
Selesai makan, Vika membereskan meja makan, mencuci piring yang perlu di cuci bersama Mamanya.
"Vika kamu dari mana? tidak biasanya pulang malam, Mama kira kamu pergi sama Arya." ucap mamanya Vika, membahas kepergiannya yang seperti hilang di telan Naga Bumi.
"Mama jangan kepo dong sama anak sendiri, tidak sopan tauk." ucap Vika cengengesan.
"Astaga, kamu sudah salah, tidak merasa berdosa lagi."
"Pliiiss... ma, jangan kutuk Vika jadi patung, kutuk Vika jadi Ratu saja." ucap Vika, sambil memperagakan dirinya menjadi seorang Ratu.
"Vika."
"Hehehe... Vika bercanda Ma. Oh ya Ma, Vika dapat juara pertama lho, sebagai siswa teladan."
"Wah, selamat sayang." ucap Mamanya Vika sembari memeluk dan mengecup kepala putrinya.
"Selamat juga buat Mama."
"Selamat! memangnya Mama ngapain."
"Mama berhasil menyekolahkan Vika, makasih ya Ma." ucap Vika dengan mata yang berkaca-kaca.
"Itu sudah kewajiban Mama sama Papa, sayang. Kamu tidak perlu berterima kasih."
"Tetap saja Ma."
"Sudah Vika, yang penting kamu tidak pernah mengecewakan Mama, Papa."
"Pasti Ma, Vika janji. Vika akan terus berusaha menjadi yang terbaik."
"Okeeyy... Mama pegang janji anak mama."
"Siap Ibu Negara." Vika menghormat pada Mamanya.
"Ya sudah, kamu bawa cemilannya ke depan ya, barang kali Arya sudah menunggu Ratunya kembali." ucap Mamanya Vika menggoda.
"Apaan sih Ma." Vika langsung melangkahkan kakinya, meninggalkan mamanya di dapur.
Vika membawa nampan yang berisi potato crispy chips dan teh manis, untuk di hidangkan.
"Di minum Arya." ucap Vika.
"Arya doang yang di tawari, Papa tidak!"
"Papa manja banget sih." ucap Vika lirih.
"Di jemput Arya mau, di jemput Papa tidak mau. Dasar pemilih." ucap papanya Vika mengungkit.
"Papa sih tidak peka, kalau Vika menolak bukan berarti Vika tidak mau." ucap Vika membela dirinya.
Papanya Vika hanya tertawa renyah mendengar sahutan putrinya. Vika duduk di sofa yang masih kosong, ia anteng mendengarkan obrolan papanya yang seputar pekerjaan.
Beberapa jam berlalu, Arya pamit untuk singgah ke rumah Ridho.
"Om, Arya pamit ya, mau singgah ke rumah Ridho."
"Ke samping, jangan gosipin Om ya Arya."
"Gosipin saja, tidak masalah Arya, Papa juga tukang gosip kalau di kantor." potong Vika sok tahu.
"Eeiiiyyy."
Sebelum menatap wajah Papanya yang aneh, Vika sudah mendangakkan kepalanya ke langit-langit dengan sengit.
__ADS_1
"Mari Om." pamit Arya lagi.
"Iya... iya ..."
Arya melangkahkan kakinya keluar dengan diikuti Vika.
"Kamu tidak ikut?" tanya Arya.
"Tidak."
"Oh ya, barang kamu sudah saya kasih ke mama."
"Iya, makasih."
"Sama-sama." ucap Arya.
"Arya." panggil Vika, membuat Arya menunda menstarter motornya.
"Iya."
"Makasih."
"Sama-sama Vike." ucap Arya tersenyum.
"Arya." panggil Vika lagi.
"Iya."
"Hati-hati, makasih."
"Iya. Di larang bilang makasih lebih dari satu kali."
"Hahaha... aturanmu tidak berlaku. Ya sudah, pergi lah, Ridho sudah menunggu. " Vika tertawa lepas.
Selesai berbincang sejenak, Arya pun pergi menuju ke rumah Ridho, yang hanya 1 menit saja sampai.
Arya dan Ridho asik bermain catur dibawah lampu 50 watt, berteman secangkir kopi dan cemilan renyah. Wah, nikmatnya bukan main gaes.
"Arya, kamu tidur sini saja, sudah tidak ada jadwal sekolah kan." ucap Ridho menawari.
"Saya harus pulang." ucap Arya menolak.
"Ayo lah Arya. Kita begadang."
"Begadang! jam segini saja saya ingin tidur."
