
Adik Ipar Malang
Bab 19 Rencana Evan
POV Evan
Dulu aku sangat berharap kalau Laras akan kembali bekerja di kantor ini bersamaku. Tapi sekarang berubah, rasanya aku kurang suka kalau dia kembali, apa lagi dia akan jadi sekertarisku.
Besok lusa, Laras baru bisa bekerja di sini. Sebaiknya aku manfaatkan untuk menjenguk Lilis. Mudah-mudahan dia sudah kembali sehat. Entah kenapa aku jadi sangat merindukannya. Mungkin karena ikatan batin dengan calon anakku.
Semua pekerjaan ditangguhkan ke asistenku. Biar saja nanti sepulang dari menjenguk Lilis, aku baru akan mengeceknya. Tak apa kalau harus lembur.
Sampai di depan rumah mertua, aku langsung mengetuk pintu. Menunggu sampai ada yang membukakan. Di jam seperti ini biasanya tidak ada orang di rumah, dan yang ada di rumah pasti hanya Lilis, karena dia sedang sakit.
Benar. Begitu pintu terbuka, Lilis yang menyambutku. Meski terlihat dia sempat terkejut melihatku, dan mundur beberapa langkah, aku tetap harus bicara dengannya.
"Ma-maaf ada perlu apa ya? Apa kamu mencari ayah atau ibu? Mereka tidak di rumah. Kamu bisa kembali lagi setelah mereka pulang."
Apa dia bilang? Kamu? Dia memanggilku dengan 'kamu'. Begitu bencikah dia padaku? Tak apa kalau menyebutku hanya dengan kakak ipar atau Kak Evan. Tapi dia memanggilku dengan sebutan kamu.
Aku tetap fokus pada tujuan awal. Mengajaknya bicara dengan baik-baik. Apa lagi kalau sampai dia mau aku ajak pergi dan membangun keluarga kecil bersama. Membayangkannya saja sudah bahagia, apa lagi kalau sampai benar terjadi.
Sayang sekali, Lilis sangat sulit diajak untuk ikut denganku. Dia terus membujukku untuk kembali dengan Laras. Tak bisa memungkiri, di satu sisi masih ada perasaan untuk Laras, di sisi lain aku pun tak ingin melepaskan Lilis begitu saja. Ada anak di antara aku dan Lilis.
Sampai lagi-lagi Devan datang mengganggu urusanku. Dia bilang apa? Aku mengganggu calon istrinya? Calon istri?
"Lilis mengandung anakku, aku yang berhak untuk menjadi calon suaminya," geramku.
Jelas-jelas aku penyumbang benihnya, bagaimana mungkin Devan yang akan menikahi Lilis?
"Ck, tak sadar diri. Sudah punya istri satu, masih belum cukupkah?" tanya laki-laki tengil itu.
Kenapa tidak? Bukankah wajar laki-laki beristri lebih dari satu? Hartaku sangat cukup untuk menghidupi mereka berdua, meskipun Laras tak bekerja. Sepertinya dia berusaha memancing kemarahanku, supaya terlihat jelek di mata Lilis.
Aku tak tahu kalau Ayah mertua akan pulang juga. Kini aku benar-benar tidak bisa berbicara dengan Lilis. Sampai akhirnya Ayah mengusir aku dan Devan untuk kembali ke kantor masing-masing. Saat aku pergi pun Lilis tak memandangku. Lebih baik aku segera kembali ke kantor.
Sepanjang perjalanan aku terus memikirkan perkataan Devan. Dia bilang Lilis calon istrinya. Baru calon, kan, belum menjadi istri. Masih ada kesempatan untukku. Berarti mereka akan menikah. Kira-kira kapan mereka akan menikah?
Sepertinya aku tahu siapa yang harus aku mintai bantuan. Aku akan melakukannya lewat asistenku saja.
