Ada Cinta Dalam Hubungan Tak Bernama

Ada Cinta Dalam Hubungan Tak Bernama
Part 37


__ADS_3

Kakek Arya terlihat sangat buru-buru, yang biasanya bangun pagi menikmati secangkir kopi lebih dulu dan sebundel koran, kini harus berkendaraan menelusuri perjalanan.


"Apa tidak sarapan dulu Pak." ucap nenek, yang lagi sarapan.


"Nanti saja, ini Arya sudah menunggu." ucap kakeknya Arya tergesa-gesa.


"Hati-hati Pak, jangan terlalu buru-buru, keselamatan lebih di utamakan."


"Iya Buk, Bapak pergi dulu ya." kakek pergi dengan langkah yang enteng.


Kakek mengendarai mobil dengan kecepatan sedang, berharap menemukan sosok Arya yang tengah menunggunya di stasiun.


Sampai stasiun, kakek turun dari mobilnya dengan sumringah. Kakinya menelusuri setiap tempat, namun, matanya tak kunjung menemukan Arya.


"Dimana Arya? apa belum sampai, tidak mungkin." ucap kakek menjadi bimbang.


Kakek memutuskan menghubungi Pak Andi, menanyakan bahwa ia sudah mendapat kabar dari Arya atau belum. Tutthh...tutthh.


"Hallo, Andi. Arya ada mengabarimu?" tanya kakek to the point. Kakek menjadi cemas.


"Belum Pak, mungkin Arya belum sampai." jawab Pak Andi.


"Ooo, Ya sudah. Kalau begitu saya tutup teleponya ya, kalau Arya sudah memberi kabar, tolong kabarin saya ya."


"Baik Pak, Baik." ucap Pak Andi.


Kakek kembali ke mobilnya, ia berbelok arah pulang, sebelum meluncur ke jalan raya, hatinya merasa ganjil, bimbang dan ragu.


"Kalau cucu saya belum sampai, kenapa Arya menghubungi saya. Ada yang tidak beres ini." pikir kakek, kakek kembali turun dari mobilnya, memastikkannya sekali lagi.


Kakek menanyakan pada orang-orang di sekitar sana, tapi, tidak ada yang tahu keberadaan cucunya.


"Permisi." kakek mencoba bertanya dengan Pak Satpam.


"Iya Pak, ada yang bisa saya bantu?" ucap satpam itu ramah.


"Saya mau tanya Pak, cucu saya penumpang kereta api, tadi malam menghubungi saya, tapi tidak saya angkat, kemungkinan besar cucu saya sudah sampai kan Pak?" ucap kakek belepotan.


"Iya Pak, kereta apinya sudah sampai tadi malam, lebih kurang pukul 02.30. Cucu bapak laki-laki? maaf Pak, tadi malam sempat ada kejadian yang tidak mengenakkan di halte, tapi, ya mudah-mudahan itu bukan cucu bapak." ucap Pak Satpam.


Deg... mendengar penjelasan Pak Satpam, kakek seperti tersambar petir di siang bolong, membuat Kakek Arya lemas seketika, masih tidak percaya, kakek mengorek kejadian tersebut pada Pak Satpam.

__ADS_1


"Kejadian apa maksud Bapak?"


Pak Satpam menceritakan kejadian tersebut. Saat itu Pak Satpam juga mendatangi tempat kejadian meski terlambat, lalu, ia tahu hanya dari cerita orang-orang yang menyaksikannya.


Selesai mendengar penjelasan Pak Satpam, tanpa pikir panjang Kakek langsung pergi menuju halte.


Sampai halte, mata kakek tertuju pada ponsel Arya yang hancur, melihat ponsel itu, mengingatkan Kakek pada 1 panggilan tidak terjawab di ponselnya.


"Ar.yak." ucap kakek tidak percaya.


Kakek bertanya lagi pada orang di sekitar, barang kali ada petunjuk untuk kakek menemukan Arya.


"Maaf Buk, apa ibu tahu? tentang kejadian tadi malam disini, apakah ada korban?" tanya kakek, pada Ibu penjaga warung.


"Iya Pak, ada 1 korban pemuda, kalau tidak salah, pemuda itu di rawat di rumah sakit terdekat." ucap Ibu itu.


"Ooo begitu, makasih bu infonya." Kakek langsung meninggalkan warung tersebut.


Kakek menyetir mobil menuju rumah sakit terdekat. Ia memastikan kalau korban itu bukan cucunya. Rasa gelisah berkecamuk di hati Kakenya Arya.


Sampai Rs. Kakek memarkirkan mobilnya, lalu ia turun dengan semaput, rasa gelisah tengah berharap tidak akan terjadi apa-apa dengan cucunya.


"Suster, dimana kamar korban kejadian di halte kemarin." tanya Kakek tidak sabar.


