
"Syela." ucap Vika setengah melongo.
Dengan cepat Vika melepaskan cengkraman tangannya dari Syela, Vika tidak habis pikir, mengapa Syela bisa seperti ini.
Kabar hubungan Vika dengan Arya sudah membuat Syela membabi buta, Syela semakin membenci Vika.
"Kamu gila! atas dasar apa kamu memukul saya." ucap Vika keras di wajah Syela.
Plaaaakk... tamparan keras mendarat di wajah Vika.
"Jauhin Arya." ucap Syela, lalu ia pergi begitu saja tanpa dosa.
"Heeeyyy! Syela, awas kamu ya." teriak Maya.
"Vika, kamu baik-baik sajakan, maaf ya, seharusnya tadi kita tidak pergi, ini semua salah saya." ucap Maya, memegangi pipi Vika yang memerah.
"Baik-baik saja dari mana, kamu lihat pipi saya bagaimana?, apakah sudah berubah menjadi tomat, lengkuas, apel, oohh lebih tepatnya seperti cabai, rasanya seperti pedas cabai." ucap Vika menggambarkan nasib pipinya.
"Iiss Vika serius ini, uda ah jangan bercanda, saya juga lupa kalau ada sesuatu yang mau saya tanyakan ke kamu, harusnya pertama kali lihat kamu di sekolah tadi, saya mempertanyakan langsung, tapi kamu malah buat saya lupa." ucap Maya.
"Saya buat kamu lupa, emang saya kang hipnotis gitu, apa yang mau kamu tanyakan may."
"Kamu beneran pacaran sama Arya?, terus Syela gimana, pantas saja dia cemburu buta seperti itu, sifatnya berubah seperti psikopat begitu."
"Tidak may, tapi Arya juga bilang kalau dia sama Syela tidak ada hubungan apapun."
"Serius vik, kalau tidak, berarti kabar itu bohong dong, siapa yang sudah menyebarkan kabar ini?, lalu kenapa Syela semarah itu sama kamu, terus pakai atur-atur segala lagi buat jauhin Arya, gak jelas banget tuh anak."
"Aduuhhh... panjang ceritanya may, kalau di ceritain sama kamu, mulut saya bisa pegel." ucap Vika mengeluh.
"Ceritakan intinya saja, mungkin sedikit lebih pendek." Maya terus memaksa.
"Sepertinya Syela suka deh sama Arya, kamu ingatkan waktu Arya mengambil tas Pak Joni, Syela berusaha..." ucap Vika terpotong.
"Syela berusaha mendekati Arya, tapi Arya malah menjauh dan berusaha mendekati Vika, seperti itukan." ucap Maya melanjutkan ucapan Vika.
"Eeeyyy... kesimpulan seperti apa itu, Arya tidak pernah menyatakan perasaannya dengan saya, saya yakin ini hanya sedikit kesalah pahaman dari temannya Nino." ucap Vika menjelaskan.
"Yah memang begitu vik, apa hubungannya sama Nino." ucap Maya yang semakin bingung.
Vika menceritakan tentang Arya saat bersamanya di hari minggu kemarin, panjang lebar ia menceritakannya.
"Jadi begitu may, paham, jelas." ucap Vika.
"Jelas...jelas...jelas, terus kenapa kalian tidak pacaran beneran saja, biar Syela semakin terbakar." ucap Maya.
__ADS_1
"Apaan sih, ya tidak bisa seperti itulah, ah ya sudah lah, ayo kita pulang, entar ada penjahat susulan lagi, nyulik kamu." ucap Vika menyembunyikan perasaannya.
"Nyulik saya, bukannya nyulik kamu, tapi tidak apa-apa sih, kalau yang nyulik itu baik, tampan, putih, tinggi, hidungnya mancung, rambutnya ikal, eeemm... saya rela deh."
"Ih, dasar Maya gak jelas." ucap Vika sambil melangkah.
"Vika tunggu, cepet banget jalannya." ucap Maya setengah mengejar.
"Vika, kita balik ke sekolah, atau ke rumah kamu langsung." tawar Maya.
"Ke rumah habis itu ke sekolah lagi jjhahaha.."
"Dua kali kerjaan ini mah."
"Lagian kamu pakai tanya, ya ke sekolah lah."
"Oke! perhatiannya ke belakang vik, mana tahu ada anak burung gagak ngekor lagi."
"Hahaha... kamu sih, terlalu asik, tidak tahunya ada yang ikut secara diam-diam."
"Mana saya tahu, lagian tidak permisi dulu."
