Adik Ipar Malang

Adik Ipar Malang
bab 21 Alasan Sindi


__ADS_3

Adik Ipar Malang


Bab 21 (Alasan Sindi)


POV Lilis


"Aku nggak bisa cerita. Maafin aku. Tapi aku sama sekali nggak ada maksud untuk melakukan ini ke kamu, Lis." Sindi kemudian melihat ke arah Ayah dan Ibu bergantian. "Maafin Sindi juga, Om, Tante."


"Kamu nggak mau kasih tahu, atau jangan-jangan kamu cuma mengada-ada, ya. Kamu sebenarnya nggak diancam?" selidik Kak Laras.


"Sumpah, Kak Laras. Aku nggak bohong. Aku nggak bisa cerita, karena ... aku malu untuk ngomongnya."


"Kamu mau cerita, atau aku tanyakan sendiri ke Evan? Kamu mikir nggak akibatnya, kalau aku tanya langsung ke Evan? Itu tandanya kita sudah tahu kalau kamu itu mata-matanya Evan." Kini giliran Kak Laras yang mengancam Sindi.


"Tapi ..."


"Kalau kamu nggak cerita, bagaimana kita bisa mencarikan solusinya?" Kak Devan kembali bersuara.


"Bagaimana, ya ..."


Aku menatap Sindi dengan tajam supaya cepat bercerita. Alasan apa yang dipakai sampai dia bisa melakukan hal seperti itu. Meskipun wajahnya sudah pucat, aku harus tetap memaksanya agar membuka mulut.


"Waktu itu aku menemani temanku ke bar. Ternyata sudah banyak teman-teman dia yang menunggunya di sana. Teman-temannya menawariku untuk minum. Awalnya aku nggak mau, tapi karena terus dipaksa aku jadi mau nggak mau, ya minum." Sindi mulai bercerita.


"Astaga Sindi! Kamu tahu, kan, kalau itu minuman dilarang? Apa lagi kamu masih di bawah umur. Siapa teman kamu itu? Perempuan atau laki-laki?" tanya Ibu.


"Jangan bilang kalau dia itu Kelvin?" tebakku dengan menatap tajam Sindi.


Sindi mengangguk dengan ragu-ragu. Sedang aku, memejamkan mata dengan menghela nafas kasar.


Kelvin adalah salah satu most wanted di sekolah. Sifatnya sangat suka tebar pesona dengan semua siswi-siswi. Setiap hari jalan dengan cewek yang berbeda tanpa hubungan yang jelas, setelah itu mereka akan ditinggalkan.


Si*lnya adalah Sindi sangat ngefans dengan cowok itu. Padahal sudah jelas tahu kelakuannya kaya apa. Malah katanya itu yang jadi daya tariknya. Jadi saat Sindi diajak jalan olehnya, sudah pasti dengan senang hati Sindi nggak akan menolak.


"Aku nggak bisa minum seperti itu, jadi aku langsung mabuk. Karena dia takut untuk membawaku pulang ke rumah, jadi dia bawa aku ke hotel terdekat. Kita tidur di kamar yang sama sampai pagi," imbuhnya lagi.


Kami semua mendengarkan cerita Sindi dengan serius. Aku sampai harus menahan nafas saat Sindi mengatakan kalau mereka ke hotel. Ngapain mereka ke hotel?


Cara duduk Sindi sudah kelusuh-kelasah. Bahkan sesekali dia menggigiti kukunya. Kebiasaannya kalau sedang takut atau gelisah.


"Kak Evan punya vidio saat aku dan Kelvin masuk ke hotel. Itu digunakan Kak Evan untuk mengancamku. Kalau aku nggak mau menurutinya, dia akan memberitahukan vidio itu ke Ayahku."


Sindi kembali menangis dengan kencang. Wajahnya menunjukkan sebuah penyesalan. Mau bagaimana lagi, waktu tak dapat diputar ulang. Sama seperti diriku. Andaikan waktu itu aku menolak Kak Evan untuk mengajariku, pasti semua itu tak akan terjadi.


