kesal.


Maya melirik kekesalan Olla dan Syela tanpa dosa, rasanya ia ingin tertawa sekeras mungkin.


Dekorasi selesai, sekolah tampak lebih memukau, kerja keras terbayar lunas dengan hasil yang menakjubkan.


"Waaahhh... tidak saya sangka hasilnya seperti ini." ucap Maya.


"Iya dong, siapa dulu... " ucap Vika bangga.


"Emang kamu sendiri yang ngerjain, yang lain juga ikut kali." ucap Arya menyambar, sekaligus memukulkan botol kosong dikepalanya Vika pelan.


"Biarin, yang lain saja tidak sewot, kok, jadi kamu yang sewot." ucap Vika, merebut botol yang dipegang Arya, lalu memukulnya balik.


"Aduuhh... Bukan sewot Vike, cuman tidak enak saja dengarnya." ucap Arya.


"Nama saya Vika bukan Vike, Vika, oke! V I K A dibaca VIKA." ucap Vika, menekankan setiap suku katanya.

__ADS_1


"Vike... vike...vikee... hahaha." ejek Arya semakin menjadi.


"Ah, dasar tidak waras. May, ayo kita balik ke kelas." ajak Vika.


"Ayo, Arya kamu tidak ikut, pelajaran kan sudah selesai." ajak Maya pada Arya.


"Maya, jangan ajak Arya." ucap Vika, yang tidak ingin melihat wajah Arya.


"Ih Vika, tidak ada masalah kan." ucap Maya lagi.


"Terserah kamu deh." ucap Vika, berjalan begitu saja, menuju kelas.


"Temen mu ngambek tu ma, dibujuk, jangan lupa kasih permen." canda Arya.


"Kamu sih, sudah tahu orang kelelahan, malah cari gara-gara. Sudah lah saya duluan ke kelas ya." ucap Maya.


"Oke! titip salam sama Vika, bilangin ngambeknya 10 menit saja, kalau lebih entar wajahnya bisa berubah."


"Nanti saya sampaikan." ucap Maya, lalu pergi menyusul Vika.


Maya sampai dikelas, menemukan Vika yang sudah terkapar bebas, Vika tertidur di atas meja, yang sudah disusun, seperti tempat tidur umumnya, hanya terasa lebih keras tidak ada lembeknya, tasnya sudah berubah fungsi menjadi bantal. Wajahnya sengaja ia tutup dengan selembar tisu.


"Astaga, bocah, enaak banget , ah saya juga mau." ucap Maya pada dirinya sendiri.


Isi kelas tidak terlalu banyak, sebab, absensi sudah tidak berjalan, untuk itu sesuka hati siswa/i khususnya kelas 12. Ada yang tidak hadir, sebagian dikantin, sebagian diperpustakaan, sebagian nongkrong-nongkrong entah dimana.


Arya mendatangi kelas Vika bersama Ridho, mengetahui Vika dan Maya yang sudah berada di alam mimpi, Arya berpikir untuk mengerjainya.


Arya mengambil dua rumput panjang di belakang kantin, yang satu diberikannya pada Ridho, untuk mengerjai Maya.


"May, jangan usil dong." ucap Vika.


Arya keburu menunduk disamping meja sampai tak dapat dilihat oleh Vika, sama halnya dengan Ridho yang mengerjai Maya.


"Kamu yang usil Vika." ucap Maya yang juga merasa dikerjai.


Vika dan Maya kembali tidur, sedangkan Arya dan Ridho kembali mengerjai mereka berdua, kali ini hidung menjadi targetnya.


"Hasyimm... " Vika bersin, sambil mengukur hidungnya yang terasa gatal, membalikkan badannya menghadap tembok.


"Aaaassyyimm... " Maya menyusul.


Arya dan Ridho tertawa terkikik di samping meja. Mereka terus saja mengerjai, sampai Vika dan Maya bangun dari tidurnya.


"May, perasaan ada yang ngerjain kita." bisik Vika pada Maya.


"Iya, tapi siapa?" ucap Maya celingukkan.


"Sssttt..." Vika menemukan Arya dan Ridho yang sedang menunduk.


Vika mengambil botol yang berisi air putih, ia buka tutupnya, lalu, ia siramkan di kepala Arya dan Ridho.

__ADS_1


"Hahaha...hahaha... rasain, makanya jadi orang jangan jahil." ucap Vika puas, setelah menuangkan air tersebut.


"Vika, saya jadi basah." ucap Arya.


"Sama, saya juga basah." tambah Ridho.


"Eh Ridho, sejak kapan kamu jahil begitu?" ucap Vika.


"Ini saya disuruh Arya." ucap Ridho.


"Kamu lagi Arya, masalah kamu apa sih?" tanya Vika.


"Masalah saya! apa lagi kalau bukan kamu." ucap Arya.


"Saya, masalah apa dengan saya." ucap Vika santai.


"Masalah apa lagi!, kamu setelah berbuat dosa, pura-pura lupa, saya basah begini karena kamu." ucap Arya, mengibaskan bajunya yang dipakai.


"Kamu lupa, kalau itu hukuman. Saya tadi bersin-bersin, telinga saya gatal, itu kerjaan siapa? Arya."


"Mana saya tahu Vikaa... Disini kan bukan saya saja, ini ada Ridho dan banyak yang lain jug... " ucap Arya terkejut, saat menoleh kebelakang ternyata tidak ada siapa-siapa, Ridho temannya pun entah kemana.


"Mana Ridho, kemana dia, dia juga perlu dihukum." ucap Vika setengah kesal.


"Tidak hanya Ridho, yang lain juga kemana." ucap Arya.


Vika memiringkan tubuhnya untuk bisa melihat keadaan kelas, tubuhnya Arya cukup besar hingga menghalangi penglihatannya.


"Arya, kita hanya berdua, tadi yang lain ada disini kan? lalu mereka kemana, tiba-tiba menghilang, seperti ditelan setan." ucap Vika yang sudah berdiri dan menelusuri tiap-tiap bangku kosong.


Vika menghampiri pintu yang tertutup, membukanya perlahan, ternyata sulit dibuka, berusaha membuka dengan sekuat tenaganya, tidak juga mau terbuka.


"Buka sekali lagi, pasti bisa." ucap Arya.


"Lebih baik, kamu diam."


Arya hanya mantengin Vika tanpa membantunya. Melihat raut wajah Vika yang tampak sebal membuat Arya bahagia, kenapa ia harus mengakhiri kebahagiaannya dengan membantu Vika.


"Arya, apa kamu harus tercipta untuk diam, disaat seperti ini." ucap Vika.


"Vika, apa kamu sudah tidak mampu, untuk membukanya sendiri." jawab Arya.


"Bukan tidak mampu, hanya sayang saja, kalau ada tenaga yang di anggurin."


"Kalau mampu coba saja sampai bisa, belajar mandiri." ucap Arya santai


"Arya, ini terkunci dari luar, ini juga sal..."


"Jangan bilang lagi ini salah saya." potong Arya.


"Jika tidak menyalahkanmu, lalu salahkan siapa Arya?" ucap Vika semakin kesal.

__ADS_1


"Itu ada banyak cicak, kamu salahin saja cicaknya." ucap Arya ngawur, menunjuk tembok, yang tidak ada cicaknya.


\=BERSAMBUNG\=


__ADS_2