
Vika masuk ke kamarnya. Sebelum merebahkan tubuhnya, Vika mencuci wajah, tangan dan kaki. Tidak lupa ia mematikan lampu kamarnya, lalu ia merebahkan tubuhnya.
Ceklek... Suara pintu terbuka. Vika tahu Mamanya yang datang. Vika lebih memilih pura-pura tidur. Mamanya kembali menghidupkan lampu kamarnya.
"Aduh Mama, sudah benar-benar lampunya mati, malah dihidupkan. Ini mata bisa ketahuan kriyip-kriyip." batin Vika.
Mamanya Vika membentangkan selimut di tubuhnya, membelai lembut kepalanya, lalu mengecup keningnya dengan kasih sayang. Setelah itu, Mamanya mematikan lampu kembali, lalu keluar menutup pintu dengan pelan.
Vika membuka matanya kembali, menatap langit-langit yang tidak terlihat sama sekali. Entah akibat pura-pura tidur atau tidak, Vika tidak bisa memejamkan matanya dengan tenang.
Di saat seperti ini, wajah Arya yang selalu hadir dalam bayangannya. Vika juga tidak mengerti, akhir-akhir ini hati dan pikirannya di kuasai oleh Arya seorang.
*Arya*
Malam semakin larut. Arya juga masih gelisah, ia tidak bisa memejamkan matanya sama halnya dengan Vika. Ia juga memikirkan tentang Vika.
Kakek dan Nenek yang menjaga Arya sudah tertidur dengan nyenyak. Arya meraih ponsel Kakeknya yang di atas meja, tidak jauh dari tangannya. Ia ingin mengirim pesan pada Vika. Namun, saat ia mengetik nomor tujuannya, Arya tidak mengingatnya sama sekali. Arya mengurungkan niatnya, dan mengembalikan ponsel Kakeknya pada tempatnya.
Pagi. Arya baru merasa ngantuk berat, setelah panjangnya malam ia tidak tertidur. Tim medis sudah berada di ruangan isolasi di tempat Arya berada, termasuk Dokter Hilman, siap untuk memindahkan Arya ke ruang operasi.
Melihat Arya memasuki ruang operasi, wajah Nenek sangat pucat karena kepanikkannya, takut akan terjadi sesuatu pada Cucunya. Namun, hal itu Nenek serahkan pada Sang Pencipta.
Dokter Hilman mulai sibuk dengan alat medisnya, mulai menyuntikkan bius pada Arya, melepas perban di wajah Arya, Dokter Hilman membenahi wajah Arya sebaik mungkin. Suster-suster yang mendampingi Dokter Hilman sampai merasa kelelahan.
Operasi masih berlangsung, belum ada tanda-tanda kabar dari ruangan tersebut, semuanya tampak menegangkan.
*Vika*
Pagi yang cerah. Vika membantu Mamanya di dapur, mulai menyiapkan rempah-rempah yang dibutuhkan. Vika memotong bawang, awalnya ia sangat fokus. Namun, tiba-tiba saja kenangannya bersama Arya, saat mengambil bulu tangkis hadir dalam lamunannya, membuat kefokusannya teralihkan.
Vika memotong bawang tanpa memperhatikkannya, sampai-sampai ia tega memotong jarinya sendiri.
"Aauuu... " Vika terkejut, baru ia tersadar ketika melihat tangannya mengeluarkan cairan kental berwarna merah.
"Vika. Hati-hati dong sayang." ucap Mamanya, meraih tangan Vika yang terluka.
__ADS_1
Mamanya mengajak Vika duduk di meja makan, lalu mengambil Kotak P3K dari laci lemari, lalu mengobati luka Vika.
"Ada apa sayang, apa yang kamu fikirkan?" ucap Mamanya, seakan-akan Mamanya tahu apa yang Vika rasakan.
"Tidak ada Ma, Vika cuman keterusan saja." ucap Vika santai, menyembunyikan perasaan yang sesungguhnya.
Selesai mengobatin luka Vika, Mamanya hanya memerintahkan Vika duduk saja, tidak perlu turun tangan untuk membantunya. Mamanya sudah biasa menyelesaikannya sendiri.
"Arya, saya mengingatmu, bersamaan pisau yang menyayat jari saya, ini semua tidak ada hubungannya, kan denganmu." ucap Vika getir dalam hatinya.
Vika semakin merasa cemas, Vika tidak terluka parah, tapi raganya sungguh terasa lemas. Tenaganya seperti habis terkuras, padahal ia sedang tidak bekerja keras. Anehnya pandangannya menjadi kabur, Mamanya yang hanya satu terlihat sangat banyak.