"Eeeyy... makanya lain kali kalau pasang kaca sepion itu arahnya ke jalanan, bukan ke wajah kamu."
"Hahaha..." Maya tertawa.
"Bisa jadi may, ah ya sudahlah kita lupakan saja." ucap Vika tidak ingin mengingatnya lagi.
"Setelah kejadian ini, kamu bakal jauhin Arya atau tidak vik?" tanya Maya.
"Sepertinya tidak, kecuali Arya sendiri yang memintanya, Syela bukan siapa-siapanya Arya kan? kenapa saya harus menuruti perkataannya."
"Top! Vika." ucap Maya sambil mengacungkan jempolnya.
Sampai sekolah, Vika kembali menunggu papanya, Maya yang selalu setia menemaninya tidak ketinggalan ikut menunggu.
"Vik, besok kita ke tempat itu lagi ya." ucap Maya iseng.
"Kalau kamu mau, ya pergi sendiri saja, jangan ajak saya lagi, heenngghh..." ucap Vika ngeri.
"Hahaha... vik itu jemputan pribadi sudah datang."
"Iya, may kamu yakin pulang sendiri, apa lagi tadi..."
"Ssstttt... tenang saja, jangan khawatir, buruan pulang sana." potong Maya.
__ADS_1
"Oke! kalau ada apa-apa kamu kabarin saya ya ddaaa... " ucap Vika meninggalkan Maya.
Baru saja Maya ingin pergi, Arya nongol di sebelahnya, sudah pasti Maya akan mengeluarkan jurus kata-kata jahilnya.
"Eehh... ada Arya." ucap Vika.
"Iya, may belum pulang, bukannya sesi kedua sudah pulang dari tadi ya." ucap Arya.
"Iya, harusnya dari tadi, cuman lagi nungguin papanya Vika jemput, jadi keliling dulu." ucap Vika.
"Vika-nya mana, mana Vika, mana..." ucap Arya celingak-celinguk mencari Vika.
"Ya sudah pulang lah, kamu telat, gimana sih sama pacar sendiri tidak perhatian." ucap Maya jahil. Padahal Maya sudah mendapatkan penjelasan sebenarnya dari Vika.
Seketika wajah Arya memerah, tingkah lakunya menjadi acuh tak acuh, entah merasa malu, bingung, aneh, ah entahlah.
"Emmm... apa ya...sa...saya tadi pikir, sa..ya pikir sudah pulang, ya saya pikir Vika sudah pulang." ucap Arya, sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Ooo, Arya kamu sudah berapa lama pacaran dengan Vika, kenapa saya baru tahu, tidak adil tahu, yang lain lebih tahu dulu, dibandingkan saya, teman dekatnya Vika, ah ya ampun, sungguh tidak adil." ucap Vika menyembunyikan wajah dan juga tawa jahilnya.
"Hah...kapan ya, Oohh ya tadi keliling kemana saja?" tanya Arya mengalihkan pembicaraan.
"Eemm... ya tadi saya ke suatu tempat, tidak tahu sih nama tempat itu apa, sepertinya baru saja dibuat, dan tadi juga sempat ada masalah."
"Masalah? masalah apa?" tanya Arya penasaran.
Maya menceritakan kejadian yang sudah terjadi di tempat tersebut, hanya Maya tidak ingin memberitahukan siapa orang yang berusaha mencelakai Vika.
"Vika anak baik, mana mungkin ada orang yang tidak menyukainya, apa lagi untuk mencelakainya, kalau saya disana, mungkin tidak sampai seperti ini." ucap Arya geram.
"Ya kenyataannya memang seperti itu Arya."
"Vika baik-baik sajakan, apa dia terluka." ucap Arya cemas.
"Kalau kamu tahu orang itu Syela, bagaimana kamu bertindak Arya." batin Maya.
"Ya Vika terlihat baik-baik saja."
"Baguslah."
"Kalau masih penasaran, tanya saja sama pacarnya langsung mas." ucap Maya, lalu pergi begitu saja tanpa permisi, Maya tidak tahan lagi menahan tawa menyaksikan ekspresi Arya yang aneh.
Arya diam ditempat, memikirkan Vika, memikirkan hubungannya, apa yang harus Arya lakukan sekarang, ia merasa sangat kebingungan.
"Saya harus menyatakan perasaan saya secepatnya, agar saya lebih mudah untuk menjaga Vika, tapi bagaimana memulainya." batin Arya.
__ADS_1
Atas kejadian yang diceritakan Maya, seolah-olah memberikan sedikit tekad di hati Arya, sedikit keberanian, sedikit kepercayaan diri.
\=BERSAMBUNG\=