Ada Cinta Dalam Hubungan Tak Bernama

Ada Cinta Dalam Hubungan Tak Bernama
Part 9


__ADS_3

"Oke deh," ucap Vika menyetujui permintaan Vika.


"Yeesss, gitu dong vik, sekali-kali nyenengin temen." ucap Maya senang.


"Ih emang setiap hari saya nyusahin kamu apa, tidakkan?."


Vika dan Maya pun menuju parkiran, dimana Maya meletakkan motor maticnya. Tanpa menunda lagi mereka langsung cabut.


"Vika pegangan yang kenceng yaaa...kang ojek mau balapan, hahaha." ucap Maya bercanda, sambil mengegas-gaskan motornya.


"Maya jangan bercanda diatas motor, bahaya tauukkk, entar kita kenapa-napa gimana?, kita tidak memiliki nyawa serep may, ngerayu malaikat juga tidak bakal mempan Maya" ucap Vika dengan jelas.


"Kalau tidak begini, tidak seru vik." ucap Maya tidak perduli dengan perkataan Vika.


"Itu kan kalau kamu sendiri may, ini kamu lagi sama saya, jadi gak seru kalau begini, waktu kita untuk bersama menjadi lebih singkat Maya."


"Astaga, bener juga ya, kenapa tidak bilang dari tadi sih Vik." ucap Maya menyesalinya.


"Aduuhhh, ya ampun, memang punya temen tidak pekaan susah ya?"


"Hah, kamu bilang apaan sih Vika," Maya tidak mendengar perkataannya.


"Tidak..tidak,,tidak bilang apa-apa, kamu fokus nyetir saja, biar kita aman serta nyaman sampai rumah."


Mayapun menyetir dengan pelan tapi pasti, kali ini ia benar-benar baik mengendarai motornya, beda saat ia membawanya saat sendirian.


Ddrrtt...ddrrrttt..ddrrrttt, ponsel Vika bergetar, papanya menghubunginya sebab khawatir.


"Hallo pa,"


"Vika, kamu dimana nak, jam segini kok belum ada kabar."


"Vika masih dijalan pa, bentar lagi sampai kok pa, Vika di antar ni sama Maya, katanya Maya mau sekalian bertamu."


"Oooh ya sudah, kalau begitu hati-hati dijalan ya nak?"


"Iya pa, sampai bertemu papa." ucap Vika sekaligus menutup teleponnya.


Tidak lama mereka sampai rumah, setelah melewati panjangnya perjalanan yang membuat mereka lelah.


"Mama, Vika pulang ma, lihat ini ma siapa yang datang." ucap Vika dari depan, sedangkan mamanya masih berada didapur.


"Sebentar Vika," jawab mamanya.

__ADS_1


"Ooohhh ya ampun Maya, apa kabar sayang?" ucap mamanya Vika sambil menyalami Maya.


"Baik tante, tante sendiri juga baikkan?"


"Oohh syukurlah, Iya sama halnya denganmu." jawab mamanya Vika.


Maya lumayan cukup dekat dengan keluarga Vika, bahkan seperti keluarga sendiri kalau sudah bergabung.


"Maya tidur sinikan? sudah lama juga kamu tidak tidur sini, sekali-kalikan tidak ada salahnya?." tanya mamanya Vika.


"Maya pulang tante, lain kali aja ya tan." ucap Maya.


"Iya may, tidur sini aja, soal baju bisa pakai baju saya kan." tawar Vika.


"Bukan soal baju Vika, masalahnya saya belum izin sama mama papa, kan tidak enak kalau kasih kabar mendadak." ucap Vika.


"Iya deh iya, tapi beneran ya lain kali kalau bertamu harus sekalian menginap." ucap Vika meminta.


"Iya benar itu kata Vika may." ucap mamanya Vika membelanya.


"Iya tante, sebenarnya juga pengen,hehehe." ucap Maya cengengesan.


Cukup lama Maya bertamu, mereka mengobrol bertiga, entah tentang apa saja yang sudah menjadi pokok pembicaraan mereka, papanya Vika belum sempat pulang saat itu, karena ada kepentingan yang harus diselsaikan.


"Tante, Maya pamit pulang ya?" ucap Maya berpamitan.


"Maya kalau sudah sampai, jangan lupa kabarin saya,,,jangan hati-hati dijalan, ingat kamu lagi sendiri tidak lagi sama saya, jadi boleh kebut-kebuttan." ucap Vika menjahili Maya.


"Hhuusstt Vika, bicaranya yang baik." mamanya Vika memarahinya.


"Bercanda kok ma." ucap Vika.


"Tidak apa-apa tante, Vika memang begitu mulutnya." jawab Maya yang memahaminya.


Maya pun mulai mengendarai, ia mulai memudar dari pandangan Vika yang masih mengawasinya.