"Halo, Hari. Kamu temui seseorang sekarang. Lakukan sesuai yang aku perintahkan. Nanti aku kirimkan lewat email, siapa yang harus kamu temui dan apa saja yang harus dilakukan." Aku menghubungi Hari dengan ponsel di tangan kiri, dan tangan kananku untuk menyetir.
"Hapus email setelah kamu membacanya. Jangan lupa, suruh dia untuk tutup mulut kalau tak ingin diusir dari rumahnya. Aku beri waktu selama dua hari."
Kita lihat, apa mereka akan jadi menikah? Atau aku yang akan menikah dengan Lilis? Lebih baik aku menyelesaikan pekerjaanku setelah aku sampai di kantor nanti.
*****
__ADS_1
Waktunya untuk pulang kerja. Akhir-akhir ini Laras menjadi perhatian. Dulu aku sangat menginginkan itu, tapi sekarang hati ini tak menghangat dengan perhatiannya.
Setelah pulang kerja, aku akan langsung masuk ke ruang kerja sampai besok pagi. Untungnya di kantor sudah makan duluan, melalui layanan pesan antar. Jadi aku tidak akan kelaparan tengah malam.
Besok Laras sudah mulai bekerja menjadi sekertarisku, dan itu membuatku tidak leluasa memantau Lilis. Tak apa, semua sudah diinstruksikan lewat asistenku, Hari.
Paginya aku berangkat ke kantor bersama Laras. Kami harus tetap terlihat baik-baik saja di depan karyawan. Berita tentang aku yang menghamili adik ipar juga masih tersimpan rapat. Tentu Papa juga tak akan membiarkan berita itu sampai menyebar.
"Kamu sudah tahu ruanganmu, kan?" tanyaku pada Laras setelah sampai di kantor.
"Ya, aku sudah tahu. Masih ingat juga semua seluk beluk kantor ini."
"Selamat bekerja." Aku langsung masuk ke dalam ruanganku.
Cara Papa untuk mendekatkan kembali dengan Laras, belum bekerja untukku. Menurutku, perhatian Laras masih belum tulus, terlihat kaku, berbeda dengan Lilis.
Meski hampir tiap hari bekerja bersamanya, bahkan berangkat dan pulang kerja juga bersama, nyatanya hati ini tetap kosong. Seakan semuanya sudah terlambat, tak ada artinya lagi.
Ponselku berdering ketika aku hendak membuat kopi di dapur, untuk menemaniku lembur di rumah. Aku masih menggunakan ruang kerja untuk tidur, sedang Laras di kamarnya.
"Bagaimana? Sudah dapat?" tanyaku pada Hari.
[Sudah, Tuan. Dari pernyataannya lima hari dari sekarang pernikahannya.]
Tubuhku menegang mendengar berita itu. Lima hari dari sekarang? Kenapa cepat sekali? Apa waktunya cukup untuk mempersiapkan pernikahan? Atau mungkin mereka menikah siri dulu?
"Tetap pantau terus informasi tentangnya. Aku ingin kamu menyiapkan beberapa orang untuk ikut aku. Carikan hunian yang aman dan nyaman, jauh dari jangkauan orang luar, dan lokasinya sulit terdeteksi, lima hari dari sekarang."
"Jadi, lima hari dari sekarang, ya. Itu berarti hari Selasa. Ternyata memilih hari sibuk, supaya aku tak punya banyak waktu untuk mengacaukan pernikahan kalian. Ide yang bagus. Sayang sekali, aku lebih cerdik."
Pantas saja Papa berbuat apa saja supaya aku sibuk. Ternyata ini tujuannya. Sampai membuatku harus lembur hingga dini hari, dan membuat Laras kembali menjadi sekretarisku.
"Tunggu aku Lilis. Calon suamimu ini akan datang pada hari bahagia itu. Laras itu cinta mati padaku. Kalau pun sudah menikah dengan Lilis, pasti dia akan tetap menerimanya. Karena dia sangat mencintaiku. Lagi pula aku tak ingin namaku di coret dari daftar pewaris, seandainya aku menceraikan Laras."
