Adik Ipar Malang

Adik Ipar Malang
bab 41 Kamera Pengawas


__ADS_3

Adik Ipar Malang


Bab 41 Kamera Pengawas


POV Author


Di tempat lain, Fero sedang memarahi adik perempuannya yang sudah bertindak di luar akal. Dia benar-benar tidak habis pikir dengan kelakuan adiknya itu.


"Freya! Kamu keterlaluan. Aku enggak tahu dengan jalan pikiran kamu!" marah Fero pada adiknya dengan nada tinggi.


"Kamu enggak seharusnya melakukan itu pada Lilis. Dia enggak ada hubungannya dengan balas dendam kamu. Dia enggak tahu apa-apa, Fre. Aku setuju untuk bantu kamu, supaya kamu dapat keadilan. Bukan untuk jadi pembunuh," terang Fero lagi kepada adiknya.


Teringat dengan jelas, saat Freya mendorong Lilis dengan kedua telapak tangannya. Jantungnya seakan berhenti berdetak saat itu juga. Secepat kilat dia menarik Freya, saat berniat kabur dari tempat itu, lalu mengajaknya bersembunyi. Meski di sisi hatinya sangat berat untuk meninggalkan Lilis, dan ingin sekali menolongnya. Dalam hati Fero terus memanjatkan doa untuk keselamatan Lilis.


Setelah situasinya aman, kemudian mereka berlari menuju kamar Freya. Terlihat jelas di wajah Fero menyiratkan kekhawatiran. Khawatir tentang kondisi Lilis saat ini. Juga khawatir dengan nasib Freya, seandainya ada yang melihat kejadian tersebut.


Freya sendiri hanya memandang ke arah lain. Seolah-olah hal yang terjadi barusan adalah hal biasa, bukan masalah besar. Kemudian membuka penutup kepala dari hoodie warna hitam yang dipakainya, dilanjutkan dengan melepas masker yang menutupi separuh bagian bawah wajah.


"Apa Kakak mendadak amnesia?" tanya Freya dengan nada sarkas.


"Maksudmu?" Fero memicingkan matanya.


"Kakak lupa, kalau Kakak juga pernah hampir mencelakakan Lilis?"


Fero tertegun seperti patung. Otaknya masih mencari ingatan yang dimaksud Freya.


"Masih belum ingat?" Freya tersenyum sinis. "Kakak membayar orang untuk berusaha menyerempet Lilis menggunakan mobil, kemudian Kakak datang menyelematkannya di waktu yang tepat. Seakan-akan Kakak ini superhero bagi Lilis."


Melihat Fero hanya diam, Freya melanjutkan perkataannya. "Andai Kakak tidak tepat perhitungan saat itu, sudah pasti sekarang Lilis dan anaknya mungkin tidak akan selamat. Itu malah lebih baik." Di akhir kalimat, Freya mengatakannya dengan bergumam. Sehingga Fero tidak begitu jelas mendengarnya.


"Itu ... saat itu aku sudah memperhitungkannya dengan matang. Semua sudah terencana, sedang yang kamu lakukan itu spontan. Seandainya tadi Lilis tidak bisa berenang bagaimana? Atau tidak ada yang menyelematkannya dengan cepat?" Suara Fero kali ini merendah.


Freya memicingkan matanya mendengar Fero yang beralasan dan seperti mengkhawatirkan Lilis. "Bilang saja Kakak sudah ada hati dengan Lilis. Benar, kan?" tuding Freya.


"Bukan seperti itu," kilah Fero.


"Halah! Toh, Lilis ternyata bisa berenang, kan? Dia selamat. Itu hanya hal kecil."


"Hanya hal kecil, katamu? Ini malam, pasti air kolamnya dingin."


Freya cemberut mendengar kakaknya seperti menyudutkannya, dan lebih membela orang lain. 


"Pokoknya kalau kamu masih ingin melanjutkan rencana kita, jangan sakiti orang yang tidak bersalah. Ingat itu!" ucap Fero saat Freya hendak membuka mulutnya untuk protes.


Freya semakin jengkel, tapi tetap dia tahan. Dirinya juga merasa sedikit bersalah. Seharusnya dia tidak gegabah. Kalau ternyata Lilis tidak bisa berenang, bagaimana? Pikirnya frustrasi. Semua karena dia tidak bisa menahan rasa cemburunya.


Saat Freya sedang berjalan-jalan di dekat kolam renang, tidak sengaja dia melihat Devan sedang sibuk di pinggir kolam renang yang sedang dihias dengan dekorasi yang romantis. Dia bertanya kepada salah satu karyawan di sana. 


Jawaban karyawan tersebut membuat hatinya panas karena terbakar cemburu. Freya merasa kalau Tuhan tidak adil kepada dirinya, dan lebih berpihak kepada Lilis.


Seketika rasa cemasnya berubah menjadi puas, telah memberi Lilis sedikit kejutan. Kini tidak ada rasa penyesalan sama sekali telah mendorong Lilis ke dalam kolam renang.


