
Adik Ipar Malang
Bab 46 (Kontrakan Siska)
Beberapa jam sebelumnya ...
Sebuah mobil terparkir tidak jauh dari sebuah gang sempit dengan tertib. Evan dan dua anak buahnya yang merangkap sebagai karyawan, keluar dari mobil. Mereka harus melanjutkan pencarian dengan berjalan kaki, untuk menyusuri gang yang lebarnya hanya sekitar 1,5-2 meter itu.
Setelah bertanya ke sana ke mari, Evan sudah sampai di depan sebuah gerbang kontrakan dengan tinggi hanya satu meter. Menurut alamat yang diberitahu oleh Siska, seharusnya memang ini tempatnya. Untungnya dari rumah Evan mengenakan pakaian santai, yaitu kaos dan celana jeans, begitu juga dengan anak buahnya, jadi tidak terlalu menarik perhatian warga sekitar. Namun tetap saja, wajah tampan khas orang kota terpajang di wajahnya.
Evan membuka gerbang tersebut dengan mudah, karena tidak terkunci. Kontrakan ini lebih banyak dihuni oleh orang yang sudah berkeluarga. Terlihat dari berbagai jenis pakaian anak-anak dan dewasa yang menggantung di halaman luas dekat gerbang.
Setelah melewati halaman, kini kontrakan dengan 10 pintu yang saling berhadapan sudah ada di depan mata. Tidak ada satu pun penghuninya yang berada di luar. Mungkin karena cuaca yang panas, atau penghuninya memang sedang bekerja, sehingga kontrakan ini terlihat sepi.
Melihat nomor pintu ke kiri dan ke kanan secara bergantian, Evan berjalan dengan ringan mendekati pintu bernomor 5, diikuti kedua anak buahnya.
Tangan besar Evan mengetuk pintu itu sebanyak tiga kali, kemudian mengucap salam. "Assalammualaikum."
Hening. Tidak ada sahutan sama sekali.
Saat mau mengetuk kembali, tiba-tiba pintu kontrakan dari sebelah kanan terbuka. Seorang perempuan dengan tubuh agak berisi menyembulkan kepalanya, sedang badan hingga kaki berada di dalam.
"Cari siapa?"
"Maaf, benar ini tempat tinggal Siska?"
"Oh, Siska. Iya benar yang ini kontrakannya. Biasanya kalau siang dia kerja, jadi kemungkinan cuma ada ibunya yang sedang sakit di rumah." Perempuan tersebut keluar dari kontrakannya, kemudian berjalan menghampiri Evan.
"Ada perlu apa, ya, dengan Siska?"
"Saya hanya ingin menjenguk ibunya Siska. Katanya beliau sedang sakit."
"Oh, gitu. Mas pacarnya Siska, ya?"
"Bu—"
"Halah, enggak usah malu-malu begitu. Siska memang cantik, sayang nasibnya saja yang kurang baik." Perempuan yang sepertinya ibu muda itu cekikikan dengan guyonannya sendiri. "Tunggu sebentar! Saya mau coba panggilkan orangnya dulu."
Perempuan itu kemudian mengetuk pintu dengan kencang, bisa dikatakan menggedor. Tidak lupa suaranya yang cempreng membahana saat memanggil penghuni kontrakan nomor lima tersebut.
__ADS_1
"Bu! Bu Tirah!"
Bu Tirah? batin Evan bertanya-tanya.
"Siapa?" sahut suara perempuan dari dalam. Suaranya lemah dan terdengar seperti sudah berumur.
"Saya Sita, Bu. Di luar ada tamu. Sepertinya calon menantu Bu Tirah."
"Biarkan mereka masuk, Sit!"
Oak! Oak!
Terdengar suara bayi menangis dengan kencang, dari arah kontrakan yang dihuni oleh perempuan bernama Sita ini.
"Anakku nangis. Kalian langsung masuk saja." Wajah Sita berubah sangat panik.
"Terima kasih," ucap Evan yang tidak akan terdengar oleh perempuan itu, karena sudah masuk ke dalam kontrakannya.
Tidak lama kemudian, sudah tidak terdengar lagi suara bayi menangis. Mungkin Sita sudah menenangkan bayinya.
Evan membuka pintu di depannya dengan perasaan tak enak, sebab baru pertama kali ke sini, tapi bukan tuan rumah yang membukakan.
Begitu pintu terbuka, Evan langsung berada di ruang tamu yang merangkap sebagai kamar tidur dengan luas 3x4 meter. Hanya berjarak dua meter dari pintu, ada seorang wanita seumuran dengan ibunya sedang duduk bersandar di atas kasur tipis yang tebalnya kira-kira 10 cm. Selimut yang tak kalah tipis menutupi tubuhnya, dari perut sampai kaki.
Suara ini ....
"Bi Tirah?"
"Iya ... Tuan siapa, ya?"
"Saya Evan, Bi."
"Evan?" gumam Bi Tirah seraya berpikir dan mengingat-ingat tentang pemuda tampan di depannya ini.
"Anak yang diasuh oleh Bibi dulu," jelas Evan.
