Adik Ipar Malang

Adik Ipar Malang
bab 27 Masalah Lagi


__ADS_3

Adik Ipar Malang


Bab 27 Masalah Lagi


POV Laras


Tepat di lorong menuju toilet, bola mataku hampir terlepas melihat pemandangan di depan sana. Di depan toilet, Evan menghadap cermin sedang mencuci tangan di westafel. Di belakangnya ada seorang wanita memeluknya begitu erat.


Toilet di restoran ini hanya ada dua. Satu untuk pria dan satu untuk wanita, dan satu westafel tepat di depan toilet dengan satu buah cermin besar. Kebetulan juga tidak banyak tamu yang ingin menggunakan toilet.


Aku berusaha menajamkan telingaku, agar bisa mendengar percakapan mereka. Tetap dengan menyembunyikan badanku dari penglihatan mereka.


"Apa kabarmu, Tuan. Sudah lama tidak berjumpa," ucap wanita itu sambil memeluk Evan dari belakang.


"Lepas! Siapa kamu?" Evan menyentak tangan yang melingkar di pinggangnya. Kemudian berbalik menghadap wanita itu.


"Aku rindu menemani Anda minum. Kapan Tuan datang ke bar lagi? Aku bisa memberikan servis yang lebih memuaskan dari yang kemarin." Wanita itu berkata dengan nada manja yang dibuat-buat. Aku sangat jijik mendengar suara wanita itu.


Apa maksudnya servis yang diberikan wanita itu pada Evan? Dari pakaiannya, dia terlihat seperti wanita panggilan. Bagaimana tidak? Pakaiannya kurang bahan seperti itu. Dress ketat dengan panjang hanya setengah paha.


Saat Evan merasa frustrasi karena Lilis menikah dengan Devan, dia melarikan dirinya ke bar dan sering pulang dalam keadaan mabuk. Mungkinkah saat di bar, wanita itu menemani Evan minum?


"Menjauh dariku! Aku sudah menikah. Aku tidak mau istriku salah paham!" hardik Evan pada wanita itu. Suaranya memang tidak terlalu keras, tapi cukup tegas.


"Aku tadi juga melihat istrimu, kok. Kenapa Tuan sampai datang ke bar? Padahal istri Tuan sangat cantik."


Wanita itu mulai mendekati Evan lagi. Jarinya dia mainkan di dada laki-laki berstatus suamiku itu. Andai aku tak sedang menguping mereka, sudah kupatahkan jarinya.


"Bukan urusanmu. Sekarang enyah dari hadapanku!"


"Baiklah. Tapi, kalau perasaan Anda sedang tidak baik, Tuan bisa datang ke bar lagi. Aku siap kapan pun untuk melayani Tuan."


"Aku tak sudi untuk datang ke sana lagi."


Aku meremas dadaku yang berdenyut kencang. Rasanya jantung ini seperti ingin hancur mendengar percakapan mereka. Baru dua bulan kami berbaikan, kenapa harus seperti ini?


Bagaimana bisa dia melampiaskan kekesalannya dengan bermain wanita di bar. Aku masih bisa memaafkan kesalahannya yang melecehk*an adikku, tapi ternyata dia juga bermain dengan wanita lain di luar sana. Apa lagi wanita yang bekerja di bar seperti itu.


Belum sempat aku menghindar, ternyata Evan sudah melihatku duluan. Aku memandang Evan dengan tatapan tajam. Andai tatapan mampu membun*h, pasti laki-laki di hadapanku itu sudah mati sekarang.


"Laras, kamu sejak kapan ada di sini?" Muka Evan kentara sekali salah tingkah


"Sejak wanita itu memelukmu." Aku menjawab dengan ketus.


"Sayang, ini bukan seperti yang kamu lihat. Ak-"


"Lalu seperti apa yang aku lihat?"


"Aku sama sekali tak mengenal dia."


"Tapi kamu bersamanya saat di bar. Bahkan diservis sampai puas bukan?"


"Sayang-"


"Sudahlah. Aku mau pulang!" ucapku memotong perkataan Evan yang ingin memberi penjelasan.


Evan mengikutiku di belakang menuju ruang VIP tempat kami makan tadi. Terlihat dia membuka tutup mulutnya, mungkin masih ingin memberi penjelasan padaku. Tapi aku langsung menatapnya dengan tajam.


Aku tak mau ribut di sini. Yang akhirnya akan menjadi bahan tontonan tamu-tamu lain.


"Tunggu dulu di mobil. Aku mau ke kasir dulu." Perintah Evan padaku.

