
...Adik Ipar Malang ...
...Bab 10 (keputusan Lilis)...
POV Lilis
Apa dia pikir aku ini pencetak anak untuknya? Seenaknya berkata tanpa disaring dulu. Cukup sudah aku membiarkan dia menjelek-jelekkanku dari tadi.
"Aku tidak mau! Cukup, Kak! Dari tadi kamu menghinaku. Mengatakan kalau aku menggoda dan merayu suamimu, menyuruh untuk meng*g*rkan kandunganku, mengatakan aku aib keluarga. Kakak pikir aib ini ulah siapa? Ulah suamimu yang tak bermoral. Andai suamimu bisa menahan n*fsunya pada adik iparnya sendiri, aib ini nggak akan ada. Sekarang, kamu ingin aku menikah dengan suamimu, kemudian setelah anak dalam kandunganku lahir, aku harus bercerai dan memberikan anakku pada kalian? Aku tak sudi. Lebih baik aku diasingkan, membesarkan anakku sendiri, tanpa campur tangan kalian." Aku mengatakan dengan berapi-api. Hancur hatiku ketika mereka ingin mengatur hidupku.
"Sebaiknya pikir-pikir lagi, Lis. Kalau mau mengikuti saran Kakak, kamu masih bisa melanjutkan sekolah, kuliah, dan meraih cita-cita yang diimpikan. Banyak hal di masa remajamu yang belum dilakukan, sayang kalau dilewatkan." Kak Laras mengatakan dengan sangat angkuh.
"Aku udah yakin dengan pilihanku, Kak. Aku nggak mau berpisah dengan anakku. Aku yang akan membesarkannya sendiri dengan tanganku. Berhenti untuk terus berpikir memisahkan anak dari ibunya."
"Apa jangan-jangan kamu juga menginginkan Evan, hingga kamu tak ingin bercerai setelah anak itu lahir?" tanya Kak Laras memicingkan matanya.
"Aku tak pernah menyukai Kak Evan dalam hal romantis. Aku hanya menganggapnya seorang kakak laki-laki, tak lebih. Soal pernikahan itu, sebenarnya aku juga nggak mau menikah dengannya. Aku punya trauma tersendiri dan nggak bisa berada di dekat Kak Evan." Aku menghela nafas kasar. Benar-benar nggak tahan dengan kebucinan Kak Laras.
"Aku akan bertanggung jawab, Lilis. Aku mohon, menikahlah denganku. Aku sudah lama menantikan anak ini, dan aku juga diam-diam sudah menyukaimu sejak lama. Aku akan menyayangimu dan anak ini sepenuh hati aku."
Sungguh pernyataan Kak Evan barusan sangat mengejutkanku. Bagaimana bisa dia berkata seperti itu? Apa dia tidak tahu, pernyataannya barusan malah memperkeruh suasana?
"Lilis, Sayang. Tante juga mohon, kamu mau, ya, menikah dengan Evan. Bukannya kalian dulu akrab seperti kakak adik? Jadi, kalau status kalian berubah jadi suami istri, pasti nggak akan susah untuk beradaptasi. Tante juga akan merawat kamu dan juga calon cucu Tante sebaik mungkin." Tante Maya ikut-ikutan memohon padaku. Bagaimana ini?
"Ma, kamu jangan ikut-ikutan. Biarkan mereka memilih keputusan mereka sendiri. Kita juga tidak bisa memaksa Lilis. Benar kata Laras. Menikahi dua saudara perempuan sekandung itu dilarang, kecuali istri pertamanya sudah dicerai." Sedikit nasihat dariĀ Om Rifan pada Tante Maya menyelamatkanku. Aku takut luluh pada bujukan Tante Maya.
"Tapi Lilis mengandung cucu kita, Pa. Bukankah kita sudah mengharapkan ini sejak lama?" Tante Maya mengiba, dengan memasang wajah memelas. "Jeng Ratna juga sudah lama menunggu kahadiran cucu, kan?" Kali ini Tante Maya mulai membujuk Ibu.
Ibu yang ditanya agak gelagapan. "Saya memang sudah lama menginginkan cucu. Tapi, bukan dengan cara yang seperti ini juga. Aku tidak ingin kedua putriku bertengkar."
__ADS_1
Saat Tante Maya ingin berbicara lagi, Om Rifan sudah lebih dulu memotong.
"Sudahlah, Ma. Kita dengarkan saja keputusan anak-anak. Mereka pasti bisa menemukan jalan keluarnya." Om Rifan mengusap tangan istrinya untuk menenangkan.
Wajah Kak Laras merah menahan marah. Tangannya mengepal di kedua sisi kanan kiri tubuhnya.
