Ada Cinta Dalam Hubungan Tak Bernama

Ada Cinta Dalam Hubungan Tak Bernama
Part 14


__ADS_3

Arya sampai ditaman, matanya masih menelusuri sosok yang ia cari, memperhatikan satu persatu orang yang ada disana, matanya juga tidak kunjung menemukannya.


"Dimana Vika, kenapa saya tidak melihatnya?" ucap Arya dalam hati.


Arya terus berjalan menelusuri tempat-tempat yang belum ia singgahi. Tepat ia berdiri didepan danau, matanya menangkap seseorang, ya, yang Arya lihat memanglah Vika.


"Sepertinya itu Vika, saya telepon dulu kali ya untuk memastikan." batin Arya.


Arya menelepon Vika dari sedikit kejauhan, matanya terus saja memperhatikan gerak-gerik Vika. Terlihat Vika sedang mendekatkan ponselnya ketelinganya, tanpa menjawab apapun Arya mendekatinya begitu saja.


"Hai!" ucap Arya sembari duduk disamping Vika.


"Ya, Arya kamu disini?, sejak kapan?"


"Baru saja, kamu ngapain vik disini sendirian?."


"Siapa bilang saya sendiri, tuh banyak orang." ucap Vika menunjuk orang-orang yang sedikit jauh darinya.


"Iya tapikan beda Vika, memangnya kamu kenal sama mereka untuk diajakin ngobrol."


"Tidak sih Arya, kalau cuman ngobrol doang sama Pochi juga bisa, yakan pochi" ucap Vika mengelus-elus kucingnya.


Arya tersenyum melihat Vika sesekali menggelengkan kepalanya.


"Saya boleh duduk disini?" ucap Arya meminta izin untuk duduk disebelah Vika.


"Boleh, silahkan Arya." ucap Vika mempersilahkan.


Mereka berdua menikmati suasana bersama, bercerita dan bercanda. Danau kecil juga menjadi saksi kedekatan mereka.


Waktu sangat singkat untuk berlalu, waktu bersamapun hanya tinggal sedikit, untuk menikmati waktu yang tersisa, Arya mengajak Vika berkeliling.


"Vik kamu tidak bosan disini, kita keliling yuk."


"Boleh, tapi kita naik sepeda aja ya."


Arya mengangguk mengartikan setuju, Arya membonceng Vika dengan tengah tertawa, Arya merasa geli kalau membonceng Vika naik sepeda. Dan ini pertama kalinya.


"Sshhshsshshshaa..." Arya mengumpatkan tawanya.


"Arya kamu kenapa sih, seperti tidak waras gitu, hhnnggss..." ucap Vika, tertawa kecil karena mendengar tawa Arya yang menggemaskan.


"Enak saja kamu, bilang tidak waras, saya masih waras lah...ngghahaha." ucap Arya tidak terima dengan tawa yang tidak tertinggal.


"Terus kamu kenapa bisa tertawa seperti itu?, tanpa sebab lagi."


"Itu tadi kamu tidak lihat, ada badut aneh, lagi pakai lipstik." Arya beralasan.


"Hahaha,,,badut memang begitu Arya, kamu yang aneh."


"Kok saya yang aneh, sayakan cuman geli lihatnya." ucap Arya, padahal ia sedang menggelikan dirinya sendiri.


Tidak sengaja ada temannya Arya, teman yang pada saat itu menanyakan tentang Vika, namanya Nino.

__ADS_1


"Cie...ciieee...yang pacaran." ucap Nino.


Arya hanya tersenyum tidak dapat berkata lagi, rasanya ia ingin menghilang dalam sekejab, rasanya ia tidak mampu menjawab pertanyaan-pertanyaan yang keluar dari mulut Vika.


Apa yang mereka lakukan hanya satu hal kedekatan yang biasa, tapi bagi mereka yang melihat dengan perasaan, ya terlihat seperti orang yang sedang bermesraan dengan pasangannya.


"Pacaran!, siapa yang pacaran?" batin Vika.


Arya mengayuh sepeda lagi, lagi dan lagi sampai sejauh mungkin dari Nino.


"Kenapa Nino disini, Vika pasti bakalan curiga, ah sial bikin bade mood aja tuh Nino." batin Arya.


"Stop...stop..stoopp, Arya stoopp." ucap Vika membuyarkan kekesalan Arya.


"Hah, kenapa Vika kok berhenti." ucap Arya pura-pura lupa.


"Arya, mending kamu turun aja deh jalan kaki, kalau kita boncengan seperti ini, kita di anggap seperti orang pacaran, padahalkan tidak, saya jadi tidak enak." ucap Vika terus terang.


"Syukur...syukur... untung Vika hanya mengira ini sebuah tanggapan saja." batin Arya.


"Kamu tega vik, suruh saya jalan, ini sudah jauh dari parkiran, pasti capek kalau jalan kaki, lagiankan itu hanya tanggapan saja, dia tidak tahu kebenarannya." jelas Arya meminta pengertian pada Vika.


