
Adik Ipar Malang
Bab 36 Makan di Restoran
POV Devan
"Aku sudah siap. Ayo, Kak, kita makan siang!" Lilis sudah keluar dari kamar mandi. "Loh, Kakak habis telfon?"
"Enggak, kok. Cuma melihat-lihat saja. Siapa tahu ada pesan dari kantor, atau dari orang rumah." Buru-buru aku menyimpan gawai ke dalam saku. "Ayo kita cepat makan siang. Kasihan baby di perut, dia pasti sudah lapar."
Kami segera keluar menuju restoran, salah satu sarana dan fasilitas yang ada di restoran ini. Begitu sampai di pintu masuk, aku melihat Evan yang sedang makan siang bersama dua orang laki-laki. Mungkin kliennya, dilihat dari mereka mengenakan pakaian formal.
Aku memilih tempat duduk yang agak jauh dari Evan, tetapi dengan jarak masih bisa mengawasinya. Lilis yang melihat gerak gerikku juga mengikuti arah pandangku.
"Itu ... Kak Evan?" Wajah Lilis terlihat sangat terkejut. Matanya melebar dan mulutnya sedikit terbuka. Untung kita sudah dalam posisi duduk, sehingga tidak akan jadi tontonan orang-orang.
"Iya. Itu Evan. Sebaiknya kita jangan mengganggu. Mungkin dia sedang meeting dengan klien."
"Aku juga belum siap jika harus bertemu dengannya," gumam Lilis yang masih bisa kudengar.
"Kalau begitu kita anggap saja di sana enggak ada Evan. Supaya kamu juga bisa makan dengan nyaman. Jangan hanya karena dia, jadi mengorbankan makan siang kita. Ayo, pesan makanan yang banyak!"
Lilis tersenyum cerah. Sepertinya dia mengikuti ucapanku. Tak perlu memikirkan orang lain yang tak penting dalam hidupmu. Ini saatnya kamu bahagia.
Meski aku bicara seperti itu pada Lilis, tapi aku tetap sesekali mencuri-curi pandang ke arah Evan. Apa lagi setelah dua orang itu pergi. Sedang Evan masih duduk di sana sambil memainkan gawainya.
"Kak, aku udah selesai makan," lapor Lilis padaku.
"Aku belum selesai makan," ucapku sambil memperlihatkan isi piringku. "Apa kamu bisa menungguku sebentar? Kamu bisa pesan desert dulu untuk cuci mulut. Di sini terkenal enak-enak, loh."
"Benarkah? Aku mau."
"Aku pesankan, ya." Maafkan aku, Lilis. Ini kulakukan agar tetap di sini dan mengawasi sampai Evan pergi.
Tidak terjadi hal aneh apa pun dengan Evan. Semua biasa saja. Tidak ada orang-orang yang mencurigakan di sekelilingnya. Memang banyak gadis dan wanita yang melempar tatapan genit pada Evan, tapi suami dari Laras itu tak menanggapi sama sekali.
Aku mengalihkan pandangan ke arah Lilis, dan sedikit terkejut mendapati wajah istriku itu menggelap, dengan bibir cemberut, mengerucut lucu. Aku merasa hawa yang tidak enak.
"Kamu enggak apa-apa, Sayang?" tanyaku sedikit kikuk.
"Enak, ya, cuci mata. Merasa bangga dipandangi sama perempuan-perempuan genit?"
Aku melirik sekitar. Ternyata banyak juga perempuan yang memandangku dengan mata berkedip-kedip seperti orang cacingan. Pantas saja Lilis sampai cemberut seperti itu.
Gara-gara mengawasi orang di sekitar Evan, sampai tak memperhatikan sekelilingku sendiri.
"Kamu cemburu?" godaku.
"Enggak," jawabnya dengan ketus.
"Jangan ngambek gitu dong. Enggak ada perempuan lain di hati aku selain kamu."
Sebaiknya aku mengutamakan Lilis dulu untuk saat ini. Biarlah urusan Evan nanti saja. Dia juga sepertinya masih aman-aman saja.
"Setelah makan, kita jalan-jalan dulu. Banyak tempat yang bagus untuk didatangi. Pasti kamu akan suka."
__ADS_1
Kami segera menghabiskan makanan sebelum pergi. Meski terbilang orang mampu, tapi Om Arif selalu mengajarkan agak kita jangan menyisakan makanan. Harus selalu ingat, masih banyak orang yang kesulitan mencari makan di luar sana.
Kami menuju taman yang termasuk salah satu sarana di resort ini. Ada taman bermain sederhana untuk anak-anak juga. Banyak pengunjung selain anak-anak. Ada pemuda pemudi, orang tua termasuk lansia berada di sana juga.
