Adik Ipar Malang

Adik Ipar Malang
bab 44 Kebetulan Bertemu


__ADS_3

Adik Ipar Malang


Bab 44 (Kebetulan Bertemu)


POV Author


"Satu lagi," ucap Evan. "Aku mau ikut kalian membeli oleh-oleh untuk orang rumah. Apakah boleh?"


Devan melirik Lilis, mencari tahu ekspresi di wajahnya. Lilis sendiri sama sekali tidak menampakkan ekspresi apa pun. 


"Tentu saja boleh, kan, Lilis?"


"Ya. Nanti aku akan bantu untuk pilihkan barang-barang yang disukai Kak Laras dan orang rumah lainnya."


"Terima kasih."


Siang harinya mereka menghabiskan waktu membeli oleh-oleh untuk orang rumah di bagian pusat perbelanjaan. Lilis berjalan di depan memimpin jalan, sedang Evan dan Devan di belakang layaknya bodyguard. Mengikuti ke mana langkah Lilis pergi sambil membawa belanjaan.


Lilis membeli sebuah kaos bertuliskan 'I Love Bali' untuk mas Tejo. Teringat pesannya sebelum dirinya dan Devan berangkat ke Bali. Juga beberapa sandal dan aksesoris lainnya. 


Untuk mbok Urip, kain batik khas Bali menjadi pilihannya. Lilis juga membelikan kain batik untuk yang lainnya. Tidak lupa makanan dan barang-barang unik seperti pernak-pernik ikut menjadi target selanjutnya.


"Tahu begini, lebih baik aku di kamar aja mengurus berkas-berkas atau klien yang alot saat berdiskusi. Ya Tuhan, kakiku seperti mati rasa," keluh Evan.


"Untung aku cinta, jadi enggak terlalu berasa," ujar Devan mencoba tegar. Padahal kakinya pun sudah sangat pegal.


"Kalian capek?" Lilis melihat ke arah mereka berdua. "Padahal belum semua toko kita masuki, loh," ucap Lilis dengan wajah dibuat sedih.


Devan gelagapan. "Bukan begitu, Sayang. Kamu pasti sudah capek, belum lagi harus bawa dede janin di dalam perut."


"Aku masih belum capek, kok. Masih ada oleh-oleh yang pengen aku beli."


"Tapi ini sudah banyak."


"Itu baru untuk Kak Laras, ayah, ibu, mas Tejo, dan mbok Urip. Untuk yang lain belum, Kak."


Evan dan Devan memandangi paper bag di tangan masing-masing. Bahkan tangan Evan pun sudah hampir penuh. 


Untuk mempercepat waktu, mereka kembali melanjutkan perjalanan petualangan keluar masuk toko di pusat perbelanjaan. 


Bruk!


Evan tak sengaja bertabrakan dengan seorang perempuan. Mereka berempat sama-sama menunduk ke bawah, di mana sebuah dompet perempuan jatuh di sana. Devan membungkuk, untuk memungut dompet itu, karena tangan Evan sudah penuh.


"Maaf itu dompet milik saya." Perempuan pemilik dompet itu membuka suaranya.


Tiba-tiba Devan merasakan remasan kuat di pinggangnya. Ternyata Lilis yang melakukan itu.


"Ini dompet Anda," ucap Devan sambil menegakkan tubuhnya.


Devan dan perempuan itu membeku, pun dengan Lilis semakin kencang meremas pinggang Devan.


"Kamu!" teriak Devan.


Evan malah bingung dengan keadaan ini. Kenapa semua berwajah tegang?


Perempuan itu langsung mengambil dompet di tangan Devan, kemudian melarikan diri. Devan berniat mengejar perempuan itu, tak mau kehilangan jejaknya lagi. 


"Jaga Lilis!" Devan memberikan semua barang ke tangan Evan, kemudian berlari mengejar perempuan itu.


"Hei!" teriak Evan tak terima. "Kenapa dia mengejar perempuan itu?"


"Itu ... perempuan yang bersama Kak Evan sewaktu terpengaruh obat perangsang." Raut wajah Lilis berubah sangat cemas. 

__ADS_1


"Apa!" teriak Evan terkejut. Seandainya tahu lebih awal, pasti dia juga akan ikut mengejar. 


Lilis mengangguk. "Aku khawatir dengan Kak Devan."


"Kamu jangan cemas! Devan pasti baik-baik saja. Lebih baik aku antar kamu ke kamar. Setelah itu aku akan menyusul Devan."


"Iya! Tapi Kak Evan janji, ya, akan menjaga Kak Devan."


"Pasti. Ayo cepat kembali!"


Di tempat lain, perempuan itu terus berlari mencoba menghindari kejaran Devan. Sayangnya dia malah berlari ke arah gang yang sepi. Si4lnya lagi, dia sampai di jalan buntu.


