Ada Cinta Dalam Hubungan Tak Bernama

Ada Cinta Dalam Hubungan Tak Bernama
Part 18


__ADS_3

Arya menghadap cermin, melihat penampilannya dengan sorot matanya yang berbinar.


"Vika saya suka sama kamu, maukah kamu menjadi pacar saya." ucap Arya menyaksikan dirinya di bayangan kaca.


"Kok norak ya, ah cara macam apa ini." ketus Arya.


"Hi... vik, kamu sudah punya pacar belum, kalau belum saya boleh maju." ucap Arya lagi pada kaca di depannya.


"Susah banget, gimana ya, biar keliatan pas." batin Arya. merebahkan tubuhnya, menepuk jidatnya.


Arya terus berusaha menata dirinya, berulang kali ia menampilkan pesonanya di depan kaca, tapi tetap saja, baginya tidak ada yang cocok, semua terlihat begitu norak.


"Kalau begini mana mau Vika menerima saya, ah ya sudahlah, apa adanya saja, jika cinta hanya memandang perkataan, lalu apa artinya sebuah perjuangan." batin Arya.


"Tapi bagaimana dengan Vika nanti, kalau saja Vika tahu saya harus jauh darinya, apa mungkin dia menerimanya." pikir Arya kembali ragu.


Ddrrrtt..drttt..drrtt.. getar suara ponsel membuyarkan lamunan Arya.


"Hallo! siapa ya?" ucap Arya, yang tidak mengenali nomor tersebut.


"Hallo! siapa disana?" tidak ada jawaban, Arya langsung menutup teleponnya.


"Salah sambung ni orang."


"Ah iya, Vika." Arya menemukan ide untuk menghubungi Vika.


"Ada apa Vika?" ucap Arya.


"Ada apa? maksud kamu apa Arya?" tanya Vika.


"Kamu tadi calling saya." ucap Arya bohong.


"Saya tidak ada calling kamu, kamu salah lihat kali, coba cek sekali lagi, barang kali hanya namanya sama, tapi dengan orang yang BERBEDA." ucap Vika dengan kalimat yang menekankan.


"Tidak, mana ada kontak saya yang namanya VIKA, SELAIN KAMU." ketus Arya.


"Kamu yakin, saya sih tidak yakin."


"Beneran vik, tadi kamu calling saya, tidak usah bercanda, saya tidak suka." ucap Arya bohong.


"Nyatanya tidak, kalau begitu tutup saja teleponnya, saya pusing."

__ADS_1


"Tutup! tidak...tidak..tidak." ucap Arya tidak ingin mengakhirinya.


"Tidak! kenapa."


"Kenapa ya, ya tidak apa-apa, mmm... vik, tadi kata Maya kamu hampir celaka, apa kamu baik-baik saja?"


"Ya saya baik-baik saja."


"emm baguslah, besok-besok kalau pulang ujian langsung pulang saja ya, jangan mampir-mampir." ucap Arya penuh perhatian.


"Mau nya ya gitu, tapikan papa belum pulang."


"Kalau kamu tidak keberatan, bisa saya antar sampai depan kamar, eh maksudnya sampai depan rumah."


"Bilang apa kamu tadi? saya tidak mau merepotkan kamu."


"Tidak kok, tidak repot, ya mau ya, vik."


"Liat besok Arya, saya harus izin dulu sama mama, papa."


"Oke! dan kalau bisa perginya juga bisa saya jemput."


"Nanti akan saya tanyakan papa. Sudah, tidak ada yang mau ditanyakan lagikan, saya tutup teleponnya ya."


"Apa lagi Arya?."


"Kamu jangan lupa makan ya."


"Iya, sudah, ada lagi?"


"Tidak."


"Ya sudah, kamu tutup teleponnya."


"Tidak, kamu saja."


"Ya, baiklah, selamat siang, selamat ber istirahat." ucap Vika manis.


"Huh...dasar Arya aneh." batin Vika, sudut bibirnya mengembang senyum.


Hubungan Arya dengan Vika memang belum resmi, setidaknya hal ini sudah membuat Vika senang, meski ia sering menyembunyikannya, begitu juga dengan Arya, mereka memang suka saling bersembunyi soal perasaan.

__ADS_1


"Vika, maafin saya ya belum bisa memberi kepastian, saya ini pecundang, saya rasa juga tidak pantas untuk kamu." batin Arya.


Arya terus menatap foto Vika di layar ponselnya, dengan pelan tangannya mengusap wajah Vika, membayangkan kisah manisnya hidup bersama. Matanya terpejam begitu lama, seakan-akan menerawang masa yang akan mendatang.


