Adik Ipar Malang

Adik Ipar Malang
bab 14 Permintaan Devan


__ADS_3

...Adik Ipar Malang ...


...Bab 14 Permintaan Devan ...


POV Devan


"Aku pulang gadis kecilku!"


Harusnya itu yang kukatakan pada dia. Gadis kecil yang sudah berani mencuri hatiku. Membuat aku jadi seseorang yang kata temen-temen 'sapi tua makan rumput muda'. Mereka dapat kata-kata itu dari pepatah cina.


Setelah berada jauh, dan tak tinggal bersama dengannya lagi, aku mulai merasakan apa yang dinamakan rindu dan tak ingin jauh darinya. Berusaha menahan hati dan godaan jari-jari nakal yang berusaha untuk menghubunginya terus menerus. Kali ini aku kembali.


Baru beberapa hari aku tinggal di sini, duniaku dalam sekejap hancur karena jamuan makan malam untuk keluarga suaminya Laras.


Aku terjebak di antara rumitnya masalah internal keluarga Om Arifin. Seorang lelaki yang mengkhianati istrinya, dengan memp*rkosa adik iparnya sendiri.


Ingin sekali memaki gadis kecilku, bahkan membuang namanya dari sudut hati ini. Tak bisa menjaga mahkotanya sendiri di usia belia.


Setelah melihat rekaman kamera pengawas itu, serta mendengar penjelasan dari yang bersangkutan, aku benar-benar merasa kecolongan. Mungkin hukuman untukku karena menunda dan menyangkal tentang perasaanku yang sebenarnya.


Bisa kulihat semua orang yang ada di ruangan ini menampakkan wajah kecewa, termasuk aku. Tante Ratna dan Om Rifan, merasa kecewa pada menantunya, yang mengkhianati putri sulungnya, serta kecewa karena anak bungsunya hamil di bawah umur, pelakunya menantunya sendiri.


Laras pasti lebih merasa kecewa, karena suaminya berkhianat, dan adiknya yang jadi korban. Om Rifan dan Tante Maya yang kecewa pada putra bungsunya karena tega mengkhianati istrinya, dan menghamili anak di bawah umur. Meskipun merasa bahagia calon cucu pertama yang di idamkan sudah tumbuh di dalam rahim.


Kalau berita ini sampai menyebar ke luar, dan didengar oleh relasi bisnisnya, pasti sangat mencoreng nama baik keluarga, juga berdampak besar pada saham perusahaan.


Semua merasa dirugikan dan dikecewakan dari peristiwa ini. Bagaimana denganku? Tentu saja merasa kecewa juga. Gadis yang aku cintai dalam diam sedari dia masih bocah, ternyata kesuciannya sudah direnggut oleh kakak iparnya sendiri.


Padahal aku berjuang sekuat tenaga menunggu hingga dia dewasa, setelah ranum hendak kupinang. Nyatanya aku kalah start. Malah diambil dengan cara licik dan tak bermoral. Bahkan kini sudah ada janin yang tumbuh di perutnya.


Permainan takdir macam apa ini?


Di rumah sakit, kini hanya tinggal aku, Om Arifin dan Tante Ratna yang menjaga Lilis. Kami berniat menginap di sini, menunggu sampai Lilis sadar dari pingsannya.


Tante Ratna duduk di kursi sebelah ranjang rawat Lilis dengan Om Arifin berdiri di sebelah istrinya.. Sedang aku, duduk di sofa tunggal ruangan rawat ini.

__ADS_1


"Bagaimana kalau anak Lilis nanti diberikan saja pada Evan dan Laras setelah lahir? Evan juga ayah kandungnya." Perkataan Om Arif membuat aku dan Tante Ratna benar-benar terkejut.


"Maksud Ayah apa?" tanya Tante Ratna dengan raut wajah bingung.


Sepasang suami istri itu mendekatiku, menjauh dari ranjang Lilis, agar tak mengganggu istirahatnya. Om Arifin dan Tante Ratna duduk di sofa panjang, sedang aku duduk di sofa tunggal.


"Setelah dipikir-pikir, benar kata Laras. Seandainya anak Lilis dirawat oleh Laras dan Evan, dia bisa hidup lengkap dengan ayah dan ibunya. Meski Laras bukan ibu kandungnya."


"Aku kurang setuju, Om. Apa Om bisa menjamin kalau Laras akan benar- benar menyayangi anak Lilis?"


"Kenapa tidak?"


Om Arif seperti keberatan. Tante Ratna hanya diam menyimak perbincangan antara aku dan Om Arif.


"Laras masih bisa mengandung dan dia bukan wanita mandul. Bisa saja anak itu menjadi pancingan agar Laras bisa hamil," terangku.


"Bukannya itu akan menjadi kabar baik dan menguntungkan Laras? Dia jadi bisa mengandung anaknya sendiri."


"Benar, Om. Itu sangat positif. Tapi, seandainya Laras sudah mengandung anaknya sendiri, apa Laras akan tetap memberikan perhatiannya pada anak itu? Menilik dari cara anak itu hadir di dunia ini. Maaf, kalau Om merasa aku menjelekkan Laras. Berpikirlah ke depan. Kita semua mengetahui betul sifat Laras seperti apa."