Wajahnya mulai pias dengan nafas yang tak beraturan. Kepalanya menengok ke kanan dan ke kiri mencoba mencari jalan keluar. 


Melihat targetnya menemui jalan buntu, Devan berhenti dengan jarak sekitar 5 meter dari perempuan itu. Nafasnya pun tak kalah ngos-ngosan. Perempuan itu memasang sikap siaga, Devan juga melakukan hal sama. 


"Mau apa kamu? Aku akan teriak, dan orang-orang pasti akan menghajarmu," gertak perempuan itu.


Devan tetap tenang. Mengusahakan agar dirinya tidak melakukan kekerasan. Apalagi dia seorang perempuan. Berpikir sejenak mencari akal.


"Tenang. Aku tidak akan melakukan apa pun padamu. Aku ingin mengajukan beberapa pertanyaan, tapi kalau kamu tidak bisa diajak negosiasi, terpaksa aku akan membawamu lewat jalur hukum."


"Tidak mungkin bisa."


"Hampir semua tempat sekarang memasang kamera pengawas, dan kamera pengawas di resort itu merekam semua perbuatanmu."


Perempuan itu tidak bisa menyembunyikan ekspresi paniknya. Devan membaca pergerakan perempuan itu lewat matanya. Sepertinya perempuan itu akan nekat untuk meloloskan diri.


Benar saja, perempuan itu mulai mengambil ancang-ancang. Kemudian berlari kencang ke arah Devan. Devan yang seorang mantan preman, tahu dengan jelas motif perempuan itu berlari ke arahnya. Saat jarak perempuan itu hampir dekat, Devan menggeser badannya ke arah kanan. Kaki kirinya menjulur, sehingga membuat perempuan itu tersandung kemudian jatuh terjerembap dengan posisi tengkurap.


"Aduh!" teriak perempuan itu kesakitan.


Devan langsung menahan punggung perempuan itu dengan lututnya. Kemudian menahan kedua tangannya ke belakang. 


"Lepaskan aku!" teriak perempuan itu meronta. "To-" Devan langsung menyumpal mulut perempuan itu dengan sapu tangan yang diambil dari dalam saku kemejanya.


Devan mengeluarkan ponsel, kemudian menghubungi Evan. Menanyakan keadaan Lilis terlebih dulu, lanjut mengirimkan lokasinya saat ini pada Evan. Beberapa saat kemudian Evan sudah datang bersama dengan dua karyawannya dan membawa perempuan itu ke resort.


Saat ini mereka sudah berada di sebuah ruangan yang tidak terpakai di resort. Tempat ini nantinya akan direnovasi untuk dijadikan loker tambahan dan tempat istirahat para karyawan. 


Kondisi perempuan itu duduk di tengah-tengah ruangan, dengan kedua tangannya diikat ke belakang. Badan dan kakinya juga diikatkan ke kursi. Tubuhnya terus bergerak-gerak, berupaya agar tali tersebut mengendur. Matanya memandang tajam ke arah Evan dan Devan yang berdiri di depannya.


Dua karyawan Evan yang memiliki cukup ilmu bela diri, berada di pintu luar untuk berjaga-jaga.


Sebenarnya Devan melarang Evan untuk mengikatnya seperti ini. Agak berlebihan menurutnya, tapi tenaga perempuan itu lumayan besar, sehingga membuat Evan mau tak mau harus melakukan ini.


"Siapa yang menyuruhmu untuk menaruh obat perangsang di atas makananku?" tanya Evan pada perempuan itu.


"Apa kamu bekerja sendiri? Atau ada yang menyuruhmu?" tanya Evan lagi, karena perempuan itu sedari tadi hanya diam.


"Tolong kerja samanya. Ini menyangkut tentang keutuhan rumah tangga saudara iparku. Aku lihat kamu seperti perempuan baik-baik. Tapi kenapa kamu ingin melakukan perbuatan hina seperti ini?" Devan mulai mengajak perempuan itu bernegosiasi. 


Pandangan tajam perempuan itu, berubah jadi murung. Wajahnya menunduk sedih. "Apa kalian akan membawaku ke kantor polisi?"


Evan dan Devan memandang perempuan itu dengan bingung. Tadi ekspresinya sangat garang, lalu tiba-tiba berubah menjadi sendu. 


"Aku punya ibu yang sedang sakit keras. Kalau aku di penjara, siapa yang akan merawat ibuku?" Perkataan perempuan itu semakin membuat dua laki-laki tampan ini semakin bingung.


Evan menggeledah tas milik perempuan itu. Dia mengambil sebuah kartu identitas dari dalam dompet, kemudian membacanya. 


Dari situ, Evan mengetahui kalau nama perempuan itu Siska, usianya 22 tahun, seumuran dengan Laras. Alamat yang tercantum Jakarta. Kenapa perempuan itu ada di Bali?