"Eeemm,,,Ya sudah kalau begitu kita balik kedanau lagi, saya lagi nunggu seseorang." ucap Vika.


"Siapa?, memangnya kamu yakin orang itu akan datang."


"Tidak tahu, saya hanya menunggu, sekaligus menghabiskan waktu sampai pukul 11.45. Kalaupun tidak datang, ya sudah tidak masalah."


"Ooo..."


"Kenapa dari sini Arya? kan ini lebih jauh." ucap Vika.


"Eemmm... iya kita beli minum dulu, saya haus."


Arya berhenti didepan pedagang kaki lima, ia membeli 2 botol minuman, 2 ice cream, 2 nasi kotak serta cemilan lainnya, untuk bersantai menikmati sisa waktunya bersama Vika.


"Banyak banget." ucap Vika heran.


"Saya lagi lapar, kita lanjut ya? kamu apa saya yang bonceng?." ucap Arya menyeringaikan mulutnya.


"Kamu lah, kalau saya yang bonceng, entar ni sepeda tidak laju-laju, xxixixix..."


"Kalau tidak maju, terus mundur gitu, memang saya seberat apa? sampai segitunya."


"Hahaha... seberat apa ya? seberat gajah ada?."


"Gajah mah uda 10 kali lipat beratnya dari saya." ucap Arya tidak terima.


"Hahaha.. iya deh iya, kamu seberat semut." ucap Vika semakin bercanda.


"Kalau saya seberat semut, berarti kamu seberat tungir dong, hahhaa..."


"Ih Arya apaan sih, jangan disamain dong saya sama tungir."

__ADS_1


"Ih Vika apaan sih, jangan disamain dong saya sama semut."


"Hahahaha..." tawa mereka bersama.


Kembali didepan danau, menikmati genangan air kecil yang cukup menenangkan pikiran.


"Vika" ucap Arya memanggil.


"Hhmm.."


"Ini buat kamu, bukanya dirumah saja ya." ucap Arya sambil menyodorkan kotak berisi gantungan kunci unik dan buku yang ia perebutkan sebelumnya oleh Vika.


"Apaan ini." tanya Vika penasaran, membolak-balikkan kotak tersebut.


"Nanti kamu juga tahu."


"Kalau begitu saya pulang sekarang saja deh." ucap Vika bangkit dari duduknya.


"Eettss... sabar dong, sini duduk lagi, enak saja main tinggal." ucap Arya menarik tangan Vika, sampai Vika duduk kembali.


"Tadikan sudah saya temenin, sekarang saya harus pulang."


"Tidak, saya sudah beli makanan sebanyak ini, yang benar saja kalau saya menghabiskannya sendiri, temenin saya makan atau sampai makanan ini habis baru kamu bisa pulang." ucap Arya menahan Vika.


"Kamu bisa membagi.... " ucap Vika belum selesai bicara, Arya sudah memotongnya.


"Sssttt... kamu terlalu banyak bicara, sebaiknya diam, duduk yang manis, makan yang banyak, itu lebih baikkan." ucap Arya, menyumpalkan makanan kemulut Vika sehingga Vika tidak dapat bicara.


Terpaksa Vika mengunyah makanan secepat mungkin, mulutnya penuh menghabiskan makanan yang ada.


"Uhhuuukk..uhhuukk..uhhuukk." Vika terbatuk.


"Vika... Vikaa... pelan-pelan dong." ucap Arya memberikannya minum.


"hhhukk... makasih."


"Uda baikkan? lanjutin makannya, jangan buru-buru." ucap Arya.


"Kalau tidak buru-buru, habisnya akan lama, otomatis saya pulangnya juga lama dong."


"Astaga Vika hehehenghhe... saya bercanda, kalau makanannya tidak habis, bisa kamu bawa pulang, emang kamu sanggup, kalau sanggup silahkan lanjutkan." ucap Arya. Vika menjadi malu seketika, mendengar perkataan Arya yang bercanda.


Vika tidak lagi memakannya, Vika hanya membisu sesekali memperhatikan Arya diam-diam. Dalam hatinya masih tidak menyangka kalau dirinya saat ini masih dekat dengan Arya.


"Arya, sepertinya saya harus pulang sekarang, saya sudah janji sama mama untuk pulang tepat waktu." ucap Vika sedikit berat, sejujurnya Vika masih ingin bersama Arya.


"Sebentar lagi vik... pliiisss ya, Pochi saja belum mau pulang." ucap Arya mengelus Pochi digendongan Vika.


"Siapa bilang Pochi tidak mau pulang, saya sudah sehati dengannya, pasti pengen pulang lah, iyakan Pochi sayang?" ucap Vika.


"Benarkah Pochi?, saya pikir kamu sehati dengan saya, masih sama-sama ingin disini." ucap Arya bicara pada kucingnya Vika.


"Saya juga masih ingin disini Arya bersama kamu, tapi waktu saya harus tersita dengan kenyataan." batin Vika.

__ADS_1


\=BERSAMBUNG\=


__ADS_2