"Bagaimana kalau perbuatanmu terekam oleh kamera pengawas?" ucap Fero tiba-tiba. Membuyarkan lamunan Freya.


Mata Freya membulat mendengarnya. Dia tidak berfikir sampai ke sana. Cemburu benar-benar sudah menguasai hati dan pikirannya.


"Tapi aku menutupi wajahku dengan masker, juga memakai hoodie dan kepalaku juga ditutup."


"Semoga saja kamu tidak meninggalkan jejak apa pun di sana."

__ADS_1


"Pasti, Kak."


"Aku pergi dulu. Untuk sementara jangan ke mana-mana. Pasti di luar masih sibuk mencari pelakunya." 


Fero pergi begitu saja meninggalkan Freya di dalam kamarnya. Dia benar-benar merasa cemas dengan kondisi Lilis saat ini. Ingin sekali menengok Lilis untuk memastikan keadaanya. 


Kaki tanpa sadar melangkah menuju kamar yang ditempati oleh Lilis dan Devan. Dia berdiri tepat di saat dirinya mengantar Lilis malam itu. Hatinya benar-benar gelisah.


Pintu dari kamar Lilis terbuka. Fero langsung sembunyi di balik tembok, saat Devan dan Evan keluar dari kamar. Terdengar percakapan kalau mereka berdua akan pergi menuju ruang kontrol yang memantau seluruh kamera pengawas di resort ini.


Aku terlambat. Mudah-mudahan mereka tidak menemukan petunjuk apa pun di sana, batin Fero.


Fero berbalik badan, kembali menuju kamarnya. Dia yakin kalau Lilis pasti sudah ditangani oleh orang-orang yang sangat menyayanginya. Dia tersenyum miris membayangkan hal tersebut. Padahal dirinya juga termasuk salah satu orang yang menyayangi Lilis, tapi malah menyakitinya.


•••


Devan dan Evan sudah sampai di ruang kontrol kamera pengawas. Sudah ada satu orang laki-laki operator kamera pengawas, sedang duduk di hadapan layar monitor. Layar monitor tersebut menampilkan puluhan kamera pengawas yang tersebar di resort ini.


Melihat Evan, adik dari pemilik resort ini, operator kamera pengawas tersebut berdiri. 


"Maaf, Pak. Saya tidak tahu Bapak akan datang ke ruangan ini." Laki-laki ber-name tag Fiyan itu sedikit canggung. 


Evan melihat wajah operator tersebut sangat lelah dan kusut. Sepertinya terlihat kurang tidur.


"Perlu saya panggilkan Bapak Manajer, Pak Evan?" tanya operator itu lagi.


"Tidak perlu," tolak Evan. 


Saat kejadian di kolam renang, Evan sudah memberi perintah kepada manajer, agar berita ini jangan sampai tersebar. Selain melindungi privasi Lilis, juga untuk menjaga nama baik resort ini. 


"Kami ingin melihat rekaman kamera pengawas di bagian kolam renang sekitar jam 19.00 tadi," ucap Devan langsung saja pada intinya.


Perempuan mungil dengan perut buncitnya itu sedang merentangkan tangan dengan mata terpejam. Angin malam sedikit berhembus, menerbangkan helaian rambut sebahunya. Ditambah lampu lampion menambah sekelilingnya menjadi tampak seperti peri kecil di antara indahnya warna. Evan dan Devan takjub melihat betapa indahnya pesona Lilis yang sangat natural, namun memikat bersamaan. 


Evan sendiri merasa sangat berdosa. Dalam hatinya menyimpan rasa bersalah yang amat besar. Bagaimana bisa dia merusak kegadisan seindah ini? batinnya amat menyesal.


Sama seperti Evan, Devan pun demikian. Sangat terpesona dengan istri kecilnya itu. Dia jadi ingin menyimpan keindahan itu untuk dirinya sendiri. 


Tidak lama kemudian keindahan itu berubah suasana menjadi menegangkan. Kala datang seseorang mengenakan celana jeans, dengan hoodie hitam yang topinya menutupi kepala, ditambah masker hitam menutupi sebagian wajahnya.


Tangan mereka berdua masing-masing mengepal dengan erat. Bahkan wajah mereka sama-sama mengeras, dengan mata memandang tajam ke arah layar monitor. Andai tatapan seperti senjata, sudah pasti monitor tersebut sudah rusak dan hancur.


Di depan sana, orang yang tidak dikenal itu mendorong Lilis hingga tercebur ke kolam renang dengan sangat tega. Kemudian pergi dengan cepat meninggalkan tempat itu menuju tempat yang tersembunyi dari kamera pengawas. 


Klik!


Devan mem-pause tayangan di layar monitor.


"Siapa dia?" geram Devan.


"Dilihat dari postur tubuhnya yang ramping, sepertinya dia perempuan."


