Ada Cinta Dalam Hubungan Tak Bernama

Ada Cinta Dalam Hubungan Tak Bernama
Part 29


__ADS_3

Setelah sampai tujuan, Arya baru memberi kabar pada Vika.


"Vika maaf ya, saya antar barang kamu nanti malam." pesan Arya terkirim.


"Y." balas Vika singkat.


"Marah?" balas Arya lagi.


"Tidak."


"Bohong."


"Kenapa baru bilang?"


"Maaf."


"Untuk apa?"


"Baru kasih kabar."


"Tidak perlu minta maaf, saya bukan siapa-siapa kan?, saya juga tidak berhak mendapatkan atas kabarmu."


"Nanti malam saya kerumah."


"Tidak perlu, lebih baik kamu istirahat saja."


"Harus, jangan menolak."


Vika menutup ponselnya. Melemparkannya diatas kasur. Rasanya ia ingin marah, tapi, ia juga sadar kalau dirinya tidak pantas untuk marah hanya karena Arya pergi tidak bilang padanya.


"Saya ini kenapa sih, hanya masalah biasa, dan ini wajar, ah ada yang tidak beres dengan diri saya." ucap Vika pada dirinya sendiri.


Arya merasa tidak enak hati atas jawaban Vika, membuat Arya ingin cepat pulang. Setelah menghabiskan sedikit waktu disana, Arya memutuskan untuk pulang. Tidak lupa juga Arya menyempatkan waktunya mengambil barangnya Vika dikantin.


Cukup merasa jenuh, Vika memutuskan untuk keluar rumah, mencari udara segar, paling tidak dapat membantu merilekskan suasana hatinya.


Vika menelusuri setiap tempat yang ia lewati. Sesekali menyapa orang-orang didekatnya, meski Vika sama sekali tidak mengenalnya.


Suatu keramaian berhasil memberhentikkan langkahnya. Rasa penasaran yang dimiliki Vika pun timbul. Dengan pelan Vika melangkahkan kakinya dikeramaian tersebut.


"Permisi pak, saya mau lihat." ucap Vika sopan.


Setelah mendapatkan tempat untuk melihat, Vika terkejut setengah mati. Bagaimana tidak, yang dilihatnya adalah dua orang yang terbaring, sebab korban kecelakaan yang lumayan parah.


"Pak tolongin pak, tolongin..." teriak Vika histeris.


Vika tidak mengenali siapa korban tersebut, namun, rasanya ia sangat prihatin dan ingin menolongnya. Badan korban menyamping Vika tidak dapat melihat wajahnya.


"To.lo.ng." isak korban setengah sadar.


Vika mendekati korban, mencoba membalikkan tubuhnya, agar terlihat wajahnya, setelah dilihatnya ternyata ia sangat mengenalnya.


"To.lo.ng sa.ya." isak korban sebelum pingsan.


"Hah, astaga." Vika sangat terkejut.


"Pak tolongin pak...tolongin pak, ini temen saya." teriak Vika bercampur tangis.


"Pak tolong... buruan pak tolong." ucap Vika lagi. Vika menjadi orang yang paling sibuk saat itu.


Dengan cepat Vika merogo kantongnya, mengambil ponselnya, lalu menghubungi ambulan untuk dibawa ke Rumah Sakit terdekat.

__ADS_1


Tidak lama ambulance datang. Orang-orang berkerumunan, semakin membuat para petugas rumah sakit sulit untuk mengangkat korban. Sedangkan Vika sibuk mengumpulkan barang yang ia kenal, yang tengah berserakkan dipertengahan jalan.


Dengan cepat Vika ikut naik ke ambulan. Suara ambulan mengusik telinganya. Dengan hati yang gelisah, detak jantungnya kini tak beraturan, Vika merasa sangat cemas.


Vika meng-chek ponsel korban, mencoba menghubungi orang terdekat, terutama kedua orang tuanya.


Ttuuthh...


"Se..lamat soo.re, deengan Pa.panya Syela." ucap vika dengan nada isak tangisnya.


"Sore, ada apa dengan Syela. Ini siapa?" ucap papanya Syela.


"Sa..ya tema.nnya pak, sa.ya mene.mukkan. Syela kecelaka.an sekarang sa.ya bawa ke Rs Ha.ra..pan." ucap Vika.


"Apa. Baik bapak akan kesana, tolong jagain anak saya." ucap papanya Syela, langsung menutup teleponnya, lalu pergi dengan terburu-buru.


Vika juga menghubungi orang tua Olla, tangannya masih sangat gemetar. Vika merasa takut dengan kejadian yang menimpa Olla dan Syela. Rasanya Vika masih tidak percaya.


Tuutth...tuuth...tuutthh... tidak ada jawaban dari papanya Olla. Vika mencoba menghubungi mamanya Olla.


Tuutthh... tuutthh...


"Hallo!"


"Ha..halo tan.tee, sa.ya tem.mannya Olla. Ol.la kekcela.ka.an tan se.karang di Rs. Ha.ra.pan."


"Astaga Olla, dengan segera tante akan kesana." ucap mamanya Olla.


"Ba.ik tan, sa.ya tu.nggu." ucap Vika, lalu menutup teleponnya.