Meski tengah hari seperti ini, penataan pohon yang rindang membuat sekitar menjadi teduh. Setelah mood Lilis kembali ceria, aku mengajaknya untuk ke kamar kembali. Aku melewati rute lain juga saat menuju kamar. Ternyata resort ini memiliki banyak sarana dan fasilitas yang menarik.
Sesampainya di kamar, aku langsung membuka jendela. Warna biru menjadi pemandangan indah di depan mata. Kamar ini terletak menghadap langsung ke arah laut. Aku menarik Lilis untuk berjalan sampai ke balkon.
"Masya Allah, pemandangannya sangat indah, Kak. Seperti lukisan yang nyata."
Lilis tersenyum cerah. Wajahnya menunjukkan kalau dia sangat takjub dengan pemandangan di depan sana. Angin semilir menerbangkan beberapa helai rambutnya, membuat wajahnya semakin ayu. Bagiku lebih indah yang ada di hadapanku, dari pada yang ada di luar sana.
"Kamu suka?"
Lilis mengangguk, masih memandang ke arah luar. "Aku suka banget, Kak."
"Aku juga suka. Apa lagi yang ada di depan mataku saat ini."
Lilis tersipu malu saat tahu siapa yang sedang aku bicarakan. Aku mendekatkan wajahku padanya. Semakin dekat hingga hidung kami saling bersentuhan. Sekarang sudah tak ada jarak lagi di antara bibir kami berdua. Tak ada nafsu, hanya saling mencurahkan cinta kita masing-masing.
Aku mengakhiri lebih dulu, setelah merasa Lilis kehabisan nafas. Sementara Lilis menetralkan nafasnya, aku mengusap sisa air liur di sekitar bibirnya. Wajahnya semakin merah, membuat aku gemas minta ampun.
'Sabar, sabar, sabar Devan. Tunggu Lilis melahirkan.' Aku terus menguatkan diriku sendiri dalam hati.
"Sebaiknya kita shalat Dzuhur saja dulu. Setelah itu istirahat sebentar. Nanti malam aku mau ajak kamu ke pasar malam," ajakku padanya.
"Tapi aku mau ke pantai," rengeknya.
"Besok lagi saja, ya? Kita masih ada waktu lain selama liburan di sini. Aku enggak mau kamu terlalu lelah."
"Baiklah."
Sore hari aku sudah terbangun. Mendapati Lilis sedang berdiri di dekat jendela yang terbuka. Memang Lilis tidak berdiri di balkon, tapi angin sore tidak baik untuknya. Aku langsung mengambil selimut, berjalan ke arah orang yang sudah menguasai hatiku saat ini.
"Kakak." Lilis sedikit terkejut saat aku membalut tubuhnya dengan selimut yang aku bawa.
"Hm? Angin kencang seperti ini tidak baik untukmu. Ayo masuk!" Aku mengajak Lilis untuk duduk di sofa. "Nanti kita makan malam di restoran yang tadi siang saja, ya?"
"Iya, Kak. Memang kenapa?"
"Siapa tahu, kamu pengen makan-makanan restoran di luar resort ini?"
"Enggak perlu. Di sini juga sudah lumayan bagus."
Kami sepakat untuk makan malam seusai melaksanakan shalat maghrib. Aku juga menawari untuk makan malam di dalam kamar saja, tapi Lilis menolak.
Sebelum itu, aku meminta Lilis untuk membersihkan diri lebih dulu, setelah itu baru aku. Sebenarnya aku sudah sering memakai baju atau berganti pakaian di depan Lilis, tapi mungkin Lilis masih belum terbiasa. Jadi dia pasti masih merasa malu.
Aku dan Lilis sudah bersiap untuk menuju restoran yang kita kunjungi tadi siang. Kali ini aku mengajak Lilis untuk melewati rute yang ada kolam renangnya.
Ternyata kolam renang ini juga didesain sangat bagus. Jika digunakan untuk mengadakan makan malam, pasti akan sangat romantis. Ditemani dengan lilin-lilin kecil dan lampion yang indah. Sepertinya itu bukan ide buruk, untuk memberi kejutan pada Lilis.
Sesampainya di restoran, aku dan Lilis langsung memesan makanan pada seorang pelayan. Tidak menunggu waktu terlalu lama, makanan sudah diantarkan ke meja kami.
"Kak, itu ada Kak Evan," tunjuk Lilis ke arah tengah ruangan.
__ADS_1
Ada Evan di sana sedang duduk sendirian, dengan seorang pelayan yang mulai menghidangkan makanan di atas mejanya.