Malampun tiba. Arya selalu menjalani hari-harinya dengan kesepian, terkadang ia menyibukkan dirinya belajar, Arya lebih memilih mengurung dirinya dari pada harus berkeliaran, bukan tidak ingin, hanya saja Arya tidak mau membuat hidupnya yang sebatang kara menjadi runyam.


*FLASHBACK ARYA*


Ketika Arya masih berumur 10 bulan, mamanya menitipkannya pada neneknya, dengan alasan menjenguk temannya di sebuah Rs. katanya hanya sebentar, tapi kenyataannya sangat lama bahkan tidak pernah kembali. Kakek neneknya sudah berusaha menghubungi mamanya, namun, sia-sia nomornya tidak aktif.


Semasa kecil Arya tidak pernah merasakan apa artinya sebuah kasih sayang dari orang tuanya, hanya kakek neneknya lah yang membesarkannya dengan kasih sayang.


Arya lebih nyaman dengan keasingan, itu sebabnya, sejak Arya duduk di SMP ia lebih memilih mengkost, ya Arya tinggal di suatu tempat yang tidak ada orang satupun yang mengenalnya dan tidak tahu tentang keluarganya.


Sewaktu masa SD-nya, teman-temannya mengolok-oloknya, mengatakan bahwa Arya anak buangan, Arya benar-benar terganggu dengan identitas yang ia sandang, seperti waktu itu setiap teman yang ingin ia dekati selalu menanyakan keberadaan orang tuanya.


"Arya, kenapa kamu selalu di antar nenek kalau tidak nenek, pasti kakekmu, lalu dimana mama papamu?" ucap temannya.


"Aa..akuu... tiidak memi..liki me..re..ka." ucap Arya dengan suara getir, rasanya ia ingin menitikkan air matanya saat itu juga, tapi ia sadar bahwa ia anak lelaki, anak lelaki tidak pantas untuk menangis.


"Kalau tidak memiliki mereka, lalu kamu anak siapa Arya?" ucap temannya menyudutkan Arya.


"Memiliki kakek dan nenek itu sudah lebih dari cukup bagi saya, dan saya tidak memerlukan mama papa lagi." tegas Arya, ia langsung meninggalkan temannya yang banyak tanya itu.


Arya merenung, ia selalu menghabiskan waktunya dengan sendiri, hatinya menangis, namun, tidak ada seorangpun yang mengetahui hal itu.


"Kenapa saya ada disini, sedangkan orang tua saya sendiri tidak menginginkan saya ada." batin Arya.


Pernah waktu itu Arya menanyakan tentang orang tuanya pada neneknya, lalu neneknya hanya menjawab bahwa orang tuanya sedang sibuk bekerja, Arya juga menanyakan pada kakeknya, lalu kakeknya menjawab hal yang sama dengan neneknya.


Arya selalu bertanya tentang orang tuanya, selalu juga kakek neneknya menjawab hal yang sama, sampai Arya bosan, ia tidak menanyakan lagi. Hari bertambah hari kepedulian Arya tentang orang tuanya sudah pudar, ia mulai terbiasa dengan kondisinya, tidak rapuh lagi, ketika mendengar olokkan dari temannya.


Sungguh menyeimbangkan hati dan pikirannya yang berbeda adalah perjuangan yang besar bagi Arya. Kini ia sudah berdamai dengan keadaan yang memihaknya.


Apapun yang terjadi pada hidup Arya, sesulit apapun kisahnya, sepahit apapun dirasanya, Arya selalu menerimanya dan menegarkan dirinya.


Proses kerumitan yang terjadi dalam hidupnya berhasil membentuk karakternya, Arya menjadi pribadi yang baik, bahkan lebih baik dari papanya.


Arya juga tidak mensia-siakan apa yang sudah diberikan kakek neneknya, tidak mengecewakan kepercayaan kakek neneknya, Arya berusaha keras untuk mewujudkan cita-cita kakeknya yang gagal menjadi seorang Dokter.


Arya ingin membuktikan pada dunia, bahwa dirinya mampu, bahwa dirinya berguna, membuka setiap mata yang memandangnya dengan sebelah mata, menyadarkan jiwa-jiwa yang menganggapnya rendah, membuktikan bahwa dirinya bukanlah anak buangan biasa.

__ADS_1


Tekad Arya semakin kuat saat ia jauh dari keluarganya.


\=BERSAMBUNG\=


__ADS_2