"Sejak kapan, Evan? Sejak kapan kamu menyukai adikku?" tanya Kak Laras menghadap Kak Evan. Matanya berkaca-kaca, wajahnya terlihat sangat kecewa.
"Sejak kita menikah. Sejak aku dekat sebagai kakak adik dengan Lilis. Sejak saat itu, aku mulai mempunyai rasa lebih pada Lilis."
"Oh ... jadi, serigala sudah mengunci target buruannya sejak lama?" tanya Ayah sarkas.
"Maafkan aku, Ayah." Kak Evan menundukkan kepalanya. Kenapa aku merasa permintaan maafnya nggak tulus sama sekali.
"Ijinkan saya menikahi Lilis, Ayah. Aku berjanji akan menyayangi dan menjaganya sepenuh hati. Apa lagi ada anak di antara kita." Bukan hanya meminta maaf, tapi juga meminta anak bungsunya. Padahal sudah dapat anak sulungnya, serakah sekali.
"Tapi, Lis-" Aku langsung memotong perkataan Kak Evan.
"Berhenti, Kak. Apa kamu nggak memikirkan perasaan istrimu? Seharusnya kamu lebih menjaga perasaan Kak Laras."
Aku benar-benar kecewa pada Kak Evan. Kakak yang dulu aku banggakan, begitu mudahnya menyakiti pasangannya. Bukan tidak mungkin dia akan menyakiti perasaanku juga, ketika kami sudah menjadi pasangan.
Kak Laras, Ibu dan Tante Maya kembali menangis terisak. Om Rifan mengusap wajahnya kasar. Ayah memijit pelipisnya yang berdenyut.
Kak Laras tiba-tiba berjalan mengambil vas bunga yang ada di dekatnya. Kemudian melempar vas bunga itu ke arahku. Untungnya vas itu jatuh dan pecah di dekat kaki, tak sampai mengenai badan ini. Aku benar-benar kaget dan shock. Semua berdiri dari duduknya dengan mata melebar. Tak percaya dengan apa yang Kak Laras lakukan.
"Laras!" teriak Kak Devan sambil melindungi tubuhku.
Aku merasakan perutku kram dan badan melemas. "Ah ... perutku." Aku masih memegangi perutku. Lagi lagi aku harus kalah dengan keadaan. Hingga yang terakhir kudengar suara teriakan melengking ibu.
__ADS_1
*****
Lagi-lagi aku harus terbangun di ruangan dengan nuansa putih dan bau obat-obatan.
"Lilis, kamu sudah sadar?" tanya Ibu yang duduk di sebelah ranjangku.
Aku memandang sekitar. Hanya ada Ayah, Ibu dan Kak Devan. Kemana Kak Laras, Kak Evan dan orang tuanya?
"Apa aku terlalu lama tidak sadarkan diri, Bu? Bagaimana dengan kandungan di perutku?" Kulihat mata Ibu membengkak, dengan kantung hitam di matanya.
"Kamu semalaman tidur, Lilis. Sekarang sudah pagi. Cucu Ibu tidak apa-apa. Kamu jangan sampai banyak pikiran, ya."
Aku lega kandunganku tidak apa-apa. Semalam aku merasa perutku kram. Jadi aku takut ada apa-apa dengan janinku.
"Maafkan aku. Pasti kalian lelah menjagaku. Apa lagi semalam-"
"Sudah tidak apa-apa. Jangan berpikir yang berat-berat." Ibu kembali menenangkanku.
"Ayah harus berangkat kerja. Secepatnya Ayah akan ke sini lagi. Ibu yang akan menemanimu di sini." Ayah mencium keningku.
"Aku juga harus berangkat, ada meeting. Kamu harus banyak istirahat, supaya cepat pulih," kata Kak Devan sambil membelai puncak kepalaku. Kemudian dia mencondongkan tubuhnya. Aku menatapnya heran. Mau apa dia?
Tiba-tiba Ayah berdehem dengan mata melotot, membuat Kak Devan meluruskan tubuhnya lagi. Wajahnya gelagapan seperti tertangkap basah akan mencuri. Ibu hanya tersenyum geli.
"Kami pergi dulu. Kalau ada apa-apa segera hubungi Ayah atau Devan, ya." Ibu mencium tangan Ayah, sedang Ayah mencium kening Ibu.
Wajah Kak Devan terlihat masam. Kemudian Ayah menarik tangan Kak Devan keluar dari ruangan rawat. Ibu masih tersenyum geli. Aku bingung melihat kelakuan mereka. Apa ada yang aku lewatkan?
*****
__ADS_1