"Iya. Kenapa? Kamu ingin memanggilnya untuk bergabung dengan kita?"
"Kalau Kakak keberatan, lebih baik tidak usah," tolak Lilis merasa tak enak.
Sebenarnya aku sama sekali tidak keberatan kalau Evan ikut makan bersama kami. Aku tak cemburu sama sekali pada Evan. Hanya saja, rencanaku nanti bisa gagal. Sementara, biar saja Evan tak mengetahui keberadaan kami.
"Sepertinya enggak perlu. Dia juga sudah mau makan makanannya. Ayo dimakan! Nanti keburu dingin." Aku dan Lilis kembali menyantap dengan tenang.
Tak lama kemudian terdengar suara ribut dari tengah ruangan, di mana Evan berada. Sepertinya seorang pelayan tak sengaja menumpahkan minuman ke baju Evan.
Pelayan perempuan itu terus saja mencoba membersihkan baju Evan yang kena tumpahan minuman. Sepertinya pelayan itu sengaja sambil mencari kesempatan agar bisa memegang tubuh Evan.
"Sudah, tak apa!" ucap Evan sedikit keras pada pelayan.
Evan dengan baik hati memaafkan si pelayan, meski wajahnya sedikit kesal. Kemudian dia berjalan ke arah toilet. Tak berselang lama, seorang perempuan mengenakan masker berjalan ke arah meja milik Evan. Dia berdiri di sana agak lama.
Aku tak tahu apa yang dia lakukan, karena dia berdiri membelakangiku. Ditambah dengan masker yang menutup sebagian wajahnya, membuat aku kesulitan mengenalinya. Setelah itu dia pergi begitu saja.
Evan sudah kembali dari toilet. Dia juga sudah duduk, dan memakan makanannya.
"Kak, ada apa?" Lilis menyentuh telapak tanganku, membuatku sedikit terkejut. "Kakak terlihat serius. Apa ada sesuatu?"
"Enggak, Sayang. Ayo segera habiskan makanannya!"
Aku melanjutkan makan sambil melirik ke arah Evan. Ternyata dia sudah selesai makan. Kemudian berdiri dan berjalan ke arah pintu keluar restoran.
Ada yang aneh dari cara berjalannya. Dia terlihat sempoyongan, sesekali memijat kepalanya. Kemudian datang seorang perempuan dengan pakaian lumayan seksi membantu Evan berjalan.
Si wanita itu mengalungkan tangan Evan ke atas bahunya. Orang-orang tidak ada yang curiga, karena mereka pasti mengira Evan dan si wanita itu adalah sepasang kekasih.
"Kak, itu Kak Evan dengan siapa?" Lilis berbicara dengan nada terkejut dan juga panik.
Seketika tubuhku menegang. Pikiranku langsung traveling ke arah negatif. Jangan-jangan ada campuran dalam makanannya.
"Kamu tenang, ya. Jangan khawatir! Aku akan mendatangi mereka, untuk mencari tahu apa yang sebenarnya sedang terjadi." Aku mencoba tetap tenang di hadapan Lilis. Meski aku juga sebenarnya sedikit khawatir.
"Iya, Kak. Cepat cari tahu. Aku khawatir kalau terjadi apa-apa dengan Kak Evan. Kasihan Kak Laras."
"Lalu, kamu bagaimana? Kamu bisa kembali ke kamar sendiri?"
"Iya, Kak. Enggak apa-apa, aku bisa kembali ke kamar sendiri. Insyaa Allah aku ingat jalannya."
Jarak dari kamar penginapan menuju restoran kurang lebih sepuluh menit. Karena harus melewati kolam renang dan taman dulu, untuk bisa sampai ke restoran. Jadi, aku harus yakin kalau Lilis bisa kembali ke kamar sendiri.
"Kalau begitu, kamu hati-hati, ya. Harus sampai ke kamar penginapan kita. Kalau ada apa-apa langsung hubungi aku."
"Iya. Kakak juga harus hati-hati."
Gegas aku langsung mengikuti ke mana perginya Evan dan perempuan tadi. Mereka berjalan bukan ke arah kamar penginapan Evan, tapi ke arah penginapan tamu untuk umum. Letaknya saling berjauhan dari kamar penginapan yang ditempati kami.
Melihat ke sekeliling, tidak ada orang di lorong ini. Mungkin mereka sedang di luar untuk makan malam, atau mengunjungi tempat yang ada di resort ini. Aku langsung berlari ke arah mereka.
Sampai di sana, aku mencekal tangan wanita yang memegang pinggang Evan. Wanita itu terkejut, dan melirikku dengan sinis.
__ADS_1
"Siapa kamu?"
*****