
Cukup lama Vika berdiri di pinggir jalan, tidak ada taksi yang mau berhenti, semua sudah penuh dengan penumpang.
"Astaga, apa yang salah dengan saya, satu taksi pun tidak ada yang mau berhenti, tidak tahu apa, ada rejeki nomplok." ucap Vika kesal dengan dirinya sendiri.
Tiinn...tiinn...tiinn... Suara klakson taksi menyentuh pendengaran Vika, akhirnya ada taksi yang mau menghampirinya.
"Taksi neng?" ucap Pak Sopir menawari.
"Iya Pak, ke jalan ambon ya pak." jawab Vika, keburu naik.
Vika duduk anteng di dalam taksi, mata sayupnya menelusuri setiap perjalanan yang ia lewati, berharap matanya menemukan sosok Arya.
"Neng, murem banget wajahnya, abis di tinggal pacarnya ya...?" tegur Pak Sopir yang memperhatikan wajah Vika lewat cermin.
"Tidak Pak." Vika merasa gugup.
"Tidak mungkin, tidak. Wajahnya murem begitu, senyum neeng. Sudah tidak zaman galau karna cinta, yang zaman galau karena tidak punya duit." ucap Pak Sopir, seolah-olah mencerminkan dirinya.
"Bapak bisa saja." ucap Vika dengan tersenyum dingin.
"Ini yang mana neng rumahnya, masih jauh?" tanya Pak sopir, setelah tiba di jalan yang Vika tunjukkan.
"Tidak Pak, ya sudah saya turun disini saja."
"Nanggung Neeng, sampai di rumah saja ya." Pak Sopir terus berjalan.
"Stop... stop... Pak, itu rumah saya." Vika menunjuk rumahnya.
"Mari Pak." ucap Vika setelah memberi upah pada Pak Sopir, lalu, ia turun dari mobil.
"Makasih Pak." ucap Vika lagi sebelum masuk ke rumah.
"Mama, Vika sudah pulang Ma." ucap Vika letih.
"Vika, kamu sama siapa? nak." ucap mamanya.
"Naik taksi, Nomor Papa tadi sibuk ma."
"Ooo mungkin Papa kamu tidak bisa di ganggu." ucap mamanya, masih asik dengan cemilannya juga tontonan filmnya.
"Mungkin Ma, ya sudah lah, Vika ke kamar dulu ya Ma."
Vika melemparkan tubuhnya di kasur. Menerutuki dirinya, bagaimana bisa ia menuliskan nama Arya di kertas ujiannya.
__ADS_1
"Aduh, memangnya Arya itu siapa, berani-beraninya menguasai pikiran saya tanpa permisi." ucap Vika berbisik dengan langit-langit kamarnya.
Sebuah kotak berbungkus kertas kado terpampang mencuri pandangan Vika. Vika baru ingat Arya sempat memberikannya kado sebelum menjenguk Olla dan Syela.
Vika mengambil kado tersebut, ia buka perlahan, melihat apa isi dari kotak tersebut, tangan Vika menyentuh dan mengeluarkannya. Sebuah jacket berwarna hitam, abu tua dan abu muda, paduan warna yang serasi. Ada bordir berinisial A and V di dada sebelah kiri.
"Wah, bagus banget." ucap Vika takjub.
Vika mencobanya, menghadap ke cermin, mengawasi dirinya, jaket itu terlihat besar di badannya, tapi, cukup menghangatkannya, begitu nyaman Vika memakainya.
Arya menatap layar ponselnya yang menampilkan potret dua orang yang tengah berbahagia, siapa lagi kalau bukan dirinya bersama Vika. Arya mengusap wajah Vika dengan jari jempolnya.
"Vike, kamu lagi apa? dimana? dengan siapa?" tanya Arya dalam hatinya.
Sore hari, Vika masih dalam keadaan tertidur pulas, jaket yang di berikan Arya juga masih menempel di badannya.
Tiba-tiba saja, Vika berkeringat dingin, tidurnya pun sangat gelisah. Vika bermimpi buruk tentang Arya, Arya terkapar berada di sebuah Rs. keadaannya sangat memprihatinkan, wajahnya penuh dengan perban dan darah, Vika melihat Arya sangat kesakitan. Tidak biasa Vika bermimpi di sore hari.
"Arya." Vika spontan bangun, menyebut nama Arya. Tangan kanan Vika memegang keningnya, tangan kirinya meremas seprei ranjangnya.
"Ada apa dengannya." ucap Vika lirih.