Aku bermonolog sambil melihat foto Lilis yang terpampang di layar ponsel. Diambil secara diam-diam saat hubunganku dengannya masih baik. Dulu aku masih menganggap hanya sekedar rasa nyaman dengannya. Tapi kini ...
Sekilas aku melihat ada bayangan hitam di balik pintu ruang kerja. Mataku menyipit guna melihat lebih tajam di sana.
"Siapa di sana?"
Lebih baik diperiksa saja.
Tak ada siapa pun saat aku sampai di pintu. Apa itu Laras? Ini sudah larut. Pasti dia sudah tidur. Atau mungkin hanya penglihatanku saja yang salah, karena terlalu memikirkan Lilis. Lagi pula nyala lampu remang-remang, pasti hanya hewan yang menutupi lampu, dan menghasilkan bayangan.
Sebaiknya sekarang aku mengerjakan semua kertas-kertas ini secepat mungkin. Supaya hari Selasa aku bisa menjalankan rencana.
*****
__ADS_1
Hari Minggu, biasanya orang akan menghabiskan waktunya untuk bersantai, atau bepergian bersama keluarga. Tidak denganku, yang masih berkutat dengan berkas-berkas kiriman Papa.
Target hari Selasa harus tercapai. Kali ini aku ingin mengerjakan di ruang tamu. Ingin mencari suasana yang beda. Sekalian menonton berita tentang pergerakan politik dan saham.
Terdengar suara langkah hak sepatu dari arah dalam. Aku menoleh, melihat penampilan Laras yang berbeda dari biasanya. Ini masih jam 8 pagi, dia sudah akan pergi. Aku mengernyitkan dahi ketika dia berdiri tepat di depanku.
"Evan, aku pergi dulu, ya. Ada acara dengan teman. Mungkin aku pulang malam," pamitnya padaku.
"Kenapa pakai pakaian seperti itu?"
"Tema. Kali ini tema kita pakai pakaian ini."
"Oh." Hanya itu responku.
"Ya, sudah. Kamu jangan terlalu lelah. Lebih baik gunakan waktu libur untuk bersantai. Sudah beberapa hari ini, kan kita lembur terus di kantor."
"Hm."
Laras menghembuskan nafas dengan kasar. "Aku sudah memasak, semua ditaruh di lemari makanan. Kalau kamu lapar, tinggal hangatkan saja."
"Hm."
Laras menyodorkan telapak tangannya di depanku. Aku menatapnya dengan heran. Sebelah alisku terangkat.
"Cepat, Evan! Aku hampir telat."
Baru saja aku mengangkat tangan, Laras sudah menyambar dan mencium punggung tanganku. Kemudian pergi sambil mengucap salam.
Aku memandangi telapak tangan bekas dicium Laras. Rasanya baru kali ini dia melakukannya. Rasanya ada yang aneh di dalam hati.
Aku kembali melanjutkan pekerjaanku, sampai tak terasa perutku berbunyi. Melirik jam di dinding, sudah jam 12 siang. Pantas perutku berbunyi.
Berjalan menuju dapur, lemari makanan yang menjadi tujuanku, kemudian membukanya. Ada ayam goreng, tempe, tahu, dan sayur sop.
Aku memandangi semua makanan itu dengan terkejut. Benarkah ini semua masakannya dia? Sebaiknya aku makan saja, dari pada membiarkan perut keroncongan.
Saat aku sedang memasukkan makanan ke dalam microwave, ponsel di saku berdering. Hari? Aku langsung mengangkat panggilannya.
"Ada apa?"
"..." Suaranya terdengar ragu-ragu. Sedang apa dia?
"Jangan bertele-tele!"
"..."
"Si*l!" Sambungan langsung kuputuskan sepihak.
__ADS_1
Aku langsung menyambar jaket dan kunci mobil. Bersicepat mengendarainya menuju rumah mertua. Tak memperdulikan suara klakson dan pengendara yang berkali-kali memakiku.
Bagaimana bisa seperti ini?