"Adakah kartu identitas korban, boleh saya lihat?"


Tanpa menjawab lagi, suster mengambil barang-barang yang di miliki Arya, untuk di berikan ke Kakek, termasuk KTP-nya.


Kakek terkejut, masih tidak menyangka, Kakek terduduk lemas, ia menyesal kenapa harus tidur tadi malam, kenapa tidak begadang saja demi Arya. Kakek menyalahkan dirinya. Mungkin saja kalau Kakeknya Arya tidak tidur, kejadian ini tidak akan menimpanya.


"Arya, maafin Kakek, Nak." ucap Kakek lirih, matanya berkaca-kaca.


"Apa Bapak kenal?" tanya suster.


"Ini Cucu sa.ya, antar saya menemuinya." Kakek menangis, meratapi nasib Arya.


"Syukurlah, kalau Bapak ini keluarganya. Mari Pak saya antar."


Sampai di ruangan iccu. Kakek masuk melihat keadaan Arya, sungguh mengenaskan keadaanya. Arya terbaring tanpa mengenakan baju, perban yang membalut luka di perutnya terpampang jelas di mata kakek. Kakek yang bersalah tidak henti-hentinya meminta maaf pada Arya, walaupun Arya masih tidak sadarkan diri.


"Arya, dengarkan Kakek, Nak. Ayo bangun, Kakek sama Nenek merindukanmu. Kakek datang buat jemput kamu, mari kita pulang." bisik Kakek di telinga Arya.

__ADS_1


"Mohon maaf Bapak, Bapak keluarganya kan, ada yang mau saya bicarakan." ucap dokter yang merawat Arya.


Kakeknya Arya hanya mengangguk, ia mengikuti langkah dokter ke ruangannya. Dokter menyampaikan keadaan Arya.


"Maaf Pak, ini anak Bapak."


"Bukan dokter, Arya hanya cucu saya."


"Begini Pak, menyangkut luka yang di alami cucu Bapak cukup serius, luka di wajahnya harus di oprasi, kalau tidak, bisa lebih beresiko lagi." jelas dokter.


Mendengar penjelasan dokter, semakin membuat Kakeknya Arya tidak berdaya. Andai saja posisinya bisa di tukar, Kakeknya Arya rela menggantikan posisinya di iccu sana.


"Laku..kkan sa.ja yang terba.ik dok." ucap Kakeknya Arya menahan tangisnya.


"Baik Pak, oprasi akan di lakukan setelah Arya sedikit pulih."


"Baik, terima kasih dokter. Saya permisi." ucap Kakek, lalu, keluar dari ruangan itu.


Kini Kakek hanya memandangi Arya dari luar, memantau keadaannya, berdo'a dengan penuh harap, agar Arya dapat siuman secepat mungkin.


*Vika*


Selesai membuat beberapa makanan. Vika kembali ke kamarnya membawa makanan yang sudah di buatnya. Kata Mama, Papanya sih buatannya enak.


Vika mengambil ponselnya yang berada di atas ranjang, ia meng-chek balasan dari Arya. Ya, dua pesan masuk di ponselnya.


"Arya." ucapnya senang.


Vika membuka pesan tersebut, ia senang dengan balasan Arya. Namun, satu kalimat berhasil membuat Vika sulit mengartikannya.


"Kamu jaga diri baik-baik ya. Maksud Arya apa?" ucap Vika lirih.


Vika menghubungi Arya, tetap saja tidak bisa terhubung, nomornya Arya sudah tidak aktif. Vika kembali cemas, kepada siapa dia menanyakan soal Arya.


"Arya, sebenarnya kamu dimana? biasanya kamu paling suka ngirim pesan, walaupun hanya basa-basimu saja, kenapa nomor kamu sekarang tidak aktif." wajah Vika muram.


Vika tersandar pada ranjangnya dalam keadaan melamun, pandangannya kosong. Pikirannya penuh dengan teka-teki tanpa jawaban yang pasti. Rasanya ia ingin bertanya pada Ridho, tapi, ia merasa malu, takut Ridho akan beranggapan lebih tentangnya.


"Ridho, kalau saya tanya Ridho. Pasti dia ngeledekin. Rindu ya, pasti gitu tuh jawabnya Ridho, ah malas banget." ucap Vika yang terus mencari solusi.


Vika bingung, takut perasaan sebenarnya terpegok oleh Ridho, bisa-bisa Ridho mengadukannya pada orang tuanya.

__ADS_1


"Ah, ya sudah lah, kalau Arya masih menganggap saya temannya, ia pasti akan memberi kabar di waktu luangnya, mungkin saja dia sangat sibuk." ucap Vika pasrah dengan keadaan.


\=BERSAMBUNG\=


__ADS_2