
Arya pulang membawa sejuta pikiran, isi pikirannya hanya ada Vika seorang, isi dunianya saat ini hanyalah Vika.
"Surat... Vika sudah baca suratnya apa belum ya, kalau sudah kenapa dia diam saja, apa Vika tidak membuka buku itu." ucap Arya pada kesunyian. Sangat besar harapan Arya, untuk Vika segera membacanya.
Arya galau sesaat, Arya berpikir bagaimana jika ada pria lain yang juga mengagumi Vika, lalu ingin menjadikan istrinya, lalu dirinya bagaimana.
Sungguh bagi Arya pilihannya sudah tepat pada Vika, meski dunia memberikan banyak pilihan, hatinya sudah berlabuh di hati Vika, begitu juga sebaliknya, walaupun selama ini hanya berdiam-diaman. Cinta memang tidak harus memiliki.
Arya mencoba pakaian yang baru ia beli tadi, Arya mengawasi dirinya didalam cermin, Arya terlihat tampan, sangat tampan, bila disejajarkan bersama Vika saat tadi, akan terlihat sangat serasi.
"Gilee... ternyata saya lebih ganteng dari tukang listrik." ucapnya memuji sendiri.
Sudah puas dengan mengoreksi dirinya, Arya melepas pakaian tersebut, merapikannya kembali. Tidak lupa Arya menyiapkan kado untuk Vika sebagai tanda perpisahan.
Arya memutar memorinya kembali, mengingat saat awal ia mulai mengenal Vika, rasanya tidak siap untuk meninggalkan semua kenangannya bersama Vika, Arya harus menerima kenyataan bahwa dirinya tidak ditakdirkan bersama Vika untuk beberapa tahun kedepan.
Arya berjanji saat itu juga, dirinya mengunci hatinya agar tak seorangpun dapat mengisinya, tiada tempat bagi orang lain, seluruh tempat dihatinya sudah dihuni oleh Vika.
"Vika kalau kamu tidak sempat membuka buku yang saya berikan, semoga diwaktu lain, kamu akan membukanya, dan kamu akan segera tahu, dan saya berharap setelah kamu membaca isi surat tersebut, kamu tidak membenci saya, dan ikut melakukan seperti apa yang saya lakukan. Jaga Hati." ucap Arya dalam hati, matanya terpejam penuh harap.
Arya tak dapat membendung air matanya lagi, soal cinta memang dia lemah, tapi, bukan berarti ia tidak bisa mengatasinya. Malam ini pertama kalinya Arya menangis untuk sahabatnya sekaligus cintanya.
Entah kapan lagi takdir akan mempertemukan mereka, merestui persatuan dua hati yang kini sedang terluka. Hanya do'a harapan Arya.
Pagi, Arya bersiap-siap, ia tampil sesimpel mungkin, dengan ketampanannya yang tak pernah tertinggal.
Vika juga bersiap-siap, kecantikkannya hari ini memang terlewat batas, mama papanya sendiri tidak mengenali bahwa dirinya Vika, wajahnya sangat memalingkan kalau di poles seperri itu.
"Papa sudah siap, ayo kita pergi." ucap Vika.
"Mama, makasih atas kesiapannya, do'a in ya ma, smoga Vika dapat nilai terbaik dari yang lain." ucap Vika lagi, sembari menciumi pipi kanan dan kiri milik mamanya.
"Iya sayang, pasti mama do'a in, pasti kamu yang terbaik." ucap mamanya bersemangat.
"Yakin, nilainya bagus, yang paling terbaik, papa sih tidak yakin." gurau papanya Vika.
"Papa gitu banget, sama anak sendiri tidak yakin, awas ya kalau Vika dapat nilai bagus, pokoknya papa harus iyain apa yang Vika mau." ketus Vika sekaligus menuntut.
"Oke! oke! pasti nilainya jelek." ejek papanya Vika lagi.
"Ma, papa kenapa sih, sinting gitu, mungkin papa dulu sekolah tidak pernah dapat nilai terbaik, hahaha... mungkin saja." ucap Vika pada mamanya.
"Iya... sayang, memang dulu, papa tidak sepintar kamu, ujian saja perlu kopekkan." ucap mamanya, membuat papanya Vika malu.
"Tuh kan, bener, papa..." ucap Vika, mengacungkan jari telunjuk diwjah papanya.
__ADS_1
"Sudah-sudah, ini jadi berangkat atau tidak, bisa berkepanjangan kalau begini bisa tidak jadi berangkat." ucap papanya Vika, menangkup telunjuk Vika, menariknya untuk masuk mobil.
"Hhhenngg.... good by mama,,,muach." pamit Vika, memberikan kiss by.
Dalam perjalanan, Vika tak henti menatap wajahnya dicermin, alangkah indahnya wajahnya hari ini.
"Eehhmm... ehhmm. Aduh Vika, itu kaca bisa retak lama-lama."