"Payah!"
"Sorry! boss, lain kali ya."
"Lain kalinya itu kapan?"
"Kapan-kapan, ya sudah, saya mau pulang dulu." ucap Arya, setelah berpikir sudah terlalu lama ia meninggalkan rumah kostnya.
"Hah! pulang! buru-buru amat, baru lima menit sudah mau pulang, tidak jelas kamu." ucap Ridho, melemparkan Ratu catur pada Arya, untungnya Arya mengelak, kalau tidak bisa bertato jidatnya.
"Anak bujangan, tidak baik pulang terlalu malam, nanti di anggap capung malam." ucap Arya dengan tertawa lirih.
"Apa? capung malam... yang benar saja."
"Dho, saya lupa kasih kabar." ucap Arya, baru ingat.
"Kabar apa?"
__ADS_1
"Syela sama Olla kecelakaan."
"Ooo."
"Ooo doang."
"Kalau sama Pnya kan, tidak lucu."
"Terserah lah, kamu kasih kabar teman yang lain ya, saya mau pulang, titip salam sama Mami, Papi." ucap Arya. Kebetulan orang tuanya Ridho saat itu, lagi pergi kondangan.
Sampai di rumah, Arya merebahkan tubuhnya di ranjang, rasa letihnya baru merajai sekujur tubuhnya. Sambil rebahan Arya mencari informasi FK yang tepat untuknya.
Untuk saat ini Arya hanya fokus dengan cita-citanya, ia tidak ingin gagal dalam visi dan misi yang diberikan kakek-neneknya, ya meski Arya sendiri harus berkorban meninggalkan cintanya yang masih terbungkam.
Esok hari, tepat siang hari. Arya kembali ke rumah Vika, memberikan kado yang belum sempat ia berikan pada Vika.
"Apa ini?" tanya Vika.
"Bukan apa-apa, semoga saja kamu suka."
"Oh ya, pasti suka kok." ucap Vika, membawa kado yang diberikan Arya ke dalam kamarnya, lalu mengambil kado yang sudah ia siapkan untuk Arya, ia letakkan di tas sampingnya.
"Arya kita mau kemana?" tanya Vika setelah kembali di depan rumah.
"Keliling."
"Tanpa tujuan,! ke taman saja atau membesuk Olla dan Syela." ucap Vika menawari.
"Boleh, ke taman." pilih Arya.
"Kamu tidak mbesuk mereka, Arya, temen kamu lho. Sebentar saja ajak sekalian Ridho." ucap Vika, menunjuk Ridho yang mulai menampakkan dirinya di ambang gerbang rumah Vika.
"Woyy... Dho." sapa Arya.
"Hah! saya mau mbesuk Olla sama Syela, teman yang lain juga sudah disana. Kamu tidak ikut Arya?" jawab Ridho, padahal Arya tidak menanyakan mau kemana.
Arya pun terpaksa mengikuti kemauan kedua temannya itu dengan ogah-ogahan. Vika bersama Arya, sedangkan Ridho sendiri.
"Lho dho, kok sendiri, Maya mana?" ledek Arya.
"Maya, tadi saya telepon, katanya sibuk." ucap Ridho acuh tak acuh.
"Ooo." desus Arya.
Sampai rumah sakit, mereka tidak bisa membesuk sekaligus, sebab, disana sudah ada keluarga Olla dan Syela, dan teman yang lainnya. Ruangan pasti akan pengap kalau mereka membesuk bersamaan.
Menunggu waktu bergilir, membuat Arya sangat bosan, sebenarnya ia tidak betah dengan bau obat-obatan.
"Lama banget, pulang yuk." ucap Arya.
"Sebentar lagi Arya."
Sebagian orang sudah keluar dari ruangan yang ditempati Olla dan Syela. Arya, Ridho pun masuk.
"Vike, kamu tidak ikut?" tanya Arya.
"Tidak, kalian berdua saja."
"Ayo lah." paksa Arya menarik tangan Vika, membuat Vika kewalahan.
Ridho, Arya dan Vika, mereka masuk, melihat keadaan Olla dan Syela yang penuh perban di bagian kepala, tangan, dan juga kaki.
"Hy Olla, Syela, sudah merasa baikkankah?" sapa Vika ramah. Olla dan Syela hanya mengangguk.
__ADS_1
Ridho dan Arya hanya bersikap acuh tak acuh, hanya berdiam diri, sesekali saling menjahili, sedangkan Vika duduk anteng bercengkrama dengan mamanya Olla.
\=BERSAMBUNG\=