
Saat kakek neneknya mengantarkan Arya pada tempat tinggalnya yang baru, kakeknya memastikan keamanan tempat tersebut. Berat rasanya meninggalkan Arya seorang diri, namun apa daya, keputusannya sudah bulat dan tidak bisa di bantah.
Sejak awal Arya menduduki SMP, keceriaan di wajahnya sedikit kembali, lampu yang redup kini menyala terang di hidupnya, ia mengenal sosok gadis yang periang, disinilah awal Arya berteman dengan Vika.
Sebelum Arya mengenal Vika, Arya mengira, kalau Vika sama dengan yang lain, sama ingin mengoloknya setelah tahu identitas Arya, ternyata dugaan Arya salah, Vika malah meneteskan air matanya saat tahu kebenarannya. Tidak hanya itu, setiap kali Arya dihina Vika lah yang selalu membelanya mati-matian. Dan saat itu lah Arya mulai timbul rasa aneh dihatinya.
"Anak buangan." ucap temannya.
"Jaga mulutmu, atau mau saya sumpal kertas." ketus Vika pada anak usil itu.
"Arya kamu jangan diam saja, kamu harus lawan." ketus Vika menarik-narik tangan Arya.
"Saya harus bagaimana Vika, yang dia bilang memang kenyataan." ucap Arya mengalah dan santai, Vika melihatnya sudah naik darah, Arya yang dihina, tapi Vika yang merasa panas.
Arya selalu begitu, kalau tidak ada Vika ia hanya pergi menjauhkan dirinya, teman satu-satunya yang dapat menerimanya dengan tulus hanyalah Vika.
Vika lah alasan di balik senyumnya, semangatnya, bahagianya, Vika lah yang sudah membangkitkan energinya berlipat-lipat saat itu.
Vika selalu membawa bekal 3 porsi dari rumah, ia hanya makan 1 porsi selebihnya di berikan pada Arya untuk dibawa pulang 1 porsi, yang 1 dimakan di sekolah bareng Vika.
"Ni Arya, buat kamu, kamu pasti suka, kalau tidak suka jangan dibuang, nanti nasinya sedih." ucap Vika menyodorkan nasinya.
"Kamu baik, terima kasih, tapi ini kebanyakkan." ucap Arya tersenyum.
"Sama-sama, tidak masalah Arya, kalau tidak habis, kamu bisa membawanya pulang kan?." ucap Vika dengan tulus. Arya mengangguk menerimanya.
Selama SMP mereka sangat dekat, seperti saudara tapi, bukan saudara, seperti pacar tapi, juga bukan pacar. Hubungan mereka terjalin begitu saja tanpa ikatan nama di dalamnya.
Saat duduk di SMA mereka di pertemukan kembali, bukan dari perencanaan mereka untuk bisa satu sekolah, pertemuan ini tidak disengaja. Sayangnya Arya dan Vika berbeda kelas, hal ini membuat kedekatan mereka sedikit berkurang.
Sudah hampir 6 tahun lamanya, Arya berpisah dari kakek neneknya, ia sangat merindukan keduanya, entah kapan rasa rindu yang ia tanggung itu akan berakhir.
Arya di beratkan oleh dua pilihan, antara pergi dan tidak, kalau tidak, bagaimana ia nanti mewujudkan cita-citanya, ia ingin membalas jasa kakek neneknya, kalau pergi, rasanya Arya sendiri belum siap untuk jauh dari Vika.
Arya memejamkan matanya seerat-eratnya, ia harus memantapkan hatinya untuk memilih salah satu di antara dua pilihan.
"Vika kita harus berpisah sebentar." ucap Arya pada kegelapan.
Tangan kanannya meremas dadanya yang merasa sesak, nafasnyapun berat, sudut matanya menciptakan bulir bening yang terus mengalir, sepertinya raganya tidak terima, meski mulutnya mengatakan harus.
Ddrrtt...drrtt...drttt... ponsel Arya bergetar keras, mengagetkan telinganya. Vika menghubunginya. Arya menghapus air matanya, memperbaiki suaranya yang sedikit serak, lalu ia mengangkatnya.
"Hallo! kang ojek, hehehe... " ucap Vika bercanda.
"Hi! nona, ada yang bisa saya bantu?" ucap Arya santai menyembunyikan sesaknya.
"Tidak ada, Arya kamu kenapa? kamu sakit ya?" tanya Vika sendu, Vika tidak bisa di bohongi, suara Arya terdengar beda.
__ADS_1
"Tidak, badan sehat gini, di bilang sakit."
"Jangan bohong Arya, kamu sakit, atau sedang ada masalah?" tanya Vika serius.
"Iya, lagi sakit, sakit jiwa, jjhahaha... "
"Arya, saya serius."
"Mmm, serius, saya juga serius."
"Okeeyy! oh ya, besok, papa izinin saya pergi sama kamu." ucap Vika senang.
"Waahhh, kalau begitu besok kita pergi bareng."
"Iya, Arya kamu sudah makan? sudah belajar? sudah..."
"Sudah...sudah...sudaah, apa lagi hhmm." potong Arya.
"Tidak ada."
"Vika, besok bawakan buku yang pernah saya kasih ke kamu ya."