__ADS_1


Aku langsung menyambar tas, dan berjalan dengan cepat keluar restoran. Mood-ku benar-benar rusak. Rasanya sakit seperti tertusuk-tusuk, marah, dan ingin nangis, bercampur jadi satu.


Saat akan sampai di pintu keluar, hampir saja aku menabrak seseorang kalau tak segera menghentikan langkah kakiku.


"Maaf, aku tak sengaja," ucap wanita itu.


"Freya," ucapku lirih. Tak disangka bertemu dengannya di sini.


"Laras. Kamu di sini juga? Sama siapa?" Dia juga menampakkan wajah terkejutnya.


"Aku sama Evan. Kalau kamu sama siapa ke sini? Kak Elan, ya?" tanyaku balik.


"Bukan. Aku ada janji temu sama temen lama. Sekalian reuni."


"Oh, begitu." Aku tersenyum untuk menanggapinya. "Maaf aku harus segera pergi. Kapan-kapan lagi kita ngobrolnya. Permisi." Aku menganggukkan kepala pada Freya. Kemudian pergi menuju parkiran untuk segera masuk ke dalam mobil.


"Iya. Hati-hati!" Samar terdengar suara Freya teriak mengiringi kepergianku. Semoga dia bisa memaklumiku.


Aku tak ingin berbicara dengannya saat mood-ku sedang hancur seperti ini. Takut malah tak sengaja ada kata-kata yang menyakiti. Jadi, lebih baik aku menghindar dulu.


Setelah duduk di dalam mobil, tak berselang lama Evan juga terlihat berjalan menuju parkiran, kemudian masuk ke dalam mobil. Kami masih saling diam, bahkan mesin mobil juga belum dinyalakan.


"Antar aku ke rumah ayah." Akhirnya aku yang lebih dulu membuka pembicaraan.


"Tidak bisa," tolak Evan dengan nada datarnya.


"Kenapa?"


"Kita selesaikan dulu masalah ini di rumah. Aku tak mau berkendara dengan pikiran kacau."


Aku diam saja. Benar, sebaiknya bicarakan di rumah. Dari pada nanti di jalan terjadi sesuatu.


*


Aku masih memandang ke sebelah kiri. Mobil yang lain juga ikut berhenti. Sampai ada yang berhenti tepat di sebelah mobil kami, sebuah mobil mini bus berwarna merah jambu.


Ada yang sedikit menarik perhatianku dari mobil itu, ialah pengemudinya. Di sana, sosok Freya yang duduk di belakang stir kemudi. Kemudian di sebelahnya duduk wanita yang ... itu wanita yang tadi memeluk Evan.


Aku bisa melihat dengan jelas sosok Freya karena lampu di dalam mobil menyala. Saat aku ingin menajamkan mata untuk melihat sosok di sebelah Freya, tiba-tiba lampu di dalam mobil mati.


Bagaimana Freya bisa bersama dengan wanita itu? Mau memberi tahu Evan juga percuma, lampu sudah berganti warna. Aku juga tak memiliki bukti.


Sampai di rumah, Evan langsung memberi penjelasan padaku. Aku hanya diam mendengarkan sambil berganti pakaian tidur.


"Apa kamu mendengar penjelasanku, Laras?"


"Aku dengar semuanya. Aku sudah cukup mengalah dan memaafkanmu, saat kamu mel*cehkan Lilis. Bahkan sampai membuatnya hamil. Tapi, ini dengan wanita lain."


"Aku memang minum di bar sampai mabuk. Tapi, aku berani bersumpah, kalau aku tak sampai melakukan di ranjang. Kamu bisa bertanya pada Kak Elan."


"Tapi tidak setiap kamu ke bar Kak Elan ikut, kan?"


"Beri aku waktu untuk kasih bukti ke kamu."


"Baik. Selama kamu mencari bukti itu, aku mau tinggal di rumah ayah."


Evan melebarkan matanya. Sepertinya tak terima dengan keinginanku.


"Aku mohon. Aku sangat merindukan mereka. Aku butuh seseorang yang mampu menenangkan hatiku," pintaku dengan mengiba.


"Oke. Tapi aku yang antar kamu."

__ADS_1


Aku setuju saja, dari pada terus berdebat yang tak membuatkan hasil. Aku benar-benar merasa butuh dukungan dari orang yang tepat. Ibulah sosok yang tepat itu.


Aku langsung saja mengambil sling bag, kemudian pergi keluar kamar tanpa mengganti baju tidurku. Di rumah ibu masih banyak baju milikku yang tertinggal di kamar.


"Laras!" pekik Ibu terkejut setelah membuka pintu. "Kamu tumben udah malam baru ke sini. Udah makan malam?" tanya Ibu menatapku heran.