"Kamu ngapain aja di hotel itu dengan temanmu? Sampai pagi pula." tanya Ibu pada Sindi.

__ADS_1


"Kamu sudah ngelakuin, ya, dengan temanmu itu?" tanya Kak Laras dengan mata menyipit tajam.


"Eng-nggak, Kak. Sumpah. Sama sekali nggak terjadi apa-apa. Aku aja masih perawan," sanggahnya. Jari telunjuk dan tengahnya diacungkan di depan wajah, seperti huruf v.


"Halah. Mana mungkin. Orang kalian sama-sama mabuk, masa nggak ngelakuin?" cecar Kak Laras.


"Mana aku tahu, Kak. Orang saya masih lancar datang bulan, kok."


"Syukurlah kalau begitu." Aku menghembuskan nafas lega.


"Apa Evan ada ngomong sesuatu ke kamu?" Kak Devan bertanya setelah sesi tanya jawab Kak Laras dengan Sindi.


"Nggak ada. Bahkan yang menemuiku bukan Kak Evan. Tapi orang suruhannya."


"Karena dia sibuk dengan pekerjaannya dan dia membuat tangannya tetap bersih, tanpa harus turun tangan sendiri." Ayah yang dari tadi diam mulai membuka suaranya.


"Tetap saja aku bisa membaca rencananya. Aku sudah tahu sejak Sindi menemui Lilis waktu itu," ucap Kak Devan sambil menunjuk Sindi. Yang ditunjuk otomatis langsung menunduk. Aku jadi kasihan dengan Sindi. Dapat ancaman dari sana sini.


"Kamu bilang kalau kamu sudah tahu tentang kehamilan Lilis dari Om Arifin di sekolah, sewaktu Om Arifin mengurus berkas Lilis. Kemudian kamu memancing Lilis untuk bicara kapan tanggal pernikahannya. Kamu yang paham Lilis itu ceroboh, nggak akan sadar dan percaya saja karena kamu sahabatnya," lanjutnya. Kedua tangannya dimasukkan ke dalam sakunya.


Aku mengerucutkan bibir ketika Kak Devan mengatakan kalau aku ceroboh, walaupun ternyata memang iya. Mana bisa aku curiga dengan sahabat sendiri.


"Nyatanya saat aku tanya Om Arifin, dia bilang tidak ada yang tahu kecuali yang ada di dalam di jamuan makan malam itu. Di situ aku sudah merasa ada yang janggal. Saat kamu pulang, aku menyuruh seseorang untuk mengikutimu. Kamu nggak langsung pulang, melainkan menemui seseorang, kan?"


"Maafin aku. Aku kan sudah kasih tahu semua alasannya," mohon Sindi dengan wajah memelas.


"Aku sudah maafin kamu, Sin. Lain kali berhati-hati, ya."


"Terima kasih, Lis." Sindi langsung memelukku. "Terus bagaimana dengan Kak Evan? Kalau dia tahu aku ke sini kasih tahu kalian gimana?" tanya Sindi dengan panik, setelah melepas pelukannya.


"Itu urusan kamu dengan Evan," jawab Kak Devan dengan santainya. "Sebenarnya, tanpa kamu kasih tahu juga kita sebelumnya sudah tahu. Karena Laras yang sudah kasih tahu duluan," lanjut Kak Devan sambil menunjuk Kak Laras dengan dagunya.


"Terus kenapa kalian bawa aku ke sini?"


"Untuk kasih kamu pelajaran, kalau sahabat itu jangan menusuk dari belakang hanya demi kepentingan sendiri. Juga untuk kasih tahu seseorang yang polos, supaya jangan terlalu mudah percaya, dan harus waspada pada sekitarnya."


Aku dan Sindi sama-sama menunduk. Mungkin benar yang diucapkan Kak Devan. Aku kurang berhati-hati dan waspada, hingga mudah dimanfaatkan orang. Semoga pilihan untuk menikah dengan Kak Devan adalah benar. Dia bisa membimbingku untuk lebih dewasa lagi.


"Sebaiknya sekarang kamu pulang!" perintah Kak Devan pada Sindi.