"Buat apa? mau kamu minta lagi? kalau tahu begini, tidak akan saya terima waktu itu." ketus Vika.
"Bukan, bukan di minta lagi, cuman pinjam sebentar, itupun kalau boleh, kalau tidak, ya tidak masalah."
"Mau lihat isinya, sudah ber isi apa belum." ucap Arya.
"Belum, masih kosong."
"Saya.mau.lihat.sendiri.jadi.besok.di.bawa.oke! Vika" ucap Arya dengan nada jedanya.
"Iya...iya, ya sudah saya tutup teleponnya, sampai jumpa."
"Sampai jumpa kembali."
Arya mengutarakan perasaannya lewat tulisan, Arya menulis sebuah surat, yang akan ia selipkan di bagian tengah buku, buku yang pernah di berikannya pada Vika. Entah akan di baca atau tidak, yang penting Arya sudah meninggalkan jejaknya.
Arya menulis dengan penuh perasaan cinta, bayangkan rasa yang ia pendam bertahun-tahun lamanya, ia luapkan semuanya. Arya juga menangis saat ia mengatakan pindah ke tempatnya semula.
"Vika, saya harap, kamu baik-baik saja setelah membaca surat ini." batin Arya.
Sudah larut malam, Arya juga belum tidur, rasanya sulit sekali membawa matanya ke alam mimpi. Padahal, badannya sudah sangat lelah.
Kukurruuyyuuukkkk... suara ayam berkokok pertanda sudah pagi, Arya melirik jam, yang menunjukkan pukul 05.35, Arya tidak tidur satu malam. Waktu sudah pagi begini, baru ia merasakan kantuk berat.
"Ah sialan, sudah jam berapa ini baru mau tidur." gerutunya sambil memijat kelopak matanya pelan.
__ADS_1
" Saya rasa tidak masalah, Vika masuk ujian sesi kedua bukan? jadi masih ada waktu untuk tertidur sesaat." pikir Arya.
Arya pun tertidur dengan pulas, tanpa gangguan apapun, ia sudah tertidur selama 1 jam lamanya, waktu memang begitu singkat.
Ddrrtt...ddrrrttt...ddrrttt... Vika menghubungi Arya, panggilan pertamanya tidak terjawab, Vika terus menghubunginya, sampai ada yang mengangkatnya.
"Aryaaaa... ayo dong angkat, bagaimana kalau dia sampai bangkong tidurnya, aduuh ya ampuunn.." pikir Vika, mondar-mandir tak karuan, ia gelisah kalau Arya tidak tepat waktu.
Ddrrtt...ddrrtt...ddrrtt... getaran Vika kesekian kalinya, kalau tidak di angkat juga, Vika memutuskan untuk nebeng sama Ridho.
Arya tergugah dari tidurnya, mengumpulkan kesadaran nyawa sepenuhnya, menatap layar ponsel, yang menampilkan panggilan tidak terjawab, sebanyak 20 kali. Arya setengah terkejut, lalu langsung bangkit menyiapkan, apa yang seharusnya di siapkan.
"Astaga." ucap Arya.
Arya segera mengirim pesan pada Vika, untuk menghilangkan kecemasannya.
"Pasti saya jemput, kamu tenang saja, sebentar lagi saya juga akan sampai." pesan Arya terkirim.
Tanpa sarapan, Arya langsung pergi, tidak perduli dengan cacing di perutnya yang sudah berbunyi.
Untuk mengejar waktu, Arya mengendarai motornya dengan kecepatan tinggi, untungnya perjalanan saat itu tidak terlalu ramai.
Tiga puluh menit, Arya sampai di rumah Vika, rumah Vika terlihat sepi, Vika juga tidak ada di depan pintu, Arya meraih ponselnya untuk mengirim pesan pada Vika, mengabarkan bahwa dirinya sudah berada di depan rumahnya.
Tidak lama, Vika muncul dari belakang Arya, tanpa Arya sadari. Tangan Vika menepuk bahu Arya dengan keras, Tentu saja Arya terkejut, bahakan ponselnya hampir jatuh.
"Kamu dari mana Vika, saya sudah dari tadi disini, nungguin kamu." ucap Arya bohong.
"Oh ya, dari tadi, sejak kapan, sejak panggilan saya yang 20 kali di abaikan, sudah berada disini kah?" ketus Vika mengungkit panggilannya.
"Ya maaf, saya tadi..."
"Masih molor!, kamu begadang, Arya, kamu kurangin dong tidur malamnya, kamu kan juga ikut ujian, jadi kamu harus fresh." potong Vika, sekaligus menasihatinya.
"Iya...iya, ya sudah buruan siap-siap sana, kita harus berangkat sekarang." ucap Arya.
"Ya sudah, ayok." ajak Vika, menarik tangan Arya.
"Saya tunggu saja disini."
"Mana mungkin saya biarin kamu disini sendiri, emang saya ini teman seperti apa!" ketus Vika.
"Saya tidak enak Vika."
"Sssstttt... cuman ada mama di rumah, saya yang tidak enak, kalau membiarkan kamu disini." ucap Vika tak mau kalah.
Vika terus menarik tangan Arya, sampai Arya menurut mengikuti langkahnya masuk ke dalam rumah.
__ADS_1
\=BERSAMBUNG\=