Seketika seperti mendapat ilham, wajah Bi Tirah langsung sumringah. "Ya Allah, Den Evan! Anaknya Pak Rifan dan Bu Maya?"
Evan menganggukkan kepalanya sekali, dengan senyum tipis tersungging di bibirnya.
__ADS_1
"Ya Allah! Apa kabar Aden? Bagaimana kabar orang tua Aden juga Aden Elan?"
"Kami baik, Bi." Hening beberapa saat. Evan mendekat pada tempat tidur Bi Tirah. Duduk bersimpuh di sebelahnya. "Bibi ke mana saja? Kenapa tidak kembali ke rumah kami lagi? Nomor Bibi juga tidak bisa dihubungi lagi," cecar Evan.
Lagi-lagi hening di antar mereka berdua. Evan yang bersabar menunggu jawaban Bi Tirah, dan Bi Tirah yang dalam hatinya ada perasaan tak enak ingin menjawab pertanyaan mantan majikan kecilnya.
Evan memandangi bagian dalam kontrakan yang ditinggali mantan pengasuhnya sewaktu kecil. Sangat miris baginya. Di balik tembok sebagai sekat, ada sebuah kamar mandi, dan sisa ruang 1x1 meter digunakan untuk tempat rak piring. Ternyata kontrakan ini hanya dua petak. Bahkan tidak ada peralatan memasak. Jadi selama ini mereka selalu membeli makanan.
"Maafkan Bibi." Hanya itu yang keluar dari mulut perempuan paruh baya di depan Evan.
"Ya sudah, tidak apa-apa, tapi Bibi ikut aku kembali ke Jakarta ya?"
"Enggak, Den. Bibi enggak bisa. Bibi enggak mau merepotkan keluarga Aden lagi. Cukup suami Bibi saja yang merepotkan waktu itu."
"Ke mana suami Bibi sekarang?"
"Dia sudah pergi sama istri barunya." Wajah Bi Tirah terlihat sangat sedih, tapi dia enggan mengeluarkan air mata di depan Evan. "Menggunakan alasan Siska sedang sakit, suami Bibi meminta gaji Bibi lebih dulu. Setelah mengambil gaji Bibi ke Pak Rifan, dia meninggalkan Siska sendirian di rumah. Lalu dia pakai uang itu untuk menikahi perempuan simpanannya."
"Lalu, kenapa Bibi tidak bilang kepada Papa? Kenapa Bibi tidak kembali lagi ke rumah kami?"
"Bibi malu, Den. Bukan hanya meminta gaji Bibi, suami Bibi juga berhutang kepada Pak Rifan. Bibi enggak punya muka lagi untuk kembali ke sana." Bi Tirah menangis tergugu. Bukan karena kehilangan suami dan uangnya, tetapi lebih ke arah perasaan malu dan bersalah pada keluarganya Evan.
"Lagi pula, kalau Bibi kembali, Siska nanti dengan siapa? Bibi sudah enggak punya orang tua waktu itu. Saudara Bibi tidak ada yang mau dititipi Siska. Terpaksa Bibi berjualan keliling untuk memenuhi kebutuhan hidup, juga berusaha mengumpulkan uang untuk membayar uang yang dipinjam suami Bibi," lanjut Bi Tirah.
Dalam hati Evan, sebenarnya jikalau Bi Tirah ingin membawa Siska pun, tak apa. Orang tuanya pasti mengizinkan, tapi yang berlalu biarlah berlalu. Semua sudah terjadi.
Evan meraih telapak tangan Bi Tirah, kemudian mengusapnya. Mencoba memberi kekuatan untuk bisa lebih bersabar. Ingat kembali, Evan bukan orang bisa menghibur orang lain, bahkan menghibur istrinya sendiri.
"Hanya Siska sekarang satu-satunya harapan Bibi supaya tetap waras dan hidup. Tapi lihat! Malah Bibi sekarang menjadi beban dalam hidup Siska." Bi Tirah meredakan tangisnya.
"Kenapa sekarang Bibi ada di Bali?"
"Saat itu Siska ada tawaran kerja dari temannya di Bali. Menurut temannya gajinya lumayan. Begitu sampai di sini lowongannya sudah ditutup. Padahal Siska sudah menghabiskan tabungannya untuk membayar orang dalam. Ternyata temannya itu penipu, dia bukan orang dalam."
Mendengar cerita dari Bi Tirah, Evan berubah jadi merasa iba dengan Siska. Pasti berat hidup yang dilaluinya selama ini. Pantas saja Siska nekat melakukan hal itu padanya.
Bi Tirah mengusap sisa-sisa air mata di wajahnya. "Den Evan bagaimana bisa tahu saya di sini? Bukannya Den Evan belum pernah bertemu dengan Siska sebelumnya?"
Evan langsung memutar otak. Dia tidak bisa bilang yang sejujurnya. Pasti itu akan menyakiti perasaan Bi Tirah.
__ADS_1
Kira-kira apa yang akan dikatakan Evan kepada Bi Tirah?
*****