Ada Cinta Dalam Hubungan Tak Bernama

Ada Cinta Dalam Hubungan Tak Bernama
Part 41


__ADS_3

Setelah mendapat izin dari Papanya, Vika mempersiapkan diri, ia hanya mengenakan kaos pendek yang di balut jaket pemberian Arya, celana jeans panjang, sederhana saja tidak mengurangi kecantikkannya.


"Ma, Pa." ucap Vika, yang baru keluar dari kamarnya.


"Iya sayang." sahut Mamanya.


"Vika pergi bentar ya Ma." ucap Vika, menyalami mamanya, lalu Papanya.


"Jam sembilan teng." Papanya Vika mengingatkan.


"Iya, iya... " ucap Vika sewot.


"Jangan macem-macem ya." ucap Mamanya.


"Oke Ma."


Vika keluar rumah, mengendarai motor, yang cukup lama tidak ia sentuh, rasanya masih sama tidak ada yang berubah, seperti ia pertama kali belajar mengendarainya.


Vika mengendarai motornya dengan sangat hati-hati. Tidak ketinggalan anak jalanan melempar siulan kepadanya, untuk menarik perhatian Vika, tapi, tak sedikit pun Vika tergoda untuk menoleh.


Sampai Cafe. Vika memarkirkan motornya. Tidak langsung turun, Vika masih duduk termenung. Kembali lagi ia teringat pada sosok Arya, sampai saat ini matanya terasa layu tanpa kehadiran Arya.


Vika berharap, ia menemukan Arya di Cafe tersebut, yang termasuk langganan Arya setiap kali butuh makan.


"Woy, Vik." Panggil Olla, membuyarkan pandangan Vika.


"Hm, iya." sahut Vika.


"Buruan kesini." Olla melambaikan tangannya.


Vika menghampiri Olla dengan langkah yang santai, matanya celingak-celinguk mencari sesuatu, yang menurutnya kurang.


"Kamu sendiri, mana Syella?" tanya Vika.


"Sudah di dalam, buruan ayo, kamu sudah di tunggu." ucap Olla menarik tangan Vika untuk masuk ke Cafe.


Olla membawa Vika ke meja yang sudah di tempati oleh Syela, tidak di sangka Vika, ternyata Maya juga terduduk disana.


"Maya." seru Vika, memeluk Maya.


"Ya ampun, kok bisa kamu disini." ucap Vika lagi.


"Bisa dong, Maya gitu lho." ucap Maya santai.


"Iya ya, saya lupa tadi kalau kamu Maya."


"Sudah dong, ini kapan pesen makannya." ucap Syela yang sudah tidak sabar.

__ADS_1


"Iya. Buruan dong pesen makannya, saya tidak bisa lama-lama. Biar cepat jadi SMP, Siap Makan Pulang."


"Buru-buru banget Vika." ucap Olla.


"Iya, buru-buru banget, padahal ini pertama kalinya kita makan bareng yak." ucap Syela menimpali.


"Biasa guys. Waktu Vika, di luar malam hari memang selalu terbatas, dan itu tidak bisa di atasi apa lagi di ubah, sungguh imposible." ucap Maya yang sudah paham soal Vika.


"Iya, maaf ya, kalau malam gini, tidak bisa lama-lama. Tapi, kalau siang oke lah." ucap Vika santai.


Mereka pesan makanan. Saat itu Vika memesan makanan sesuai selera Arya, jus jeruk dan nasi goreng spesial. Tempat duduk mereka pun, tepat terakhir kali Vika makan berdua bersama Arya, saat terjebak hujan turun lebat.


Tidak lama pesanan datang. Mereka sangat menikmati makanannya masing-masing, Sesekali Vika mengingat tingkah Arya saat menggendongnya, lalu mendudukkannya di dekatnya.


"Ehm... ehmm. Makan ya makan aja, pakai senyum-senyum segala, ada apa sih di makanannya. Tidak mungkinkan kalau nasinya yang senyum nyapa kamu." tegur Syela, mergoki Vika yang senyum tanpa sebab menurutnya.


"Aduh, Syela pakai liat segala lagi, ini bibir juga tidak tau situasi, jadi ketangkap basah, kan, malah Maya sama Olla ikut ngeliatin lagi, bikin saya tambah gerogi. Tidak mungkin kalau saya ceritakan." omel Vika dalam hatinya.


"Uuhhuukk... uhhukk... uhuukk." Vika pura-pura batuk.


"Gimana ya, rasa nasi goreng ini itu, buat saya bahagia luar dalam." ucap Vika sok iya.


"Masak sih, sampai senyum-senyum segitunya, tidak masuk akal Vika." ucap Syela tidak percaya. Syela menggelengkan kepalanya bersama tawa ringannya.


Mereka asik menikmati makanan, sekali-kali becanda mengungkit perbuatan konyol Olla dan Syela. Mereka saling melempar tawa, sepertinya hubungan mereka sudah membaik.