"Sudah, Bu. Aku langsung ke kamar, ya." Aku langsung ngeloyor ke kamar. Waktu sudah menunjukkan jam sepuluh malam. Biarkan saja Evan yang menjawab kalau ada banyak pertanyaan dari Ibu.


Sebelum pintu kamar tertutup, aku masih bisa mendengar percakapan Ayah, Ibu dan Evan di ruang tamu. Kebetulan kamarku dekat dengan ruang tamu, dan keadaan juga sepi.


"Kamu nggak tidur di sini juga sama Laras?" tanya Ayah.


"Tidak. Laras bilang dia kangen sama Ibu," jawab suamiku itu.


"Apa kalian sedang ada masalah?" Kali ini Ayah yang bertanya.


"Tidak juga, Bu. Mungkin memang sedang kangen dengan Ayah dan Ibu. Saya titip Laras di sini."


"Mungkin Laras sedang kumat manjanya. Kamu hati-hati di rumah, ya."


"Kalau begitu saya pamit. Assalamualaikum."


Kemarin saat Evan masih mengejar-ngejar Laras, perasaanku masih ngotot untuk memertahankan Evan. Tak menyangkal kalau sebenarnya aku masih sangat mencintainya. Sekarang, jiwa raga seperti sudah enggan untuk bertahan lagi.


Pintu kututup rapat setelah suara mobil sudah tak terdengar lagi. Aku langsung mengistirahatkan badan dan pikiran yang sudah lelah.


Besoknya aku berangkat ke kantor bersama Evan. Pagi sekali dia sudah ada di depan rumah. Aku tak bisa menolaknya, karena tak ingin menimbulkan keributan pagi, cukup keributan semalam saja.


Menjelang jam makan siang Kak Elan mengirim pesan, kalau dia menungguku di kafe dekat kantor. Mungkin dia sudah tahu masalahku dengan Evan.


Sampai di kafe ternyata sudah ada Evan dan Freya juga di sana. Sepertinya mereka sedang menungguku.


"Maaf, aku sedikit terlambat." Aku langsung duduk di sebelah Evan, dan berhadapan dengan Freya.


"Laras, Evan. Kalian bertengkar lagi?" tanya Kak Elan.


"Kalau ingin membahas masalah pribadi, seharusnya jangan ada orang lain di sini," sindirku seraya melirik Freya.


Yang disindir sedikit salah tingkah. "Maaf, aku hanya ingin mengajak makan siang Elan. Aku nggak tahu kalau kalian sedang ada masalah,"  ucapnya dengan raut wajah bersalah. "Begini saja, aku akan pergi. Sekali lagi aku minta maaf, ya."


"Jangan pergi. Ini cuma masalah kecil, kok." Kak Elan menahan tangan Freya untuk tetap duduk di tempatnya. Kemudian dia menatapku dengan serius.


"Laras, bar tempat yang kami datangi itu tidak menyediakan kamar. Bahkan tempatnya jauh dari hotel. Wanita di sana hanya duduk untuk menemani minum. tapi Evan selalu menolaknya. Jadi, kamu coba percayai dengan Evan. Aku yakin, Evan benar-benar serius ingin mempertahankan rumah tangga kalian. Beri kesempatan sekali lagi untuknya." Kak Elan berusaha menjelaskan padaku.


Aku hanya bergeming, menatap bergantian antara Evan dan Kak Elan. Evan sendiri menatapku dengan penuh pengharapan.


"Aku yang akan jadi jaminan kalau Evan berbuat sesuatu yang menyakitimu lagi. Bahkan Papa dan Mama juga akan turun tangan untuk menghukumnya," sambung Kak Elan lagi.


"Beri aku waktu." Hanya itu yang ada dipikiranku sekarang.


"Baik, sekarang kita makan siang saja. Ayo, pesan makanan kalian." Kak Elan menyerahkan buku menu padaku dan Evan.


Tiba-tiba ada yang menepuk Evan dari samping, dan suara wanita yang pernah aku dengar.


"Hai, Tuan. Kita berjumpa lagi. Sepertinya kita berjodoh." Benar, ternyata wanita penggoda semalam.


"Kamu wanita yang di bar itu, kan? Jangan mengganggu kami. Ini bukan tempat pekerjaanmu. Atau aku akan melaporkan pada bosmu." Ancam Evan padanya.


Wanita itu pergi dengan senyum sinisnya. Dasar wanita tak tahu malu. Beraninya menggoda suami orang di depan umum.


Kenapa Freya dan wanita itu tak saling tegur sapa? Bahkan mereka berdua seperti orang yang tak saling mengenal. Lalu yang aku lihat malam itu, siapa? Kenapa jadi rumit seperti ini?

__ADS_1


 


__ADS_2