
Adik Ipar Malang
Bab 47 (Kejutan Dari Evan)
"Begini, Siska menaruh lamaran di sanggraloka milik Kak Elan. Kebetulan aku sedang ditugaskan di sana. Di CV-nya tertulis kalau dia sangat membutuhkan pekerjaan karena ibunya sedang sakit. Jadi, kami menyurvei kebenaran dari masing-masing calon pekerja kami.".
Bi Tirah manggut-manggut. "Kenapa harus Aden sendiri? Kan, ada anak buah Aden?"
"Aku hanya ingin sekalian jalan-jalan saja, Bi. Mencari udara lain." Jawaban Evan membuat Bi Tirah tersenyum.
"Oh. Si Aden ini. Kebiasaannya enggak pernah berubah." Bi Tirah tertawa kecil, sambil menepuk telapak tangan Evan. Wajah Evan berubah lega, karena Bi Tirah percaya begitu saja. Untung saja, bisa menemukan sebuah alasan. Walau agak nyleneh.
"Bibi jadi teringat saat Aden masih kecil. Suka kabur saat sedang ada les tambahan di rumah."
Evan tersenyum kecil mendengar ucapan Bi Tirah barusan. Memang benar, Evan sering kabur ke perkampungan di dekat rumah orang tuanya saat sedang ada les privat di rumah. Sayangnya, sebelum bisa bermain dengan anak-anak lain, Evan sudah lebih dulu ditangkap oleh bodyguard mamanya.
Itu menjadi salah satu alasan, mengapa Evan bersikap datar dan dingin. Tidak bisa bersosialisasi dan kaku.
"Jadi Den Evan sudah bertemu dengan Siska?" tanya Bi Tirah.
"Iya, Bi. Ayo Bibi ikut denganku! Nanti kita temui Siska di sana." Evan terus berusaha mengajak Bi Tirah agar mau ikut dengannya.
Bi Tirah menggelengkan kepalanya. Membuat Evan menjadi bertanya-tanya.
"Bibi susah untuk berjalan, Den."
Evan sedikit menyingkap selimut yang menutupi kaki Bi Tirah. Kedua kakinya bengkak, bahkan dua jari di kaki sebelah kanannya sudah diamp*tasi. Sepertinya penyakit gulanya sudah lama dan parah.
"Saya akan pesan sebuah kursi roda."
"Tidak perlu, Den. Bibi enggak mau merepotkan Aden."
"Tidak, Bi. Ini sama sekali tidak merepotkan. Dulu Bibi sangat sabar merawatku. Biarkan sekarang aku membantu merawat Bibi."
"Baiklah. Bibi ikut. Terima kasih."
Setelah kursi roda yang dipesan datang, Evan dan karyawannya membawa Bi Tirah ke mobil. Kemudian kembali ke resort. Di dalam mobil, mereka berdua sedikit mengobrol tentang keadaan masing-masing. Seperti Evan yang sudah menikah, sedang Elan masih sendiri.
Evan tidak menyangka kalau apa yang dialaminya di Bali, malah membawanya bertemu kembali dengan pengasuhnya dulu saat masih kecil. Orang tuanya juga pasti akan sangat senang mendengar kabar ini.
***
Kembali ke masa sekarang ...
"Ayo Ibu kenalkan kamu dengan Den Evan!" ajak Bi Tirah kepada Siska.
__ADS_1
Siska melihat ke arah Evan dengan ragu-ragu, antara takut juga tidak mau. Wajah Evan yang dipanggil Aden oleh ibunya itu memang diakuinya sangat tampan. Mungkin pria tertampan yang pernah ditemuinya. Sayangnya, sangat datar, dingin, dan kaku.
Kemudian Siska melihat ke arah ibunya. Wajah ibunya berseri-seri saat membicarakan tentang Evan. Dalam benak Siska bertanya-tanya, ada hubungan apa di antara mereka berdua.
"I–iya, Bu." Siska sedikit gagap.
"Eh, Ibu lupa. Kamu kan melamar kerja di sini, sudah pasti kamu kenal Den Evan. Ya Ampun! Maafin saya ya semuanya, maklum sudah tua," ucap Bi Tirah sedikit malu.
Siska semakin bertanya-tanya dalam hati. Apa maksud dari perkataan ibunya, yang bilang kalau Siska melamar pekerjaan di sini.
"Siska, tapi kamu belum kenalan dengan Nak Devan dan Nak Lilis kan? Mereka adalah adik ipar Den Evan."
Kemudian Siska berkenalan dengan Devan, dan Lilis layaknya baru pertama kali bertemu. Devan dan Lilis pun diam saja, mengikuti bagaimana alur ini berjalan. Kemudian semuanya kembali duduk di sofa, kecuali Bi Tirah yang duduk di kursi roda.
"Jadi, Bi Tirah ini siapamu, Evan?" tanya Devan kedua kalinya. Karena yang pertama tadi terpotong oleh kehadiran Siska yang tiba-tiba.