"Selamat malam." ucap dokter Hilman, memasuki ruangan isolasi.


"Malam kembali." ucap nenek menyahuti.


"Bagaimana kabar cucunya Nek? sudah merasa lebih baik." ucap dokter.


"Sudah, kan? Arya." Neneknya bertanya balik pada Arya. Arya hanya mengangguk.


Dokter Hilman meriksa Arya, seberapa siap ia untuk menjalankan operasi wajah besok pagi. Dokter Hilman juga memberikan resep obat yang harus di tebus di apotek pada Nenek.


"Kapan cucu saya bisa pulang dok?" tanya Nenek, yang sudah merasa bosan.


"Secepatnya Nek." ucap dokter singkat.


Sebelum dokter pergi, dokter melihat jatah makanan dari rumah sakit yang masih utuh. Dokter mengambil dan membukannya.


"Kenapa tidak di makan Arya, kamu belum bisa makan makanan yang lainnya, kecuali masakkan dari rumah sakit." ucap dokter Hilman.


"Saya belum lapar dok." ucap Arya.


"Dok." ucap dokter Hilman mengulangi panggilan Arya.

__ADS_1


"Ayah maksudnya." Arya tersenyum, begitu juga dokter Hilman.


"Kalau makan tidak perlu menunggu rasa lapar, coba ini di makan, jangan membuat nasinya bersedih, Arya." ucap dokter Hilman, menyendokkan nasi ke mulut Arya.


"Ayo buka mulutnya Arya." ucap dokter Hilman lagi.


Dengan terpaksa Arya membuka mulutnya, menerima setiap suapan yang di sodorkan Ayah Angkatnya. Neneknya Arya begitu menikmati suasana mengharukan itu, ia turut senang melihat cucunya bahagia.


"Dasar kamu ya Arya, tadi sama Nenek tidak mau."


"Baik, kalau begitu Ayah tinggal sebentar ya. Kamu istirahat saja." ucap dokter Hilman setelah selesai menyuapi Arya.


Arya hanya mengangguk, menatap langkah dokter Hilman yang menjauh darinya. Baru mengenal dokter Hilman sesaat, tapi, perasaan Arya, mengenalnya sudah begitu lama.


"Zaman sekarang, ternyata masih ada yah, orang yang mau ngakuin saya sebagai anaknya. Sedangkan Ayah saya sendiri saja tidak peduli dengan saya." ucap Arya dalam hatinya.


*Vika*


Setelah menghabiskan waktunya bersama Maya, Olla dan Syela. Vika memutuskan untuk pulang. Tidak lupa ia membawa bekal, untuk menyumpali mulut Mama, Papanya kalau mengomel.


Dalam perjalanan, Vika mengendarai motornya dengan sangat lambat, entah apa yang sedang ia hayati, mungkin hatinya masih berharap berjumpa dengan Arya, harapannya juga tidak mungkin terjadi, padahal Vika tahu jarum jam sudah lewat dari angka sembilan.


Angin malam semakin liar, jaket yang tebal pun masih bisa di tembus angin. Vika merasa kedinginan, namun, tidak ada hal satu pun yang dapat menghangatkannya.


Pukul 21.45 Vika sampai di depan rumah. Mamanya duduk dengan wajah khawatir, sedangkan Papanya berdiri mematung dengan wajah yangbsama seperti Mamanya.


"Ih ya ampun, bakalan panas luar dalam ni telinga saya." batin Vika.


Vika masuk garansi dengan santai, pura-pura tidak melihat Mama, Papanya yang jelas-jelas di depan matanya.


"Vika. Sudah jam berapa ini." ucap Papanya dengan suara setengah tinggi.


"Jam sembilan." ucap Vika enteng. Mendekati Mama, Papanya.


"Ini itu sudah hampir jam sepuluh Vika." sambung Mamanya.


"Ini jam tangan Vika, tepat jam sembilan Ma. Vika kan tahunya jam yang di tangan Vika." ucap Vika menunjukkan jam di tangannya. Untung saja, sebelum sampai rumah, Vika sudah menyetelnya lebih dulu.


"Jam tangan kamu rusak itu." ucap Papa, intonasinya mulai merendah, marahnya tertunda.


"Mungkin saja Pa." ucap Vika, dengan wajah yang sok polos.


"Untung saja Mama, Papa percaya, kalau tidak sudah habis telinga saya, dengerin pidato tanpa jeda." batin Vika.


"Ya sudah, ayo masuk, istirahat, langsung tidur." perintah Mamanya.


Vika pun masuk, tanpa basa-basi lagi sebelum masuk kamar ia memberikan bingkisan pada Mamanya, barang kali bermanfaat untuk perutnya.

__ADS_1


\=BERSAMBUNG\=


__ADS_2