Ada Cinta Dalam Hubungan Tak Bernama

Ada Cinta Dalam Hubungan Tak Bernama
Part 12


__ADS_3

Tok...tok...tok. "Permisi Bu, kami mau bagiin brosur Bimbel." Vika meminta izin pada Bu Gina.


"Silahkan nak... silahkan nak." ucap Bu Gina mengizinkan.


"Terima kasih bu," Vika masuk membagikan brosur tersebut.


Arya keluar seenaknya, menarik tangan Ridho yang disampingnya. Baru jalan 3 langkah suara Bu Gina menghentikannya.


"ARYA, RIDHO, siapa yang memberi izin kalian keluar." suara Bu Gina melantang.


"Tadi kan ibu sendiri yang sudah memberi izin. Silahkan nak...silahkan nak. Gitu tadi kan dho." ucap Arya sambil memperagakan apa yang diucapkan Bu Gina tadi pada Vika dan Maya.


"Iya memang bilangnya begitu, tapi bukan sama kamu Arya, duduk kembali." ucap Bu Gina menyembunyikan tawanya.


Arya mengalah, ia menuruti kata Bu Gina, begitu juga Ridho kembali ditempat duduknya masing-masing, melihat Vika ada dikelasnya, Arya pun mengurung niatnya untuk mengunjungi kelas Vika.


Arya memperhatikan Vika tanpa henti, tidak peduli diketahui atau tidak, yang pasti Arya sangat senang melihat kehadiran Vika.


"Vika disini belum dapat." ucap Arya.


"Sabaaarr.." ucap Vika singkat.


Arya yang tidak sabar menghampiri Vika, mengambil sebagian brosur lalu membantu membagikannya.


"Sini, saya bantu," ucap Arya.


Vika juga tidak bisa menolak bantuan Arya. Apa lagi Vika tidak ingin terlalu lama berada dikelas itu, sorotan Syela yang sinis saja sudah membuat Vika tidak betah.


Selesai membagikan brosur, "Terima kasih Bu Gina atas izinnya, permisi." ucap Vika dan Maya.


Bu Gina mengangguk dan tersenyum, namun ekspresi manisnya berubah seketika, Arya muncul didepannya meminta izin lagi ke toilet, kali ini Arya sendiri tidak bersama Ridho.


"Bu, uda kebelet tidak bisa ditahan lagi." ucap Arya berpura-pura.


Bu Gina menatap wajah Arya dalam-dalam, barang kali menemukan kebohongan disana, namun tidak dapat dilihat, sebab Arya memasang wajah terlalu memelas, sehingga tidak terbaca.


"Mau ditemenin atau tidak?" tanya Bu Gina.


"Eesshh...tidak bu." jawab Arya bergembira dengan keyakinan akan diizinkan.


"Sebentar, 1 menit." ucap Bu Gina.


"Baik Bu, terima kasih." ucap Arya.


"Heeeddeehh...tinggal nge-iyain aja susah banget. hahaha 1 menit bonusnya 59 menit ya Bu Gin." batin Arya setelah keluar dari kelasnya.


Arya mengejar Vika yang masih dapat dijangkau oleh matanya, sesampainya Arya merampas brosur dari tangan Maya.

__ADS_1


"Maya kamu pasti capekkan, mending kasih saya saja, kamu istirahat saja dikelas." ucap Arya pada Maya, sesekali mengerjapkan sebelah matanya.


Maya yang mulai memahami maksud Arya, Mayapun menyetujuinya tanpa berpikir panjang. Lumayan juga untuk Maya, tidak capek-capek berkeliling kelas.


"Vika, saya ke kelas dulu ya." ucap Maya.


"May, ini masih banyak may." ucap Vika tidak terima.


"Kan ada Arya vik, Ddaa..." Mayapun melangkah menuju kelasnya.


"Hheeeiii maayy...ini tugas kita berdua belum selesai. Huuhh menyebalkan." ucap Vika tidak terima ditinggalkan begitu saja, sekarang bersama Arya lagi.


Vika melirik Arya yang tengah senyum-senyum sendiri, entah apa yang ada dalam dipikiran Arya, Vikapun tidak bisa menebaknya.


"Tenang vik, kan ada saya yang gantiin Maya." ucap Arya.


"Kamu ngapain kesini, tidak perlulah bantuin saya, kamu bisa dimarahi Bu Gina nanti, kalau tidak masuk." ucap Vika mengingat kejadian sebelumnya.


"Saya sudah permisi baik-baik, mana mungkin juga Bu Gina sanggup memarahi saya." ucap Arya.


Mendengar ucapan Arya, Vika hanya memuncungkan mulutnya.


Melanjutkan pembagian brosur, untung saja tinggal beberapa kelas lagi, jadi tidak makan waktu terlalu lama bersama Arya.


