
"May siapa sih, ganggu saja." ucap Vika.
"Anda penasaran?, sama, saya juga,,,hahaha." jawab Maya.
"Jangan-jangan...hahaha" ucap Maya Vika serentak tertawa, yang sudah menerka bahwa orang itu adalah Arya, siapa lagi kalau bukan Arya yang suka datang pada jam pelajaran.
"Anu...anu..anu apa? siapa namamu?" tanya Pak Zoni yang tidak mengenali Arya, karena Pak Zoni tidak pernah masuk di kelas Arya.
"Nama saya Arya pak, saya mau pinjam buku paket matematika pak." ucap Arya yang baru saja menemukan ide, padahal dia tidak membutuhkannya.
"Sini kamu." ucap Pak Zoni.
"Iya pak."
Arya masuk mendekati Pak Zoni, matanya kelayapan menyelusuri isi ruangan mencari keberadaan Vika yang duduknya diujung dekat dinding, namun, tidak dapat dilihat olehnya.
Vika dan Maya hanya tertawa, dugaan mereka yang dinyatakan benar.
"Anakku ada yang sudikah meminjamkan bukunya?." tanya Pak Zoni pada se isi kelas.
"Ada pak." ucap beberapa teman kelas Vika.
Setelah mendapatkan buku paket Matematika tersebut Arya langsung pergi.
"Makasih pak, permisi." ucap Arya
"Tunggu...tunggu...tunggu, nanti saat ganti les pelajaran, bawakan tas bapak ke TU ya." ucap Pak Zoni.
"Oke, siap pak, pasti saya antar." ucap Arya sumringah.
**POV ARYA**
Pelajaran les pertama, telah dimulai beberapa menit yang lalu, tapi Arya sudah minta izin saja untuk keluar kelas.
"Bu saya izin ke toilet." ucap Arya mengeles, padahal ia datang kekelas Vika, hanya untuk sekedar melihatnya.
"5 menit." ucap Bu Sarah, guru ilmiah.
"Lima menit mana cukup bu, jalan sampai ke toilet saja, sudah makan waktu 5 menit ." tawar Arya.
"Ya sudah, cepatlah kembali kalau sudah selesai." Ucap Bu sarah mengiyakan.
__ADS_1
"Baik bu, terima kasih." ucap Arya
Arya pun keluar kelas, toilet ia lewati, tujuannya adalah kelas Vika, ia sudah berbohong hanya demi mengunjungi kelas Vika.
Sering Arya bolos dalam hal pelajaran, namun, berkat kecerdasan otaknya, ia dapat mempelajarinya hanya dalam waktu yang singkat.
Arya sampai dikelas Vika, matanya tidak dapat menemukan sosok yang sedang ia cari, Vika tidak ada ditempat duduk yang biasa ia lihat, Arya juga tidak dapat berlama-lama, hal itu membuatnya tidak sempat memperhatikan satu-persatu, sempat Arya berfikir bahwa Vika sedang sakit sehingga tidak dapat mengikuti pelajaran.
Setelah menghampiri kelas Vika, Arya mampir ke UKS untuk memastikan bahwa dugaannya itu salah.
"Vika tidak ada disini, lalu Vika kemana ya? ah sudahlah, semoga dia baik-baik saja." tanyanya dalam hati.
Arya kembali ke kelasnya dengan wajah lesu, kali ini tujuannya tidak tepat sasaran,namun, tidak perlu khawatir, sebab Arya akan kembali lagi atas perintah Pak Zoni untuk mengambil tasnya.
Arya mengikuti pelajaran yang sempat ia tinggalkan selama ± 15 menit, untung saja pelajaran yang diberikan Bu Mega belum terlalu jauh, jadi sangat muda bagi Arya untuk mengejarnya.
Teettthhh...tteetthhh...teettthhh jam pelajaran telah usai, berganti dengan istirahat, Arya masih saja sibuk mengumpulkan buku tugas, ia diperintahkan Bu Mega untuk mengantarnya dikelas berikutnya, yang di ajar juga oleh Bu Mega.
"Arya sini saya bantu." ucap Syela mencari perhatian.
"Tidak perlu, saya masih mampu sendiri." tolak Arya yang merasa risih.
"Tidak apa-apa Arya, ini hanya bantuan kecil." ucap Syela.
Syela membantunya mengumpulkan buku tugas, juga ikut mengantarnya, bahkan sampai selesai mengantar, Syela masih membuntutinya.
"Kamu ngapain ikutin saya, buku tugaskan sudah di antar, lebih baik kamu balik saja kekelas." ucap Arya santai bercampur dingin.