Evan menyerahkan kartu identitas itu kepada Devan agar ikut membacanya juga. Kemudian Evan mengambil sebuah kertas yang berisi catatan dari dokter tentang penyakit diabetes milik ibunya Siska.

__ADS_1


"Jawab pertanyaanku yang tadi!" perintah Evan datar. 


"Apa setelah aku memberi tahu semuanya, kalian tetap membawaku ke kantor polisi?" tanya Siska lagi. 


Sepertinya dia sangat takut kalau kami membawanya ke kantor polisi, batin Devan.


"Tergantung," jawab Evan ketus.


"Apa kalian bisa berjanji untuk membebaskanku setelah aku memberi tahu semuanya?"


Evan semakin meradang. Pikirnya, perempuan ini dikasih hati minta jantung. Sudah melakukan perbuatan jahat, masih memikirkan yang terbaik untuk dirinya sendiri.


Devan mencoba menenangkan Evan, agar tidak terpancing emosi. Mencoba bernegosiasi dengan Siska. 


"Itu ... nanti akan kita bicarakan baik-baik. Tergantung bagaimana kasusnya, dan cara kamu menjawab pertanyaan kami," timpal Devan.


"Baik, tapi aku tetap akan meminta syarat. Tolong rawat dan jaga ibuku, seandainya kalian tetap ingin membawaku ke penjara." Siska memohon dengan harap. Di wajahnya terlihat serius kalau dia begitu peduli dengan ibunya.


"Iya. Itu pasti. Seandainya memang benar ibumu sakit parah." Devan masih mencoba berbicara dengan sabar.


Berbeda dengan Evan yang sudah sangat emosi. "Cepat beri tahu kami semuanya!" 


Siska menarik nafas, sebelum mulai menjelaskan semua yang dia ketahui.


"Aku hanya disuruh untuk membawa Tuan Evan, mengajaknya tidur di salah satu kamar di resort itu. Kemudian mengambil gambar dan beberapa videonya untuk dikirimkan kepada orang yang menyuruhku. Belum sampai kamar, ternyata perbuatanku sudah dihalangi oleh Tuan ini," tunjuk Siska dengan dagunya pada Devan.


"Bukan aku yang menaruh obat perangsang itu di atas makanan Tuan Evan, melainkan orang yang menyuruhku. Jika aku berhasil, aku akan mendapatkan uang dari orang itu. Kemudian uangnya akan aku gunakan untuk berobat ibuku," lanjutnya.


"Kamu ingin mengobati ibumu dengan uang haram?" tanya Devan. Siska menggigit bibir bawahnya pelan. "Apa ibumu tahu perbuatanmu ini?"


"Bagaimana kalau ibumu tahu?" Evan mencoba menggertak. Siska menggelengkan kepalanya dengan ragu.


"Aku mohon jangan sampai ibuku tahu. Aku takut dia terkejut, kemudian ... tiada. Aku belum ingin kehilangan ibu."


Mata Siska mulai berkaca-kaca. Dirinya hanya seorang gadis miskin yang ingin mengobati ibunya yang sedang sakit diabetes. Tidak tahu kalau resikonya akan sampai seperti ini.


"Apa kamu berkata jujur?" tanya Evan dengan pandangan mengintimidasi.


"Demi ibuku, aku berkata sejujurnya." Air mata sudah keluar membasahi pipi Siska. 


Evan dan Devan sedikit iba melihatnya, tapi mereka tetap harus waspada kalau ternyata semua yang diucapkan Siska hanya kebohongan belaka. Bisa saja kalau itu hanya air mata palsu.


"Siapa orang yang menyuruhmu? Laki-laki atau perempuan?" cecar Evan.


"Dia seorang perempuan," jawab Siska sambil menahan isak.


"Namanya?"


"Freya," jawab Siska lirih.


"Freya!" ucap Evan dan Devan sama-sama terkejut.


Evan mengeluarkan ponselnya. Kemudian menunjukan foto seorang perempuan kepada Siska.


"Apa perempuan ini yang kamu maksud?" tanya Evan geregetan.


"Iya," jawab Siska seraya mengangguk.


Kali ini Evan benar-benar percaya dengan perkataan Laras. Memang Freya bukan perempuan baik. Sangat tidak pantas untuk kakak kandungnya itu.


Devan sendiri sangat terkejut. Freya, gadis yang sudah dianggap seperti adik sendiri, bagaimana bisa melakukan hal serendah ini? Sudah lama tidak bertemu, sekali bertemu malah dengan cara seperti ini.


Bukankah Freya dekat dengan Elan? Lalu, kenapa dia melakukan ini kepada Evan, adik kandungnya Elan?

__ADS_1


"Apa lagi yang kamu ketahui? Apa kamu tahu kenapa Freya sampai melakukan itu pada kami?" tanya Evan semakin tidak sabar.


•••


__ADS_2