Om Arif berkata dengan wajah lelah. Pasti dia merasa dilema antara putri sulung dan putri bungsunya. Ditambah sifat mereka berdua yang sangat bertolak belakang. Sedang Tante Ratna matanya kembali berkaca-kaca. Wanita lembut sepertinya sudah pasti hatinya sangat mudah tersentuh.


"Bukannya Om yang lebih mengenal sifat Lilis, ya? Lilis pasti nggak akan mau memberikan anaknya untuk mereka rawat. Hati dan keras kepalanya itu pasti sulit untuk dilawan. Lagi pula, mana ada seorang ibu yang mau, baru saja melahirkan sudah harus dipisahkan dari anaknya," sarkasku.


Om Arif mengendurkan bahunya. Matanya memandang di mana Lilis berbaring dengan wajah pucatnya.


"Melihat dari keras kepalanya, dia pasti akan memilih mempertahankan dan merawat anaknya sendiri bagaimanapun caranya. Kalau dari hatinya yang lembut, sudah pasti dia akan melindungi anaknya segenap tenaga. Meski harus mengorbankan masa depannya, dan mendengar omongan buruk dari orang-orang." Terselip nada bangga dari perkataan Om Arif.


Air mata lolos dari mata Tante Ratna. "Aku merasa menjadi ibu yang tak berguna. Bisa-bisanya aku tak tahu apa dialami oleh anakku sendiri. Kemana saja aku selama ini? Membiarkan anaknya berjuang sendiri menjalani hidup seperti itu. Lilis pasti merasa kesulitan menjalani morning sickness-nya sendiri."


Om Arif memberikan selembar tisu yang langsung diterima oleh Tante Ratna. Kemudian Om Arif menarik kepala istrinya itu dalam pelukannya. Aku mengalihkan pandangan kemana saja. Asal tak melihat ke mereka berdua.


Setelah tangis Tante Ratna berhenti, semua kembali terdiam, hening, larut dengan pikiran masing-masing.


"Andai saat itu aku tak menyuruh Laras menghubungi Evan untuk menemani Lilis." Om Arif berbicara dengan lirih yang masih bisa didengar jelas oleh aku dan Tante Ratna.

__ADS_1


"Maksudnya apa?" tanya Tante Ratna.


Om Arif menghela nafas panjang, wajahnya menampakkan rasa yang amat bersalah.


"Ya. Waktu itu aku menyuruh Laras untuk menghubungi Evan agar menemani Lilis yang sedang di rumah sendirian. Hujan lebat dengan petir waktu itu membuat aku khawatir dengan Lilis. Apa lagi kalau tiba-tiba listrik padam. Tapi, ternyata di situ menjadi kesalahan fatalku."


Tante Ratna menutup mulutnya yang terbuka karena terkejut.  Aku sendiri meremas pinggiran sofa tanpa sadar..


"Makanya aku berjuang keras untuk mencari bukti yang bisa membuat Evan mengaku. Untungnya aku ingat pernah memasang kamera pengawas di dalam rumah kita. Meski begitu, tetap saja aku merasa kecolongan," lanjut Om Arif lagi sambil mengusap wajahnya.


Tante Ratna menggenggam tangan Om Arif, kemudian berkata menenangkan. "Semua sudah lewat. Sekarang pikirkan jalan keluarnya saja untuk kedua putri kita."


Jadi, Evan memanfaatkan kondisi rumah yang sepi, untuk mendapatkan tubuh Lilis dengan cara yang tak bermoral. Kali ini aku yang akan memanfaatkan peluang ini, untuk mendapatkan cinta yang sudah lama aku pendam pada gadis kecilku.


"Om, bolehkah aku meminta ijin?"


Kedua orang tua itu menoleh padaku dengan raut wajah bertanya-tanya.


"Ijin apa, Devan?" tanya Om Arif.


Aku sudah yakin dengan pilihan ini, kemudian menjatuhkan tubuhku dengan lutut sebagai tumpuannya.


"Ijinkan aku menikahi putri bungsu Om dan Tante. Aku berjanji akan membahagiakannya."


Mata mereka melebar karena terkejut. Om Arif menarik kerah kemejaku.


"Devan! Kamu jangan main-main dengan perkataanmu. Kami sudah pusing dengan banyaknya masalah ini," geram Om Arif.


"Aku tidak main-main, Om. Maafkan aku yang telah lancang mencintai putrimu sedari dulu. Tak apa jika kalian menyebutku dengan sebutan p*dofil, karena usia kami yang terpaut sembilan tahun, tapi inilah kenyataannya. Aku sangat mencintainya."


Om Arif mulai melepas tarikannya. "Sejak kapan?"


"Sejak aku masih tinggal di rumah Om dan Tante. Karena perasaanku yang semakin besar kepada Lilis, aku memutuskan melanjutkan pendidikan di luar negeri. Aku tak ingin mengotori pikiran polos Lilis dengan suatu hubungan romantis, yang memang belum pantas untuk dia rasakan di umurnya. Di sisi lain, aku juga ingin memantaskan diri untuk Lilis kelak. Tapi, malang tak dapat ditolak. Aku tak tahu kejadian ini akan menimpanya."


"Maafkan aku Om, Tante. Ijinkan aku menikahi Lilis. Aku tak bisa berjanji, tapi kebahagiaan Lilis dan anaknya akan menjadi yang paling utama untukku."

__ADS_1


"Aku ... tak bisa."


__ADS_2