Ada Cinta Dalam Hubungan Tak Bernama

Ada Cinta Dalam Hubungan Tak Bernama
Part 22


__ADS_3

"Jus jeruk nipis mau?, neng." ucap penjual iseng, tapi, Vika tidak mendengarnya.


"Vik, itu si abang nawari, jus jeruk nipis mau atau tidak?" ucap Arya.


"Hah, jus jeruk nipis, tidak... tidak... saya tidak suka, jus melon saja." tolak Vika.


"Tadi, bilang terserah, sekarang beda lagi." gerutu Arya.


"Biarin, abangnya saja tidak keberatan, kenapa jadi kamu yang keberatan."


"Tapi ini tidak adil Vika, bagaimana kalau abang ini sudah membuatkan jusnya, lalu kamu tidak menyukainya." ucap Arya memperpanjang masalah.


"Bisa di minum kan sama abangnya."


"Kalau mau, jika tidak."


"Abangnya tidak mau rugi, pasti akan di minum, jangan khawatir."


"Ah ya sudahlah."


Selesai menerima pesanan, Arya dan Vika pun pergi, mereka menikmati jus di tengah perjalanan.


"Vika, punya kamu sudah diminum?"


"Belum, kenapa?"


"Buruan minum, punya saya rasanya berubah, bukan rasa jeruk."


"Lalu, rasa apa?" ucap Vika, sambil menyedot jus yang di genggamnya.


"Uuhhuukk... uhhuukk...uhuukk." Vika terbatuk.


"Kenapa Vik?"


"Punya saya juga berubah rasanya, bukan rasa melon, ini rasa jeruk, kamu tukar ya?" ketus Vika.


"Kan, kamu yang kasih ke saya, Vikaaa..."


"Ya saya tidak tahu, warnanya juga tidak jauh berbeda, jangan salahin saya dong." ucap Vika tak mau di salahkan.


"Tukar saja lagi." ucap Arya, menyodorkan jusnya dengan sebelah tangannya.


"Sudah terlanjur, saya tidak mau."


"Itu punya saya Vika, saya tidak suka rasa melon." ucap Arya.


"Sudah kamu minum Arya, habiskan saja, belajar menyukai apa yang tidak kamu sukai, itu lebih baik Arya." ucap Vika sok menasehati.


"Ya...iya, percuma saja saya bicara sama kamu."


Vika tertawa, ia puas memenangkan perdebatannya dengan Arya. Hampir sepanjang jalan mereka tidak berhenti bicara.

__ADS_1


Sampai rumah, seperti biasa, setelah mengantar Vika, Arya langsung pamit kepada mamanya Vika.


"Tante, Arya pamit, mau langsung pulang."


"Tidak singgah dulu Arya."


"Tidak tan, terima kasih, lain kali saja, mari tan, vik." pamit Arya sopan.


"Arya, hati-hati." ucap Vika singkat, tapi, penuh makna.


Vika menatap perjalanan Arya, meski Arya terlihat sangat jauh, tatapannya kosong, bibirnya melukis senyum di wajahnya. Rasanya waktu ini sangat singkat untuk berpisah, belum sempat bagi Vika untuk memuaskan hatinya.


"Hey... " ucap mamanya Vika, membuyarkan pandangan Vika.


"Hey... iya ma." ucap Vika tersentak.


"Arya nya sudah jauuhh... sayang." ucap mamanya.


"Iya ma, cuma liat orang lewat doang." ucap Vika ngeles.


"Mama bingung deh, sama kamu Vika." ucap mama Vika.


"Bingung kenapa ma?" tanya Vika.


"Ya bingung, kamu sekolahnya kenapa bareng Arya, kan ada Ridho yang lebih dekat." tanya mama Vika penasaran.


"Oh, iya...itu ma,,, karena..." Vika diam sejenak, bagaimana jawabannya atas pertanyaan mamanya.


"Ooo.... gitu, mama rasa adiknya Ridho malah sering di anterin temannya." ucap mamanya Vika, membenarkan.


"Ah, tidak, itu hanya sekali-kali ma." ucap Vika, langsung pergi masuk kamar, meninggalkan mamanya di ruang tamu.


"Sepertinya, Vika, sudah mulai jatuh hati ni, sama Arya." selidik mamanya Vika dalam hati.


"Aduuhh.. mama, mama nanya aneh banget sih, seperti tidak ada pertanyaan lain saja. Kan bisa tanya. Vika ujiannya gimana?, lancar apa tidak! begitu baru namanya bertanya." ucap Vika pada dirinya sendiri.