Vika memejamkan matanya dengan erat, lalu membukanya kembali perlahan. Vika meraih gelas yang berisi air putih, lalu meneguknya. Untung saja Vika tidak sampai pingsan.
"Ma, Vika ke kamar dulu ya." ucap Vika.
"Iya sayang, kalau perlu apa-apa panggil Mama ya." ucap Mamanya, sibuk menggoseng bumbunya di atas wajan.
"Iya Ma." Vika melangkahkan kakinya dengan hati-hati.
Vika merebahkan tubuhnya. Ia mengantuk, mungkin efek kemarin tidak bisa tidur. Lama-kelamaan matanya terpejam.
*Arya*
"Bagaimana operasinya, Dok?" ucap Nenek Khawatir.
"Operasinya lancar." ucap Dokter Hilman, dengan senyum legahnya.
Ucapan Dokter Hilman dapat mengurangi kecemasan di wajah Kakek dan Nenek, terlihat jelas di mimik wajahnya yang sedikit kusut.
Paramedis kembali membawa Arya ke ruangan isolasi. Masih dalam keadaan tidak sadarkan diri. Arya masih dibawah kendali obat bius.
Tiba-tiba saja, Arya membusungkan dadanya. Arya sesak, nafasnya seperti terputus pada penyalurannya. Dengan cepat Dokter Hilman meng-chek oksigen yang terhubung dengan hidung Arya. Kondisi Arya kini sudah stabil.
Nenek dan Kakeknya Arya sudah membayangkan, bagaimana ekspresi wajah Arya nanti, ketika mengetahui wajahnya sudah tidak lagi sama. Suka atau tidakkah Arya dengan wajah barunya, ia harus menghargai kerja keras Ayah angkatnya.
__ADS_1
*Vika*
Vika terbangun dari tidurnya. Perutnya terasa keroncongan. Vika tertidur terlalu lama, sampai waktu makan siangnya terlewat.
Vika bangkit dari ranjangnya. Badannya sedikit lebih rileks dari sebelumnya. Ia melangkahkan kakinya. Menuju ruang dapur yang bisa mengerti cacing-cacing di perutnya.
Vika makan dengan lahap tanpa beban apapun. Ia tidak peduli dengan keadaan sekitar. Tidak sadar ada yang memperhatikannya sejak tadi.
"Laper apa doyan?" ucap Bian.
Seketika Vika menghentikan acara makannya. Ia seperti terhipnotis secara mendadak. Suara yang ia dengar sangat tidak asing baginya. Vika menoleh perlahan ke arah sumber pemilik suara.
"Kak Bian." seru Vika, dengan mulutnya yang masih penuh.
Bian adalah Kakak sepupunya Vika dari Kakaknya Mamanya. Bian baru menyelesaikan kuliah S1-nya. Bian hanya menghabiskan waktu liburnya dan kebetulan ia ada urusan kecil dengan Papanya Vika.
Vika memburu makanan yang memenuhi mulutnya, lalu minum sedapatnya. Vika menghampiri Bian yang berdiri santai dengan khas tawanya.
Vika memeluk Bian. Meredam rindu yang sudah beberapa tahun lamanya tidak pernah bertemu. Vika memegangi pipi Bian, yang menurutnya lebih tampan dari sebelumnya.
"Ya ampun, Kak Bian, apa kabar? Kakak lama, kan disini?"
"Baik selalu. Kurang tahu lama tidaknya." ucap Bian, membelai kepala Vika.
"Eemm... ya sudah ayo makan dulu." ucap Vika, menarik tangan Bian.
"Kakak sudah makan Dedek. Kakak temenin kamu saja deh." ucap Bian, mengikuti langkah Vika.
Vika kembali menyantap makanannya dengan lahap tanpa malu-malu. Bian sudah biasa melihat cara Vika makan, untuk itu Vika tidak perlu malu padanya.
"Sudah habis berapa piring Dek?" ucap Bian bercanda.
"Uuhhukk... Uhhuukk... Uuhhuuk." Vika batuk mendadak.
"Minum... Minum... Minum." Bian menyodorkan gelas yang sudah berisi air putih sebelumnya.
__ADS_1
"Nanyak itu yang bener dong, emang lambung Dedek apaan." ucap Vika tidak terima. Vika tidak menyangka panggilan manja Bian yang manggil Vika dengan sebutan Dedek masih utuh.
\=BERSAMBUNG\=