
Adik Ipar Malang
Bab 26 Laras dan Evan Berbaikan
POV Laras
"Buatkan satu porsi lagi untukku!"
Aku yang sedang meletakkan sepiring nasi goreng di atas meja, sedikit terperanjat mendengar suara bariton milik Evan. Aku menatapnya dengan heran. Kemudian melakukan sesuai perintahnya tanpa banyak bertanya.
Sekarang ada dua porsi nasi goreng di atas meja, spesial pakai telor mata sapi. Kami duduk saling berhadapan. Aku langsung saja memulai sarapan tanpa menunggu dia. Sambil sesekali mencuri pandang, saat Evan mulai memasukkan makanan ke dalam mulutnya.
"Kalau masih tidak enak, tak usah dimakan. Karena aku tak semahir mama, ibu apa lagi Lilis, yang masakannya sangat pas dilidahmu." Aku langsung saja menyindirnya, sebelum dia mengkritik masakanku lagi seperti waktu dia mulai mendiamiku.
Berbeda dengan perkiraanku. Evan terus memakan nasi goreng itu. Bahkan sekarang tinggal sedikit makanan di atas piringnya. Apa seenak itu masakanku?
Aku juga terus makan sarapanku, dengan pura-pura cuek, tapi sesekali mencuri pandang ke arah suamiku itu. Melihat dia menghabiskan nasi goreng buatan tanganku.
"Nasi gorengnya lumayan, meski tak seenak masakan mama, ibu, apa lagi Lilis. Setidaknya tak terlalu asin seperti waktu itu," ucapnya sambil mengelap bibirnya dengan tisu.
Ucapannya barusan telak sampai urat maluku. Memang waktu itu sangat asin, karena memang aku belum bisa masak. Semenjak Evan mulai mengejar Lilis, aku belajar banyak dari ibu dan mama. Bahkan mendapat banyak wejangan bagaimana seharusnya kita sebagai seorang istri.
Aku mulai sadar, ternyata selama ini caraku salah. Aku pikir dengan menjadi wanita karir yang cerdas dan terpandang di luar rumah akan membuat Evan merasa bangga. Ternyata aku masih sangat kurang untuk urusan dalam rumah tangga.
"Terima kasih untuk sarapannya," ucapnya lagi. Kemudian Evan memandangku dengan lekat. Membuatku menjadi sedikit salah tingkah.
Dia sudah mau menghabiskan sarapan saja, aku sudah senang. Kemudian dia mengucapkan terima kasih. Membuatku jadi curiga kalau seperti ini. Ada apa dengannya?
"Kamu tak perlu jadi mama, ibu, atau pun Lilis. Cukup jadi dirimu saja, karena kamu bukan orang lain."
"Maksudmu apa? Kamu pikir aku nggak bisa jadi seperti mereka? Bisa memasak, mengurus suami, beberes rumah sekaligus berkarir?" ketusku dengan nafas memburu.
"Aku belum selesai bicara. Kurangi sifat berpikir negatifmu itu." Kali ini dia menoyor keningku dengan telunjuknya. Ini mengingatkanku sewaktu dulu masih berpacaran.
"Kalau begitu, lanjutkan lagi apa yang ingin kamu bicarakan barusan."
"Terima kasih sudah mau berusaha menjadi istri yang baik. Maafkan aku yang tak mau melihat usahamu. Kita berdua bisa memulai dari awal lagi. Aku akan berusaha merelakan Lilis bersama dengan Devan."
Aku hanya mampu melongo mendengar perkataannya. Apakah ini Evan suamiku yang dingin itu?
"Benarkah? Kita berbaikan sekarang?" pekikku dengan senang.
"Iya."
"Terima kasih." Aku menggenggam tangan Evan dan meletakkannya di pipiku. "Terima kasih, sudah mau kembali lagi denganku. Aku juga minta maaf, karena dulu kurang perhatian dan tidak mengurusmu dengan baik. Aku berjanji akan banyak belajar dan menjadi istri yang seperti kamu inginkan."
"Tak perlu. Cukup jadi dirimu saja. Hanya kurangi waktumu berkarir dan lebih banyak waktu untuk mengurusku di rumah." Evan membelai pipiku.