Selama ujian Vika menghabiskan waktunya bersama Arya, meski hanya pergi dan pulang saja, namun, baginya sudah cukup untuk membayar perasaannya yang selama ini terombang-ambing.


Setelah menyelesaikan ujian, Arya sibuk menyiapkan segala hal, untuk pensi acara perpisahan, begitu juga dengan Vika, ia terlibat untuk menghias dan menata sekolah sebaik mungkin.


Vika mengawasi setiap orang yang membantunya, mengatur tata letak sesuka hatinya, Vika memang ahli dalam urusan menghias, tidak salah, jika, guru memilihnya.


"Bunga ini letakkan di atas sana ya, letaknya jangan asal, di susun." ucap Vika pada Rio, teman yang membantunya.


"Nah, ini sarung meja di pasang ya, lalu berikan di atasnya bunga melati yang tadi saya beli ya." ucap Vika lagi.


"Eemm... Oh ya, itu bunganya bisa di tambahkan lagi, kalau bisa sampai dasarnya ketutup." atur Vika lagi pada Rio.


"Tidak usah, kita harus menyisihkan sedikit tempat untuk memasang lampu." ucap Arya mengganggu.


"Tidak perlu, pasang saja, lampu bisa lilitkan di bunganya." ucap Vika lagi.

__ADS_1


"Jangan, sisihkan sedikit tempat, kalau di lilit dengan bunga, lampu tidak terlihat sepenuhnya."


"Jangan dengarkan, pasang saja bunganya, soal lampu tidak terlalu di perlukan, karena, acara ini, kita mulai siang hari, jadi lampu tidak akan terlihat." jelas Vika tetap tak mau kalah, tidak peduli dengan pendapat Arya.


"Pasti akan terlihat, pentas akan di beri tirai, setidaknya ada sedikit kegelapan disana." ucap Arya lagi.


"Saya harus bagaimana ini, mau di pasang atau tidak." ucap temannya, bingung harus mendengarkan yang mana.


"Pasang saja." ucap Vika.


"Tidak." ucap Arya.


"Jangan dengarkan dia, dengarkan saya saja." ucap Vika.


"Hey, saya juga bertugas disini." ucap Arya menegur Vika yang tidak menganggapnya.


"Hey, disana, disitu, dan di tempat lainnya, masih banyak yang harus di bereskan, dan ini tugas saya, kamu tidak perlu ikut campur." ketus Vika pada Arya.


"Rio, sebaiknya kamu turun saja, saya yang akan menyelesaikannya." ucap Arya pada Rio.


"Jangan Rio, ini belum selesai." ucap Vika tidak terima.


"Saya lapar, kalian saja yang memasangnya ya, nanti saya kembali lagi." ucap Rio, yang tiba-tiba merasa lapar dan pusing, akibat mendengar perdebatan Vika dan Arya.


"Ya Rio, kamu bisa istirahat juga kan." ucap Arya menambahi.


Vika tidak bisa memaksakan Rio lagi, bagaimana nanti, jika Rio sakit perut karenanya, Vika sangat kesal melihat Arya, sampai Vika memutuskan untuk menyusun karangan bunga sendiri.


Vika naik ke atas meja, dan di atas meja ada kursi, Vika naik ke atas kursi dengan kaki bergetar.


"Vika, kamu bisa jatuh, turun... turun... turun." ucap Arya, sambil menggoyangkan kursinya.


"Arya, kamu pegangin kursinya, jangan di goyangin Arya, saya bisa jatuh." ucap Vika, tangannya msih sibuk menggantungkan bunga pada paku-paku.


"Iya... iya, kamu turun Vika, saya yang pasangin sesuai keinginan kamu, oke!" ucap Arya mengalah.


"Tidak, saya bisa melakukannya sendiri." ucap Vika.


"Kalau tidak mau, saya juga akan naik kesitu." ucap Arya, menaiki meja.


"Arya, jangan naik, kursinya tidak cukup untuk kamu." ucap Vika mulai takut jatuh.


"Iya...iya, saya turun." ucap Vika lagi.


Vika turun dengan dibantu oleh Arya, tangannya terasa dingin, sangat jelas Vika ketakutan.


"Jangan keras kepala dong, kalau kamu jatuh tadi bagaimana." ucap Arya marah.


Vika hanya diam tidak berkata sepatahpun, Vika merasa takut di tambah lagi mendengar omelan Arya.


\=BERSAMBUNG\=

__ADS_1


__ADS_2