"Sepertinya begitu." Devan memijat pelipisnya. "Kau ingat saat makananmu diberi obat?"


Evan mengangguk.


"Dia juga mengenakan masker. Hanya saja, saat itu dia tidak menutupi kepalanya, jadi jelas terlihat kalau dia seorang perempuan." Devan melanjutkan perkataannya.


"Mungkinkah mereka orang yang sama?" tanya Evan.

__ADS_1


Devan tidak menjawab. Dia juga tidak tau harus menanggapi seperti apa. 


Mereka berdua sama-sama diam. Memikirkan siapa dan bagaimana cara untuk mencari tahu orang misterius itu. Kemudian Evan menekan kembali tombol play. 


"Lihat!" tunjuk Evan dengan dagunya ke arah layar. Devan kembali memfokuskan pandangannya. 


Ada sebuah tangan yang menarik tangan si pendorong Lilis. Seperti mengajak untuk kabur dari tempat itu. Sayangnya hanya sebuah tangan yang terekam kamera. Wajahnya tidak sampai terekam. Sepertinya dia mengetahui bagian-bagian di mana yang tidak tersorot oleh kamera pengawas.


"Apakah pelaku lebih dari satu?" gumam Evan bertanya-tanya.


"Kasihan sekali Lilis. Di saat kondisi hamil seperti ini, ada yang ingin mencelakainya."


"Sekarang kita harus melakukan apa? Petunjuknya sangat minim. Lalu tujuan dia itu apa melakukan ini?" tanya Evan, yang sudah pasti mereka berdua belum tahu jawabannya.


"Itu kita pikirkan nanti. Sekarang aku harus kembali ke kamar. Aku sudah meninggalkan Lilis terlalu lama. Mungkin juga sebaiknya aku cepat kembali ke rumah." 


"Urusanku juga sepertinya sudah selesai. Aku juga akan kembali."


Mereka berdua bersiap-siap untuk pergi dari ruang kontrol kamera pengawas. Evan melihat ke arah Fiyan, sang operator kamera pengawas, sedang yang ditatap langsung canggung seketika.


"Kamu sudah melihat semuanya, bukan? Berita ini jangan sampai tersebar, agar tidak meresahkan pengunjung yang lain. Juga awasi orang yang tadi. Beri tahu aku segera, kalau dia terlihat di kamera pengawas lagi!" perintah Evan tegas, yang langsung diangguki oleh Fiyan. 


"Siap, Pak! Saya akan melaksanakan perintah Bapak dengan sebaik-baiknya," tanggap Fiyan.


"Aku akan mengantar sampai ke kamarmu."


"Kau ingin mengantarku atau kau ingin bertemu dengan Lilis?" tanya Devan ketus.


"Bisa keduanya."


Sampai di depan kamar, Devan membuka pintu hanya sedikit lebar. Kepalanya menyembul ke dalam, sedang badannya berada di luar. Menutupi celah pintu yang terbuka, agar Evan tidak bisa melihat ke dalam apalagi merangsek masuk.


Dia melihat istri kecilnya masih terlelap. Kemudian kembali ke luar, dan memberitahu pada Evan.


"Sebaiknya besok lagi saja. Toh, sekarang sudah larut."


"Ya, sudah. Aku titip Lilis. Tolong jaga dia!"


Devan mengangguk. Melihat Evan pergi ke kamar penginapannya sendiri, yang letaknya tidak jauh dari kamar miliknya dan Lilis. Kemudian dia juga ikut masuk, lalu merebahkan tubuhnya di samping Lilis. Mengistirahatkan tubuh, untuk menghadapi esok hari. Meski badan sudah berbaring, tapi isi dalam kepala Devan masih seperti sedang tawuran.


Pagi harinya, setelah selesai bersih-bersih, mereka berdua akan sarapan di restoran. Lilis yang meminta untuk makan di luar kamar. Devan mau tidak mau harus mengalah.


"Kak, tolong jangan bilang pada keluarga kita tentang apa yang aku alami semalam, ya. Aku tidak mau mereka khawatir.


Benar-benar berhati ibu peri. Sudah terkena masalah, masih memikirkan perasaan orang lain, batin Devan.


"Apa Kakak sudah terlanjur kasih tahu?"


"Belum. Aku terlalu panik semalam. Di pikiran aku hanya ingin mencari tahu siapa pelakunya."


Lilis lega mendengarnya. Dia merasa kalau sudah merepotkan keluarganya selama ini. Jadi, Lilis tidak ingin menambah pikiran khawatir orang tuanya. 


"Ya, sudah. Ayo sarapan dulu! Setelah ini, kamu ikut aku untuk bertemu teman lama aku. Kamu mau, kan?"


"Ke mana kita akan pergi?"


"Di kafe, tapi dia minta untuk bertemu di luar resort ini. Apa kamu keberatan?"


"Enggak, Kak. Sekalian jalan-jalan."

__ADS_1


"Sudah enggak mager, nih." 


__ADS_2