"Iya. Aku akan melakukannya."
Saking terharunya sampai tidak terasa air mata sudah menetes di pipi. Aku tak tahu apa yang membuat Evan berubah seperti ini. Tetapi, ini merupakan hal yang baik untukku. Semoga aku dan Evan bisa membenahi rumah tangga kami ke arah yang lebih baik dari sebelumnya.
Walau dia mengucapkan dengan kaku dan tak romantis, tapi memang seperti itulah dia. Benar-benar tak berubah sama sekali. Untung aku sayang.
__ADS_1
"Kita berangkat ke kantor sekarang. Aku tunggu di mobil," ucapnya sambil pergi dari meja makan.
Aku langsung menghabiskan sarapan dan meminum air untuk melancarkan makanan yang masuk melalui kerongkonganku. Tak lupa mencuci peralatan sampai bersih. Kemudian bergegas menyusul Evan.
Akhirnya aku kembali bisa mengawali pagi dengan hati yang bahagia. Semoga hari ini akan menjadi hari yang indah sampai besoknya, dan begitu seterusnya.
Tepat kami sampai di parkiran basemen, gawai Evan berbunyi. Sepertinya ada pesan masuk.
"Kak Elan mengajak makan siang bersama. Sepertinya dia ingin mengenalkan teman dekat wanitanya kepada kita." Dia memberitahuku sambil memperlihatkan pesan masuk dari Kak Elan.
"Benarkah? Bagus, dong. Kalau jodoh, semoga bisa ke jenjang yang lebih serius."
"Baru teman dekat. Lagi pula kita belum tahu wanita seperti apa yang mau dengan Kak Elan." Evan kembali memasukkan gawai ke dalan saku jasnya.
"Kamu ini. Jangan selalu menyepelekan kakakmu. Bisa saja, kan, wanita itu yang mengejar dan berusaha mendekati Kak Elan."
"Sama saja."
Aku hanya memutar bola mata dengan malas. Elan dan Evan ini kakak beradik yang jarang akur. Tapi jauh di dalam hatinya, mereka benar-benar sangat menyayangi satu sama lain. Saling mengingatkan dan menasehati, walau kadang caranya sedikit ekstrim.
*****
"Maaf, kami sedikit terlambat," ucapku menyesal karena membuat mereka lama menunggu. Kami langsung duduk di kursi yang ada di hadapan mereka.
"Tak apa." Kemudian Kak Elan melihat ke arah perempuan di sebelahnya. "Perkenalkan, ini adikku Evan, dan ini istrinya, Laras."
Aku dan Evan mengulurkan tangan kami dan memperkenalkan diri lagi. Perempuan itu menyambut tangan kami sambil tersenyum.
Dia memperkenalkan dirinya juga. "Aku Freya Sukmajaya. Senang berkenalan dengan kalian."
"Ayo cepat pesan makanan! Kita makan siang dulu, setelah itu lanjut bicaranya." Kak Elan menyudahi acara perkenalan ini dengan memanggil pelayan dan memesan makanan kami masing-masing.
Setelah menghabiskan makan siang, kami melanjutkan dengan obrolan ringan. Bertanya hal kecil tentang Freya. Freya pun mau menjawab pertanyaan kami dengan senang.
Selama obrolan berlangsung aku dapat melihat Kak Elan memandang dengan terpesona pada Freya. Bahkan kakak iparku itu sesekali tertawa dengan tingkah manja Freya.
Aku melihat ke arah Evan yang duduk di sebelahku. Dia juga memandangi Freya dengan intens.
Tunggu! Evan memandangi Freya dengan intens? Langsung saja kusikut lengannya dengan keras. Dia langsung menatapku dengan mimik wajah bertanya. Aku langsung mendelik padanya, dan Evan sedikit salah tingkah.
Enak saja, baru juga berbaikan sudah mau melihat wanita lain. Lebih baik aku segera membawa Evan pergi dari sini. Sekalian aku akan interogasi dia.
"Kak! Kami ijin pamit duluan ke kantor. Ada berkas yang harus kami siapkan untuk meeting setelah jam makan siang," pamitku pada dua orang yang sedang pendekatan.
"Baiklah kalau begitu. Selamat bekerja." Kak Elan kembali melanjutkan obrolannya dengan Freya.