"Mana mungkin pa, kacanya retak, masak kaca bisa terkejut, gara-gara liat wajah Vika yang mendadak cantik begini." ucap Vika dengan PD.
"Vika, kamu tetep cantik kok, mesti biasa saja." ucap papanya jujur.
"Iya dong, siapa dulu mama papanya...haha."
"Bisa saja kamu tuh..."
"Papa kok berhenti."
"Sudah sampai Vika, makanya lihat jalannya, jangan lihat kaca mulu, atau mau balik lagi." sindir papanya spontan.
"Ya tidaklah pa, ya sudah Vika turun, mungkin nanti Vika pulangnya sedikit lama pa, papa hati-hati ya dijalan." ucap Vika, menyalami papanya, lalu turun dari mobil.
Semua mata tertuju padanya, Vika yang merasa gugup menjadi acuh tak acuh, rasanya serba salah harus membuang wajahnya kearah mana.
Sungguh, meski Vika sendiri menyukai wajahnya berdandan seperti itu, Namun, ia sendiri tidak nyaman bila harus ditatap terlalu intens oleh orang-orang sekitar. Rasanya Vika ingin menghapus polesannya saat itu juga.
"Benarkah itu Vika?" tanyanya dalam hati.
"Mungkin hanya bajunya yang sama." pikir Arya lagi.
Cukup banyak mahasiswa yang tertarik pada Vika, sesekali menggodanya dari kejauhan. Arya yang menyaksikan ini ada rasa panas dibagian dadanya. Mungkin Arya berfirasat dan sudah terbakar api cemburu.
"Aneh." gerutu Arya sendiri.
Vika melangkahkan kakinya menuju kelas, mungkin kalau dirinya sudah berada dikelas, tidak ada lagi mata tajam yang menyorotinnya, kecuali teman kelasnya sendiri.
"Vika, kamu Vika, beneran ini." ucap Maya pangling.
"Bukan, ini Vika palsu." jawab Vika becanda.
"Beneran, kamu cantik banget Vika." ucap Maya kagum.
"Maksud kamu apa Maya, jadi, selama ini saya tidak cantik begitu." ketus Vika.
"Ya cantik, cuman hari ini kamu itu, lebih dari makna kata cantik." ucap Maya berlebihan.
__ADS_1
"Kamu juga begitu Maya." ucap Vika mengembalikan perkataan Maya.
Acara masih belum dimulai, adik kelas yang terlihat sangat repot, untuk menampilkan beberapa hiburan, dan menyiapkan hal-hal lainnya.
Suara mik yang keras memecahkan senyapnya suasana, seluruh siswa-siswi kelas 12 khususnya diminta untuk berkumpul ditempat yang sudah disediakan.
Dagdigdug, wawaswas, rasa perasaan Vika bercampur aduk, ketegangan, kesenangan, kesedihan, dan bahagia bercampur menjadi satu dihatinya.
Vika keluar kelas bergandengan dengan Maya, menuju lapangan sekolah, rasanya masih tidak percaya secepat ini harus meninggalkan sekolah tercintanya.
Sorot mata kembali menatapnya, semakin membuat Vika menjadi canggung. Berusaha keras Vika menenangkan dirinya, agar terlihat biasa saja.
Arya mengambil posisi duduknya dekat dengan Vika, padahal jatah kursinya tidak disitu, Arya sudah melanggar batas.
"Arya kamu ngapain disini, temen kelas kamu duduknya disana." ucap temannya Vika.
"Ssssttt... bising, pinjem bentar, nanti juga saya balik." ucap Arya.
"Arya, kamu ngapain, kamu bisa dikomplain habis-habisan disini." ketus Vika pada Arya.
"Siapa yang mau komplain, temanmu tidak akan komplain kalau kamu tidak keberatan."
"Ooohhh begitu, saya keberatan kamu disini."
"Keberatan dari mana Vika, saya duduk sendiri, tidak minta pangku kamu."
Vika membuang wajahnya menyembunyikan tawanya sekejab.
"Vika." panggil Arya, setengah berbisik.
"Iya." sahutnya.
"Kamu beda hari ini." ucap Arya pelan, sambil mengawasi wajah Vika.
"Biasa saja, apanya yang beda, saya tetap Vika, tidak ganti nama."
"Hahaha... bukan begitu maksudnya."
"Ngomong yang singkat, pada dan jelas, Arya, jangan bertele-tele."
"Kamu cantik." ucap Arya pelan.
Entah kenapa kata ini terdengar beda bagi Vika, padahal sama seperti teman-temannya yang mengatakan. Vika merasa lebih istimewa ketika Arya yang mengucapkannya.
Vika terdiam tidak menjawab Arya lagi, ingin mengatakan apapun ia merasa sangat malu. Untung saja wajah merah sesungguh tak dapat terlihat.
__ADS_1
\=BERSAMBUNG\=