"Bi Tirah adalah pengasuhku dan Kak Elan dulu, sewaktu kecil," ungkap Evan.
Siska membulatkan matanya. Jangan ditanya bagaimana dengan jantungnya. Sudah pasti dag dig dug serr. Dia hampir menjebak mantan majikan ibunya sendiri. Bahkan, ibunya pernah bilang kalau Evan sudah dianggap anak seperti dirinya.
Devan menarik kedua sudut bibirnya menjadi datar, sedang Lilis lebih ingin mengetahui reaksi Siska. Itu tepat dengan dugaannya, bahwa wajah Siska terlihat sangat terkejut.
Wajah Evan sendiri datar, biasa saja. Tak seperti sebelumnya yang terlihat sangat membenci Siska. Mungkin Evan sudah lebih legowo menerima permintaan maaf dari Siska, karena ternyata dia anak dari pengasuhnya dulu.
"Siska ini siapanya Bi Tirah?" tanya Devan masih berpura-pura belum tahu. Dia hanya ingin dengar langsung dari mulut Bi Tirah.
"Evan dan Siska, apa memang belum pernah saling bertemu sebelumnya?" tanya Devan lagi.
"Belum. Saat saya kerja di rumah Den Evan, Siska saya titipkan bersama bapaknya, tapi kemudian ...."
Bi Tirah menghentikan ucapannya. Hatinya kembali sakit mengingat kejadian lampau. Bukan hanya sakit hati, melainkan ada perasaan malu, dan merasa bersalah kepada keluarga Evan.
Siska mengusap punggung ibunya supaya bisa lebih tenang.
"Maaf kalau pertanyaan saya membuat hati Bi Tirah terluka," sesal Devan. Suasana berubah sendu. Lilis mengusap punggung tangan Devan, guna menenangkannya. Istri kecilnya tahu, kalau Devan tak ada maksud untuk membuat Bi Tirah sedih.
"Jadi, bagaimana? Bi Tirah jadi ikut aku kembali ke Jakarta?" tanya Evan mengalihkan topik pembicaraan.
Bi Tirah dan Siska saling berpandangan.
"Ke Jakarta?" gumam Siska lirih. Wajahnya menunjukkan mimik bertanya-tanya.
"Kalau saya ke Jakarta, bagaimana dengan Siska?" tanya Bi Tirah.
"Terserah. Kalau mau ikut, ya silakan. Tidak ikut juga tidak apa-apa."
__ADS_1
Akhirnya setelah melewati tanya jawab yang alot, Bi Tirah bersedia ikut kembali ke Jakarta bersama Evan, dengan syarat Siska ikut juga.
"Baiklah, karena hari sudah gelap, aku akan kembali ke kamar dengan Lilis," ucap Devan sambil menggandeng Lilis.
"Iya, silakan! Terima kasih sudah datang ke sini. Besok kita akan kembali ke Jakarta." Evan mengantar Devan dan Lilis sampai pintu.
"Baiklah. Kami akan bersiap-siap."
"Oh ya, untuk Bi Tirah, aku sudah siapkan satu kamar penginapan untuk Bibi dan Siska. Nanti ada karyawan yang akan mengantar Bibi."
"Terima kasih banyak, Den."
"Sama-sama."
Setelah semua sudah kembali ke kamar masing-masing, Evan menghubungi Laras. Sebelum berangkat ke Bali, Evan sudah menitipkan Laras kepada orang tuanya. Sekalian saja, Evan mengabari mamanya kalau dia bertemu dengan Bi Tirah, dan berencana mengajaknya kembali ke rumah. Mamanya sangat setuju.
Kapan memangnya kamu kembali ke Jakarta?
"Besok aku pulang."
Pukul berapa mendaratnya?
"Rahasia. Tunggu saja di rumah. Aku ada sedikit kejutan untuk kalian."
Dasar! Ya sudah, besok Mama siapkan makanan yang banyak untuk menyambut kalian.
"Ajak sekalian ayah dan ibu mertua."
Hah? Kamu yakin?
"Aku yakin, Ma. Kalau begitu, telfonnya aku tutup dulu. Aku mau menyiapkan semua yang harus dibawa besok."
Jangan lupa oleh-oleh Mama!
"Sudah disiapkan semua."
Telfon langsung ditutup oleh Evan. Kalau tidak mamanya akan terus merecokinya. Bisa-bisa dia gagal memberi kejutan untuk orang rumah.
Besok paginya, mereka berlima sudah bersiap dengan barang bawaannya masing-masing. Kemudian pergi menuju bandara menggunakan dua mobil.
Sesuai perkataannya Evan, dia tidak mengabari jam berapa akan berangkat dan tiba di Jakarta. Semua untuk kejutan orang rumah. Sebelumnya Evan sudah berbicara kepada Devan dan Lilis agar mampir dulu ke Jakarta sebelum kembali ke rumah Devan di Bogor.
Evan sudah tidak sabar ingin melihat reaksi orang rumah saat melihat Lilis dan Devan.
Kira-kira seperti apa ya reaksinya?
__ADS_1
*****