Aku langsung pergi sambil menarik Evan. Sampai di mobil, aku menatapnya dengan tajam.
"Jelaskan!" tuntutku pada Evan.
"Apanya?" Evan bertingkah pura-pura polos.
"Arti pandanganmu pada Freya." Aku menatap Evan lebih tajam lagi.
__ADS_1
"Tidak ada."
"Bohong! Kita baru saja berbaikan. Kamu sudah mau mengajak ribut lagi?" ancamku padanya.
"Bukan begitu. Aku hanya tak menyangka saja. Bagaimana Freya bisa seperti Kak Indah."
"Maksudmu? Kak Indah? Siapa?" Aku seperti pernah mendengar nama Indah disebut oleh Evan. Tapi, aku lupa.
"Kak Indah adalah kekasih Kak Elan yang sudah meninggal. Tingkah lakunya, cara dia tertawa, juga cara dia memandang Kak Elan sama persis dengan Kak Indah. Mungkin karena itu yang membuat Kak Elan menjadi dekat dengan Freya."
"Itu sama saja dengan Kak Elan belum move on dari mendiang Kak Indah. Kalau begitu kasihan Freya, dong. Dia harus bertingkah selayaknya Kak Indah supaya bisa bersama dengan Kak Elan."
"Tidak tahu juga. Bisa saja, kan kalau dasarnya sifat Freya memang seperti Kak Indah." Mata Evan seperti menerawang sesuatu.
"Bisa juga. Tapi, aku tetap kasihan pada Kak Elan. Dia jadi tidak bisa lepas dari bayang masa lalu."
"Kita lihat saja nanti kelanjutan mereka akan seperti apa."
"Tapi-" Evan menutup mulutku dengan telunjuknya.
"Sebaiknya kita tak perlu mengurusi hubungan orang lain. Kita urusi saja pernikahan kita."
"Benar katamu." Kami saling tersenyum. Semoga hubungan kami akan terus seperti ini.
Hubunganku dan Evan semakin membaik. Lilis juga memberiku kabar, kalau orang tua Devan menerima keadaan Lilis dengan tangan terbuka. Dia juga sudah mau memaafkan Evan, tapi masih belum bisa kalau harus bertatap muka langsung dengan kakak iparnya itu.
Tak terasa Lilis sudah memasuki kehamilan bulan keempat. Di tempat Devan sedang diadakan acara tasyakuran empat bulanan untuk Lilis. Katanya aku tak perlu ke sana. Besok saja saat Lilis melahirkan.
"Nanti malam kita dinner di restoran favorit kita. Kamu mau, kan?" tanya Evan saat aku sedang melihat-lihat majalah sambil menikmati teh di ruang tamu.
"Iya, aku mau," jawabku sambil tersenyum manis.
"Kalau begitu bersiap dari sekarang. Aku takut nanti di jalan macet karena hari libur."
"Baiklah. Kamu juga bersiap-siap sana."
"Aku mau membereskan ruang kerja dulu."
Setelah semua bersiap, kami langsung tancap gas menuju restoran favorit kami sejak berpacaran dulu.
Sampai di sana ternyata Evan sudah memesan tempat VIP untuk kami. Sedang belajar romantiskah dia? Aku tersenyum kecil membayangkannya.
"Apa kamu mau tambah lagi? Sepertinya kamu agak rakus makannya," ucapnya dengan tersenyum kecil.
Aku mencebikkan bibir. Enak saja dibilang rakus. "Aku hanya sering merasa kelaparan saja akhir-akhir ini."
"Kalau masih lapar, tambah lagi saja. Aku ke toilet dulu."
"Ya." Aku melanjutkan makanku lagi.
Tak berselang lama, aku merasa ingin buang air kecil. Sebaiknya aku ke toilet juga, sekalian menyusul Evan.
Tepat di lorong menuju toilet, aku melihat Evan sedang berdiri, dengan sepasang tangan melingkar di pinggangnya. Aku berjalan mendekat untuk melihat lebih jelas, tetapi tetap menjaga jarak, supaya mereka tak melihatku.
__ADS_1
Bola mataku hampir lepas melihat pemandangan di depan sana.