"Huaaa ..." Sindi menangis lagi. "Aku takut kalau pulang nanti bertemu orangnya Kak Evan," rengeknya.


"Biar orangku yang akan menyelesaikannya. Kamu tinggal sebut saja nama hotelnya." Kak Devan kembali mengambil ponsel dari sakunya.


"Tapi, kasihan Sindi kalau harus pulang dalam keadaan kaya gini," cegahku.

__ADS_1


"Lilis. Ini masalah dalam keluarga kita. Masih banyak hal penting yang harus diselesaikan selain urusan Sindi. Kan, sudah dibilang, orangnya Devan yang akan mengurusnya." Kali ini Kak Laras yang melarangku untuk mencegah Sindi pulang.


"Kamu percaya saja, ya dengan Devan," bujuk Ayah yang sadari tadi diam. "Lagi pula Sindi juga harus cepat keluar dari rumah ini supaya nggak dilihat sama orangnya Evan."


"Baiklah. Hati-hati di jalan, Sindi."


"Aku sudah menyuruh orang di luar untuk mengantarmu sampai rumah. Selama beberapa hari, kalau bisa jangan terlalu lama berada di luar, sebisa mungkin hindari Evan." Sekali lagi Kak Devan menasehati Sindi sebelum dia pulang.


Setelah mengantar Sindi sampai depan rumah, dan menitipkannya pada anak buah Kak Devan, kami melanjutkan kembali pembahasan untuk pernikahan aku dan Kak Devan.


"Bagaimana Devan? Apa kamu masih ingin menikah di hari Selasa?" tanya Ayah.


"Tentu saja tidak. Harinya akan dipercepat."


***


Mata ini belum bisa terpejam, mengingat besok adalah hari yang penting bagiku. Meski hanya menikah siri, tapi cukup membuat perut ini seperti ada kupu-kupu beterbangan. Tanganku meremas selimut dengan kencang dan mataku yang terus memindai langit-langit kamar.


"Lilis! Ini Ibu. Kamu sudah tidur belum?"


Terdengar suara Ibu di luar kamar setelah mengetuk pintu kamarku. Aku langsung menuju pintu, dan membukanya.


"Aku belum bisa tidur, Bu. Bisa temani aku sebentar?" pintaku.


Ibu tersenyum dan mengangguk. Kemudian masuk dan duduk di pinggiran kasurku. Aku menghampirinya, merebahkan kepalaku di pangkuannya. Ibu pun mengusap rambutku dengan lembut.


"Kamu sudah siap, kalau setelah menikah ikut dengan Devan dan tinggal dengannya?"


"Bukannya itu sudah jadi kewajiban sebagai seorang istri? Kalau untuk jauh dari Ayah dan Ibu, sebenarnya aku sama sekali belum siap."


"Ibu juga belum siap, melepas putri kecil Ibu. Umur kamu masih terlalu muda untuk menanggung semua ini. Tapi Ibu yakin, bersama Devan kamu akan lebih aman, dibanding di sini. Ibu dan Ayah juga akan sering menghubungimu, supaya kamu nggak kesepian."


"Iya, Bu."


"Ibu tadi juga sudah banyak menasehati Laras untuk supaya lebih perhatian dengan suaminya, dan mengurangi jam kerjanya. Laki-laki bukan hanya butuh kepuasan mata saja, perut dan batinnya juga harus terpenuhi. Itu juga berlaku untuk kamu," kata Ibu sambil mencubit hidungku.


"Terima kasih, Bu." Aku langsung bangun dan memeluk Ibu. Mencium kedua pipinya.


"Sekarang kamu tidur. Bersiap untuk besok pagi. Barang-barang yang akan dibawa sudah siap? Jangan lupa jaga kandungan kamu juga."


"Iya, Bu. Aku mungkin akan rindu dengan cerewetmu."


"Tenang saja. Ada ibu mertuamu yang sebelas dua belas dengan Ibu."


Kami tertawa bersama, setelah kami banyak bercerita dari yang sedih, sampai yang bahagia.

__ADS_1


__ADS_2