Sampai rumah sakit, Olla dan Syela dibawa ke ruang ICCU. Vika yang setia menunggu sampai dokter keluar memeriksanya.


"Kamu temannya Syela, bagaimana kabar Syela." ucap papanya Syela yang baru saja datang.


Tidak lama mamanya Olla datang menyusul. Menangis tersedu sedan memikirkan nasib putrinya.


"Ka.mu tema.nnya Oll.a" ucap mamanya Olla.


Vika hanya mengangguk, melihat kesedihan mamanya Olla, membuat mulut Vika terbungkam, Vika tidak bisa menjawab sepatah katapun. Keadaan semakin kalut, Vika memeluk mamanya Olla berusaha untuk menenangkannya.


"Sudah tante, Semua akan baik-baik saja, Olla hanya butuh do'a." ucap Vika memantapkan hati mamanya Olla, agar percaya kalau keadaan akan segera membaik.


Mamanya Olla menerima pelukkan Vika, bahkan memeluknya sangat erat.


Ceklek... suara pintu terbuka, menampakkan sosok dokter yang sudah merasa letih.


"Dok, bagaimana keadaan anak saya." ucap papanya Syela.


"Dok, anak saya baik-baik saja kan? dok." ucap mamanya Olla.


"Tenang bu, pak, saya akan berusaha sebaik mungkin." ucap dokter, lalu pergi begitu saja.


Dokter tersebut kembali dengan membawa temannya, karena beliau tidak sanggup untuk menangani 2 orang pasien sekaligus.


Masih dalam keadaan menegangkan, entah apa yang terjadi didalam sana. Dokter juga tidak kunjung membuka pintunya.


Ddrrtt...ddrrtt..ddrrtt... ponsel Vika berdering. Mamanya menghubunginya.


"Hallo! Vika sayang, kamu dimana nak?"


"Maaf ma, Vika keluar tidak bilang-bilang, bentar lagi Vika pulang kok ma."

__ADS_1


"Iya Vika, tapi, ini sudah terlalu sore, kamu juga belum pulang. Biasanya kamu tidak begini." ucap mamanya khawatir.


"Iya ma, Vika pasti pulang."


"Kamu pulang sekarang ya, mama tunggu dirumah."


"Iya ma, sampai nanti."


Tuutthh... Vika menutup ponselnya. Tidak lama, dokter yang ia tunggupun keluar dari ruangan.


"Dokter bagaimana keadaan kedua teman saya." ucap Vika, mewakili orang tua Syela dan Olla.


"Semua baik-baik saja, hanya belum sadarkan, perlu waktu untuk menunggu mereka siuman." jelas dokter.


"Apakah kalian orang tua pasien?" tanya dokter.


"Iya dok." ucap papanya Syela dan mamanya Olla kompak.


"Baik, saya ingin bicara, mari ikut saya." ucap dokter.


Vika yang tadinya ingin cepat pulang, terpaksa harus menunggu orang tuanya Syela dan Olla kembali, Vika mengurungkan niatnya.


Sore pun berganti malam, Vika masih berada di Rs. Orang tuanya sangat mengkhawatirkannya, dan terus menghubungi Vika.


Ddrrtt... drrtt... mamanya Vika menghubunginya lagi.


"Vika ini sudah malam kamu belum pulang juga, kamu dimana Vika." ucap mamanya penuh khawatir.


"Vika bentar lagi pulang ma."


"Bentar lagi, tadi bilang bentar lagi, tapi tidak pulang-pulang, kamu dimana sayang, biar dijemput papa."


"Tidak ma, Vika bisa pulang sendiri." ucap Vika, lalu menutup teleponnya begitu saja.


Orang tuanya Vika semakin khawatir, menunggu didepan pintu, mamanya terus mondar-mandir. Ini pertama kalinya Vika pergi tidak bilang-bilang, dan pulangpun sampai malam.


"Tan, om. Ada apa om, tante gelisah begitu?" tanya Arya yang baru saja datang.


"Vika, Vika belum pulang Arya." jawab mamanya Vika.


"Apa, Vika belum pulang." Arya terkejut.


Arya langsung menghubungi Vika, menanyakan keberadaannya, kenapa sampai malam begini ia belum pulang.


"Vika, kamu dimana? saya jemput ya." ucap Arya.


"Apa kamu sudah pulang Arya?"


"Saya ada dirumah kamu Vika. Kamu ada dimana, biar saya jemput sekarang."


"Saya bisa pulang sendiri." ucap Vika menolak.


"Vika tolong dengarkan saya, ini sudah malam, bagaimana kalau ada orang yang berniat jahat padamu." ucap Arya, berhasil membuat Vika takut.


"Baik lah, saya di Rs. Harapan."


"Kamu sakit?" tanya Arya cemas.


"Tidak, ceritanya panjang, nanti akan saya ceritakan dirumah." ucap Vika lesu.


Arya langsung bergerak menuju tempat yang ditunjukkan oleh Vika. Tanpa menunda lagi, Arya menitipkan tas yang berisi barangnya Vika pada mamanya, lalu Arya pamit pergi.

__ADS_1


\=BERSAMBUNG\=


__ADS_2