Dengan cepat Vika meraih ponselnya, mencoba menghubungi Arya. Saat Vika menyentuh nomor Arya, ponselnya mati kehabisan batrai.
Vika meng-charger ponselnya. Daripada menunggu ponselnya yang tidak langsung bisa penuh, Vika memutuskan untuk mandi. Membuka jaket yang ia kenakan, ia tatap jaket itu, ia peluk seerat mungkin.
"Arya. Dimanapun kamu berada, semoga kamu baik-baik saja." ucap Vika penuh harap.
Vika melipat jaket tersebut, menyimpannya dalam lemari. Sekarang jaket itu akan menjadi favoritenya, kemanapun Vika pergi pasti ia akan membawanya.
Malam. Suasana hati Vika masih saja gelisah, mau makan pun rasanya tidak selera. Minum pun tidak sanggup membuat dahaganya menjadi segar.
"Vika kamu belum makan. Makan dulu, ini sudah malam, nanti kamu sakit." ucap Mamanya khawatir.
"Iya Ma, nanti Vika makan kok. Vika ke kamar dulu ya Ma." ucap Vika, membuat Mamanya merasa di acuhkan.
"Ada apa sih, sama Vika." batin Mamanya.
Tidak enak hati, Mamanya Vika menyusulnya di kamar, memastikan apa yang terjadi dengan putrinya. Padahal saat itu Vika ingin menghubungi Arya yang sempat tertunda.
"Vikaa... " panggil Mamanya.
"I. Iya Ma." Vika cepat-cepat memutuskan panggilannya, terpaksa ia menundanya lagi.
__ADS_1
"Ada apa? Ma." ucap Vika lagi.
"Harusnya Mama yang bertanya, Vika. Anak Mama biasanya tidak pernah segelisah ini." ucap Mamanya, yang sudah hafal membaca ekspresi wajah putrinya.
"Iya Ma, Vika khawatir dengan hasil ujian yang Vika ikuti tadi, gimana ya? Ma, hasilnya?" ucap Vika berbohong.
Vika bicara dengan serius, seakan-akan itu lah akar masalahnya. Padahal ia tidak peduli apapun hasil ujiannya. Kalau tidak lulus ujiannya masuk ke FK Negeri, ia masih bisa mendaftarkan diri di FK Swasta.
"Ya sudah Vika, kamu ber-Do'a saja ya. Mama yakin anak Mama pasti lulus." ucap Mamanya meyakinkannya.
"Iya Ma." Vika tersenyum paksa.
"Ya sudah, Mama keluar dulu, jangan lupa makan ya." Mamanya Vika pun keluar dari kamarnya.
"Hhuuhhh... " Vika membuang nafasnya kasar.
Dengan segera Vika kembali meraih ponselnya, mengklik nomor Arya. Akhirnya ia berhasil menghubungi Arya.
"Hallo! Arya." sapa Vika lembut.
"Ya, Vik...vikk... " ucap Arya tersendat-sendat.
Tuutt... tuutt...tuutth, panggilanpun terputus. Vika terus menghubungi Arya, meski nomor Arya sibuk. Vika mondar-mandir menggigit jari, untuk mengurangi sedikit gelisahnya.
"Arya angkat... kamu dimana? buruan Arya Angkat." seru Vika dengan nafas berat.
Arya kehilangan koneksi, jaringan di ponselnya tidak memungkinkan untuk bisa mengangkat telepon. Ia juga mondar-mandir sendiri, sedangkan penumpang lainnya sudah tertidur nyenyak.
Arya menghubungi Vika kembali, tapi, percuma saja, tidak bisa sama sekali terhubung. Arya pun kembali duduk ditempat asalnya.
Vika tidak henti-hentinya mencoba menghubungi Arya, tanpa mengenal lelah. Mimpi buruknya berhasil membuat Vika panik sekujur badan.
[ Arya, kamu baik-baik saja kan?] Pesan Vika terkirim.
[Arya, kamu sibuk ya?] Vika mengirim pesannya lagi. Vika menanti balasan dari Arya.
Arya menerima pesan Vika. Tentu saja, dengan cepat Arya membalasnya, balasannya masih loading, entah sampai kapan pesannya bisa sampai di ponsel Vika.
[ Saya baik-baik saja Vikee ;) ] balas Arya, masih loading belum terkirim.
[ Saya tidak sibuk Vikee. Hanya jaringannya tidak mendukung. Kamu jaga diri baik-baik ya.] balas Arya, masih loading belum terkirim.
\=BERSAMBUNG\=
__ADS_1