"Huh Maya,,,Maya,,,untung temen rasa saudara, kalau tidak, mana mungkin saya mau di antar sama kamu." ucap Vika pada dirinya sendiri.


Setelah matanya tidak bisa menjangkau Maya lagi, Vika pun masuk kedalam, membuka buku paket yang diberikan Maya, ia mencoba untuk mempelajarinya sedikit demi sedikit.


(Beberapa jam yang lalu).


Ddrrttt...ddrrtt...drrttt, ponsel Vika bergetar, ternyata Maya meneleponnya.

__ADS_1


"Hallo Maya...kamu sudah sampai rumah kah?" ucap Vika.


"Sudah vik, baru saja sampai." ucap Maya.


"Syukur deh May, kalau begitu kamu istirahat gih." ucap Vika lagi.


"Okee...By Vika, sampai bertemu disekolah." ucap Maya.


Tut...tut..tut, ponselpun tertutup. Maya yang lelah sedang ber-istirahat, sedangkan Vika masih menikmati buku pelajaran, kali ini Vika tidak ingin terganggu oleh apapun, tujuannya untuk mendapatkan nilai yang bagus harus tercapai. Vika ingin membuktikannya pada orang tua-nya bahwa dirinya mampu bersaing merebut nilai terbaik.


Waktu demi waktu berlalu, tidak sampai 1 bulan lagi mereka akan berpisah, hari itu akan mereka lalui, dimana ada rasa sedih,senang,haru dan bahagia.


"Hah, sudah cukup sampai disini dulu ya buku." ucap Vika izin pada buku yang dipegangnya.


Vika membereskan buku-buku tersebut, lalu ia ber-istirahat sejenak, merebahkan tubuhnya dan menidurkan otaknya yang sudah banyak bekerja.


*PoV Arya*


"Kira-kira Vika tadi kenal tidak ya dengan suara saya?." ucap Arya dalam pikirannya.


"Hari ini Vika juga aneh, kenapa dia menghindar dari saya, kalau Vika menghindar hanya karena sikap Syela tadi, itu tandanya Vika cemburu, kalau cemburu berarti Vika juga suka sama saya, ah Arya bodoh, ya tidak mungkin lah." Arya terus menerka-nerka dalam hatinya.


Vika yang lagi di ambang kebimbangan, ternyata Arya jauh lebih bimbang darinya, bahkan sampai dirumah Arya terus memikirkan Vika.


Tidak lama Arya menerima pesan dari Ridho, untuk mengajaknya tanding Bulu Tangkis (Badminton) didekat rumahnya Vika, tentu saja Arya menerimanya dengan senang hati.


"Lumayan ni, bisa lihat-lihat Vika, meski rumahnya doang, hahaha." ucap Arya dengan dirinya sendiri.


Setelah menerima pesan, Arya segera bergegas meluncur ketempat tujuan, tanpa memperdulikan penampilannya yang masih acak-acakkan, seperti orang habis gulat. Tapi, hal itu tidak mengurangi ketampanannya sedikitpun.


Saat melewati rumah Vika, Arya mengendarai motornya dengan sangat lambat, matanya menelusuri setiap celah rumah tersebut, sayangnya rumah Vika terlihat sangat sepi. Mungkin saja Vika masih terjaga dalam tidurnya.


Sampai Arya dirumah Ridho, yang sudah ramai dengan pemuda-pemuda sebayanya. Sepertinya pertandingan ini sangat seru.


"Wooyy..bro." sapa Ridho pada Arya. Arya hanya membalasnya dengan senyum sambil mengangkat tangannya ke atas, membalas sapaan Ridho yang masih asik bertanding.


Arya saat ini hanya bisa menonton, karena Arya belum mendapatkan kesempatan bermain. Berhubungan lapangannya hanya 1, jumlah pemain hanya 4 orang, sedangkan orang yang ingin bermain ± 10 orang.


Tidak lama Ridho memanggilnya untuk menggantikannya, Ridho yang sudah merasa lelah dan kewalahan menyerahkannya pada Arya.


Arya yang masih segar bugar, bermain dengan santai, tapi lawan sudah kewalahan dibuatnya, entah jurus apa yang dimiliki oleh Arya, sehingga lawan sulit untuk meng-imbanginya.


Lawannya pun terganti karena sudah merasa sangat lelah, beda dengan Arya yang masih bersemangat.

__ADS_1


Arya pun melempar bulu tangkis ke arah lawan, awalnya berjalan dengan lancar, tapi, lama-kelamaan Arya kehilangan kendali, bulu tangkis yang ia pukul terlalu kuat, membuat lawannya tidak bisa menjangkaunya, bulu tangkis itupun terlempar jauh mengarah kerumah Vika.


\=BERSAMBUNG\=


__ADS_2