"Ya memangnya kenapa Arya, sayakan mau temenin kamu." ucap Syela manja.
"Temenin, emang saya anak kecil yang kemana-mana suka ditemenin." jawab Arya ketus.
"Ya memang bukan anak kecil, tapikan tidak ada salahnya." ucap Syela yang tidak mau kalah.
"Terserah." ucap Arya, sambil mencepatkan langkahnya.
Mereka berjalan menuju kelas Vika, untuk mengambil tas milik Pak Zoni, Syela yang mengetahui tujuan Arya, tidak kehilangan kesempatan.
"Arya ke kelas Vika, ngapain dia, ah bodoh amat, yang penting saya ikut." ucap Syela dalam hati.
"Ini anak ngapain sih buntutin terus, gimana saya bisa lama-lama lihat wajah Vika." ucap Arya dalam hati.
__ADS_1
Arya merasa kesal hari ini, rasanya keberuntungan tidak ingin lagi memihak keinginannya. Selalu ada saja halangan yang ia temukan, saat keinginannya mulai terpenuhi.
"Sabar Arya, ini ujian, cinta yang tulus memang selalu melewati jalan yang tidak mulus, semua juga butuh perjuangan." ucap Arya membatin.
Arya mengambil tas Pak Zoni, sekaligus melihat Vika, menatapnya dari jarak yang sedikit jauh, Arya melempar senyum yang paling manis miliknya, sayangnya ia tidak bisa berlama-lama, tiba-tiba saja Syela mendekatkan dirinya sejajar dengan Arya, lalu mengandengkan tangannya.
"Apaan si Syel, lepasin Syela." ucap Arya, sambil menjauhkan tangannya dengan kasar, tetap saja Syela tidak tahu diri, ia masih saja menggandengkan tangannya.
Tentu saja Vika melihatnya, meski sekilas tapi itu terlihat sangat jelas, Vika langsung membuang wajahnya, pura-pura tidak melihatnya.
Melihat wajah Vika yang mendadak aneh dan tidak biasa saat Arya menatapnya, Arya merasa bersalah, walaupun itu bukan kesalahan yang dibuatnya.
Arya pergi meninggalkan kelas tersebut dengan buru-buru, ia tidak ingin Vika melihatnya terlalu lama. Terlebihnya lagi tingkah Syela yang semakin memaskan hati Vika.
cukup melihat wajah Vika yang berasa masam, sepertinya Arya juga merasakan yang dirasakan oleh Vika, hanya saja Arya tidak dapat bicara, karena status hubungan merekapun belum jelas.
Arya memang bukan siapa-siapanya Vika. Namun, entah kenapa sejak melihat kejadian tersebut, membuat Vika down, dadanya terasa sesak, belajar mulai tidak fokus. Rasanya ia ingin pulang saja.
"Arya sama Syela, tumben jalan berdua, apa mereka pacaran ya?" Vika terus menerka-nerka dalam hatinya.
Vika berusaha kuat, untuk tidak memikirkan hal yang tidak penting, hal yang membuatnya terganggu untuk fokus belajar.
"Ayo Vika semangat, tugas kamu belajar, banggain orang tua, bukan patah hati seperti ini." ucap Vika menyemangati dirinya sendiri.
"Vika, si Syela deket banget ya sama Arya." ucap Maya, yang membuat Vika semakin tidak nyaman.
"Eemmm,,, mungkin mereka lagi PDKT (Pendekatan)." ucap Vika santai, menyembunyikan rasa kekecewaannya.
"Ooohh, masa sih, saya masih tidak percaya, kok Arya mau sama burung gagak,kan serem." ucap Maya yang suka ceplas-ceplos.
"Huusstt, kok gitu sih May, Syela juga berhak kali atas cintanya Arya." ucap Vika, yang lagi berjuang menguatkan hatinya, menyabarkan jiwanya.
"Masalahnya, mereka itu tidak serasi Vik, kalau dilihat dari sudut pandang umum, buat sakit telinga aja, eh maksudnya sakit mata." ucap Maya dengan kejujurannya.
"Hahahah, ya sudah May, besok-besok kalau Arya dan Syela datang lagi, kamu bawa kaca mata saja, tapi dipilok dulu kacanya, biar gak kelihatan." ucap Vika serta memberikan Maya id. Vika sedikit terhibur mendengar perkataan Maya, meski itu terdengar menyakitkan, jika pendengarnya adalah Syela.
"Hahahha, boleh dicoba juga tuh." ucap Maya.
Untung saja Vika masih bisa mengendalikan dirinya, hingga keadaan yang sebenarnya tidak terlihat jelas oleh sahabatnya.
\=BERSAMBUNG\=
__ADS_1