Kalau Syela sampai tahu Arya bersamanya, bisa habis Vika tertelan caci maki oleh lidahnya yang tajam.


"Tidak...tidak....tidak, berdua 1 kelas itu lebih cepat Vika." tolak Arya mentah-mentah.


Jelas saja Arya menolaknya, jika tidak menolaknya, apa bedanya dia berada dalam kelasnya.


"Dasar keras kepala." seketika Vika menggerutu.


"Dasar egois." balas Arya tidak mau kalah.


Tanpa kata apapun lagi, mereka menyelesaikan pembagian brosur sampai semua mendapatkannya.


Pembagian kelas terakhir, kelas dimana banyaknya orang yang mengenali Arya, bahkan cukup dekat.


"Broo,,,sejak kapan resmi pacaran sama Vika?." ucap salah satu temannya Arya, menanyakan tentang Vika.


"Eemm...kemaren." ucap Arya berbohong.


"Ooo selamat ya, semoga langgeng." ucap temannya memberikan do'a.


Untung saja Vika tidak mendengar percakapan antara mereka, kalau saja ia mendengar, Arya pasti akan malu dengan status sesungguhnya kalau ketahuan.


Setelah membagi brosur dikelas terakhir, Vika balik ke kelasnya semula, namun, Arya masih saja mengikutinya.

__ADS_1


"Arya kamu ngapain ikutin saya, brosurnya sudah dibagiin kesemua kelas 12." ucap Vika.


"Ya sudah, ikut kamu juga tidak masalahkan?"


"Yang benar saja Arya, ini masih jam pelajaran, kamu jangan gila deh." ucap Vika spontan.


"Saya masih waras Vika, biasanya juga saya kekelas kamu pada waktu jam belajar masih berlangsungkan."


Vika berjalan dengan cepat tidak menghiraukan Arya lagi, mengatasi orang seperti Arya memang sangat menyebalkan dan menguras banyak energi.


"Huuhh...Maya kamu kenapa ninggalin saya, kamu sudah tidak setia lagi dengan pertemanan kita, begitu, kalau begitu kita putus saja, kita akhiri semuanya, kita end." ucap Vika emosi.


"Vika kok gitu sih ngomongnya, tenangin diri dulu kamu capekkan." ucap Maya sambil menyodorkan sebotol air mineral.


Tanpa aba-aba, glek..gleekk..glleek. Air mineral langsung habis total, tidak tersisa satu tetespun.


"Lagi vik, haus bener kayaknya." ucap Maya.


"Saya tidak haus may, cuman pengen minum banyak aja." ucap Vika tak karuan.


Vika celingak-celinguk mencari keberadaan Arya yang sebelumnya mengikutinya.


"Arya kemana ya?, bukannya tadi dibelakang saya, apa dia marah, saya jadi tidak enak, sudah bersikap kasar dengannya." batin Vika merasa bersalah.


"Vika, kalau dilihat dari cara Arya, sepertinya dia jatuh hati deh sama kamu." ucap Maya memekakan Vika.


"Ngomong apaan kamu may, bisa sajakan Arya memperlakukan semua temannya seperti itu." ucap Vika tidak percaya.


Mengingat kembali kejadian kemarin saat Syela merangkul tangan Arya, membuatnya semakin tidak percaya.


"Vik, memangnya kamu tidak ada rasa gitu sama Arya." tanya Maya serius.


Pertanyaan yang sederhana, namun, mampu menciptakan sesak di dada Vika. Dengan sekuat tenaga yang ada, Vika berusaha menutupinya dari Maya.


"Tidak ada rasa lebih, selain rasa teman." ucap Vika.


Sepintar apapun Vika menutupinya, lama kelamaan Maya akan segera mengetahuinya, meski tidak dari mulut Vika, semula Maya mencurigai sikap Arya yang aneh, walau Vika yang suka cuek.


"Yakin ni Vik, jangan disimpan sendiri, ada saya tempat berbagi, jangan sampai mubajir." ucap Maya menggoda Vika agar mau bercerita dengannya.


"Hhahaha...ada-ada saja kamu, mana ada temen yang mubajir." Vika mengoreksi perkataan Vika.


"Add...'' Maya mencoba menjawab, tapi mulutnya sudah disungkam duluan sama Vika.


"Stop bicara yang tidak penting Maya, pelajaran kita sudah menunggu oke!." ucap Vika, masih menempelkan tangannya dimulut Vika.


Tidak bisa berkata lagi, Maya menurut saja, lain waktu akan Maya tanyakan lagi, sampai Vika mau menjawabnya.

__ADS_1


Tok...Tok..Tok, seseorang mengetuk pintu.


__ADS_2